
Edward dan Ruby hendak keluar sembari mereka berdua menarik koper yang bisa dikatakan tidak terlalu besar.
" Mom,,Dad !". Panggil Nara berteriak, wajah lelah Nara terpatri di sana, rambut madu legamnya di kepang secara tak beraturan menandakan bajwa dia baru saja pulang dari bermain nya.
" Putri daddy, kemarilah ! apa uncle Brayn yang mengantarmu pulang ?!".Seru Edward menggendong Nara dan membenarkan sulur rambut nya yang acak-acakan. Ruby mengusap wajah nya yang terlihat kusam.
" Tidak dad, aku pulang bersama uncle David ! uncle Brayn pergi ke kantor bersama uncle Rayzen juga Aunty Savira ". Tutur Nara yang masih berada di dalam gendongan Edward.
" Ayo sini, kita mandi terlebih dahulu ! lihatlah, kau berantakan sekali sayang dan apa ini baju mu, bau serbuk mesiu, apa uncle nakal itu mengajarkan mu bermain senapan lagi ?!". Ujar Ruby mengambil alih tubuh Nara dari gendongan Edward dan mengendus-endus tubuh nara.
" eumm, Nara hampir bisa melakukan nya mom !". Senang nya, hampir setiap hari tak pernah bolos dia belajar makanya kemampuan nya perlahan meningkat dan mungkin juga itu efek dari kecerdasan nya.
" Bagus, kau memang putri daddy !". Bangga Edward mengacak-acak rambut Nara.
" Bagus ? bagus apanya, lihatlah dia masih kecil dan ini lihatlah wajah nya jadi kusam hanya karena bermain dengan kedua uncle nya yang nakal itu ! ini, tangan nya pun jadi kasar ". Dengus Ruby, lain di hati lain di mulut. Sebenarnya hatinya senang melihat perkembangan Nara yang seperti ini tapi dia pun khawatir karena bagaimanapun dia seorang anak kecil dan juga seorang wanita. Ruby tak mau jika kelak, Nara akan seperti dirinya yang hidup tak normal seperti kebanyakan orang. Bahaya dan bahaya di setiap langkah kaki nya membuat Ruby tak ingin jika Nara kelak akan seperti itu.
" mom, aku baik-baik saja ! Sekarang ayo kita mandi !". Ucap Nara memecahkan kekhawatiran yang terpancar dari sorot mata Ruby, ketika hendak pergi, Nara menangkap dua koper berada di belakang Edward.
" Dad, kau mau kemana ? kenapa membawa kopel itu ?!". Tanya Nara.
" Kita mandi dulu, nanti mommy jelaskan kepadamu ! ayo,, !". Angguk Nara ikut Ruby berlalu dari hadapan Edward.
" Kau memang putri Sehalio, tch hubungan darah memanglah kuat ". Edward kembali menarik koper. " Tapi sekarang kau adalah anak ku dan aku tak akan membiarkan Lio mengambil nya ". Gumam Edward dengan kesungguhan nya.
Entah kapan Edward bertekad akan hal itu, mungkin Ruby pun sama berpikir seperti itu. Dia tak mau jika Nara menderita hidup dalam lingkungan penuh muslihat seperti mereka Nenek dan Kakek nya menjadi orang yang mengganggu kepala Edward dan juga Ruby. Darah memanglah darah tapi jika bentuknya seperti ini tak akan Edward ataupun Ruby biarkan.
" Ka, apa yang akan kau lakukan dengan koper itu ?!". Seru David, Jakson pun menoleh.
Edward duduk di antara mereka berdua.
__ADS_1
" Boy apa Ruby akan pulang sekarang ? bukan kah dia bilang masih ingin tinggal di sini !". Ucap Jakson merubah posisi duduk nya sedikit menghadap Edward.
" Ia dad, tapi Ruby janji akan pulang hari ini pada mommy nya !". Jawab nya singkat tanpa menambah atau mengurangi ucapan nya.
" begitu kah ?! Apa keponakan ku juga akan ikut pulang kak ". Tanya David seolah pertanyaan nya benar-benar harus Edward jawab.
" kakak tidak tahu Dev, kita lihat saja ". Ketidak tahuan Edward membuat David dan juga Jakson menunggu Ruby untuk segera turun.
