Mafia Girls

Mafia Girls
Apa kau masih ingin bermain


__ADS_3

Timah-timah panas terus melukai semua orang di dalam sana, hampir dari mereka semua tertembak di bagian kepala dan juga dada, Edward dan juga Jake terkejut akan suara tembakan yang begitu tiba-tiba tapi Edward tak begitu saja melepaskan cekikan tangan nya dari leher Jake.


Semburan darah segar mengenai leher samping Edward karena bawahan jake yang berada di sana tertembak begitu kejam nya.


Terlihat seseorang terus mendekati Edward dengan kedua tangan yang memegang senjata api berukuran lumayan besar dan terlihat berat.


" Dev !". Edward mengerutkan kening nya, Jake seolah mendapat kesempatan dari lengahnya Edward dan langsung menyungkurkan tubuh Edward.


BRUGHHH, Brakk


Tubuh Edward menabrak dinding yang terlihat tebal namun mungkin karena dorongan keras itu membuat dinding tak mampu menahan nya sehingga bangunan sedikit retak.


" Diam di tempatmu tua bangka !". Sentak marah David yang langsung menarik tangan Jake yang hendak melarikan diri.


GREPPPPP, dengan kasarnya, David menarik tangan jake dan beralih pada rambut yang sedikit beruban. Edward melihat aksi David yang begitu tak punya hati, mata Edward mengedar dan menangkap dua orang bawahan jake dengan lemahnya menodongkan pistol pada David, Edward tak membiarkan itu, dia langsung menghabisinya saat itu juga.


DOR,,,DOR,,DOR.


Tidak puas, Edward mengambil alih senjata dari tangan mereka dan langsung menembak kan nya membabi buta pada semua orang. David mendudukkan Jake dan menekan bahunya dengan tangan kekar miliknya.


" Siapa kau ?".Tanya Jake terlihat tak ada rasa takut sedikitpun di matanya.


" Apa kau benar-benar tak mengenaliku paman ?!". Seringai David sembari membuka masker yang menutupi setengah wajah nya. Jake membelalak kaget.


" Kau !".


" Ia ini aku paman ". Garang David, Edward menepuk bahu David pelan dan David pun menegakkan tubuhnya kemudian menoleh.


" ka, apa kau baik-baik saja ?". Khawatir David mengedarkan pandangan nya pada tubuh Edward, luka-luka di sana telah menghiasi sebagian kulit Edward.


" Kaka baik-baik saja Dev ". Ucap nya pelan memegang sebelah tangan nya karena sikut Edward terlihat mengeluarkan darah.


Jake masih menatap nyalang mereka berdua dengan sedikit pertanyaan di dalam tatapan nya itu, keningnya mengerut seakan menahan sakit di bagian perutnya, perlahan tangan sebelah kiri Jake menyusuri perut yang terasa sakit.


" Basah ". Gumam nya, dengan cepat dia mengangkat tangan nya karena merasa basah. Sekali lagi matanya terbelalak terkejut.


" Darah ? Sejak kapan ?". Gumam nya bercampur terkejut.


David dan Edward berbalik dan berdiri berdampingan.


Dengan gagap nya. " Se,,jak ka,,pan ka,,kau,, ?!". Jake seolah tengah sekarat dari duduk nya. David menyeringai.

__ADS_1


" Sejak kapan ? tch,tch,tch apa aku harus menjawab nya ? tidak perlu bukan !". Sangar David, Edward melangkahkan kakinya mendekati Jake dan mencondongkan setengah badan nya.


" Itu hadiah dari ku paman ! tapi aku akan bilang, jika hal ini tak sebanding dengan nyawa istriku ". Dari dekat, Edward menatap tajam.


" Cihh, bahkan semua nyawa anak buah mu yang bodoh ini, tak ada apa apa nya !". Decih David.


" Istrimu? ". Masih dalam kesadaran nya, Jake berpura-pura tidak tahu alasan Edward datang ke Makau, yang dia tahu hanyalah jika Edward hanya mencari dirinya untuk memberi peringatan akan tempat yang dia incar untuk mengembangkan bisnis nya itu.


