Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 157


__ADS_3

" serahkan ? ". Acuh Ruby. " Apa hak kalian memerintah ku untuk menyerahkan anak ku ?!". Tegas Ruby.


" Kau tidak perlu tahu, kami hanya menginginkan anak itu, jika kau menyerahkan nya maka akan kami biarkan kau selamat gadis muda ". Ujar nya memberi tawaran yang mungkin menurut Ruby tidak untuk keduanya.


" Kalian pikir siapa kalian hah ? dia adalah putri ku ! kalian salah orang ". Seru Ruby masih santai dengan gelagatnya.


" Jangan mencoba membodohi kami ". Selidik mereka pada plat mobil yang mereka yakini jika nomer itu adalah mobil yang di pakai saat mereka tiba di bandara. Ruby mengikuti arah tatapan mereka sembari senyum smirk tersungging dari salah satu bibir nya.


" haaiih baiklah, mari kita bermain paman ". Ucap Ruby kembali meluruskan pandangan nya pada mereka yang masih berjejer rapi di depan Ruby. " hanya sebentar dan mungkin akan sedikit sakit, tidak apa bukan ?!". Wajah sangar Ruby tersemat kembali dengan mata kelopak mata membulat tajam.


" heuh, jangan menyesal ". Ungkap salah satu dari mereka menatap remeh pada Ruby. Nara yang sedang menjadi incaran malah duduk santai memakan snack yang dia bekal dari rumah dan sedang memakan nya sembari matanya tidak lepas dari para tikus yang sedang mencari masalah dengan induk singa yang sedang lapar.


" Kalian salah orang ". Gumam Nara masih menyaksikan perkelahian orang dewasa melawan gadis remaja dengan 1:5, tapi apa kenyataan nya, sebagian dari mereka satu persatu terpelenting dan tumbang


" Apa masih ingin bermain paman ?". Ucap Ruby di sela menginjak tangan salah satu dari mereka dan satu tangan Ruby tengah mencengkram leher lawan nya dengan sangat erat.


Terlihat kawan mereka masih terkulai lemas usai tendangan dan pukulan Ruby mengenai titik vital setiap persendian dari tubuh mereka.


Kreeeakk ,, suara tulang seolah terdengar remuk karena kaki Ruby masih menumpu di sana dan beralih pada dada lebar musuh nya. Tangan kiri Ruby mencengkram erat leher salah satu dari mereka, walaupun dengan usaha nya, cengkraman itu tak mudah untuk di lepas, dengan segala pemberontakan darinya tak membuat Ruby melonggarkan pegangan di lehernya.


Yaaaaaa,,, Dughh Brukk


Dari arah belakang kaki panjang seseorang tengah menendang punggung Ruby hingga tubuh tegap itu tersungkur secara paksa dan keras.


" Haiihh,, berani sekali kau ". Ucap Garang dia yang tadi menendang punggung Ruby dan kini tengah berada tepat di hadapan Ruby dengan posisi Ruby yang masih tengkurap.


Bugh,,bugh,,bugh


Dia terus menendang pinggang Ruby dengan leluasa.

__ADS_1


" Haiss ". Geram mereka langsung saling menopang tubuhnya satu sama lain,


" Gadis kecil sudah ya, paman masih banyak urusan !". Seru salah satu dari mereka berjongkok dan menangkup wajah Ruby dengan kata dan ucapan yang di biarkan mendayu-dayu.


Ruby menepis kasar tangan yang menurut nya menjijikan. " Ciihhh, lepaskan tangan menjijikan mu itu !". Tepis Ruby, tatapan nya semakin menajam setajam mata elang. Rahang Ruby mengeras dan akhirnya permainan yang sesungguh nya di mulai.


Bukkh, Ruby menonjok wajah pria itu dengan kepalan tangan yang kecil tapi sangat mematikan sampai darah segar terlihat keluar dari hidung pria itu.


Mereka mundur siaga, Ruby kembali berdiri tegap seolah dia baik-baik saja sampai pria-pria itu keheranan bagaimana seorang wanita yang sudah di pukul terlihat baik-baik saja, bukankah harus nya dia pingsan atau menangis ?.


" Tch paman, aku kasih pada kalian ". Batin Nara masih menjadi penonton setia, dia dari tadi tidak bergerak dari posisi nya, membuka kaca pintu mobil pun tidak.


" Ada apa dengan ekspresi kalian ini hah ?!". Seru Ruby.


