Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 134


__ADS_3

Di markas Zen baru saja tiba dari kerjanya, membereskan semua berkas-berkas yang di perlukan oleh David karena tadi pagi dirinya di beri kabar jika David tidak akan masuk kerja hari ini dan mengantar beberapa ke Mansion Jakson untuk David tandatangani langsung.


Saat Zen sampai di Mansion, dirinya di panggil ke atas yang lebih tepatnya ke ruang kerja David. Saat zen hendak ke atas tak sengaja Edward sedang menggendong anak kecil di pangkuan nya walaupun tidak jelas, tapi Zen yakin jika dia anak perempuan. Langkah nya penuh dengan tanya saat menuju ke lantai atas, itu sudah kebiasaan Zen penasaran bahkan mencurigai seseorang yang menurutnya tidak masuk di akal.


" Ini berkasnya prince !". Zen memberikan beberapa berkas dengan warna biru dan kuning serta terselip satu warna merah di sana.


David membuka satu persatu kertas bertinta hitam itu dengan sangat teliti.


" Katakan lah !". Seru David, walaupun dirinya sedang serius dengan kerjaan nya tapi dia peka dan juga sensitif terhadap hawa di sana seperti halnya sekarang ketika Zen terus menatap nya akan sangat David rasakan walaupun sama sekali tidak melihat wajahnya.


Zen merasa tertangkap basah, otak nya masih terus di putar akan pertanyaan yang segera menginginkan sebuah jawaban.


" Maaf prince jika saya lancang,,,,". Ujar Zen terpotong saat akan melanjutkan kalimatnya.


" Ku izinkan bicara formal untuk hari ini ". Ucap David menoleh pada Zen seraya membenarkan kacamatanya.


" Baiklah kalau begitu, aku tidak sungkan lagi ! itu tadi saat melewati ruang keluarga ada anak kecil di pangkuan King ! itu apa,,, mmmm,, itu, maaf sebelum nya, apa itu putri dari King ?". Zen mendengar seruan dari David langsung bersikap normal layak nya dengan teman tapi pada saat menanyakan hal itu membuat nya gugup takut salah dengan prediksinya.


" kau benar, dia anaknya dan juga Ruby ". Jawabnya menutup berkas terakhir menandakan pekerjaan nya telah selesai, David menanggalkan kacamatanya dan merapihkan semua nya kembali pada tempat nya. " Itu belum jelas, kami masih menunggu jawaban dari mereka ! jika sudah selesai kau boleh pergi ". Ucap David mendahului Zen keluar, Zen langsung beringsut mengambil berkas yang tadi di kerjakan oleh atasan nya dan kembali keluar mengikuti David.


" Apa dia tertidur ?". David melihat Nara yang terlelap tidur dalam pangkuan Edward, Zen yang baru saja sampai di lantai bawah langsung segera izin pamit.

__ADS_1


" Saya permisi pamit ". Ucap Zen menundukkan kepalanya saat Edward hendak menjawab seruan David.


" Baiklah, hati-hati !". Jawab David.


Zen menceritakan semuanya kepada Kenzie dan juga Lucky di sana, dia harap Kenzie ataupun Lucky tahu mengenai hal ini untuk itu Zen terus bertanya untuk menghilangkan ke penasaran nya dan berharap mendapat jawaban dari mereka berdua.


" Anak ? anak siapa yang kau maksud itu Zen ?". Bingung Kenzie sama sekali tidak tahu, tiba-tiba dia menceritakan seorang anak yang berada di gendongan Ruby dan juga Edward membuatnya semakin penasaran.


" Anak kecil manis yang datang bersama Edward dan juga Ruby dari Jerman ". Timpal Lucky membuat Kenzie semakin heran. Lucky menceritakan dari awal penjemputan Edward dan juga Ruby sampai mereka menginap di hotel dan akhirnya pulang ke markas.


Mereka bertiga terus mengobrol, bertukar cakap masih dalam pembahasan keberadaan anak kecil itu.


