Mafia Girls

Mafia Girls
Maafkan mommy


__ADS_3

Sebuah pedesaan asri jauh dari polusi dengan penduduk yang terbilang banyak menjadikan daerah itu jauh dari jangkauan.


Enam tahu lalu, pesawat yang di tumpangi Ruby terjatuh karena gejala turbulensi dan juga gejala lain nya yang mengakibatkan kerusakan di bagian mesin dan juga sistem pesawat. Tidak ada yang menginformasikan jika kecelakaan pesawat itu adalah ulah manusia, entah bagaimana bisa tertutup rapat.


Saat itu, Ruby dan juga Leya sangat erat berpegangan satu sama lain, karena pegangan itu pula mereka tak terpisahkan. Terombang-ambing mereka di lautan tak berpenghuni dengan sebilah puing yang menjadi tumpuan mereka, saat mata mereka terbuka lebar sepasang mata tengah memperhatikan Ruby dan juga Leya.


Dia melambai-lambaikan tangan nya dan langsung berlari keluar, tidak lama dari itu beberapa orang masuk dan langsung memeriksa Leya dan juga Ruby.


Jauh dari kota membuat desa itu tak teraliri cahaya listrik, bahkan bisa di bilang di desa itu tak satu pun memiliki alat elektronik dan juga alat komunikasi yang mumpuni sampai penghuni desa itu tak tahu berita yang sedang hangat-hangat nya beredar. Alejandro pun dengan kesibukan nya tak sedikitpun mendengar ataupun melihat berita yang tangah menjadi tranding topik sebagian negara yang berada di eropa dan asia.


Ruby dan Leya di nyatakan hilang ingatan saat itu karena terlalu banyak air yang masuk ke dalam tubuh mereka dan juga kepala, ditambah benturan di bagian kepala mereka mengakibatkan memori mereka hilang. Walaupun luka dari benturan itu kecil tapi efek dari itu mengakibatkan kerusakan pada otak yang di mana otak itu sangat berperan penting dalam pembentukan, pengaturan, dan penyimpanan memori atau ingatan jangka panjang.


" Al, minggu depan kaka ada pekerjaan di kota ! kau mau tetap di sini atau ikut kaka ke kota ?!". Seru Leya yang waktu itu masih hidup bersama Ruby dengan kondisi yang masih belum mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Kemampuan nya sebagai seorang dokter membuat dia mendapat tawaran dari rumah sakit kota karena beberapa waktu lalu bantuan kesehatan yang menyertakan seorang dokter ke desa itu membuat Leya di ketahui kemampuan nya.


" Tidak ka, mungkin aku di sini dulu sampai sehat untuk memulihkan memori ku agar semakin meningkat, lagipula ketiga anak ku masih betah di sini ka ! pergilah, nanti aku menyusul bersama anak-anak ku ". Ucap Ruby waktu itu menolak ikut bersama Leya ke kota.


Leya akhirnya berangkat ke kota dengan bantuan Alejandro dan juga kenalan nya di pusat kota yang di perkirakan itu adalah makau tempat nya lahir dan tempat di mana suami dan anak nya menanti dirinya pulang.


Alejandro bekerja sebagai arsitek di sana dan akan pulang jika pekerjaan nya selesai dan waktu panjang itu dapat meninggalkan Ruby dan ketiga anak nya di rumah yang bisa dikatakan terbilang luas dari rumah-rumah yang lain.


Tragedi terjatuhnya pesawat tak melayangkan nyawa anak nya yang tengah Ruby kandung, para dokter pun mengatakan jika ini adalah keajaiban yang langka untuk seorang perempuan. Kandungan yang masih muda biasanya mengakibatkan keguguran jika mendapat guncangan tapi hal ini malah sebaliknya, kandungan Ruby begitu kuat saat itu.


Alejandro merawat Ruby dengan sangat telaten, layaknya seorang suami yang overprotektif terhadap istrinya, dibantu oleh Leya di sana. Walau diapun sama tengah kehilangan memori hidup nya tapi dia tak sedikitpun mengeluh. Terkadang para tetangga yang dekat dengan rumah mereka ikut mengurus keperluan Leya dan juga Ruby tanpa meminta imbalan sepeserpun baik itu dalam bentuk uang ataupun tenaga.


