Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 171


__ADS_3

Ruby berjalan menyusuri ruangan yang nampak sepi, biasanya mereka bertiga yang menghangatkan ruangan kedap suara itu tapi sekarang mereka tak berada di sana karena sedang menemani key yang masih di rawat sejak sore tadi.


Sembari berjalan, Ruby mengikat kedua tangan nya yang luka dengan kain tipis di masing-masing tangan. " Tch, apa aku gila ?! ". Oceh nya berdecak.


" Bagaimana menyembunyikan luka ini ?, bodoh nya kau Ruby !". Umpat nya untuk diri sendiri sampai akhirnya dia masuk ke dalam kamar hendak merapihkan dirinya.


" caaaahh kau memang tak selalu pintar Ruby ku sayang ". Gumam Ruby yang baru saja selesai membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh nya yang lelah sembari mengakali bagaimana menutupi luka yang begitu jelas terlihat pada tangan nya, ditambah warna kulit yang putih memperjelas semuanya.


Di rumah sakit, semua orang ikut sibuk karena baru saja mereka mengetahui jika Ruby belum juga kembali.


" Kau memang menyembunyikan sesuatu Ra !". Ujar Brayn tidak habis pikir pada Savira yang sedari tari dia curigai saat gerak-gerik nya sangat aneh di tangkap oleh mata Brayn. Savira memperlihatkan sederet giginya saat Brayn menyindir.


" Apa kau sudah mencarinya di sekitar sini ?". Tanya Edward tenang karena dia yakin pasti kekasih nya itu baik-baik saja. " Ka, kau disini lah bersama daddy, sisanya akan mencari Ruby dan kau temanilah Nara di dalam ". Ucap Edward langsung pergi begitupun David dan juga Zen mengikuti nya dari belakang, Brayn pergi ke arah lain begitupun Rayzen yang kembali mencari Ruby


" Jangan kembali jika kesayangan daddy belum


di temukan !". Tegas Jakson membuat mereka menghentikan langkah nya dan memberi isyarat jika mereka alan segera menemukan Ruby, kesayangan daddy mereka, tidak hanya jadi kesayangan daddy nya tapi juga kesayangan mereka.


Revan dan Revin terlihat belum pergi, Revan menghubungi Ronald agar ikut mencarinya.


Di kediaman Smith, Ronald langsung beringsut pergi, keadaan rumah sudah nampak sepi karena yang ada di sana sudah tidur.


Ronald segera pergi ke lantai bawah tempat mobil nya terparkir, setelah informasi dari Revan, Ronald benar-benar tidak memikirkan apa-apa lagi, hanya satu yang ada di kepalanya yaitu dimana keberadaan Ruby saat ini. Ronald sudah masuk wilayah perkotaan dan di jalan sana ronald tidak melajukan mobilnya dengan kencang, matanya terus menyapu bersih tiap sudut jalan.

__ADS_1


" Dimana dia ? " Kesal Brayn pada dirinya sendiri, Rayzen tak bisa apa-apa karena dia pun sama halnya merasa bersalah, wajah sedih yang tampil dari wajah Ruby terus terbayang-bayang di kepalanya.


" Apa yang kita tugaskan menjaga Ruby tak ada di sekitar sini ? ". Ucap Rayzen. Brayn menoleh padanya dengan tatapan berpikir.


" Tidak ada, mereka semua sudah Ruby pulangkan dan di tugaskan untuk menjadi mata-mata musuh ". Brayn menghembuskan nafas nya berat dan kembali mencari Ruby dengan kedua tangan yang masih bertumpu pada pinggangnya.


Di lain sisi Edward bersama David juga Zen lebih dulu pergi ke ruang keamanan, mereka meminta izin terlebih dahulu sampai petugas pun mengizinkan nya.


" Apa kau yakin Zen mobilnya masih di area parkir ?". Tanya Edward dan dijawab iya oleh Zen karena memang kebenarannya mobil yang Ruby kendarai masih berada di sana.


David memeriksa semua cctv yang berada di sana dengan ketelitian penuh tapi tak mendapati Ruby keluar dari Rumah sakit yang ada hanya ketika dia keluar dari toilet saja dan setelah itu tak ada pergerakan dari Ruby lagi.