" Kau benar ". Dengan kejam, Edward kembali menusuk perut Jake. " Dan ini balasan nya ". Ucap kejam Edward. Jake langsung tak bernyawa saat itu juga, tangan Edward masih menumpu pada kursi yang di tempati Jake, helaan nafas sesak keluar dari mulut Edward dan menundukkan sekilas kepalanya. David berdiri bosan di sana dan cepat mengajak kaka nya pergi.


" Apa kau masih ingin bermain ka ?!". Ujar David mendekatkan tubuhnya berniat untuk menggandeng Edward.


" Kaka bisa jalan sendiri Dev ". Ucap nya seakan malas dan sedikit menjauhkan tubuh nya.


" Tch, kau tak pandai berbohong padaku kaka ku tercinta ". Tari David pelan dan merangkul bahu Edward.


" Kau ". Tunjuk Edward kesal, David hanya menyunggingkan sebelah bibir nya dan menaikkan satu alis nya.


Mereka berdua akhirnya keluar dengan David memapah Edward, untuk keluar dari gedung itu, Edward dan juga David harus melewati beberapa ruang yang pastinya di sana banyak orang yang sedang berkumpul bermain judi yang mungkin menurut pengunjung itu menyenangkan.


Tidak ada yang memperhatikan Edward dan juga David, mereka sibuk bermain satu sama lain, terlihat pula para wanita cantik di sana tapi tak ada satupun saat ini yang memperhatikan Edward dan juga David, entah karena saat ini mereka mengenakan masker. Saat langkah mereka yang hendak mendekati pintu, seseorang menghentikan nya.


" Bisa tanggalkan dulu masker anda tuan-tuan ?". Ucap penjaga, sekitar ada 4 penjaga keamanan di depan pintu.


" Ka, apa suara tembakan terdengar oleh mereka ?". Ucap nya pelan di telinga Edward, di ruangan itu suara musik begitu keras telinga sampai David pun tak risau jika terus menebak tadi.


" Kaka pikir begitu !". Ucap nya.


David dan juga Edward kembali menatap penjaga keamanan di depan nya dan membuka masker mereka masing-masing. Saat wajah mereka terekspos, mereka langsung menundukkan setengah badan nya sampai David dan juga Edward heran bahkan sekarang ini mereka saling pandang.


" Silahkan ". Ujar salah satu penjaga membuka pintu dengan tangan yang terlihat memakai sarung. Edward dan juga David kembali memakai penutup wajah nya dan melangkah kan kaki nya keluar, udara segar tercium oleh mereka seakan kembali menyegarkan nafas mereka yang kotor.


" Apa kau merasa jika penjaga keamanan itu sedikit aneh Dev ?". Ucap Edward.


" Kau benar ka, mereka mencurigakan ". Pikir David.


" Sebentar, kaka sampai lupa ! Kenapa kau bisa berada di sini Dev ?!". Seru Edward terduduk di dalam mobil samping pengemudi. " Bahkan kau memiliki mobil di sini ! Apa kau sebelum kesini mencuri mobil orang Dev ?!". Selidik Edward membuat David melongo, berpikir kenapa kakak nya ini bisa berpikir hal kotor seperti itu pada dirinya.


" Ya ampun ka ! apa wajahku ini seperti pencuri ? kau ada-ada saja ". Kesal David meninju udara di dalam mobil.


" Ya ya ya ! lalu kenapa kau bisa ada di sini ?!". Tanya Edward kembali.

__ADS_1


" Aku hanya tak bisa membiarkan mu berjuang sendiri ka !". Ucap nya melankolis.


" Tch, kau ini ". Ujar Edward mengacak-acak rambut David sayang.


David mengemudikan mobil nya dan tidak lama dari itu, David memberhentikan mobil nya di depan hotel yang bisa dikatakan hotel berbintang terbaik di sana.