Awalnya Alejandro bingung harus memanggil mereka dengan sebutan apa karena mereka pun tak tahu siapa nama mereka sendiri. Dengan keputusan nya sendiri, Alejandro memanggil Ruby dengan nama Al dan untuk Leya dia memanggil nya Le. Dia mengambil sebagian-sebagian dari nama nya sendiri dan panggilan itu telah di kenal masyarakat di sana. Alejandro tak sedikitpun memiliki rasa ingin menikahi salah satu dari mereka, karena hatinya lebih dulu merasakan hangatnya persaudaraan layaknya keluarga. Alejandro tipe laki-laki cerewet dan suka mendumel tapi Leya dan Ruby menyukainya.


Sembilan bulan mengandung, Ruby akhirnya melahirkan buah hatinya yang menggemaskan. Mereka yang ada di sana tak berpikir jika Ruby akan melahirkan bayi kembar karena mungkin selama dia mengandung tak melakukan pengecekan cabang bayi karena jauh dari rumah sakit besar.


Saat proses melahirkan, banyak yang menunggu Ruby dengan setiap lisan nya mengucapkan beribu-ribu doa untuk keselamatan ibu dan bayinya. Sikap ramah tamah Ruby semakin mereka sayangi sehingga Ruby tak kesusahan saat terdampar seperti itu.


Setelah menunggu satu Jam, dokter memberikan kabar bahagia jika Ruby melahirkan bayi kembar, laki-laki dan juga perempuan. Semua orang bersyukur dengan berita bahagia ini, Leya menangis bahagia begitupun Alejandro yang harap cemas mondar-mandir tidak karuan dan akhirnya dapat bernafas lega.


Tidak lama informasi itu di beritakan, seorang perawat kembali memanggil dokter dengan panik nya. Leya dan juga Alejandro semakin tidak karuan saat itu karena melihat perawat dan juga dokter langsung kembali masuk ke dalam ruangan.


Satu jam menunggu kabar, suara bayi terdengar kembali di telinga mereka. Leya dan juga Alejandro saling pandang, air mata mereka yang tertahan akhirnya tumpah kembali. Berita kelahiran putra-putri Ruby tengah menjadi topik terhangat di desa itu, semua orang turut berbahagia atas kelahiran mereka. Dokter memberi kabar jika bayi terakhirnya adalah laki-laki.


Ruby menitihkan air matanya saat matanya menangkap bayi-bayinya yang begitu lucu dan menggemaskan, tampan dan juga cantik. Alejandro yang setiap saat melihat ketiga anak Ruby selalu berpikir jika dia merasa pernah melihat bola mata indah dan tajam itu, tapi entah di mana.


Saat ketiga anaknya terlahir kini dia bingung harus memberi mereka dengan nama apa. Alejandro dan juga Leya pun sama bingung nya karena mereka belum sama sekali menyiapkan nama untuk bayi Ruby. Mereka berpikir keras sampai Ruby akhirnya memiliki nama untuk bayinya.


Bayi nya yang pertama dia beri nama SEAN, untuk bayi kedua nya dia beri nama SHABILA karena dia adalah seorang perempuan dan bayi terakhirnya dia beri nama SHANE.

__ADS_1


Perkembangan mereka begitu pesat, di usia nya yang masih belia, mereka bertiga telah terlihat kemampuan nya masing-masing. Jika bisa dikatakan, mereka bertiga seolah tidak normal layaknya bayi-bayi pada umum nya. Berbagai bahasa yang sulit tak membuat ketiga anak Ruby kebingungan, mereka seakan mengerti apa yang tengah mereka ucapkan saat itu.


Alejandro dan Leya pun di buat kaget dan juga bingung, mereka bertanya-tanya kenapa mereka bertiga begitu pintar, dalam menyusun angka pun mereka sama sekali tidak kesusahan.


Sebulan setelah keberangkatan Leya, Ruby tinggal di rumah bersama anak-anak nya yang begitu sangat menyayangi Ruby. Alejandro hari ini harus pergi ke kota untuk pekerjaan nya, beberapa proyek pembangunan dibawah kendalinya harus benar-benar dia sendiri yang mengecek dan juga mengarahkan nya.


