
Dia pulang dulu bersama uncle mu, tenanglah pasti sebentar lagi dia datang ". Gugup Savira dengan tangan yang tidak bisa diam saking bingung harus menjawab apa.
Nara menatap tajam pada mereka menjadikan mereka terus sengaja mengembangkan senyum.
Nara meluruskan pandangan nya kembali kepada Lio yang masih enggan untuk memindahkan tatapan nya. Lio menunduk dan menyusut air mata dari wajah tampan nya yang terlihat kusam karena dia tidak bisa tidur dengan nyenyak selama ini di tambah saat kehilangan putri nya membuat Lio kehilangan nafsu makan dan sangat tidak mood melakukan apapun.
" Kau bukan daddy ku !". Perkataan Nara membuat jakson dan Savira begitupun Lio begitu terkejut saat suara lembut itu mengatakan hal yang begitu menyakitkan.
Pencarian Ruby terus berlangsung sampai mereka tidak tahu lagi harus mencari kemana di malam yang gelap seperti ini, Gelang yang dipakai Ruby pun sama sekali tidak terdeteksi oleh Edward, Edward berpikir tempat mana yang bisa tidak bisa gelang itu deteksi.
" Kenapa ka ?". Tanya David melirik kaka nya yang sedari tadi seolah sedang berpikir keras, mereka sedang berada di dalam mobil yang sedang Zen laju kan.
" Gelang kembar yang kaka pakai tidak bisa mendeteksi keberadaan Ruby, hanya dua tempat yang tidak bisa tersambung satu sama lain, di hutan dan di,,, ! Zen cepat kita ke markas terlebih dahulu !". Seru Edward tiba-tiba.
Sedangkan Ronald lebih dulu menuju ke sana karena dia yakin dengan hatinya jika adik nya itu sedang berada di sana.
Tidak lama mobil yang dikendarai Ronald terparkir di depan gerbang markas, dia langsung keluar dengan terburu-buru. Ronald tak melihat penjaga di sana, dia terus melangkahkan kakinya ke dalam.
Langkah kaki Ronald terhenti saat matanya menangkap dua orang penjaga yang biasanya berada di depan kini mereka sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung nya.
" Selamat malam tuan ". Sapa mereka berdua. Ronald menundukkan sedikit kepalanya merespon sapaan mereka.
" Ada apa ? Apa ada masalah, wajah kalian terlihat bingung seperti itu !". Seru Ronald kepada mereka. Belum sempat mereka menjawab, suara tidak asing memotongnya. Siapa lagi kalau bukan Ruby.
" Kakak ". Teriak nya keras. Ruby berlari dan melingkarkan tangan nya di pinggang Ronald.
" kenapa bisa kau berada di sini ?". Tanya Ruby menengadahkan kepalanya.
__ADS_1
Kedua penjaga itu seakan tengah melihat Ruby yang berbeda.
FLASH BACK ON
Ruby yang sudah puas merebahkan tubuhnya langsung beringsut keluar dari kamarnya tapi saat dia hendak pergi, dia teringat jika tadi dia mengendarai taksi ke sana, sebenarnya tidak ada taksi yang menuju ke sana tapi Ruby membayar mahal menjadikan supir itu akhirnya mau dan uang cash yang berada di dompet Ruby ludes hanya untuk membayar sebuah taksi.
" Kalian kemarilah !". Seru Ruby melambaikan tangan nya karena hanya ada penjaga yang terlihat oleh mata Ruby.
" Apa ada yang bisa kami bantu Lady ?". Ucap salah satu dari mereka karena tidak biasanya Lady nya itu memanggil mereka berdua di malam hari seperti ini.
" Bisakah aku meminjam handphone kalian ?". Ucap Ruby mengulurkan tangan nya seolah dia sedang berbicara kepada keluarganya.
Mereka berdua saling pandang, berpikir kenapa Lady nya meminjam Handphone mereka, bukan kah di dalam ada telpon.
" Maaf kan kami Lady tapi kami sedang tidak memegang nya ". Ucap nya tidak enak, karena memang faktanya mereka sedang tidak memegang handphone saat itu. Ruby mengerutkan keningnya sampai alis pun menaut.
