
Seorang anak kecil berjalan sendirian, wajah nya yang begitu manis menarik mata seseorang untuk melihat nya, begitu lucu dan menggemaskan. Dia tampak kebingungan mencari seseorang yang sedari tadi bersamanya, banyak orang yang hilir mudik bahkan berdesakan di area perbelanjaan tengah kota membuat dirinya terlepas dari genggaman baby siter yang selalu bersamanya.
" Maaf apa kau melihat anak kecil ini ?". Baby siter itu terus bertanya pada orang di sana dengan memperlihatkan fotonya yang berada dalam handphone milik nya.
" tidak, kami tidak melihat nya maaf !". Jawab nya menyatukan kedua tangan nya.
Ya, dia adalah baby siter yang Leo maksud dan anak itu adalah Putri dari kakanya Sehalio Jeffrey yang lahir 5thn silam dari wanita yang sangat dia cintai tapi takdir memisahkan mereka, wanita yang dia cintai pergi di saat melahirkan tanpa ada yang tahu, dengan alasan tidak ada persetujuan dari kedua orang tuanya hanya karena dia adalah wanita dari kalangan biasa maka dari itu mereka memilih menikah sembunyi-sembunyi.
Anak kecil itu tidak menunjuk kan jika dirinya sedang ketakutan, mencari terus mencari sampai dia berjalan ke luar sampai dia melihat jalanan yang masih terlihat ramai.
" Maaf, apa kalian melihat anak ini ?". Baby siter itu tanpa lelah dan tanpa malu terus bertanya pada para pengunjung yang sedang berbelanja.
" Tidak ". Jawab mereka berasamaan, ada pula yang menggelengkan kepalanya.
" Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan ? ". Terlihat jelas keresahan dan ketakutan dalam wajah nya. " bagaimana ini !". Ulang nya dengan langkah yang di percepat, matanya terus mengedar pada setiap sudut tapi tak kunjung menemukan anak majikan nya. Dia sedari tadi menolak saat anak majikan nya merengek ingin jalan-jalan tapi dia terus menangis membuat nya tidak tega, maka dari itu dengan langkah malasnya dia mengajak anak majikan nya itu ke luar tanoa izin dari Lio.
Lio jarang menemui anak nya dengan dalih sibuk karena urusan pekerjaan nya, anak itu hanya mengenali ayah nya dari foto yang terpampang di dinding.
" Apa harus menelpon nya ? kalau dia sampai tahu akan sangat bahaya untuk nyawaku ! Bagaimana ini ". Resah nya, dengan tangan bergetar baby siter itu kenghubungi majikan nya.
Tanpa bertanya, anak kecil itu terus berjalan menyusuri jalanan tanpa ada yang menyapa dirinya. Siang begitu terik tapi tiba-tiba mendung menandakan jika hujan akan turun, dia terus berjalan dengan rambut yang di urai sedikit galing di ujung nya, warna baju yang sekarang di kenakan nya menampak kan kecocokan alami sehingga memancarkan kelucuan dari nya.
" Halo ". Ucap nya.
__ADS_1
" Kenapa ?". Ujar Lio di seberang sana mengerutkan kening nya karena tidak biasanya baby siter anaknya menghubunginya di siang hari.
" It,,it,,tu tuan maaf hikss,hikss,hikss,,, ". Baby siter itu sangat ketakutan sampai air matanya punt tidak dapat tertahan di kelopak matanya.
" Jelaskan dengan benar ". Teriak Lio mulai merasa tidak nyaman dengan hatinya, Leo terkejut dengan teriakan kaka nya yang masih belum keluar dari ruangan nya.
" Ada apa ?!".Tanya Leo terkejut, Lio menyimpan jari telunjuk nya di bibirnya tanda jangan bertanya terlebih dulu.
" Maaf tuan, maaf, nona kecil menghilang ". Ucap nya ter isak-isak membuat Lio dan juga Leo terkejut saat mode pengeras suaranya di aktifkan sehingga Leo ikut mendengar nya.
" Apa yang kau bilang hah ? dimana kau sekarang !". Teriaknya. Dengan suara bergetar dia memberi tahu dimana sekarang dirinya berada, tanpa bertanya lebih lanjut, Lio dan juga Leo langsung bergegas ke sana.
