Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 125


__ADS_3

" Sedang apa kau di sini ?". Sinis Nameera membuat hati Agatha begitu teriris tapi dia menerimanya, sebuah kesalahan yang dia tanam sekarang tengah di tuainya tapi Agatha berpikir apa ini hanya kesalahan nya ? lalu bagaimana dengan Luis dan juga Nameera yang gampang terhasut oleh dirinya, bukan kah mereka juga sama bersalah nya karena tidak memiliki kepercayaan penuh kepada anak nya ?.


Mata Agatha terus menatap Nameera dan juga Luis meminta maaf atas semua kesalahan nya, dirinya pasrah apapun hasilnya dia akan terus meminta maaf.


" Bagaimana kau bisa ada di sini ? setelah lama hilang dan muncul kembali secara tiba-tiba, apa yang sedang kau rencanakan lagi Agatha ?!" Sarkas Nameera, mulutnya begitu pedas serasa menguliti setiap bagian tubuh dan langsung di siram dengan air yang mengandung garam. Agatha diam, bibirnya mengatup rapat dan kepalanya tiba-tiba pusing tapi tak menjadikan ia memejamkan matanya.


Pergelangan tangan nya yang masih terbalut perban, tertutup oleh baju lengan baju nya yang kedodoran menjadikan Agatha seolah tertelan oleh baju itu makanya mereka semua tidak ada yang sadar jika Agatha terluka di sana kecuali Ruby.


Nameera dan Luis terus melayangkan ucapan tajam nya sampai dia sangat enggan menengadahkan kepalanya.


" Lalu bagaimana dengan kalian ?". Timpal Ruby sekedar mengingatkan jika kedua orang tuanya pun salah dalam hal ini, Ruby menengahi mereka mencoba tidak ada yang harus di sudutkan di sana.


Luis dan juga Nameera di buat mematung dengan ucapan Ruby. Revan malas dengan perdebatan seperti ini membuatnya enggan untuk ikut campur dan memutuskan untuk menonton nya saja begitupun dengan Revin dan juga Ronald.

__ADS_1


Luis yang mengerti kemana arah pertanyaan itu membuat nya tanpa ekspresi apapun di wajah .


" Apa maksud mu Ny ?". Tanya Nameera.


" Aku sudah memaafkan kalian bukan ? lalu jika seperti itu, apa aku tidak berhak memaafkan nya juga seperti halnya aku memaafkan kalian yang jika di ingat kalian sama saja bersalah nya !". Walaupun suara Ruby rendah dan juga pelan tapi masih dapat terdengar oleh mereka yang memiliki indra pendengaran yang tajam seolah mengandung sindiran dalam ucapan nya.


" Tapi kita orang tua mu By dan aku yang melahirkan mu bukan ?! Wajar jika seperti itu, lalu siapa dia By ? Dia anak luar yang dulu daddy mu pungut di jalanan dan mendadak menjadi anggota keluarga kita ! tapi apa ? dia malah tidak tahu diri, bukan nya berterimakasih tapi malah mencoreng nama baik keluarga dan juga memfitnah mu ". Ucapan Nameera yang awalnya biasa saja langsung meninggi dengan telunjuknya yang masih menunjuk Agatha yang masih terduduk. Mereka terperangah mendengar cacian dari Nameera yang mereka ingat kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulut mommy nya walau semarah apapun, Ruby melotot dengan kata-kata yang sangat tidak pantas itu.


Jika Ruby mengingat-ingat nya, walaupun dirinya marah pada Agatha tapi dia tidak pernah sekata pun mengeluarkan umpatan yang menyakitkan itu, lebih baik dirinya menyiksa seperti yang telah di lakukan nya dari pada mengatakan hal tidak berpangkat seperti itu.


" Jika seperti itu, kau lebih buruk dari pada dirinya ! " Delik Ruby, Nameera menatap lekat ekspresi yang tertuang di wajah Ruby.


