
Ruby dengan teliti nya memeriksa setiap lembar berkas yang di pegang.
" Awasi setiap pergerakan mereka ! sepertinya mereka tengah mengincar kita untuk memperkuat ladang penghasilan nya ". Tegas Ruby yang mencoba memperluas pemikiran nya tentang hal-hal yang akan terjadi saat ini. " Jika di lihat di sini, mereka sedang mencari tempat baru untuk mendirikan kasino nya lagi dan kalian tahu, tempat yang mereka incar ? ". Seru Ruby berhenti di lembar kedua terakhir pemeriksaan berkas mengenai pemimpin salah satu mafia yang menguasai kasino di negara tenggara dan mereka akan memperluas di negara eropa.
Ruby mempertajam penglihatan nya dan memandang mereka satu persatu seakan mereka sama sekali tidak tahu, terlihat dari reaksi mereka saat ini.
" Zona J, bukan kah kalian tahu jika di sana gudang senjata dan tempat khusus perakitan senjata juga yang lain nya ?! Intinya, mereka mengincar tempat itu !". Siapa yang tidak tahu tempat itu, tempat inti ataupun bisa dikatakan pusatnya persenjataan milik Red Pheonix.
" Tch pintar sekali mereka mengincar tempat itu !". Decih David.
" Mereka bukan orang bodoh Dev, mereka pasti berpikir jika mereka mengusai gudang itu pasti kita akan terlumpuhkan juga dan akhirnya kita akan berada di kaki mereka ! bukan kah pemikiran seperti itu sangat menggelikan ?!". Ucap Ruby menyunggingkan sebelah bibir nya sembari mengetuk-ngetuk telunjuk tangan nya di atas meja.
" Yoo, jangan terlalu keras kepada mereka sweety, mari kita bermain santai ". Perkataan David seolah sedang bercanda tapi faktanya ucapan itu mengandung unsur kekejaman.
" Tch, baiklah mari kita bermain lagi ! ". Tegas Ruby dengan nada rendah nya.
" Bermainlah dengan sistem kalian ka ". Ucap Ruby saat Rayzen menunjuk dirinya sendiri bermaksud bertanya apa yang harus dia lakukan, Ruby dengan peka nya berucap, bukan untuk Rayzen saja tapi juga untuk Brayn dan juga Savira.
" Baiklah, lagian kami hanya seorang peretas hahaha ". Ucap Savira mengandung tawa. " tapi kesempatan seperti ini tak bisa aku lewatkan, pundi-pundi uang tidak lama lagi akan menghampiri ku ". Ucap Centil Savira karena mengingat sekarang ini yang sedang mereka awasi adalah pembisnis kasino terbesar.
" Terserah kau saja ka, besok aku akan terbang ke sana ! ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan !, kalian selesaikan tugas kalian, pastikan tidak cacat sedikit pun !". Tegas Ruby menutup rapat nya. Edward terlihat masih terdiam tanpa menyahuti setiap kata yang keluar dari mulut Ruby, Ruby menyadarinya dan hanya sunggingan bibir yang di ulaskan.
Ruby sebagai pemimpin tertinggi telah mencari informasi mafia-mafia mana yang akan melenceng dan merugikan banyak orang, sebagian dari mereka telah lama di ratakan, bukan tanpa sebab tapi mereka mencoba mengusik ketenangan sang Lady maka Ruby pun tak akan tinggal diam saja. Pemilik kasino terbesar di Asia sebelumnya telah menjadi pusat perhatian Ruby, bagaimanapun bisnis itu tidak akan maju pesat jika di dalam nya tidak ada orang kuat yang mengatur nya. Saat Ruby mencari informasi, semua dugaan dirinya ternyata benar, jika di dalam sana terdapat orang-orang kuat yang menjadi perisai dan juga tombak pertahanan.
Mereka keluar satu persatu begitupun dengan Ruby tapi Edward masih enggan untuk berdiri. Saat semuanya keluar, Edward menghubungi seseorang di seberang sana.
" Bisa kau jelaskan ?". Sangar Edward pada seorang pria di seberang sana yang ternyata adalah pemimpin dari kasino yang baru saja mereka bahas.
