Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 177


__ADS_3

" Walaupun ada banyak wanita yang mengincarnya tapi tetap saja dia selamanya hanya milik ku dan tidak akan ada boleh menyentuhnya sedikitpun ". Ruby tiba-tiba kesal, jika banyak wanita yang terus mendekati pria nya seolah menjadi budak dari Edward pun mereka mau.


" Ya ya ya, kaka tahu itu, tapi tetap saja kau harus hati-hati !". Ujar Agatha. " Oh ia Al, apa ka Lio pulang ?". Tanya Agatha.


" Sudah, tadi Leo menjemputnya !". Jawab Ruby.


" owh ! oh ia Al, kalau kau tinggal di Irlandia berarti Nara juga ikut ke sana dong ?". Ujar Agatha berdiri dan menyimpan handuk nya di bahu kursi kayu dekat lemari.


" Ya harus gimana lagi, kecuali jika Nara nya mau tinggal bersama Lio !". Ucap Ruby. " Dari awal juga dia sudah memutuskan untuk tinggal di Irlandia bersama uncle-uncle nya, tapi entahlah !". Ujar Ruby. Ruby memiringkan tubuh nya dan menarik selimut.


" Jadi kapan kau menikah ?". Agatha terus bertanya, seolah dia penasaran dengan kelanjutan hubungan Ruby dan juga Edward.


" Minggu depan, kalau bisa besok ". Jawab cepat Ruby membalikkan tubuh nya kembali.


" Besok ?, ya ampun Al, bagaimana kau akan menikah besok ?, gila kali ya, emang nya ngga ada yang harus di persiapkan gitu hah ?!". Heran Agatha dengan adik satu-satu nya ini.


" Tidak ada, aku tidak ingin ada pesta, cukup dengan pak penghulu saja untuk pernikahan ku kak !". Ucap Ruby yang akhirnya beranjak berdiri dari atas kasur karena Agatha terus saja bertanya.


" Dasar anak nakal ". Ujar Agatha geleng kepala.


Saat Ruby keluar, Ruby terkaget kan oleh kehadiran Edward yang tengah bersandar di dinding samping pintu kamar Agatha.


" Astaga, honey kau sedang apa di situ ?!". kaget Ruby, Edward menarik tangan Ruby lembut. " Ada apa ?". Tanya Ruby heran karena Edward tiba-tiba bersikap seperti ini.


Edward membawa Ruby ke balkon, Edward langsung duduk dan menarik Ruby agar ikut duduk.


" duduklah baby ". Ruby terduduk di pangkuan Edward dengan posisi menyamping.


" Ada apa hmm ?". Usap Ruby pada pipi Edward.


" Apa benar besok aku boleh menikahi mu ?". Ujar Edward membuat Ruby menatap lama manik mata Edward.


" Dasar tukang nguping ". Ruby mencubit hidung mancung Edward.


" Tidak, tadi kebetulan lewat saja dan aku tak sengaja mendengar mu mengatakan itu !". Bantah nya, tapi sebenarnya Edward mendengar semua obrolan mereka yang kebetulan pintu kamar Agatha tidak tertutup rapat jadi obrolan mereka jelas di telinga.

__ADS_1


" Ishh sama saja honey ". Sebal Ruby.


" ya ya ya terserah kau saja baby ". Ucap Edward mengalah. " Jadi apa benar dengan ucapan mu itu tadi hmm ?". Tanya nya kembali. Ruby menganggukkan kepalanya perlahan.


" Apa boleh pernikahan sederhana saja honey ?". Ucapnya nya cepat sebelum Edward berbicara.


" tentu, sesuai keinginan mu ! berarti besok pun kita bisa nikah ". Senang Edward.


" Lusa, lusa kita menikah ! bagaimana ?". Final Ruby.


" Tak masalah ". Saking bahagianya, Edward memeluk erat Ruby sampai Ruby tak bisa bernafas.


" honey, honey, lepaskan ! aku tidak bisa bernafas ". Keluh Ruby memukul-mukul lengan berotot Edward.


" maaf maaf ". Edward langsung melepaskan pelukan nya.


" Tch, apa kau mau menjadi duda sebelum waktunya hah ?!". Ujar Ruby menjewer telinga Edward seperti seorang ibu yang sedang menghukum anak nya yang nakal.


