Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 156


__ADS_3

Orang tua adalah panutan bagi anak-anak nya, untuk itu, Ruby dan Edward berusaha untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apapun baik itu dalam sifat, sikap, pola pikir dan juga setiap kata dan ucapan yang keluar dari mulut mereka karena mungkin itulah yang akan menjadi cerminan dari anak nya.


Berbicara soal percintaan, Ruby sama sekali tidak akan mencampuri urusan percintaan saudara-saudara nya, tapi jika mereka semua membutuhkan masukan apapun darinya maka Ruby tidak akan segan untuk mengucapkan apa saja yang mengganggu pikiran nya terhadap calon pasangan mereka masing-masing, tapi mungkin tidak dengan Agatha karena Ruby telah mengenal Lio dari Awal sampai sekarang yang tanpa Agatha meminta masukan pun Ruby langsung mempertimbangkan dan mencari informasi sedalam-dalam nya karena bagaimanapun Lio bukan lah orang biasa.


" Di mana Daddy mu Ra ?". Tanya Ruby pada Nara yang baru saja keluar dari kamar nya dan sekarang sedang bermain dengan Grandma dan juga Grandpa nya.


" Apa sekarang putri bungsu mommy ini mulai bosen berada di rumah ?!". Ujar Nameera mengingat jika sekarang Ruby tidak di sibuk kan dengan pekerjaan kantornya karena sudah dari lama urusan kantor di pertanggung jawabkan kepada kaka-kaka nya.


" Eum, aku jadi tak terbiasa berdiam diri seperti ini ". Bosen nya, Ruby menatap Nara sedang anteng bermain dengan Luis- Daddy nya.


" Dia sangat pintar sekali, bisakah jika selamanya dia tidak pergi dari sini By ! mommy menyayanginya, dia sudah seperti cucu mommy ". Pandangan Nameera begitu penuh dengan ketertarikan dan penuh dengan rasa sayang.


" Tidak mom, bukan aku melarang Nara untuk tetap tinggal tapi dia sendiri yang bilang tidak akan lama tinggal di sini karena dia telah bertekad untuk tinggal di Irlandia ! bukankah aku juga tidak akan lama lagi meninggalkan Jerman dan menetap di Irlandia mom, mommy pun tahu calon suamiku asli orang sana dan mungkin jika itu terjadi maka aku hanya akan berkunjung ke sini sebulan sekali atau mungkin 2bln sekali ". Tutur Ruby memegang erat tangan Nameera yang telah terlihat beberapa garis keriput di sana.


" Mommy tahu By, walaupun berat tapi itu semua tidak bisa mommy cegah, tapi bisakah kau membujuk Nara untuk tetap tinggal di sini By ? bukan kah dia anak Lio ? berarti dia harus tinggal di sini jika ingin berjumpa setiap hari dengan ayah nya ". Seru Nameera berharap jika keinginan nya akan terkabul.


" Sudah mom, aku sudah berbicara berulang-ulang pada nya tapi tetap saja keputusan nya tidak dapat di rubah ". Jawab Ruby sekilas melirik Nara.


" Huufffhhh ". Lepas nafas kasar Nameera tidak tahu lagi harus mengatakan apa.

__ADS_1


" Maaf ". Ucap Ruby.


" Tidak apa By ". Jawab nya dengan senyum terulas dari bibir Nameera.


" Mom ". Nara berlari ke arah Ruby dengan tangan sedang menggenggam uang mainan di tangan nya. " mom lihatlah, uang ku sangat banyak ". Girang nya menunjukkan uang mainan monopoli pada Ruby sembari berjingkrak ria di hadapan nya.


" waaahhh, putri mommy memang terbaik ". Seru Ruby mencubit pipi Nara gemas.


" Kalau besal nanti, Nala ingin memiliki uang yang banyak sekali ". Racau Nara sembari tangan nya mengukur banyak nya uang yang ingin dia miliki membuat Luis dan juga Nameera gemas di buat nya.