Tidak sampai menunggu lama akhirnya Ruby pun terlihat menuruni anak tangga bersampingan dengan Nara di dalam gandengan nya siap dengan baju yang sudah ia ganti.
" Dad ". Teriak Nara berhamburan ke dalam pelukan pangkuan Edward. " Apa aku sudah cantik ?". Nara bertanya dengan Gummy smile nya.
pipi chubby nya jadi sasaran tangan David.
" Lihatlah calon istri uncle sangat cantik sekalii ". Gemes David mencubit pipi lentur dan tebal milik Nara.
Pltaaakkkk.
" Sakit ! dad lihatlah kepala ku benjol ". Adu David pada Jakson sembari melirik Edward pura-pura sedih.
" Dihhh ngadu, dasar cengeng ". Ledek Ruby menatap malas pada David, Nara menengadahkan kepalanya melotot pada Edward.
" Apa !". Seru Edward, wajah tanpa dosanya terpatri di sana.
" ngga !, lihatlah dad, uncle David kesakitan ". Simpati Nara, David tersenyum puas melihat Nara membelanya.
" Uncle mu hanya pura-pura saja sayang, bagaimana bisa dia kesakitan hanya di pukul begitu !". Sangkal Ruby melipat tangan nya karena yakin ucapan Ruby dapat Nara mengerti.
" Aku tahu mom !". Senyum smirk terlukis di bibir Nara pertama kali, tch jika dilihat, senyum itu belum sebanding dengan senyum misterius dari Ruby, mungkin dia masih kecil jadi masih belum begitu terlihat.
__ADS_1
" Hahaha kau memang putri mommy ". Tawa Ruby membuat David jengkel.
" iya ia ia, kau memang putri mereka ". Balas David mengambil alih Nara dari pangkuan Edward. " Apa putri kecil uncle ini akan ikut mommy Ruby pulang hmm ?". Tanya David.
" emm, aku akan ikut pulang menemani mommy, ia kan mom ?!". Ujar nya menjawab pertanyaan yang sedari tadi meminta sebuah jawaban.
" yaaah, lalu jika Nara pergi, uncle and grandpa tidak ada yang ajak main ! Kau disini saja ya, jangan ikut mommy pulang ". Tutur David.
" Tidak uncle, Nala halus ikut pulang ! Nala juga ingin tahu keluarga mommy di sana, nanti Nala pulang lagi kesini ! ia kan mom ?!". Ujar Nara menggemaskan, Ruby mengangguk tersenyum.
" Baby ". Ucap Edward meminta jawaban dari perkataan Nara.
" Itu benar honey ! Nara hanya ingin melihat keluarga ku saja dan nanti akan kembali lagi kesini, itu yang dia mau ! aku sudah mengatakan jika aku akan pulang dan mengajak nya untuk menetap di sana tapi dia menolak ". Tutur Ruby.
" Sayang, apa itu benar kau akan kembali lagi ke sini ?". Tanya Jakson lembut, Nara menganggukkan kepalanya. " Baiklah, Grandpa akan menunggu kepulangan mu ". Lanjut nya.
" Aku belum belangkat loh Glandpa ". Ujar Nara polos.
hahahahha
" kau memang menggemaskan sayang ". Greget David mengecup kening lembut Nara begitupun Jakson.
Brayn telah menyiapkan keberangkatan Ruby, sekarang dia dengan Rayzen dan Savira telah berada di bandara menunggu Ruby. Awalnya dia menyuruh Ruby pulang dengan jet pribadi tapi di tolak dengan alasan jika dirinya ingin seperti orang-orang biasa biar terasa penerbangan nya dan mereka pun tak bisa menolak.
" By ". Teriak Savira melambaikan tangan agar Ruby melihat posisi dirinya. " hay keponakan aunty yang cantik, sini aunty gendong ". Savira menggendong Nara yang sedang menaiki koper yang Edward dorong.
" ini tiket nya ". Rayzen memberikan tiket penerbangannya pada Ruby.
" Makasih kak, maaf merepotkan kalian terus ". Ucap nya tidak enak.
__ADS_1
" yak yak yak, merepotkan apa ? tidak sama sekali sayang, selama itu kau kami tidak merasa di repotkan !". Ujar Rayzen.
" jangan mengucapkan itu lagi sweetie, aku tidak suka ". Peluk Brayn tidak peduli dengan Edward, David hanya acuh melihat tatapan tajam Edward pada Brayn.