" Sambungkan aku dengan Maxim !". Seru David pada Zen, Zen langsung merogoh handphone nya dan langsung menghubungi Maxim.


" Ada apa Zen ?". Ujar Maxim yang tidak menyapanya terlebih dahulu karena itu sudah kebiasaan dari mereka.


" Halo ". Ucap David, Edward langsung mengambil alih Handphone itu dari tangan David..


" aiisshhh, kau mengejutkan ku saja !". Protes David karena kaget Edwar merebut Handphone itu lumayan kasar.


" Apa Lady kalian berada di sana ?". Tanya Edward yang Maxim pun langsung menjawab nya karena tahu dengan siapa dia berbicara terdengar dari suara yang dia kenal.


" Tidak ada King, tidak ada Lady di sini !". Jawab Maxim.

__ADS_1


" Apa kau sedang tak berbohong padaku !". Seru Edward menekan nada suaranya karena takut mereka kena ancam dari Ruby agar tak memberitahu keberadaan nya.


" Maaf king, saya memang sedang tidak berbohong ". Jawab Maxim sungguh-sungguh, karena kebenaran nya memang dia tidak tahu.


Edward langsung mematikan sambungan nya dan langsung menyerahkan handphone itu kepada pemilik nya dengan cara melempar pelan dan Zen pun dengan apik menangkap nya.


" Mau kemana ?". Teriak David pada Edward yang pergi begitu saja. " Jika bukan kaka ku, sudah dari tadi ku pukul kau !". Kesal David memukul udara di depan nya, Zen hanya bisa melihat kelakuan langka tuan nya itu.


Di dalam ruang rawat Nara, Lio hanya diam di samping Nara dan menatap nya begitu lekat, Jakson dan juga Savira hanya duduk tidak memperdulikan Lio, mereka berdua sibuk dengan membaca kabar berita di handphone nya.


Nara pun sama, dia yang sudah membuka matanya hanya menatap Lio dingin tanpa senyum di bibir nya. Lio tak bisa jika Nara terus saja menatapnya seperti itu membuat hatinya sakit.


Lio memberanikan dirinya memegang tangan Nara yang pucat dan mungil itu, dia tidak menolak atau merespon apapun hanya diam dan diam.


" Sayang ". Ucap Lio yang akhirnya bersuara tapi nada suara nya itu bergetar seakan tangis pun sudah tak bisa ia bendung. " Nara ". Ucap nya lagi dengan bibir yang bergetar, Nara hanya memandang nya dengan tatapan kosong. Savira dan juga Jakson saling pandang saat Lio memanggil Nara dengan suara lirih dan acuh mereka pun kembali pada kesibukan nya.


" Nara, maafkan daddy, maaf !". Lio menunduk menggenggam tangan Nara dan dia tempelkan di kening nya. " maaf ". Lio semakin erat memegang tangan Nara.


" Daddy bersalah padamu, maafkan daddy yang tidak peduli kepadamu, maafkan daddy yang tidak bisa menjagamu, maafkan daddy karena daddy tidak bisa menjadi ayah yang berguna untuk mu, maafkan daddy karena selalu mengacuhkan mu, maafkan daddy karena daddy bukan daddy yang baik untuk mu, maaf,,,maaf,,,maaf ! Daddy terima jika Nara marah, Nara benci kepada Daddy, tapi bisakah Nara tidak meninggalkan daddy seorang diri hmm ?!". Lirih Lio yang akhirnya air mata yang dia bendung keluar juga.


" Mommy, dimana mommy ku ?". Ucap Nara di sela tangis Lio, Nara menolehkan kepalanya ke samping.


" Grandpa, dimana mommy ku ? ". Ucap Nara pada Jakson, Jakson melirik Savira yang masih sibuk dengan handphone genggam nya. " Aunty, dimana mommy ku ?". Giliran Savira yang Nara tanya, Savira kelabakan harus menjawab apa.

__ADS_1


Lio yang tak mendapat respon dari anaknya seakan hatinya tersayat-sayat dengan silet tipis yang masih bening. Matanya yang sembab masih samar memandang karema air mata masih memenuhi matanya.


__ADS_2