
" Keluar, keluar kalian semua ! pastikan jika besok kalian membawa kabar baik ke sini !". Ancam nya membentak marah tidak karuan padahal jika dirinya mampu lebih baik dia pun mencarinya bukan seperti itu, diam duduk manis di ruangan nya.
Mereka semua keluar terkocar-kacir sampai kedua kakinya saling berbenturan.
" Bagaimana ? masih tidak di temukan ?". Tanya Nyonya Jeffrey yang baru saja masuk.
" Benar-benar mencurigakan, bagaimana dia bisa langsung menghilang tanpa jejak seperti ini ". Seru nya heran berpikir keras.
" Apa anak itu mati ? ckckckc jika benar maka kita tidak perlu bergerak sama sekali ".
Ucapnya Nyonya jeffrey penuh harap.
Jika di gambarkan nyonya Jeffrey adalah Induk yang begitu kejam terhadap anaknya apalagi cucunya yang dia rasa akan menghambat tujuan nya.
Ingin rasanya bertanya, apa sebenarnya tujuan dari mereka berdua dalam hidup nya. Kalau tujuan mereka untuk menduduki mafia no satu maka jangan berharap sekalipun itu di dalam mimpi nya, karena mereka tidak akan pernah berhasil.
" Tch, itu yang ku mau karena dia penyebab anak ku membangkang atas semua perintahku maka tidak ada kesempatan untuk nya hidup ". Selah Jeffrey tidak terima.
" Tentu saja, dia yang menjadi halangan maka harus mati ". Timpal nya kejam dengan seringai licik yang terulas dari bibir nyonya Jeffrey.
" Bagaimana ? Apa kau sudah dapat mengendalikan ke adaan di sana ?". Tanya Jeffrey pada istrinya yang kemarin baru saja pulang dari Irlandia memimpin pembantaian ke markas Red Phoenix tapi dengan mudah nya mereka atasi dan dari pihak mereka tidak ada yang terluka sama sekali. Niat ingin menyusup tapi lebih dulu sial, tertangkap oleh Savira yang bertugas di lapangan.
" Gagal, banyak korban dari mafioso kita dan itu hanya di kalahkan oleh beberapa orang saja ! tapi itu membuat ku lebih semangat ". Seringai nya muncul kembali dari nya.
" Percobaan pertama gagal, maka berarti masih ada percobaan selanjutnya ". Ujar Jeffrey penuh dengan ambisinya.
__ADS_1
**
Edward kini sedang melajukan mobilnya pulang ke rumah calon mertua menghampiri putri dan juga calon istrinya karena sekarang hanya wajah mereka berdua yang dia rindukan.
Terlihat Nara masih semangat bermain kuda-kudaan bersama Revin, bergantian dengan dengan yang lain nya.
" Sudah sudah, punggung uncle pegal". Revin juga yang lain nya tampak lelah tidak henti-henti nya bermain dengan Nara begitupun dengan Agatha yang sudah mengeluarkan keringat nya.
" Uncle, apa kalian lelah ? maaf ! ". Ucap Ruby merasa bersalah, dia terlalu asyik bermain sampai wajah lelah dari aunty dan paman nya pun tidak dia indahkan.
" sebentar, Nara ambilkan minum dulu ". Nara melenggangkan langkah nya riang, mereka tidak melihat rasa lelah dalam diri Nara saat ini membuat mereka merengut tidak percaya.
" Nara tidak usah biar bibi pelayan yang mengambilkan air ". Teriak Revan menegapkan duduk nya.
" Nara tahu uncle, karena tidak bisa jika ngambil banyak air untuk kalian !". Cengir Nara menunjukkan gummy smile nya, sampai pelayan yang sedang melintas pun gemas mendengar cara penuturan Nara.
" Tidak sayang, sama sekali tidak repot, tapi setelah ini kau harus menjelaskan siapa anak kecil yang kau bawa itu !". Ucap Ronald tersenyum lembut begitupun Revin, Revan dan juga Agatha.
" Turunlah, kasihan dia kegerahan ". Ujar Revan menarik tangan Ruby agar terduduk di samping nya.
" Baiklah ". Balas Ruby langsung beringsut turun.
Revin dan Agatha terus mengibas-ngibaskan bajunya akibat kegerahan.
" mom ". Panggil Nara teriak, bi Elle mengikuti Nara dari belakang sembari membawa air dingin lengkap dengan jus buah di atas nampan.
__ADS_1
" hey, jangan teriak-teriak ! apa kau tidak takut pita suara mu putus ". Cetus Ruby heran kenapa semakin kesini sifat Nara lebih mirip dengan nya padahal dia bukan darah daging nya.
" mommy kenapa ? biasanya juga Nara teriak seperti ini mommy tidak pernah terganggu !". Ujar Nara berdiri dengan imut nya.
" yaak ". Sergah Ruby, suara rendah namun menggeram membuat Nara nyengir tahu jika mommy nya sedang merengut.
" waahh segar ". Nikmat Revin meminum jusnya sampai habis tapi Ruby dan juga Nara masih enggan mengalihkan tatapan nya satu sama lain.
" Ekheemm ". Dehem Revan keras karena makhluk di depan nya masih enggan untuk mengalihkan pandangan nya.
" Sayang ". Mereka berdua langsung menolehkan kepalanya karena kenal dengan suara itu. Revan dan yang lain nya termasuk bi Elle pun ikut menoleh, Edward berdiri tegap di ambang pintu.
" Daddy / Honey ". Teriak mereka berdua bersamaan, bagaimana reaksi orang-orang di sana ? pasti terkejut, kenapa Nara memanggil Edward dengan sebutan daddy dan kenapa hanya suara Edward saja yang mereka berdua indahkan membuat mereka iri dengannya.
" Daddy tangkap aku,, tangkap aku ". Teriak Nara berlari dari kejauhan begitupun Ruby tidak mau kalah dengan Nara.
Agatha sesekali mengamati wajah Nara begitu lekat, sedari tadi dia mengingat nya tapi tak kunjung berhasil.
" Ka, aku pernah melihat wajah Nara tapi entah di mana ". Ucap nya pada ketiga kaka nya.
" Coba kau ingat-ingat lagi di mana Tha karena kaka yakin jika Nara bukanlah anak dari Edward, tapi jika benar kalau Nara anaknya, kaka tidak akan segan menjauhkannya dari Ruby ! tch enak saja mengambil adik ku dengan mudah di saat dia menyandang duda anak anak satu !". Ujar Revin dengan kesungguhan nya masih menolehkan kepalanya pada mereka berdua yang sedang berebut pelukan Edward.
" tch tch vin, jika benar maka kaka pun akan mendukung mu ". Tepuk Revan di pundak Revin dengan ucapan nya yang mengandung ledekan.
" Lalu, apa si Lio itu sudah menemukan anak nya ? bukan kah kau juga sering ikut mencarinya ". Tanya Ronald tiba-tiba, Agatha menegang kala Ronald bertanya hal seperti itu, tapi saat itu juga dia mengingat di mana dia bertemu dengan dengan wajah tidak asing itu.
__ADS_1
" Ka, sepertinya aku ingat di mana pernah melihat wajah anak kecil itu !". Ujar Agatha, Ronald dan juga Revan serius mendengarkan apa yang akan Agatha katakan.