" Tunggu-tunggu, apa maksudmu ?!". Seru pria itu, dia sering di panggil Jake oleh orang-orang di sana, usianya sama dengan Luis, ayah dari Ruby.
Jake adalah orang yang sering memesan persenjataan pada Edward pribadi, mereka sudah lama saling mengenal karena putri Jake teman dari Edward. Rosie, putri dari Jake, teman baik dari Edward sampai saat ini.
" Paman, sudah kubilang berkali-kali jangan pernah mengusik keluarga ku !". Ucap Edward dengan suara bariton nya yang di tekan lebih rendah agar tidak ada yang mendengar.
" Bisa kau jelaskan Ed ?!". Dia berucap seakan tidak mengerti hal apa yang sedang Edward katakan.
" Jangan manfaatkan kebaikan ku, aku sudah bilang padamu jangan macam-macam atau kau akan tahu akibatnya !". Ancam Edward.
__ADS_1
" Tch tch tch, bukan kah kita hanya rekan bisnis ? lalu terserah saya harus apa dengan keinginan saya ini !" Decih nya.
" Terserah kau ? aku tahu itu paman, tapi apa kau tidak mencari informasi terlebih dahulu tempat yang kau incar itu hah ! aku memberitahumu hanya karena kau adalah ayah dari teman ku !". Sahut Edward dengan serius nya.
" Paman tahu, kau tak usah khawatir kan itu ! apa kau juga akan ikut campur usuran ini ? kita tak ada ikatan apapun dalam bisnis ini, kau dengan kesibukan mu dan aku dengan kesibukan ku, tak ada yang harus di takutkan KING !". Seru Jake santai sembari menghisap rokok nya.
Edward mengeraskan rahang nya. " Jika seperti itu, maka jangan salahkan saya jika kehidupan mu hancur seketika dan aku sama sekali tidak akan menolong mu paman ! kau tahu bukan wilayah itu adalah tempat kekuasaan mafia ku dan kau juga tahu bukan siapa yang berada di dalam nya ?!". Ujar Edward seolah sedang memberi peringatan kepada Jake akan akibat dari keras kepalanya itu.
" hallo,,hallo ". Edward belum selesai berbicara tapi sambungan nya telah terputus. " Cihh, jangan salahkan aku ! maaf Ros, ayahmu terlalu keras kepala untuk ku beritahu !". Ucap Edward pelan.
Edward mengenal Rosie sudah lama, dia seumuran dengan nya dan sampai saat ini hubungan mereka masing baik-baik saja. Kontak mereka sempat terputus saat kejadian pembunuhan dari keluarga Edward karena dulu Edward harus melakukan perawatan terlebih dahulu sampai saat di mana Jake menghubungi Edward, itu pun tanpa mengenal satu sama lain karena saat kejadian itu berita di mana-mana tersebar akan kematian keluarga Lucifer.
Jake memesan persenjataan langsung dari tangan King mafia Red Phoenix yang telah terkenal dimana-mana, ketertarikan Jake itu yang membuat mereka bertemu kembali, melakukan perjanjian dan juga beberapa syarat yang harus di setujui oleh pihak pemesan senjata yang akhirnya Edward sendiri yang menemui pembeli itu.
Selesai dengan lamunan nya, Edward beranjak dari tempat nya dan keluar dari ruangan rapat dengan mimik wajah yang kembali pada semula.
" Ka !". Panggil David menghampiri Edward yang baru saja menutup pintu kembali. Edward menolehkan kepalanya dan melihat David mendekat dengan tatapan penuh rasa penasaran.
Sembari berjalan bersampingan, mereka masih terdiam satu sama lain. " Katakan lah Dev !". Akhirnya Edward bersuara karena tahu jika ada yang ingin David katakan, hanya saja dia seolah masih berpikir.
" Ka, bukankah dia kenalan mu ! seingat ku orang tua dari teman mu adalah pemilik kasino ! apa dia yang akan kita awasi ka ?! Tapi tidak mungkin bukan, dia bukan nya orang baik ya ka ?! Ah, mungkin dia orang yang berbeda !". Seru David dengan rasa penasaran nya.