" Maaf Lady ". Ucap mereka berdua menunduk.
" Ya sudah, terimakasih, maaf mengganggu pekerjaan kalian !". Seru Ruby yang sudak tahu harus apalagi, apa dia harus berjalan ke tempat Nara ? Pikir nya.
" Maaf Lady, bukan kah di dalam juga ada telpon !". Ujar salah satu dari mereka dan di tatap malas oleh Ruby.
" Aku tahu, tapi aku tidak tahu kontak mereka, jadi percuma saja !". Serunya berlalu dari sana tapi kedua penjaga itu masih enggan untuk pergi sampai saat dimana Ronald datang.
FLASH BACK OFF
" Kau masih bertanya kenapa kaka berada di sini hmm ?". Kesal Ronald mencubit hidung mancung milik Ruby. " Ayo kita ke rumah sakit, mereka di sana sibuk mencarimu ! lalu kenapa kau malah di sini saat anakmu berada di sana hmm ?". Ucap Ronald yang memang tidak tahu alasan nya.
__ADS_1
Ronald sama sekali belum melihat luka-luka yang terdapat di tubuh Ruby begitupun luka di kakinya yang sama sekali tidak terlihat karena Ruby memakai celana panjang untuk menutupinya dan memakai hoodie berukuran besar agar tangan nya bisa tertutup.
" tidak apa, ayo kita ke sana ! sebenarnya Ruby akan kesana tapi bingung harus pakai apa karena disini sedang tak ada kendaraan ". Ucap Ruby menarik Ronald dan mengaitkan tangan nya di lengan Ronald.
" ceritakan ". Ronald dengan mudah nya menangkap apa yang tengah terjadi karena tidak mungkin saat mereka semua sibuk di rumah sakit tapi Ruby malah di sini tanpa mobil nya dan juga handphone nya. Ruby sembari memasuki mobil nya menceritakan apa yang tengah terjadi, mata Ruby mendadak berembun. Ronald yang bersiap mengemudikan mobil nya terlebih dahulu memasang sabuk pengaman pada Ruby.
" Ulurkan tangan mu !". Seru Ronald, Ruby malah menyembunyikan tangan nya lebih dalam lagi pada hoodie yang begitu besar itu. Ronald yang mendapat respon seperti itu langsung menarik tangan Ruby dan langsung menyingsingkan lengan baju milik Ruby.
" Ini tidak apa kak ". Ucap Ruby pelan dan hati-hati karena dia tahu kalau Ronald tidak suka jika dia terluka.
Sembari menatap tajam. " Tidak apa bagaimana Ruby Alderia !". Ronald kembali menyingsingkan lengan baju yang satu nya lagi dan yang ini lebih parah. " Yang mana yang katamu tidak apa ?". Ujar Ronald dengan suara rendahnya namun terkesan garang dan kesal.
" Ini benar tidak apa, tadi aku sudah mengobatinya ". Ucap Ruby cemberut. Ronald langsung mengambil kotak p3k dan langsung mengambil salep juga perban nya, dengan telaten, Ronald mengoleskan salep pada luka dan juga terakhir dia lilitkan perban begitu rapih nya di tangan Ruby.
" Apa sakit ?". Tanya Ronald lembut dan pelan.
" Tidak, ini sudah tak terasa sakit lagi ". Senyum Ruby mengangkat tangan nya seolah sedang memperlihatkan nya.
" Selamat ulang tahun ". Ucap Ronald tersenyum hangat dan membelai lembut kepala Ruby.
" Terimakasih, jangan lupa hadiah nya ". Senyum Ruby kemudian nyengir membuat Ronald mencubit gemas pipinya.
" tentu, apapun untuk mu ". Ujar Ronald, sebelum dia melajukan mobil nya, terlebih dahulu dia menghubungi Revan dan di sambungkan kepada Edward.
Ruby menyandarkan kepalanya nyaman dan melipatkan kedua tangan nya.
" Dia sudah bersamaku, kalian kembalilah ke rumah sakit, kita pun sedang menuju ke sana ". Ucap Ronald pada mereka di seberang sana.
__ADS_1
" Apa dia baik-baik saja ?". Terdengar suara Edward bertanya.