" Kenapa tiba-tiba mendung ?". Ucap Leo yang hendak masuk ke dalam mobil, membuat dirinya semakin khawatir dengan keponakan nya. " Ka cepatlah, hari semakin mendung !". Ujar nya lagi, Lio menatap keluar mobil dan langsung melajukan mobil nya.
" Nak, apa yang sedang kau lakukan di sini ? di mana orang tuamu ?". Tanya seseorang yang baru saja akan melewati jalan itu, anak kecil itu tak menjawab seolah dirinya anak yang bisu. Wanita matang itu tidak lama langsung pergi begitu saja sesaat setelah tak mendapat jawaban darinya.
Hujan perlahan turun membasahi tanah yang terlihat sedikit berasap, mungkin akibat dari panas nya sinar matahari tadi menjadikan tanah itu sedikit mengebul.
Di lain tempat tepat nya di Irlandia, David baru saja kembali dari tugasnya lebih rincinya dari tugas pembasmian kelompok Mante. Wajah lelah terbias di wajah tapi dengan lihai nya tidak David perlihat kan, sesampainya di rumah bukan nya sambutan hangat yang di jumpai nya tadi malah sebalik nya seakan keluarga nya meminta jawaban yang mereka pertanyakan waktu lalu mengenai kebenaran jika adik manjanya benar-benar seorang mafia karena waktu lalu walaupum david menjelaskan nya dengan rinci tapi rasanya masih ada yang mengganjal di hati mereka.
" haihhhhh mereka kenapa coba, dasar kumpulan orang menyebalkan !" Gumamnya pelan sembari melangkahkan kaki nya lebih masuk ke dalam mendekati mereka yang tengah menatapnya tanpa ekspresi.
Di sela langkah nya, David merogoh handphone nya dan menghubungi Ruby agar pulang ke Irlandia, dia sangat malas jika terus menjelaskan nya pada mereka jadi dia memutuskan untuk Edward dan Ruby langsung yang menjelaskan nya agar mereka lebih puas.
__ADS_1
**
Ruby dan Edward bergegas berangkat ke Irlandia dengan jadwal penerbangan siang ini.
" Honey lihatlah anak itu ". Tunjuk Ruby ke luar mobil yang kebetulan sedang berada di lampu pemberhentian. Edward melihat ke luar mengikuti tatapan Ruby, langit mendung dan hujan pun turun berkala tapi tak membuat anak itu beranjak dari duduknya di bawah pohon rindang.
Edward meraih payung kecil yang terlipat di bagian belakang mobil hendak menghampiri anak itu.
" Itu di dekat botol ". membantu memberitahu letak payung yang masih Edward cari.
" Tunggu di sini biar aku yang menghampirinya !". Tutur Edward bersiap membuka pintu sesekali matanya menoleh ke luar menyaksikan hujan mulai deras.
" Cepatlah ". Ujar Ruby, dia benar-benar tidak tega dengan anak kecil itu. Dia begitu kecil sendirian di bawah guyuran hujan membuat Ruby mengingat dirinya dulu walaupun dulu usia Ruby sudah menginjak remaja tidak sekecil itu. Edward langsung turun dengan payung yang sudah siap melindunginya dari hujan.
Ruby menepikan dahulu mobilnya karena beberapa mobil di belakang nya terus menyalakan klakson mereka.
" Nak, sedang apa kau di sini ? di mana orang tua mu ? apa kau tersesat ?". Edward berjongkok di hadapan anak kecil itu sembari tangan nya masih memegang payung sehingga anak kecil itu pun tak terkena air hujan kembali.
Anak itu masih tidak bersuara dan tak mengindahkan pertanyaan dari Edward, wajah cantik nya memancarkan kedinginan persis seperti Edward dan juga Ruby miliki tapi tak mengurangi keimutannya.
" Apa dia tidak bisa bicara ?". Ucap nya dalam hati menatap lembut anak itu.
" Siapa namamu ? apa kaka boleh tahu ?". Tanya Edward padanya karena sedari tadi anak itu tidak melihat sedikitpun ke wajah Edward, hanya tatapan lurus ke depan dengan tatapan kosong nya.
__ADS_1
" Sayang ". Ucap Edward, anak kecil itu langsung menoleh ke arah nya saat Edward memanggilnya dengan panggilan sayang dan Edward pun terkejut tapi masih bisa di kendalikan. " Siapa namamu ?". Tanya nya kembali.