" Apa jika seperti itu dirimu pantas untuk di sebut sebagai ibu untuk anak-anak nya ? aku rasa tidak mom, apa kau sadar ucapan mu itu menyakiti hatinya begitupun aku mom, aku pun seorang anak dan sama-sama seorang perempuan yang bisa dikatakan kita masihlah belum dewasa dalam menyikapi apapun dan itu butuh arahan dan juga pengertian dari kalian semua terutama kau mom ". Ucap Ruby menjeda ucapan nya dan menghela nafas sesaat dengan suara yang begitu dingin memberat.

__ADS_1


Ruby melanjutkan ucapan nya yang masih menggantung. " Dia memang bukan lahir dari rahim mu mom tapi ingatkah pada awal dia masuk dalam keluarga kita kau memberikan Asi padanya dan itu menunjukkan jika dia telah menjadi anak mu saat itu ! Aku, aku memang benci padanya dan juga marah padanya dan lihatlah luka di wajah nya, itu aku yang melukainya agar dia menderita dan aku juga yang mengurung nya sesekali menyiksa nya lagi dan lagi tanpa aku biarkan mati, tapi apa yang aku dapat ? Rasa marah ku tidak berkurang sampai aku tidak segan terus menyayat tubuh nya, setiap saat setiap waktu dan hari-hari pun berlalu dengan sangat cepatnya, aku berpikir semuanya tidak akan ada akhir jika terus seperti itu membuat ku lelah dengan rasa marah pun yang kian mengikis seiring berjalan nya waktu ! ". Pandangan Ruby mengarah lurus ke depan terus mengeluarkan apa yang masih menjadi beban di kepalanya.


" Al ". Revan berdiri hendak mendekati Ruby tapi sebelum kaki nya melangkah, Ruby melanjutkan perkataan nya.


" Tidak, aku tidak akan menyalahkan siapapun dengan peristiwa itu karena mungkin akulah yang bersalah disini dan salah ku adalah membiarkan ini terjadi dan mengikuti rencana yang di mainkan oleh nya ! Ya, sejak awal aku tidak marah terhadap kalian tapi rasa kecewa lah yang muncul di hatiku bersamaan dengan itu aku memaafkan kalian sejak awal tapi tidak dengan Agatha, hatiku merasa benci, marah dan juga kecewa sampai-sampai rasa itu terus menguat di hatiku tapi setelah semua nya terbalaskan aku pikir akan membuat hati ku puas, nyatanya tidak dan aku pun mengakhirinya ! Lalu mom, apa hak mu mencacinya sedangkan disini yang tersakiti adalah aku yang pada akhirnya telah memaafkan nya ?". Tak ada air mata yang keluar dari mata indah Ruby, ekspresi dingin dan juga datar tapi tak menunjuk kan ketajaman nya terus mengeluarkan kata demi kata yang seolah sudah tersusun rapih dalam otaknya.


Mata Ruby terus memandang damai lurus kedepan yang ternyata menunjukkan keberadaan Edward di sana yang sedang tersenyum hangat ke arah nya tanpa siapapun yang menyadari kedatangan Edward.


Nameera dan juga Luis mematung dengan perkataan Ruby. Apa putri kecil ku sudah dewasa sekarang ? Luis membatin, begitupun ketiga kakaknya yang menutup rapat mulutnya bungkam dengan semua perkataan Ruby seolah mereka pun tersindir segan ucapan Ruby, Agatha masih enggan menengadahkan kepalanya.


" Sayang ". Peluk Nameera menumpahkan air matanya di sana. " maaf, maafkan mommy telah gagal menjadi seorang ibu untuk kalian, maaf !". Nameera terus menyalahkah dirinya akan kehancuran keluarganya waktu lalu.


" Bisakah kita kembali seperti dulu tanpa ada rasa iri dan juga dengki di dalam keluarga kita mom ! aku merindukan semua itu ". Tutur Ruby yang tengah menahan rasa pening di kepalanya, Ruby baru saja sadar dari tidurnya dan langsung di suguhkan hal seperti itu membuat kepalanya pusing terutama perutnya yang dia rasa basah merembes pada perban yang tebalut di perut nya tapi tak terlihat karena tertutup oleh selimut karena terlalu banyak gerak sedari tadi.

__ADS_1


***


__ADS_2