" Ayo ". Ucap David membantu Edward kembali, padahal Edward sudah menolak jika dirinya bisa berjalan sendiri tapi David tetap kekeh dengan keinginan nya.


" Siapa mereka ?". Tanya Edward karena mendapati beberapa orang tengah berada di dalam kamar hotel yang baru saja di injak. David mendudukkan terlebih dahulu Edward.


" Mereka anak buah ka Brayn ka !". Jawab David. Edward menganggukkan kepalanya.


" Terimakasih atas kerja keras kalian !". Ucap Edward yang paham kedatangan mereka, apa lagi kalau memperlancar misi mereka, segala tanda bukti pembantaian Edward dan juga David telah di hapus dengan mudah oleh mereka bahkan cctv yang dibilang sangat banyak bisa mereka tangani.


" Jika begitu maka kami permisi King, Prince ". Pamit mereka dengan senyum terulas dari setiap sudut bibir mereka karena merasa kerja keras mereka di hargai oleh para pemimpin tertinggi yang begitu disegani.


" Apa kalian sudah makan ?". Tanya David, mereka menghentikan langkahnya.


" Sudah tuan, terimakasih !". Ucap mereka bersamaan. David memperhatikan mereka satu persatu dengan begitu seksama, Edward membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan tangan menutup matanya.


" Makanlah, jangan menyiksa perut kalian dengan kebohongan kalian itu, apa kalian tidak takut jika Lady kalian marah hanya karena kalian membiarkan perut kalian kosong ?!". Ujar Edward tanpa menatap mereka.


" Dev !". Ucap Edward, David mengerti apa yang di maksud kaka nya itu.


" Ini ambil lah, kalian makan sepuasnya !". David menyodorkan kartu debit pada mereka. " Ambillah, setelah kalian kenyang baru boleh mengembalikan nya ". Ucap David karena mereka enggan untuk mengambil kartu itu. Dengan sedikit tak enak, salah satu dari mereka mengulurkan tangan nya hendak mengambil kartu, David yang jengah langsung cepat menempelkan kartu itu di telapak tangannya.


" Terimakasih Prince ! terimakasih King !". Ucap mereka seolah penuh rasa syukur.


" Cepat pergilah ". Usir Edward mengayunkan tangan nya.


" Kaka akan menggantinya ". Ujar Edward membuat David tersenyum puas.


" Hahahaha, kau memang kakak ku yang terbaik !". Heboh David. Bukan karena David pelit tapi dia terbiasa dengan perkataan kaka nya itu, setiap uang David yang terpakai maka Edward akan menggantinya bahkan kadang tanpa sepengetahuannya.


" Ka, Bagaimana ini ! masih belum ada informasi mengenai Ruby ! akkhh, aku memang tak berguna ". Kesal nya pada diri sendiri.


" Bagaimana dengan kaka Dev ! kaka lebih tidak berguna sebagai suaminya, bahkan rasa bersalah ini seolah membeku membuatnya susah untuk mencair ! ". Ucap Edward masih enggan merubah posisinya.


" Bagaimana keadaan nya sekarang ini ? apa dia baik-baik saja ? kenapa dia tak bisa aku temukan sampai sekarang ! kaka begitu tidak berguna !". David melihat sedikit air mata yang keluar dari sudut mata Edward.


" Ka ". Ucap David tak tega melihat kaka nya seperti ini. " Bertahanlah, aku yakin dia masih hidup, sampai jasad nya belum terlihat oleh mataku sendiri maka aku tidak akan percaya jika dia sudah mati !". Tutur David, Edward memainkan gelang di pergelangan tangan nya.

__ADS_1


" Ka, gelang itu ! apa gelang itu tak bisa mendeteksi keberadaan Ruby ?". Seru David ingat jika gelang mereka adalah sepasang dan telah di lengkapi GPS di dalam nya.


" Tidak Dev, dia tak memakai gelang nya !". Hela nafas Edward sesak. David tak tahu lagi harus berkata apa.


__ADS_2