" hahahha, kau benar juga ka !". Tawa lirih David seakan mengingat tragedi pada hari itu. " Oh ia ka, bagaiman dengan si Egeune! apa kau masih menekan nya ? lembutlah sedikit ?!". Tanya David karena hari ini dia belum menadapat kabar kelanjutan dari paman nya itu.
" Tenang lah, sudah kaka bereskan ! sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit karena serangan jantung ! lebih lambat lebih baik bukan ? dia harus menerima ganjaran atas apa yang telah dia perbuat !". Ucap Edward.
" Lalu bagaimana dengan anak nya ?" Tanya David.
" Entahlah ". Acuh Edward. David menganggukkan kepalanya.
" Oh ia ka, apa kau masih berhubungan dengan ka Rosie ! aku sudah lama tak mendengar kabar darinya ?!". Tanya David.
" Masih Dev, belum lama ini dia menghubungiku ! mungkin ayahnya memberitahu keberadaan ku padanya saat setelah kita bertemu untuk melakukan perjanjian pembelian senjata waktu itu !". Jawab Edward.
" Wah, pasti dia sangat cantik ! apa dia masih memendam perasaan nya padamu ka ?". Ucap David sembari mengingat kejadian dulu saat Rosie menyatakan cintanya pada Edward tapi malah Edward tolak karena dia hanya di anggap teman oleh Edward waktu itu.
" Tutup mulut mu Dev !". Ujar Edward membungkam mulut David yang seperti ember bocor itu.
__ADS_1
" Lepas ". Tarik David pada lengan Edward. " Haih haih, apa kau takut istri tercintamu itu mendengar obrolan kita ka ?". Ledek David pada kaka nya itu.
" Emang kau tidak takut ? ". Ucap Edward mengandung sindiran, David hanya memperlihatkan gigi rapih nya. Edward berjalan mendahului David saat ini.
" Ka tunggu ". Cegat David.
" Ada apa lagi ?". Sahut Edward.
" Sebentar !". David melangkahkan kaki nya mendekati Edward. " Jadi benar, dia adalah orang yang kita maksud bukan ?!". Ujar David yang baru tersadar akan jawaban Kaka nya tadi.
" Kau benar, jadi persiapkan dirimu sematang mungkin ! jangan selalu mengira jika dia orang yang baik, kita tidak tahu bagaimana hatinya ". Tutur Edward menepuk dua kali lengan Edward.
" Lalu bagaimana dengan ka Rosie ?!". Tanya David.
" Kita ikuti saja alurnya Dev !". Ujar Edward.
Edward dan juga David berlalu, mereka berdua tidak peka akan sekitar dimana di sana tengah ada sepasang mata dan juga sepasang telinga yang tengah mengawasinya.
" bodoh ". Ruby menyunggingkan senyumnya. Ya, dia adalah Ruby yang sebenarnya masih berada di sana dan tak sengaja mendengar percakapan Edward dan juga David.
" Sayang, dimana mommy mu ?". Gendong Edward pada Nara yang tengah sibuk dengan cemilan nya.
" Mommy belum kembali dad, bukan kah dia tadi bersama kalian ?!". Ucap Nara, Edward dan David saling pandang satu sama lain.
" owh, mungkin mommy mu masih sibuk !". Ucap Edward menurunkan Nara kembali dan mendudukkan di tempat semula
" Ka ". Ucap David. Edward melirik sekilas.
" Sayang, apa kau masih belum selesai dengan makanan mu itu ?!". Ucap Ruby tiba-tiba membuat David dan juga Edward kaget, Ruby terlihat menghampirinya.
" Baby ". Ucap Edward.
" Eum, ada apa ? Ayo kita pulang !". Ruby berkata sembari membersihkan sisa makanan yang menodai baju Nara dengan sekilas melirik Edward dan juga David.
" Mommy, gendong aku ! kaki ku lelah kalau harus berjalan ". Manja Nara minta di gendong dengan mengulurkan kedua tangan nya. Ruby dengan sigap memindahkan nara ke dalam pangkuan nya.
" Baiklah, ayo kita pulang sayang !". Ruby berlalu pergi mendahului mereka yang sedang bergelut dengan pemikiran mereka.
__ADS_1
Sembari memandang satu sama lain, Edward dan juga David mengikuti Ruby dari belakang dengan langkah panjang nya.