
" thanks Rei, kau memang terbaik begitu pun Ruby ! oh ia, tuh anak kemana seharian ngga ada kabar ?". Ucap Meili karena biasanya mereka berkomunikasi setiap hari tapi hari ini belum menerima kabar dari nya.
" mungkin dia sibuk Mei, nanti juga tuh anak nelpon ". Jawab Reina menyalakan layar handphone nya.
Mereka berdua kini pulang dengan mobil mereka masing-masing dan terpisah di belokan, arah rumah mereka memang satu jalur tapi Reina memilih jalan yang terdekat dari rumah nya.
" Apa kita langsung pulang non ?". Tanya Pak Alan, Agatha melihat jam tangan nya memastikan masih banyak waktu untuk mengunjunginya.
" Pak kita ke alamat ini dulu yah !". Seru nya menunjukkan alamat yang Agatha perlihatkan dari handphone nya. " Tidak lama ko pak ". Lanjutnya karena menangkap keresahan di wajah pak Alan.
" baik non ".
Mobil yang di tumpangi Agatha terparkir di area beberapa apartemen megah yang berada di sekeliling nya.
" Pak tunggu sebentar, aku tidak lama ". Agatha melangkahkan kaki panjang nya dengan cepat dan berhenti di depan pintu apartemen yang Lio tempati.
Agatha beberapa kali menekan bel, tapi tidak ada yang membuka pintu nya sampai di mana Agatha akan pergi, pintu itu terbuka dan Agatha pun kembali membalikkan badan nya.
" siang kak ". Sapa nya dengan masih rapih dalam berpakaian. Lio menatap Agatha dari atas hingga bawah berulang.
" Eum , dengan siapa kau ke sini ? Masuklah, tapi Leo sedang tidak berada di sini !". Seru Lio memandu Agatha masuk, Agatha mendadak canggung setelah beberapa saat menatap mata Lio, entah kenapa dirinya ingin sekali melihat Lio sampai-sampai dia berani mengingkari perkataan nya sendiri yang dia ucapkan kepada ketiga kaka nya.
" Tidak, aku bu,,kka,,ka ingin menemui kak Leo ". Ucap nya terhenti setelah Lio mempersilahkan nya duduk.
" Lalu ?". Ujar nya singkat, Lio melihat kegugupan di wajahnya, tangan nya sedikit meremas rok mini yang dia kenakan tapi masih menutupi lutut nya.
Agatha memberanikan dirinya menatap Lio, Lio duduk dan mencondongkan setengah badan nya dengan tangan yang menumpu di atas paha menatap intens Agatha yang sedang di landa kecanggungan dan itu membuat Lio merasa gemas kepadanya.
" Lalu siapa yang ingin kau temui ?". Tanya lagi.
" ka,,kau, aku ingin melihat keadaan mu, itu saja tidak lebih ! maaf jika aku lancang ". Ucapnya terburu-buru takut tindakan nya malah membuat Lio tidak nyaman dengan keberadaan Agatha.
" Aku ?". Tunjuk pada dirinya sendiri. Agatha menganggukkan kepalanya tanpa menatap mata Lio karena tatapan Lio seolah menghunus tajam bola mata nya sehingga dirinya tidak mampu berlama-lama memandang nya. " kau mau minum apa ? aku akan ambilkan !". Ucap Lio meregangkan suasana canggung.
" Tidak, tidak perlu kak, aku tidak akan lama disini ! supir ku sedang menunggu di bawah, kalau begitu aku pamit !". Seru Agatha langsung berdiri dari duduk nya menolak Lio menghidangkan air minum untuknya.
__ADS_1
" Jika begitu pulang lah ". Ucap Lio lembut dan segera mengantar nya ke depan pintu.
" Maaf mengganggumu kak, istirahatlah dengan cukup, jangan terlalu memaksakan dirimu, semuanya pasti ada jalan nya ". Pamit Agatha, Lio mengulas senyum nya, dia berpikir baru kali ini ada wanita yang mengatakan hal itu. Ibu dari Nara pun dia ingat belum pernah mengatakan hal selembut ini.
" Jangan pernah mengikat rambut mu di hadapan laki-laki lain ". Ujar Lio tiba-tiba, Agatha menghentikan langkah nya tiba-tiba dan membalikkan badan nya kembali menghadap Lio, dengan sengaja dia merogoh ikat rambut dari saku dan menggelung nya ala-ala wanita korea. Lio melototkan matanya dengan tindakan Agatha, Agatha hanya tersenyum jail dengan tingkah Lio.
" yak,,yak,,yak kenapa kau nakal sekali !". Lio segera mendekati Agatha dan menarik ikat rambut nya, Agatha menengadah kan kepalanya karena Lio lebih tinggi dari nya.
" kakak ku juga seorang laki-laki ". Ujar nya dengan tatapan polos. Sekarang Lio yang canggung.
" Maksudku selain kakak mu, jangan pernah kau mengikat rambut mu ". Ucap nya memalingkan tatapan.
" kenapa ?". Tanya Agatha.
" Tidak, tidak ada ! pulanglah, jika kau telat kakakmu akan membunuh ku ". Lio membalik kan tubuh Agatha dan mendorong nya pelan.
" Mereka tidak tahu jika aku di sini ". Seru Agatha yakin.