" Paman, kau cepat pergilah dan saat pulang jangan lupa bawakan aku oleh-oleh ". Ucap Shabila tidak tanggung-tanggung, mungkin juga dia sudah tak canggung dengan Alejandro karena sedari bayi dia juga yang mengurus Shabila.


" Kaka, kau ini tidak sopan ! ucapan mu itu seperti mengusirnya !". Tepak Shane di tangan Shabila.


" Shane !". Ujar Sean menatap adik bungsunya yang terlihat memukul tangan Shabila.


" Kaka, lihatlah anak nakal ini memukul tangan ku !". Manja Shabila mengadu kepada Sean dengan cemberut. Shane mendelik kesal karena pasti Sean akan membela kaka perempuan nya itu.


" Kaka melihatnya Sha ! Shane juga tidak salah, ucapan mu itu sedikit kasar ! jangan berkata seperti itu lagi ". Bijak Sean mendekati Shabila dan mengusap lembut rambut nya, Sean melirik Shane yang masih merasa kesal. Shane sedikit menyunggingkan senyum saat Sean sedikit membelanya.


" Kau tak tampan lagi jika cemberut seperti ini anak nakal !". Sean pun mengusap rambut Shane dengan penuh kasih sayang, Shane dan Shabila berhadapan dan memeluk Sean dari samping secara bersamaan.


Alejandro geleng kepala dengan tingkah mereka, Alejandro merasa beruntung dengan keberadaan Sean di rumah nya, karena jika dia tak ada maka Shabila dan juga Shane tidak akan pernah akur satu sama lain nya walaupun di antara mereka berdua saling menyayangi dan mengasihi tapi mereka tidak bisa mengatakan itu hanya dengan ucapan, bisa dikatakan mereka berdua gengsi mengatakan itu.


Ruby terlihat keluar membawa bekal makanan yang akan di bawa oleh Alejandro.


" Paman ini, makanlah jika sudah sampai ! Oh ia paman, salam buat ka Le ya, nanti aku nyusul kesana !". Ruby memberikan bekal yang ter gantung di tangan nya.


" Kau ini selalu saja !". Ucap Ruby.


" Paman Andro benar Mommy, masakan mu memang juara !". Semangat Shane memberi dua jempol kepada Ruby di ikuti Shabila.


" Paman berhati-hatilah ! jika kau kenapa-napa, Sean tidak akan memaafkan mu !". Seru Sean seakan sedang memperingati Alejandro.


" Paman tahu, tak perlu menatapku seperti itu juga kali !". Ketus Alejandro yang mendapat tatapan dingin dari Sean. Bisa di katakan jika mata Sean lebih mirip Edward begitupun dengan warna bola matanya seperti elang yang begitu tajam akan penglihatan nya.


" Sudah-sudah, kau pergilah sebelum terlambat !". Ujar Ruby, mereka masih berdiri di depan rumah sampai punggung Alejandro pun sudah tak terlihat.


" bye bye paman ". Ketiga anak kembar itu melambaikan tangan nya di udara.


Setelah Alejandro sudah tak terlihat, mereka berempat masuk kembali ke dalam rumah.


" Sayang ayo makan dulu ". Teriak Ruby terlihat sedang menata masakan nya di atas meja.


" Iya mom ". Jawab mereka bersamaan, sembari berlari mereka bergurau di sela langkah nya.

__ADS_1


" Kaka kaka, kau lebih menyayangiku atau ka Sabila ?!". Tanya konyol Shane karena dia merasa tidak di sayangi oleh Sean karena terlihat jika Shabila selalu saja dia bela.


Sean menghentikan larinya saat jangkauan meja makan sudah tak jauh lagi, Ruby pun terdiam dengan pertanyaan Shane, Shabila duduk terlebih dahulu tapi dia beranjak kembali.


" Sayang, kenapa kau bertanya seperti itu hmm ? Apa ada yang menggangu pikiran mu ?". Tanya Ruby lembut menggendong Shane. Shane menatap selidik Ruby dan memain-mainkan jarinya seolah dia merasa salah bertanya.


