Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 175


__ADS_3

Kucuran air terdengar di telinga, Ruby mengerjapkan matanya.


" Morning mom ". Kecup Nara di pipi Ruby, Nara sudah bangun sedari tadi tapi dia tak tega untuk membangunkan Ruby.


" Morning sayang ". Ruby mengecup singkat kening Nara dan langsung beranjak untuk membasuh wajah nya. Semua orang sudah terlihat berada di dalam sana tapi Ruby seolah mengacuhkan nya.


Edward mendekati Nara dan memberinya minum air putih.


" Al ". Panggil Revan yang berdiri di depan pintu kamar mandi yang ada di dalam ruang rawat.


" Eum ". Ruby membuka pintunya dengan wajah yang masih basah. " Kenapa ?". Ucap Ruby.


" Selamat ulang tahun ". Tiba-tiba Revin berucap dan mengeringkan wajah Ruby dengan tisu.


Ruby meraih tisu itu dengan lengan baju yang masih tersingkap. " Aku bisa sendiri ka ". Ucap Ruby, Revin tiba-tiba menahan tangan Ruby dan menggenggam nya.


" Ini kenapa ?". Tanya Revin membuat Revan pun memeriksa tangan kanan nya juga.


" ini juga sama ? kenapa kedua tangan mu terluka ?". Timpal Revan yang melihat satu tangan nya pun sama terlilit perban.


" ini bukan apa-apa ka, hanya sedikit luka saja ! Ka Ronald sudah mengobati ku semalam, jadi ini baik-baik saja !". Tarik pelan kedua tangan dari genggaman kedua kakanya.


Revan dan Revin menolehkan kepalanya kepada Ronald yang sedang sibuk menerima panggilan telpon nya, dia menganggukkan kepalanya memberi tanda jika yang dikatakan Ruby benar.


" isshhh, kenapa kau suka sekali membuat kaka mu ini khawatir hemm ?!". Ujar Revin memeluk Ruby.


" Selamat ulang tahun, adik ku sayang, maaf kaka telat mengucapkan nya ". Seru Revin melepaskan pelukan nya dan sekarang giliran Revan yang memeluknya.


" Selamat ulang tahun, maafkan kaka juga yang telat mengucapkan nya ". Ucap Reva.


" Tak masalah, yang penting jangan lupa hadiah nya ". Seru Ruby yang tak pernah lupa meminta hadiah dari ketiga kaka laki-lakinya.


" Apapun yang kau minta ". Seru mereka berdua bersamaan.

__ADS_1


Jakson berjalan perlahan dan memeluk hangat kesayangan nya. " Selamat ulang tahun kesayangan kake ". Ucap Jakson dan mengelus pucuk kepala Ruby.


" Terimakasih kake ku yang tampan ". Ujar Ruby melepaskan pelukan nya.


Ruby menghadapkan tubuh nya pada Brayn, Rayzen, Savira dan juga David yang sedang berdiri berjejer seolah sedang menunggu giliran. Ruby menatap mereka tajam.


" Ya ya ya, jangan lupa hadiah nya ". Saat David akan membuka suaranya, Ruby malah langsung memotong nya karena dia tahu apa yang akan di ucapkan.


" Sweety ".


" Apa ? apa kalian menyesal telah berkata kasar kepadaku hah ?". Ruby decak pinggang berpura-pura kesal kepada mereka. Mereka berempat menganggukkan kepalanya sembari sedikit menunduk. " Jangan ulangi lagi, aku tak suka ! jika aku salah maka kasih tahu aku dengan baik-baik seperti sebelumnya, bukan kah itu pertama kali ini kalian berkata kasar padaku ? Tapi aku akan dengan lapang dada memaafkan kalian kali ini !". Ujar Ruby.


" Tapi sweety, aku hanya mengerjaimu saja, itu hanya pura-pura ! ia kan ka ?!". Seru David melihat Rayzen sekilas.


" begitukah ?". Delik Ruby, menatap mereka bergantian.


Nara dan juga Edward saling berbisik dengan kelakuan keluarganya.


" Sudahlah aku sudah lupa ! tapi kalian, jangan lupa hadiah nya !". Ujar Ruby.


Kehangatan keluarga yang ini tak semua orang tahu karena orang di luar sana beranggapan jika mereka orang yang kejam dan juga meresahkan. Siapa yang tidak tahu para pem bisnis muda dan juga penguasa underground di berbagai negara ini ?.


Lio yang masih berada di sana merasa iri dengan kehangatan mereka, ada rasa tidak percaya jika orang-orang yang saat ini berada di dalam penglihatan nya adalah orang-orang hebat yang dia pun pikir jika mereka orang-orang yang angkuh.