**


" Keluarga cendana benar-benar indah ". Ujar David duduk di samping Brayn yang wajah nya sudah dalam mode serius. " Ada apa dengan mereka ? perasaan tadi pada biasa aja !". Gumam nya pelan sekali sampai hanya terlihat bibirnya saja yang bergerak.


" Ayo kita makan dulu, semuanya sudah siap di makan ". Teriak Savira dari ruang makan dan terlihat sedang menata makanan di sana.


Edward dan Ruby turun bersamaan setelah menidurkan Nara. " Aku lapar, ayo kita makan terlebih dulu honey ". Keluh Ruby mengusap-usap perutnya.


Setelah selesai dengan acara makan siang, waktunya mereka istirahat dan kembali pada masing-masing aktifitasnya tapi itu tidak mereka lakukan, setelah selesai, mereka kembali ke ruang keluarga. " Kalian duduklah, ada yang ingin kaka bicarakan ". Perintah Brayn, terlihat Rayzen pun sudah berada di sana begitupun Savira, ada Daddy Jakson juga dan tidak terlewat David yang sekarang sedang sibuk dengan rubik nya.

__ADS_1


Edward dan juga Ruby tahu apa maksud dari ini, membuat mereka langsung menjelaskan dengan rinci dan juga detail masalah organisasi yang Ruby dirikan. Kaget pasti apalagi Jakson yang notabenenya tidak tahu apapun tentang semua itu dan tidak mengerti kapan dan di mana Ruby manjanya mendirikan Mafia yang sekarang begitu di takuti.


Edward pun ikut menjelaskan awal dirinya bergabung sampai saat ini, walaupun dirinya tahu jika hal ini sangat tidak wajar dan tidak masuk akal untuk normalnya sebuah kehidupan tapi kehidupan nya itulah yang membuat dia menjadi seperti ini.


" wah wah wah, kau memang adik ku ". Seru Savira antusias dan juga senang kala Ruby menjelaskan jika mereka bertiga pun sebenarnya sudah menjadi anggota dari Mafia yang di pimpin oleh nya dan juga sampai saat ini mereka bertiga tengah di tunggu oleh anggota mereka.


" Tidak-tidak jika kalian semua menjadi orang seperti itu bagaimana nasib Daddy yang hanya diam di rumah, nanti pasti akan sibuk antara pekerjaan dan juga kemafiaan ". Protes Jakson dengan keputusan mereka. Mereka geli pada daddy nya seperti anak kecil yang tidak mau di tinggal.


" Tidak akan Dad, kami akan tetap seperti ini ! jadi jangan terlalu dipikirkan ". Seru Savira meyakinkan Jakson.


" Iya kek, buktinya aku dan kak Edward begitupun anak tengil itu selalu ada untuk mu ! jadi jangan dipikirkan ". Ucap Ruby menghampiri Jakson.


" yaaakk, siapa yang anak tengil hmm ?!". Teriak David tidak terima, melempar kertas di udara melayang sangat jauh menyentuh kulit Ruby. Ruby naik ke atas sofa dan menyembunyikan kepalnya di perut Jakson sembari wajah nya di tutup oleh tangan Jakson yang langsung Ruby tarik untuk menutupinya.


" Dasar anak nakal ya kau kancil !". Gelitik David tidak henti-hentinya.


" hahahahha,, aaaa sudah sudah aku nyerah ! oke okeh ngga lagi, aku janji ". Tawa Ruby menahan geli akibat David terus saja menggelitik nya.


" Janji ? tidak percaya !". David masih dengan jahil nya sampai suara Jakson mengehentikan aktifitas nya karena kakinya sudah pegal menumpu tubuh Ruby yang semakin kesini semakin berat .


" Kalian ini benar-benar nakal, turunlah by, Kaki kake pegal ". Keluh nya, Ruby langsung bangun karena takut membuat kaki jakson lebih pegal.

__ADS_1


.


__ADS_2