
Suasana Rumah sakit hari ini di penuhi oleh pengunjung, keberadaan kepala rumah sakit pun yang tak di rencanakan menambah suasana rumah sakit menjadi gaduh dan kedatangan nya itu di sebabkan karena putra sematawayangnya mengalami kecelakaan membuat para dokter sibuk memberikan perawatan yang maksimal untuk putra nya itu.
Baru saja suasana rumah sakit tenang, terdengar kembali suara yang seolah mereka terkagum-kagum dengan kedatangan mereka yang terlihat berjalan tergesa-gesa. Bukan hanya para pengunjung yang heboh tapi sekarang para perawat dan dokter pun ikut bersuara terutama mereka para perempuan.
Di pintu masuk, terlihat kaka-kaka Ruby mengekspos wajah tampan mereka. Brayn dan juga Ryzen dengan baju kantor nya, bajunya sudah terlihat acak-acakan tapi membuat mereka memiliki karisma yang semakin kuat dan juga pekat.
Revan dan juga Revin berjalan beriringan, Revan mengenakan celana chino pendek nya di padukan dengan t-shirt berwarna dark grey membuat dia terlihat semakin muda dari usianya. Revin dengan piyama tidur nya, rambutnya acak-acakan tanpa peduli dia rapihkan, dia yang seperti ini terlihat seolah dia masihlah berusia remaja.
Tanpa memperdulikan tatapan semua orang di sana, mereka berempat terus berjalan mencari ruang rawat yang di tempati Ruby. Di saat langkahnya, mereka bertemu dokter yang dia kenal dan sampai saat ini hubungan mereka semakin akrab. Matew tanawat, suami dari Leya yang bersama dengan keluarga Ruby mencari sosok yang di cintainya dan itulah awal dari terjalinnya hubungan mereka.
" Revan ". Ucapnya.
" Dok, kau juga ada di sini ?". Mereka bersalaman satu sama lain.
" Kalian ada keperluan apa di sini ? sepertinya kalian terburu-buru !". Seru Matew.
" Kami juga belum tahu pasti benar atau tidak kabar dari Edward tapi adik kami sudah di temukan dan dia ada di rumah sakit ini ". Seru Revan dengan pancaran matanya memperlihatkan kebahagiaan.
" Benarkah, jika begitu ayo kita ke sana !". Matew pun ikut senang dengan kabar ini.
Mereka pun pergi bersama-sama menuju ruang rawat Ruby.
" Uncle di sini ". Lambaian tangan Nara tertangkap oleh Brayn dan mereka langsung menghampiri mereka.
" Nara ". Revan menyentuh kepala Nara dan membelainya. " Kenapa matamu bengkak ?". Selidik Revan.
" Dari tadi dia terus menangis jadi matanya bengkak ka ". Jelas Edward yang tidak mau jika para uncle yang over nya itu salah paham.
" Benarkah !". Seru Brayn mengangkat dagu Nara dan memeriksa setia wajahnya.
" Haissh, kalian ini kenapa selalu menyebalkan !". Tepis Nara pada tangan Revin dan juga tangan Brayn. " Aku baik-baik saja uncle, lagian siapa yang berani menyentuhku saat ada hewan ganas berada di sampingku ". Ucapnya dengan sedikit kesal.
" oh iya uncle lupa !". Ujar nya menatap Edward.
" Ed, dimana Ruby ?! apa yang di dalam benar-benar Ruby ?!". Seru Revan memastikan.
" Benar ka, mataku masih normal untuk mengenali istriku !". Ucap Edward.
" Tch, masih saja ketus ". Timpal Rayzen.
" Kalian mau kemana ?". Cegah Edward saat ke empat monster over itu akan membuka pintu.
" Ke dalam, apa tidak diizinkan ?". Ucap Revin tidak jadi melanjutkan.
" Giliran, dokter menyarankan agar jangan terlalu banyak orang di ruangan nya !". Seru Edward yang masih belum sadar jika dokter Matew suami dari Leya berada di antara mereka.
" Aku yang jamin ". Ucap Matew, Edward dan juga Nara menangkap keberadaan nya di sana tapi mereka segera bersikap biasa kembali.
" Uncle, jangan terlalu semangat seperti itu, walaupun kalian bersamaan masuk ke dalam tidak akan ada yang di kenali ". Rancu Nara.
" Maksudmu apa sayang ?!". Tanya Brayn.