" Untuk apa uang banyak seperti itu sayang, masih kecil sudah matre !". Ujar Ruby mengambil alih uang mainannya dari tangan Nara.


" Kata uncle Revin jika wanita matre itu tidak apa-apa loh mom, jika laki-laki yang matre malah menggelikan katanya ". Ucap Nara polos nya memainkan kedua tangan nya sembari meracau di depan Ruby dan juga Nameera serta Luis.


" Caahh baiklah, apa sekarang kau ingin ikut dengan mommy ?". Lanjut Ruby menggendong Nara dalam pangkuan nya.


" Kemana ?". Tanya Nara begitupun kedua orang tua nya bertanya hendak kemana Ruby saat ini.


" Kita olah raga ".

__ADS_1


Nara mengerti apa yang sedang Ruby maksudkan saat ini tapi tidak dengan kedua orang tuanya.


" Jam segini olah raga,apa kau sehat ?!". Gurau Luis memegang kening Ruby.


" Aih apaan sih dad, kalau begitu aku dan Nara pergi dulu, jika ada yang menanyakan keberadaan kami bilang saja jika kami berada di markas ". Ucap Ruby segera beranjak dari sana dan menurunkan tubuh Nara agar berjalan sendiri.


Sebenarnya tidak terlalu banyak mafioso yang berada di Jerman, terbilang sedikit dan itu bisa di hitung dengan jari. Alex, Maxim, Key dan juga Zen, dari masing-masing mereka memiliki 2 anggota di bawah nya yang Edward latih untuk memiliki kemampuan, tidak hanya satu tapi sekarang Zen di percaya untuk berada di samping David untuk itu mafioso di Jerman berkurang satu tapi tetap bawahan nya masih bergabung di sana dan mereka berdua di percaya untuk menjaga semua keluarga Ruby dari jauh, lebih mirip seperti seorang pengintai jika di lihat dari tugas nya.


Suara decitan rem terdengar mendadak, terlihat Ruby sedang berada di kursi pengemudi dan juga Nara berada di samping nya dengan sabuk pengaman yang sudah menempel di tubuh nya.


Ruby memutuskan untuk tidak di antar kan oleh pak Alan karena tidak mau merepotkan nya, suasana sekeliling begitu senyap, mungkin karena tempat yang sekarang sedang ruby injak berada lumayan jauh dari kota. Perjalanan nya terganggu dengan beberapa tikus yang berjejer di depan mobil nya, baju hitam legam membalut di tubuh mereka.


" Sayang, apa kau tidak apa ?". Periksa Ruby pada seluruh tubuh Nara, Wajah lembut Ruby kini berubah sangar saat menatap ke depan, tatapan tajam nya seakan seperti pedang tajam yang siapa menghunus musuh nya. " Tunggulah di sini, jangan kemana-mana ! kau mengerti ?!". Lanjut Ruby menyeru agar Nara menurut padanya.


" tch, bukan kah ini hari keberuntungan kita ?!". Ucap di antara mereka yang sedang berjejer rapih dengan senjata di tangan nya untuk menakuti Ruby.


" Kau benar sekali, tidak usah susah payah mencari mereka lagi ! haiihhhh kau datang juga ". Ucap mereka penuh dengan kesombongan saat tubuh Ruby telah menginjak aspal jalan yang dimana jalanan di sana tengah di block oleh mereka.


" Maaf apa kita saling kenal ?!". Ujar Ruby dengan gaya santai nya, wajah nya tidak memperlihatkan sedikit pun ketakutan di sana membuat mereka yang berlima merasa terjatuh kan harga dirinya.

__ADS_1


" Jika kau ingin selamat maka cepat serahkan anak yang ada di dalam mobil mu itu ". Seru Salah satu dari mereka menunjuk Nara yang terlihat sedang berusaha melepaskan sabuk pengaman nya.


" serahkan ? ". Acuh Ruby. " Apa hak kalian untuk menyerahkan anak ku ?!".


__ADS_2