Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 150


__ADS_3

" Al, kau bisa beristirahat lebih dulu, biar Nara bersama kita ! kau belum makan bukan ? makanlah, nanti perutmu sakit ". Ujar Nameera, seperti mengkode jika dirinya harus pergi dulu sebentar meninggalkan Nara.


" Oh iya mom, kalau begitu aku ke atas dulu, bajuku seperti nya basah oleh keringat ". Peka nya langsung beranjak berdiri, Nara seketika memasang wajah dingin nya kesal kenapa mommy nya malah meninggalkan nya.


" Sudah, biarkan mommy mu mengganti pakaiannya dulu ". Ucap Revin tersenyum jail.


Nara tak bersuara sedikitpun.


" Nara, apa kita pernah bertemu ?". Celetuk Agatha karena merasa pernah bertemu dengan anak kecil di hadapan nya.


" Aku aunty ?". Ucap nya menatap Agatha yang kini tengah memandang nya.


" Iya sayang, apa kita pernah bertemu sebelum nya ? aunty rasa telah mengenal mu !". Seru nya mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan Nara.


" Tidak tahu aunty, Nara dan mommy baru pulang ke sini jadi Nara baru pertama kali ini bertemu dengan aunty ". Jawab nya dengan ekspresi yang begitu membuat mereka tertohok dan juga ekspresinya itu membuat semua orang ingin memandang nya beralama-lama.


" Apa benar ? sshhh tapi kenapa wajah mu tidak asing yah !". Pikirnya masih mengingat-ingat wajah yang seperti nya sidah dia kenal.


" Uncle ". Nara memberanikan diri memanggil mereka. Revan, Revin dan juga Ronald seakan sedang bermimpi ada yang memanggil mereka dengan sebutan uncle. Mereka langsung antusias mendekati Nara apalagi Revin yang sedari tadi sudah berjongkok di hadapan Nara yang tengah duduk di antara orang tuanya.


" Grandma and Grandpa ". Ucap Nara kembali menatap mereka satu persatu.


" Eum? ". Respon cepat mereka saling memandang satu sama lain, ada kehangatan di dalam hati mereka ketika Nara memanggilnya dengan sebutan itu.


" Apa tidak boleh aku memanggil dengan sebutan itu ?!". Tidak enak Nara.


" Tidak, bukan seperti itu sayang ! kau boleh memanggil kami dengan sebutan apapun, iya kan suamiku ?!". Peluk Nameera sekilas dan melepaskan nya kembali.

__ADS_1


" tentu saja ". Jawab Smith singkat mengusap lembut kepala Nara.


" Nara, berapa usia mu ! apa uncle boleh tahu ?". Tanya Revan lembut.


Mereka bertukar cakap dan bersenda gurau begitu lama sampai kini Nara pun betah di sana, suara tawa anak kecil kini menambah suasana begitu ramai.


Kebahagiaan mereka kini seolah bertambah, tapi tidak untuk Lio yang masih berada dalam kekalutan akibat kehilangan putri nya.


Mata Lio terus memandang orang yang lalu lalang di hadapan nya karena kini dia sedang mengistirahatkan tubuh lelah nya di ujung trotoar jalan begitupun Leo dan juga kedua teman nya yang masih ikut mencari keberadaan Nara di ujung kota karena tempat itu satu-satunya yang belum mereka kunjungi.


Beberapa pasang mata sedang menatap ke arah mereka, siapa lagi kalau bukan suruhan dari ayah nya yang juga sedang ikut mencari keberadaan Nara tapi keberadaan mereka kini tengah tertangkap basah oleh Leo yang sedari tadi merasa banyak sekali pasang mata yang seolah tengah mengincar nya.


" Kak ". Ucap Leo, Lio menoleh ke arah nya.


" Aku tahu, biarlah selama mereka tidak mengusik ". Lio dan juga Leo belum tahu jika orang tuanya pun sedang mencari Nara untuk mereka singkirkan, mungkin jika Leo dan Lio tahu akan sangat marah besar kepada orang tuanya.


" Kak, ini sudah begitu lama sejak Nara menghilang, sebagian negara pun sudah aku cek melalui koneksiku tapi tidak kunjung menunjukkan keberadaan Nara. Jika sudah seperti ini, apalagi yang harus kita lakukan !". Ucap Leo.