*******


Dua bulan berlalu, Ruby merasa bahagia dengan hidupnya saat ini walau bahaya masih menghantuinya, karena bagaimanapun itu adalah resiko yang harus dia tanggung sebagai seorang mafia.


Kabar gembira datang dari Ronald yang memutuskan untuk menikahi Jasmine rekan kerjanya, walau hubungan mereka terbilang singkat tapi percayalah mereka berdua pasangan yang saling melengkapi dan juga sangat serasi.


Pernikahan mewah di gelar di mansion Ruby satu minggu yang lalu dengan para tamu undangan yang hampir memenuhi seisi ruangan. Kake Han pun hadir di acara pernikahan Ronald, keamanan dijaga ketat sampai Ruby mendatangkan keamanan khusus dari markas pusat.


Saat acara hampir selesai, kegaduhan terjadi di gerbang utama dan dengan sigapnya mereka dilumpuhkan. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Paman dari Ronald yang selama ini tengah mencarinya, Mereka diamankan dan langsung di seret keluar oleh para mafioso Red Pheonix di bawah perintah Ruby.

__ADS_1


Saat acara selesai, tanpa ada yang tahu, Ruby mendatangi mereka yang sekiranya ada hampir sepuluh orang dan dua di antara mereka adalah keluarga kandung dari Ronald.


Dengan gaun yang masih membalut di tubuh, Ruby terduduk menghadap mereka dengan senjata api di tangan nya.


" Sadarkan mereka !". Perintah Ruby pada mafioso yang sedang mengawasi mereka, mereka semua terikat dengan tali yang digantung untuk mengikat masing-masing tangan mereka begitu pun dengan kakinya.


Byurrrr,


Air tersiram keras di wajah mereka dan tamparan mendarat di pipi, mereka tersadar. Mereka mengerjap-erjap kan matanya seraya menyelaraskan pandangan nya.


" Hai paman ". Suara lembut namun tajam keluar dari mulut Ruby.


" Siapa kau ?!". Ucap salah satu dari mereka yang Ruby kenal jika dia adalah orang yang berperan penting dalam pembantaian keluarga Ronald, siapa lagi kalau bukan paman kandung nya.


" heuuh, kau bertanya siapa aku ? bukan kah harus nya aku yang bertanya seperti itu ?!". Ekspresi Ruby begitu santai tapi sangat mematikan.


Ruby berdiri dan mendekatinya, senjata itu dia todongkan di bawah dagu paman itu sampai kepalanya menengadah.


" Ada masalah apa kau mencoba menghancurkan pernikahan kaka ku haha ?". Garang Ruby semakin menekan senjatanya, Paman Itu sedikit menundukkan kepalanya sekilas bermaksud untuk melihat siapa dia yang berani mengancamnya tapi Ruby tak memberikan celah sampai kepalanya kembali menengadah dan senjata itu pun semakin menekan.


" Kaka ? Kaka mana yang kau maksud hah ". Kesalnya.


" Kaka yang ku maksud ?". Ruby menjauh dan dengan cepat senjata itu pindah ke depan keningnya. " Jangan bertingkah bodoh seperti itu, bukan kah ini menggelikan hah ? Ronald Esten, dia adalah kakak ku, apa itu cukup jelas ?!". Ujar Ruby semakin menakan senjatanya.


Dia terkejut. " Melinda !". Kaget nya. Ruby menyunggingkan sebelah bibir nya kejam.


" Melinda ? apa kau sudah lupa dengan wajah keponakan mu itu, sampai kau memanggilku dengan sebutan Melinda paman ? Apa aku semirip itu hah ?!" Desis Ruby.


Paman itu nampak berpikir. " Lalu siapa kau, keluarga Esten telah mati dan dia tak memiliki keluarga lagi ! jangan bodohi aku dengan mulut kotor mu itu ". Selidik nya.


" hahahaha, apa harus aku mengatakan siapa diriku padamu yang hina ini paman hahah ?!". Tawa jahat Ruby berdecak pinggang.


" Yaaakk,, jaga mulut mu itu wanita bodoh !". Marah nya tak terima.

__ADS_1


" Bodoh ? bukan kah kau yang bodoh paman ?!". Ledek Ruby meletakkan senjatanya di atas meja kecil hitam di dekat kursi yang tadi dia duduki.


" Apa maksud mu hah ?". Teriak kesalnya karena sedari tadi Ruby berbicara terus basa-basi.


__ADS_2