" Mommy juga tak mengenaliku dan kepada daddy juga mommy tidak ingat uncle, jadi kalian tenanglah dan menunggu giliran ". Jelas Nara membuat mereka tertegun.
" Maksud kalian, Ruby amnesia ?!".
Edward dan juga Nara menganggukkan kepalanya perlahan.
" Kita duduklah dulu ". Ajak Edward. Setelah mereka terduduk di kursi tunggu, tak ada yang bertukar cakap, mereka terlena oleh lamunan mereka masing-masing termasuk Matew yang dia tengah berharap jika istrinya pun segera di temukan. Edward menatap Matew sekilas dan mengembalikan pandangan nya lurus ke depan.
" Istrimu pun ada bersama istriku Dok ". Seruan Edward tak hanya mengagetkan Matew tapi juga mengagetkan mereka yang ada di sana.
" Dad, apa bibi Le yang kau maksud ?". Ucap Nara baru ingat dengan wajahnya. Edward menganggukkan kepalanya. " Pantes saja Nara tidak asing dengan wajahnya dad !". Seru Nara kembali.
__ADS_1
" Apa kau bilang ? apa dia juga ada di sini ?". Gagap Matew.
" Kau jangan asal berucap Ed, memberi harapan boleh tapi jangan keterlaluan !". Tekan Rayzen.
" Uncle, sepertinya itu benar, akupun melihatnya tadi dan dia sangat mirip dengan bibi Leya ! ". Ucap Nara yang membuat Matew semakin berharap jika dia benar-benar istrinya.
Pintu terbuka dengan keras, semua orang terkagetkan.
" Bibi, Paman !". Teriak Shane dan Shabila memanggil Leya dan juga Alejandro yang sedari tadi belum juga kembali dari beli makanan nya.
" Ada apa, ada apa ?!". Edward panik begitupun Nara. Brayn dan yang lain hanya terbengong mematung melihat anak kecil yang tengah panik.
" Dad, mommy !". Shabila masih terlihat ingin mengucapkan sesuatu.
" Ada apa ? katakan pada kaka Shabila !". Teriak Nara semakin panik.
" Dad, mommy sadar ". Bahagia Shane berjingkrak.
" Benarkah ? apa kau tidak sedang membohongi Daddy !".
" Tidak dad, cepat panggilkan dokter !". Ucap Shabila.
Suara sepatu berbenturan dengan lantai, terlihat Alejandro dan juga Leya berlarian karena dari jauh mereka melihat kepanikan dari Nara dan juga Edward.
" Shabila ada apa ?". Panik Alejandro.
" Katakan pada bibi ada apa ?". Leya pun panik menarik Shabila dan juga Shane ke depan nya.
" Paman, bibi, mommy ku sadar ". Bahagia mereka memberikan kabar gembira itu.
" Benarkah ? apa dokter sudah memeriksanya kembali ?". Semangat Leya.
Saat Shabila dan Shane akan berucap, Sean dengan kerasnya membuka pintu.
" Maaf, maafkan kami ka !". Tunduk mereka berdua.
" Sean, tenanglah ! dokter sedang menuju ke sini ". Ucap Leya menenangkan Sean.
Brayn, Rayzen, Revan dan juga Revin masih terbengong begitupun Matew yang sedari tadi menatap Leya dengan sendunya.
Mereka semua akhirnya menunggu di luar dengan cemas.
Shabila berada di gendongan Alejandro dan Shane di gendongan Leya tapi tidak dengan Sean yang masih tak mau untuk di tanya.
" Bi, turunkan aku ". Guncang Shane pada gendongan Leya, Leya segera menurunkan Shane begitupun Shabila ikut minta di turunkan.
" Ka, maafkan aku ". Ucap Shane di belakang Sean.
" Apa kau masih marah pada kami ?". Timpal Shabila. Sean masih enggan untuk menolehkan kepalanya.
Mereka bertiga jadi pusat perhatian di sana. Dokter yang mengecek Ruby akhirnya keluar.
" Bagaimana keadaannya dok ? apa dia baik-baik saja ?!". Panik Edward.
" Dia baik-baik saja ! pasien ingin bertemu dengan anak nya ". Ucap dokter itu dan pamit pergi.
" Terimakasih dok ".
" Ayo, mommy kalian ingin bertemu dengan kalian ". Ajak Leya pada Sean dan kedua kembarannya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam.
" Ka, apa kau tidak ingin ikut ? bukankah kau juga putrinya ?!". Seru Shabila menarik lengan Nara, Nara tersenyum sendu dan haru.