" jangan bicara seperti itu ka, kita akan terus membantumu mencari Nara sampai ketemu, ia kan Drew ?!". Ujar Lexi menepuk bahu Lio singkat. Andrew menganggukkan kepalanya.


" Ka, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu mu tapi ini mendesak sekali !". Serius Leo dengan ucapan nya.


" Ada apa ? apa ini menyangkut perencanaan aksi yang akan di lakukan oleh tuan Jeffrey ?!". Seru Lio.


Leo menautkan alis nya dengan ucapan Lio yang heran bagaimana dia tahu hal seperti ini, bukan kah dia berada jauh dari nya.


" Kenapa kaka bisa tahu ?". Heran Leo.

__ADS_1


Bibir Lio tersungging. " Hidup dalam penuh ketidak normalan seperti ini apa harus aku berdiam diri ?". Seruan Lio membuat Leo apalagi Lexi dan juga Andrew tidak mengerti apa yang di maksud ucapan Lio.


" Asal kalian tahu, hidup lebih dulu membuat ku merasakan apa itu hidup di ujung tanduk dan bagaimana di gunakan sebagai sapi perah hanya untuk mencapai sesuatu yang begitu di incar, tapi aku tidak menyesali hal itu karena dari sanalah aku belajar bagaimana menghadapi dan memperlakukan seseorang dengan baik ! hanya satu penyesalan hidup yang sampai saat ini aku sesali, pengakuan orang tua yang sangat ingin sekali aku dapatkan tapi malah membuat ku merugi. Tapi pada waktu itu aku memutuskan untuk tak menginginkan hal seperti itu lagi ". Tutur nya menerawang jauh mengingat bagaimana kehidupan nya di waktu kecil.


" Maaf, karena aku lebih akhir lahir dari mu ". Lirih Leo menatap sendu kaka satu-satunya.


" hahah tidak, tidak apa ! aku baik-baik saja, jika kau terus di sampingku hidup ku tidak akan di dera kesepian untuk kedepannya. Jadi tetaplah menjadi adik ku yang baik !". Tawa itu tak mencerminkan jika dirinya tengah berbahagia dan mereka bertiga pun tahu jika itu hanya tawa palsu.


" Lex ". Teriak Edward di seberang jalan yang kebetulan sedang melakukan pekerjaan di daerah itu. Edward menepikan mobil nya dan menghampiri mereka.


" Ed, kamu kenapa bisa ada di sini ? bukan kah masih di Irlandia, kapan balik ?!". Tanya Andrew bertos dengan Edward begitupun yang lain nya.


" dua hari yang lalu aku balik, Kalian sedang apa di sini ?". Edward mengedarkan pandangan nya.


" Apa kalian sedang ada pekerjaan di sini ?". Lanjutnya bertanya.


" tidak Ed, lah kamu sendiri ngapain di sini ?". Seru Lexi.


" Ada kerjaan di sekitar kota ini Lex ". Jawab nya biasa bertukar cakap karena mereka sudah beberapa minggu ini tidak bertemu.


Edward tak mengindahkan keberadaan Lio di sana, mengucap salam pun tidak apalagi berjabat tangan.


" Nanti malam kalian datang lah ke mansion Ruby, kita ngumpul bareng lagi di sana dan kalian boleh mengajak pasangan kalian masing-masing, itu pun jika ada hahaha ". Undang Edward karena dia pun merindukan suasana perkumpulan seperti itu walaupun dulu dia begitu dingin dan juga datar.


" Sepertinya kita tidak bisa Ed ". Ujar Leo melirik Lio.


" kenapa ? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari ku ?". Ucap Edward menatap mereka satu persatu.

__ADS_1


" ini bukan urusan mu ! kita permisi ". Sarkas Lio tak tanggung-tanggung melewati dimana Edward berdiri, Leo dan juga yang lain nya tidak bisa berbuat apa-apa.


" Kau masih saja angkuh tuan Seha ". Ujar santai Edward memasukkan kedua tangan nya kedalam saku celana dan membalikkan badan nya lurus ke depan dimana Lio tengah memunggunginya.


__ADS_2