" Tidak tahu ? kau ini bodoh sekali, mereka tak sedetik pun meninggalkan gerak-gerik mu tha, apa kau ingat yang kejadian waktu lalu ?". Ujar Lio berpikir apa Agatha belum tahu jika ketiga kaka nya sedang mengawasi gerak-gerik nya.
" iya iya aku tahu ". Seru Agatha tanpa pamit langsung bergegas pulang, Lio menetralkan nafas kasar karena sedari tadi jantung nya terus berdetak dengan sangat kencang.
" Agatha ". Gumam nya terbayang akan ekspresi wajah Agatha yang menurut nya begitu lucu. " Haihhh apa apa aku ini pedofil, tidak,,tidak ". Sadarkan nya, usia Lio sudah sangat matang jika di bandingkan dengan ketiga kaka Agatha dia masih lah paling tua hanya saja wajah nya baby face jadi seolah tidak sesuai dengan umur.
***
Di sebuah kafe, Revan dan juga Ronald serta Jasmine sedang singgah di sana sesaat setelah mereka menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan klien yang mereka lakukan di luar. Mereka bertiga mengobrol layak nya teman dekat, begitupun Jasmine yang sudah tak ada kata canggung lagi dengan mereka dan karena kedekatan nya sekarang dirinya dan juga Ronald memiliki ikatan yang mungkin kedepannya akan ke tahap yang lebih serius.
Sedang asyik nya mereka mengobrol terkaget kan dengan suara benturan keras dari beberapa kendaraan yang saling berbenturan.
Dughhh,, brakhkhh,, dreetttt,,brakkk,, brakk
,,,ckitttt
Kecelakaan itu jelas sekali di telinga dan mata mereka, kecelakaan itu tepat sekali di persimpangan jalan di depan kafe yang mereka singgahi.
__ADS_1
Semua orang berbondong-bondong melihat kejadian dan tidak sedikit banyak jerit tangis di tempat itu, tidak lama dari kejadian itu, suara ambulance kini yang terdengar saling bersahutan. Revan, Ronald dan juga Savira pun berhambur keluar kafe.
" Ya ampun van, lihatlah dia !". Seru Ronald melihat seorang wanita yang sedang di angkat untuk di naikkan ke dalam mobil ambulance, darah segar terus mengalir dari sebagian tubuh nya begitupun sebelah wajah nya sudah teraliri darah segar.
Revan langsung berlari diikuti oleh Ronald dan juga Savira. Saat sampai di sana, polisi mencegah mereka untuk mendekati tempat kejadian tapi bukan Revan dan Ronald namanya kalau tidak bisa menembus pertahanan polisi.
" Benar bukan !". Ujar Ronald kembali menatap lekat wajah yang tidak asing bagi mereka.
" Siapa dia ?". Tanya Jasmine penasaran, Revan dan juga Ronald saling pandang dengan sorotan mata yang penuh keterkejutan benar dugaan nya.
" Kami keluarganya, bisakah kami ikut ?". Petugas ambulance itu memperbolehkan mereka dan langsung bergegas berangkat.
" siapa dia, kenapa kalian diam saja ?!". Jasmine masih dengan rasa penasaran nya.
" Apa dia kekasih mu ?". Ujar Jasmin sarkastik menyelidik karena Revan itu sangat tidak mungkin, pria semacam dia yang tak pernah dekat wanita mana bisa memiliki seorang kekasih.
" Bukan sayang, kau ini kenapa masih saja tidak percaya kepadaku ?!". Bantah nya pelan, Ronald benar-benar tidak menyangka Jasmine bukan hanya cerewet tapi dia juga adalah wanita pencemburu.
Jasmine menatap lama mata Ronald, setelah melihat tak ada kebohongan darinya, Jasmine pun berhenti curiga.
Mereka tiba di rumah sakit, semua petugas berlarian keluar, ada sekitar lima orang terluka parah termasuk Sasya. Ya, dia adalah Sasya yang wajahnya begitu Ronald dan juga Revan kenali, entah apa yang sedang dia lakukan di Jerman tidak ada yang tahu.
" Kalian keluarganya ?". Tanya dokter yang menangani Agatha.
Revan dan juga Ronald langsung menjawab nya bersamaan. " ia dok, bagaimana keadaan nya ? apa dia baik-baik saja ?". Tanya Revan.
" kita harus segera melakukan tindakan operasi di bagian kepalanya da,,,, ". Tanpa dokter itu menyelesaikan penjelasan nya, Ronald segera memotong nya.
" Lakukan apapun yang akan membuat dia sehat kembali dok, kalau begitu saya akan mengurus semua kelengkapan nya !". Ujar Ronald di pandu oleh suster.
" Kalau begitu saya permisi ". Pamit dokter itu meninggalkan Revan dan juga Jasmine.
" Apa itu sudah menjadi kebiasaan kalian memotong pembicaraan orang lain ?". Badas Jasmine seakan sedang menyindir salah satu dari mereka.
" Aku ? maaf, aku tidak termasuk !". Bantah nya, Jasmine masih tidak melepas tatapan nya sesekali memutar bola mata dengan malas.
__ADS_1
" Mana ada maling mau ngaku ". Gumam Jasmine terselip ledekan di dalam kata-katanya.
|