*********


" Ayo ". Seru nya pada Ruby yang sedari tadi sudah bosan menunggunya berdandan, padahal mereka hanya akan pulang saja ke rumah besar Smith.


" Calon mami, parfum mu terlalu menyengat !". Nara dengan polos nya menutup hidung nya, dia pun sudah menunggu lama bersama Edward di dalam mobil samapi-sampai mereka bosan.


" benar kah !". Seru Agatha mengendus-ngendus baju nya. " engga ko ". Ujar nya.


" Apa hidung mu sedang bermasalah Tha ? ini menyengat sekali ". Edward membuka kaca mobil nya dan langsung memakai masker, teriknya sinar matahari membuat baunya semakin menyengat.


" Ganti baju lagi sana ka, ini benar-benar bau ". Ruby pun tidak kuat dengan bau parfum Agatha.


" ok ok sebentar ". Agatha langsung berlari cepat ke dalam hendak mengganti baju nya.


" Apa hidung nya sedang bermasalah ? pakai parfum segitunya ". Protes Edward yang tidak kuat dengan parfum yang di pakai Agatha.


" Nara juga sama daddy ". Keluh Nara sembari menghembuskan nafas nya karena sedari tadi nara menahan nya

__ADS_1


" Calon mami mu itu mungkin ada kencan hari ini Ra ! ia kan mom ?!". Ujar Edward melirik Ruby.


" tapi ngga gitu juga kali honey ". Ruby masih terlihat mengipas-ngipas tangan nya di udara.


Mereka masih setiap menunggu Agatha di dalam mobil seakan mereka mati kebosanan di sana.


brakk,, suara pintu mobil tertutup sedikit keras dan itu ulah Agatha yang baru saja masuk dengan baju yang sudah dia ganti.


" Nara pikir aunty tidur ". Sindir Nara, Agatha mencubit kedua pipi Nara gemas.


" kau bisa saja sayang ! ayo kita berangkat ". Seru Agatha menepuk pundak Edward, Ruby dengan sigapnya menepis tangan Agatha dari sana.


" Astaga Al, cuman nepuk doang !". Protes Agatha.


" Ya tetap tidak boleh !". Ruby melirik Agatha yang sedang duduk di belakang bersama nara dengan tatapan mautnya.


" Eum, aunty nakal ! tenang mom biar Nara yang menghukum aunty ". Timpal Nara duduk menekuk lutut nya dan menghadap Agatha, ringisan keluar dari mulutnya.


" ssshh awww sakit ! kenapa kau malah mencubit ku ?!". Ringis Agatha, Nara berdecak pinggang dengan wajah nya yang dibuat segarang mungkin seolah dia sedang menghukum anak buah nya.


" heheheh maaf, apa sakit ?!". Dengan sekejap, Nara merubah kembali wajah nya, dia langsung mengusap tangan Agatha dan meniup-niup nya.


Ruby yang melihat itu hanya geleng kepala, apalagi Edward yang merasa Nara selalu saja menggemaskan dengan tingkah nya.


Setelah membelah jalanan yang selalu ramai, akhirnya mereka sampai di depan rumah besar Smith.


" Ka ". Teriak Ruby berlari pada Revan yang sedang berjalan ke arah Ruby.


" Dad, mommy benar-benar manja ". Ucap Nara yang sekarang berada di pangkuan Edward dan melihat jelas betapa manjanya Ruby sekarang.


Edward tanpa merespon ocehan Nara langsung berjalan melangkahkan kaki nya ke dalam.


" Yaaakk kau, kenapa hanya ka Revan saja yang kau peluk, aku bagaimana ?! ". Teriak kesal Revin yang selalu saja berada di urutan no dua setelah kaka nya. Sampai sekarang, Ruby masih menjadi rebutan kedua kaka nya yang selalu saja ingin dekat dengan adik kesayangan nya itu.


Greeppp, Ruby langsung memeluk Revin yang masih mendumel. " Satu hari saja tidak bertemu, apa kaka ku ini begitu merindukan ku yang cantik ini hmm ?!". Percaya diri Ruby begitu tinggi sampai Revin semakin mengeratkan pelukan nya.

__ADS_1


" ya ya ya, makanya jangan terlalu cepat dewasa ! ". Ucap Revin.


__ADS_2