" Mommy, turunkan adik ku di sini !". Ruby memperhatikan Sean dan juga Shabila yang tengah terduduk bersebelahan dan menggeser satu kursi di tengah nya. Ruby tersenyum seolah mengerti apa yang akan Sean lakukan.


" Duduklah, mommy siapkan minum dahulu untuk kalian ! ". Ujar Ruby mendudukkan Shane dan beranjak pergi. Tatapan Shane mengingatkan Ruby pada seseorang yang dia rindukan, tapi entah siapa dia, Ruby benar-benar tak mengingatnya.


" Maaf ". Ucap Shane menunduk saat Ruby sudah tak terlihat lagi oleh matanya, tatapan Sean dan juga Shabila adalah tatapan yang tak mampu Shane lihat karena tatapan mereka seolah menyakiti matanya.


" Maaf untuk apa Shane ? kau tidak salah !". Ucap Shabila mengusap punggung adik bungsunya itu.


" Kaka tidak suka Shane berpikiran jika kaka hanya menyayangi Shabila ! jauhkan pemikiran yang seperti itu, jika tidak kita tidak akan bisa hidup rukun Shane !". Ucap lembut Sean mengangkat dagu Shane agar dia menatap mata kaka nya itu.


" Tatap kaka jika sedang berbicara ". Ujar Sean membuat Shane terduduk tegap, Shabila hanya mengelus-elus punggung Shane lembut.


" Shane, kita laki-laki ! menjadi laki-laki harus bisa melindungi saudara perempuan nya dengan baik, di sini kita hanya memiliki Shabila dan juga mommy yang harus kita jaga, jika kita tidak hidup rukun lalu bagaimana dengan mommy yang akan pusing mengurus kita bertiga ?! Shane apa yang kaka lakukan kepada Shabila bukan berarti kaka tidak menyayangimu, apa kaka pernah menegur mu jika kau tidak melakukan kesalahan ? Tidak pernah bukan ?! begitupun kaka kepada Shabila ! Jika kalian salah maka kaka akan menegur kalian berdua tanpa memandang jika kalian adik kaka, salah tetaplah salah, tidak bisa benar ! lalu jika kaka yang salah maka mommy pasti akan menegur kaka, begitupun dengan kalian, jika kaka salah maka kalian jangan sungkan untuk menegur kaka ". Tutur Sean membuat Shane dan juga Shabila tertunduk.


Jangan salah, mereka bertiga akan bersikap layaknya anak dewasa jika di tempatkan dalam situasi seperti ini. Ruby setiap hari bersyukur karena dikaruniai seorang anak yang pintar dan penuh kepekaan bada situasi sekitar.


" Kaka menyayangi kalian berdua !". Seru Sean melukiskan senyum menawan nya.


" Kami juga, maafkan kami ! ". Ucap Shabila.


" Maafkan Shane juga ka ! Shane tidak akan bertanya seperti itu lagi, Shane berjanji ".


Mereka bertiga berpelukan, Ruby yang sudah berada di sana menatap haru dan meneteskan air matanya.


" Apa mommy tidak diajak berpelukan hmm ?". Ujar Ruby, Sean menatap Ruby dan mengulurkan tangan nya.


" Kemarilah mom ". Ruby langsung memeluk mereka bertiga dengan tumpahan air mata.


" Mom, kenapa kau menangis ? apa kami melukaimu mu ?!". Ujar Shane melepaskan pelukan nya dan menyeka air mata Ruby.


" Maaf, maafkan mommy karena belum bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian bertiga ! maaf,,maaf ". Ruby semakin menangis.


" Mom, jangan seperti ini ". Seru Shabila ikut menangis sembari memeluk Ruby erat.


" Mom, kau bicara apa ? kau ibu terbaik di dunia ini, kami beruntung memiliki mommy di hidup kami ! tenanglah, kami akan melindungi mu dan menjadi anak yang baik untuk mommy !". Sean berdiri di depan Ruby dan mengusap lembut wajah mommy nya itu.

__ADS_1


Ruby dengan berlinang air mata menatap mereka bergantian dan mengusap lembut satu persatu pipi mereka. " Maaf, karena mommy, kalian menjadi anak dewasa sebelum tiba waktunya ! mommy menyayangi kalian ". Peluk Ruby.


__ADS_2