Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 147


__ADS_3

" Sehalio pasti dia mencarinya begitupun Leo dan teman-teman nya, tapi sekarang mereka di bantu oleh Reina dan juga Meili kadang Agatha pun ikut mencarinya ! yang aku lihat mereka tanpa henti mencarinya setiap hari ". Jelas Alex dengan segala penyelidikan nya dari hari ke hari sesuai tugas nya, dia benar-benar di tuntut untuk peka dengan keadaan dan itu di atas perintah Ruby walaupun di sini Edward lah yang memiliki kendali penuh atas mafianya.


" Memang tidak salah pilih, kalian memang pintar ". Ujar Ruby memuji mereka bertiga, Edward melirik Ruby.


" apa kau pun sudah tahu semuanya ?!". Lesu Edward, Ruby menganggukkan kepalanya pelan.


" tch kalah satu langkah lagi ". Umpat nya.


Alex, Maxim dan juga Key baru pertama kali ini melihat King nya yang sedang mendumel kesal dengan ekspresi menggemaskan.


" mom hiks,,hiks,,hiks ". Tangis Nara, selalu saja dia bangun dengan tangis nya. Ruby menenangkan dan menggendong Nara ke dalam pangkuan nya.


" Kenapa ?!". Usap Edward di kepala Nara dan di saksikan oleh Alex, Maxim dan juga Key sampai mereka menganga dengan perlakuan Edward begitupun Ruby pada anak kecil itu.


" Entahlah ".


Ruby masih menenangkan Nara sampai akhirnya suara tangis Nara sudah tak terdengar lagi.


" dad, kita dimana ?". Nara celingak-celinguk sembari punggung tangan nya masih mengusap sisa air mata yang membasahi pipi nya.


" Kita di tempat yang sama seperti tempat mu bermain di sana ". Ucap Edward, Nara mengerti apa yang di maksud oleh Edward.


" Benarkah mom, daddy tidak sedang berbohong kepadaku bukan ?!". Semangat Nara.


" Benar sayang, tapi tak selengkap di sana !". Ucap Ruby.


Nara menatap sekitar dan pandangan nya terkunci pada mereka bertiga yang masih berdiri tidak jauh dari tatapan nya.


" Salam kenal uncle ". Sapa Nara sopan menyimpan tangan nya di dada sembari tubuhnya sedikit menunduk, mereka terkejut dengan perlakuan Nara sampai mereka tidak enak hati.


" tidak apa, tak usah tidak enak seperti itu ". Ujar Ruby mengerti akan reaksi yang mereka tampilkan.

__ADS_1


" mom, bolehkah aku pergi melihat-lihat ?". Izin Nara.


" tidak sayang, kita baru sampai loh ! kau harus istirahat, besok baru kita berkeliling dan mommy tidak akan membatasi nya dan melarang mu ". Cegah Ruby.


" tapi mom ". Rengut Nara.


Keaktifan Nara di luar kewajaran anak di usianya, dia begitu aktif dalam semua hal. Mungkin pada awal nya dia terlalu terkekang oleh keadaan sampai keahlian nya pun baru terlihat sekarang, Ruby dan Edward mengira jika Nara tak akan seaktif ini dilihat dari pertama mereka bertemu yang masih begitu tak semangat akan hidup nya.


" besok, tidak ada bantahan ". Final Ruby tak bisa di bantah.


Keesokan harinya semua anggota Red Phoenix telah berkumpul di aula atas perintah King nya termasuk Alex, Maxim dan juga Key yang baru saja datang. Pintu aula yang telah terbuka tengah menampilkan Edward dan juga Ruby serta Nara yang berada di tengah mereka sembari kedua tangan nya di gandeng di kedua sisi.


Siapa yang tidak penasaran akan keberadaan Nara di sana.


semuanya mengucap salam saat pemimpin mereka telah berada tegap di singgasananya.


Ultimatum Ruby kian terdengar, Edward duduk di kursinya sembari memangku Nara di atas pahanya. " Dengar baik-baik pertajam mata dan juga telinga kalian dan asah terus kemampuan kalian jangan biarkan mereka merusak apa yang sudah kita capai, jika sampai mereka menunjukkan taring nya maka kita harus lebih dari itu ". Tegas Ruby, suara bariton nya kian menusuk ke dalam telinga. Mereka tahu akan maksud apa yang tersirat dalam ultimatum itu karena jika Lady nya sudah berbicara maka di luar sana sedang ada yang berusaha mengusiknya.