" Jangan membuat kami tambah marah, cepat habisi dia, jangan biarkan waktu kita terbuang sia-sia ". Ucapnya marah, mungkin pria itu adalah pemimpin di antara mereka.


" Kemari kau ". Sergah pria itu mencoba melawan Ruby dengan segala kemampuan yang mereka miliki, serangan secara bersama tak membuat Ruby gentar, bagi Ruby hanya 5 orang saja tidak sebanding dengan apapun.


" Aaaaaahh, dasar pria jelek ". Leher Ruby di cengkram oleh pria itu, tapi dengan lihai nya kaki jenjang Ruby tidak diam saat salah satu anggota tubuh nya di sakiti.


Brughhh,, Duggghh


kedua kaki Ruby secara bergantian menendang tubuh pria itu seakan dia adalah sasak alat olah raga Ruby.


" Bagaimana ? apa kalian masih mau memaksaku untuk menyerahkan anak ku hah ?!". Sentak garang Ruby dengan suara tidak kalah menakutkan dari seorang laki-laki.


Mereka terdiam tanpa ingin menjawab, hanya ada gumaman kesakitan dari mulut mereka, Ruby sengaja tidak langsung menghabisi nyawa mereka supaya mereka merasakan bagaimana sakit nya luka yang timbul akibat dari pukulan nya.


" Yaakk ". Teriak Ruby saat tiba-tiba dua orang lain nya datang dan membuka pintu mobil yang dengan bodoh nya tidak Nara kunci.

__ADS_1


" Lepas kan dia ". Geram Ruby dengan wajah penuh dengan emosi sampai-sampai mata nya mendadak memerah menahan nafsu, begitu pun wajah nya.


" Jika kita tidak mau ?". Tanya santai mereka benar-benar meremehkan kemampuan Ruby. Apa kabar dengan Nara saat ini, dia santai saja saat dirinya tengah berada di tangan musuh, tidak ada reaksi apapun yang ada wajah datar tanpa ekspresi.


Salah satu dari mereka berdua menempelkan pisau tajam pada leher Nara membuat nafas Ruby memburu.


" Jika ada setetes darah yang terlihat keluar dari tubuh nya, jangan harap kalian merasakan hidup bahagia, bukan hanya kalian tapi juga keturunan kalian ". Marah Ruby dengan ancaman yang begitu mematikan. " Lepaskan dia ". Perintah Ruby.


Senyum remeh terulas dari mereka berdua.


" Kami tidak takut dengan ancaman mu ". Ujar salah satu dari mereka penuh kesombongan.


" Tch, merepotkan ". Gumam Ruby bergerak tanpa terprediksi oleh mereka sampai pisau di tangan pria itu tak terasa sudah tak berada di tempat nya lagi dan berpindah pada genggaman Ruby yang kini tengah berada di belakang nya, pisau tajam pun sudah berada di depan leher nya siap untuk menebas.


Mereka berdua terkejut dengan kecepatan Ruby yang begitu sangat tak tertandingi.


" Bagaimana bisa ?". Ucap nya sedikit menoleh pada Ruby karena takut jika terlalu keras pisau itu akan semakin menggores leher nya.


Gllekkk, mereka menelan ludah sampai pegangan tangan mereka dari tubuh Nara melonggar.


" Paman turun kan aku dengan perlahan kalau tidak nyawamu akan melayang saat ini juga ". Bisik Nara pada telinga pria yang sedang menggendongnya, pria itu menurut begitu saja, padahal belum lama mereka masih menyombongkan diri dengan mata yang enggan untuk mengerjap dari setiap gerakan pisau yang seolah tengah menelusuri di mana posisi yang tepat untuk menebas nya


Ruby melihat jika Nara tengah lepas dari genggaman pria itu sampai Ruby berpikir apa pria itu begitu bodoh sampai dengan mudah nya melepaskan mangsanya begitu saja hanya dengan tekanan seperti ini membuat nya ketakutan ?. Pikiran Ruby.


" Tch dasar bodoh ". Sungkur Ruby sudah bosen dengan bermain nya. " enyahlah, kau menghalangi pandangan ku ". Dorong Ruby pada tubuh pria itu yang sedari tadi tengah mengeluh jika hari ini adalah hari akhir nya di dunia.


" ciihhh tunggu saja, lni belum seberapa !". Seru pria itu pergi meninggalkan kelima teman nya yang masih tergeletak di atas aspal.


" Mom ". Ucap Nara memberikan minum dan tissue kepada Ruby.

__ADS_1


" Makasih sayang ".


__ADS_2