__ADS_1
" Mom ". Teriak Shane mendekati Ruby yang sudah terduduk di atas ranjang nya.
" Anak nakal mommy, kemarilah !". Ruby mengulurkan kedua tangan nya seolah ingin memeluk Shane. Shane menaiki kursi duduk dan menjangkau Ruby.
" Bagaimana sekarang perasaan mu ? apa masih ada yang sakit ?!". Tanya Alejandro.
" Tidak paman, aku tadi hanya tidur sebentar saja dan sekarang sudah membaik !". Jawab nya enteng.
" Tidur bagaimana maksudmu Al, dari tadi kau tidak sadarkan diri seperti orang mati ". Ketus Alejandro.
" Mommy, apa hanya Shane saja yang ingin kau peluk ?!". Protes Shabila.
" Kemarilah !".
Sean dan juga Shabila memeluk Ruby bersamaan. Nara pun tak tahan ingin memeluk Ruby tapi dia sangat takut jika Ruby menolaknya dan kini dia hanya bisa menatap iri pada mereka.
BRAAKKKKK,,
Pintu masuk terbuka dengan kerasnya sampai yang berada di dalam pun hanya diam mematung melihat kelakuan orang dewasa di sana yang terlihat layaknya anak kecil.
" Awww, kenapa kau malah dorong aku ka !". Protes Revin menggosok tangan nya yang dijadikan tumpuan di lantai agar kepalanya tidak terbentur ke lantai.
" Bukan aku vin, Rayzen yang mendorong kaka !".
Mereka saling menyalahkan satu sama lain sehingga Edward kesal di buatnya.
" Kalian bisa diam tidak ! ". Nyalang Edward.
Mereka sudah terlanjur masuk jadi mereka melanjutkan langkah mereka mendekati Ruby.
Ruby terdiam menatap mereka satu persatu dengan datar tanpa bicara.
" By ". Ucap sendu mereka.
" Ini nyata kamu Al ". Revin yang tak tahan langsung memeluk Ruby erat. Ruby merasakan basah di bahu nya, Revin menangis dalam diam.
" Kau kemana saja hmm ?". Ucap Revin dalam tangis nya, Ruby masih terdiam mematung tanpa membalas pelukan Revin.
Edward yang tak kuat langsung membalik kan badan nya memandang dinding tak berwarna.
Revin melepaskan pelukan nya karena tak ada respon dari Ruby yang sedari tadi hanya diam membisu, tatapan Ruby saat ini tak dapat siapapun ketahui apa yang sedang dia rasakan sebenarnya.
Suasana ruangan memanas dan penuh kecemasan, rasa takut tak di kenali oleh ruby semakin menjalar di hati mereka.
" Sayang, apa kau tidak mengingat kaka ? apa kau sedang berbohong ?! jangan seperti ini kaka mohon ! ". Sendu Revin.
Ruby masih terdiam, tak merespon sedikitpun ucapan Revin, keningnya mengerut seolah sedang kebingungan.
" Ternyata benar apa kata Nara, kau sama sekali tak mengenali kami !". Lirih Revin berjongkok tapi dengan tangan nya yang masih menggenggam Ruby.
" Sweety, lihat aku ! apa kau juga tak ingat dengan kaka mu ini hmm ?". Giliran Brayn yang berbicara, semua orang menunggu jawaban dari Ruby tapi itu nihil, Ruby masih terdiam.
" Brayn, sudahlah ! jangan paksa dia untuk mengingat kita seperti ini ! kasihan dia, yang kepalanya akan bertambah sakit ". Seru Rayzen.
Revan terlihat membantu Revin untuk berdiri kembali.
" Uncle, kalian duduklah dulu, jangan terus berdiri ! takutnya mommy akan bertambah pusing jika terus di kelilingi seperti itu ". Ucap Nara, Ruby merilik Nara dan matanya membiarkan memandang Nara yang telah beranjak remaja dengan wajah nya yang semakin cantik dan berkarisma.
Revan dan juga yang lain nya, mendudukkan tubuhnya di sofa panjang yang sudah lengkap di ruangan itu.
Ruby masih tak melepaskan pandangan nya kepada Nara, Nara yang merasa di tatap langsung menolehkan kepalanya dan akhirnya menatap Ruby.
" Kau siapa ?". Akhirnya Ruby bersuara sampai Edward pun membalikkan badan nya saat mendengar pertanyaan dari mulut Ruby.
__ADS_1