" Satu lagi, jernih kan mata kalian dan lihatlah anak kecil itu ". Mereka langsung menatap lurus ke depan melihat Nara dengan begitu intens nya. " Kalian harus menjaganya, Paham !". Seru Ruby kembali.


Nara turun dari pangkuan Edward sedari tadi tidak bisa diam ingin segera berkeliling.


" mom, tepati ucapan mu ". Ucap Nara polos membuat Ruby seketika melembut, semua mafioso menjadikan keberadaan Nara adalah anugerah karena dengan singkat membuat suasana aula kembali normal. " Salam kenal untuk kalian semua uncle, panggil aku Nara ". Gemas Nara membuat dunia mereka seakan damai dengan wajah polos itu. Nara menyapa mereka dengan anggun ala-ala putri kerajaan.


" mom ". Panggil nya lagi.


Nara begitu senang berkeliling menjelajahi setiap sudut markas, setiap langkah nya dia bertemu mafioso yang sedang melatih kemampuan nya dan sesekali Nara pun menyapa mereka dengan sopan.


" Mom, kapan kita akan ke rumah Grandma ?". Tanya nya sesaat setelah dirinya mengistirahatkan tubuh lelah nya.


" Besok, tapi daddy mu tidak akan ikut ! ada pekerjaan mendadak di perusahaan nya dan itu tidak dapat di wakilkan ". Ruby mencolek hidung Nara.

__ADS_1


" baiklah mom tidak apa ". Ujar nya kelelahan.


" istirahatlah, mommy ambil makanan dan minum untuk mu dulu sebentar ". Ruby berjalan menuju dapur kecil yang ada di sana mengambil semua yang Nara sukai.


" ini minumlah ". Nara meminum air di dalam gelas tinggi yang baru saja Ruby ambilkan.


" mom ". Panggilnya.


" eumm "


" mom ". Panggilnya lagi


" ada apa ?". Tanya Ruby lembut penuh kasih sayang, Ruby memanglah masih muda tapi dia dan Edward berusaha untuk menjadi orang tua yang baik bagi Nara sampai-sampai dia mendatangi ahlinya dan juga belajar bagaimana mengerti psikolog anak. Ruby dan juga Edward ingin memahami dari hal terkecil mengenai anak, tidak ada keluhan dalam setiap langkah mereka.


" Jika nanti aku ingin bertemu dengan daddy ku apa boleh ? ". Tanya Nara tiba-tiba sendu.


" Ada apa ? kenapa tiba-tiba putri mommy ini bertanya seperti ini hmm ?". Ucap Ruby, benar adanya jika Nara kadang seperti orang dewasa dan kadang bersikap seperti anak kecil.


" Tidak mom, hanya saja tiba-tiba Nala melindukan Daddy ". Matanya terlihat berkaca-kaca yang air matanya siap untuk di tumpahkan.


" boleh, mommy sangat senang jika kau masih mengingat daddy mu tapi hanya sekedar bertemu saja tidak untuk tinggal dengan nya ". Ucap Ruby, dia bukan nya ingin mengekang atupun memaksa Nara tapi dalam situasi seperti ini masih belum pas untuk dirinya melepas Nara kepada Lio.


" Benarkah ? apa boleh ?". Ucap nya senang.


" Apapun untuk mu ". Usap Ruby di kepalanya.


" Ada apa gerangan putri dan calon istri daddy berpelukan seperti ini " Ujar Edward baru saja datang dengan pakaian kantor nya.


" Ada apa ? apa daddy melewati sesuatu ?!". Duduk nya di samping Nara.


" dad, apa besok daddy tidak akan ikut ke rumah grandma ?". Tanya nya langsung tanpa menjawab pertanyaan Edward.

__ADS_1


" Maaf sayang, daddy ada pekerjaan besok ! jadi daddy tidak bisa menemanimu, tapi jika sempat, daddy akan mengunjungi mu ke sana ". Tutur Edward.


" eumm, aku akan menunggu daddy di sana ". Peluk Nara mengalungkan tangan mungil nya di leher Edward.


__ADS_2