
Sudah hari ke-empat Calla mendapatkan buket bunga, hari ini dia mendapatkan warna pink setelah kemarin merah dan kuning. Bunga-bunga ini dia bawa pulang dan sudah tidak ada lagi vas bunga yang bisa menampung bunganya, dia menghela napasnya dan berjalan ke arah pantry karena sebentar lagi Alister pasti datang mau minum kopi.
"Permisi Pak Edo, ini kopinya.." Calla terhenti saat melihat seorang wanita yang sangat dikenalnya. Tapi dia buru-buru menenangkan dirinya agar terlihat normal. Dia tak melihat Alister di dalam dan malah Lidia adik sepupu yang sangat membencinya.
"Oh Calla, aku lupa beritau kalau Al akan datang agak sore, maaf tapi taruh saja disini nanti saya minum." Ujar Edo dan sebelum sampai di meja, dia tersandung tepat di depan meja Edo mengakibatkan kopi itu tumpah di meja dan mengenai berkas penting Edo.
"Maaf Pak saya tidak sengaja, maaf.. maaf." Calla terus meminta maaf sambil membersihkan meja Edo dan dia sangat panik karena sebenarnya Lidia yang menjegal kakinya tetapi tidak mungkin dia beritau ke Edo soal itu.
"Sudah tidak masalah, ini bisa di print ulang, lain kali hati-hati." Ucap Edo karena dia tau Calla bukan orang yang ceroboh, dia lalu memanggil OB untuk membersihkan semuanya.
Calla terpaksa kembali ke meja kerjanya dengan perasaan kalut karena dia menebak jika Lidia pasti akan bekerja disini setelah melihat berkas tadi.
"Kenapa ya Tuhan, aku baru tenang 5 bulan ini bisa kerja disini. Kenapa kau kirimkan Lidia kemari." Batin Calla yang sejak tadi sudah gelisah memikirkan bagaimana jika benar Lidia akan kerja disini.
"Hai pembawa sial.." Sapa Lidia yang sudah berada di depan meja Calla.
"Kau mau apa?" Tanya Calla tidak senang dengan kehadiran Lidia dan langsung menatapnya curiga.
"Kita akan sering ketemu mulai hari ini.. Aku akan jadi a-ta-san-mu." Jawabnya dengan nada menekan membuat Calla memucat seketika. Lidia melihat buket bunga di belakang meja Calla dan dengan cepat mengambilnya dan membaca notenya. "Terima aku Calla cantik."
"Wow, pria mana lagi yang akan kau goda dan jadi sial karena mu Calla? Kasian sekali pria itu." Lidia kemudian membuang buket itu ke lantai sebelum Calla mengambilnya Lidia sudah menginjaknya dan membuat Calla sangat marah.
"Ada apa Calla?" Tanya seorang OB yang baru saja lewat di depan mereka, Lidia yang tidak mau dirinya di cap buruk langsung pergi dari sana, sedangkan Calla hanya bisa menangis menatap bunga itu.
OB itu membantu Calla berdiri dan membersihkan buket bunga yang telah hancur berserakan dan membiarkan Calla duduk dan menangis sendiri di mejanya.
"Itu kenapa?" Tanya Alister pada OB yang membawa buket yang hancur tadi, "Oh ini sepertinya punya Calla Tuan, tadi ada wanita yang datang dan kelihatannya mereka bertengkar dan wanita itu merusak bunga ini. Calla sampai menangis." Jelas si OB yang tau kalau Alister adalah teman baik bosnya.
Alister segera mendatangi Calla dan dia masih menangis di meja kerjanya sedangkan disana memang sedang sepi. Kantor bagian umum hanya ada Mina dan Calla serta para OB dan OG.
"Calla, ada apa?" Tanya Alister dan Calla yang mendenger suaranya langsung menghapus airmatanya namun percuma karena airmata itu tidak mau berhenti.
"Tidak apa-apa." Jawabnya masih sesegukan, hati Alister sangat sakit melihat itu. Alister mendekapnya mengelus lembut punggung Calla sampai dia terlihat tenang baru Alister melepaskan pelukannya.
"Tuan pergilah, aku sudah tidak apa-apa." Calla lalu berjalan ke arah pintu untuk menuju toilet, Alister yang melihatnya hanya bisa mendesah berat.
"Ada apa dengan Calla ku?" Tanya Alister begitu masuk ke ruang Edo tanpa permisi ataupun menyapanya.
"Hei hei kawan.. jangan emosi begitu, memangnya kenapa dengan Calla?" Tanya Edo karena dia tidak merasa memarahi atau berbuat apapun tadi.
"Calla menangis sampai begitu." Ujar Alister membuat Edo bingung.
"Tadi dia memang menumpahkan kopi tapi aku tidak marah malah suruh OB saja yang bersihkan." Jelas Edo yang memang tidak ada merasa memarahinya.
"Aku mau lihat cctv mu cepat." Titahnya membuat Edo menggeleng.
"Kau itu sudah bucin tak terkira Al.." Edo lalu meminta tim keamanannya untuk mengirimkan rekaman cctv di ruangan Calla dan kirimkan kepadanya. Mereka menonton cctv itu dan Edo tampak terkejut melihatnya dan dia lalu minta cctv ruangannya tadi saat Calla menumpahkan kopi dan hasilnya sungguh mengejutkan.
"Siapa wanita kurang ajar itu?" Tanya Alister emosi karena beraninya dia mengganggu Calla.
"Namanya Lidia, dia dan timnya per hari ini akan melakukan audit di perusahaanku selama sebulan." Jelas Edo karena Lidia adalah dari audit external tahunan jadi Edo tidak bisa menolak kehadirannya.
"Aku mengerti, wanita sialan itu akan membayarnya nanti." Geram Alister membuat Edo bergidik ngeri karena dia tau Alister akan kejam dengan orang yang membuatnya marah.
"Eh aku minta akses cctv khusus ruangan itu dong.." Ujar Aliester membuat Edo melirik tajam padanya.
__ADS_1
"Mana bisa, seenaknya ajah.. ini kantorku bukan hotelmu." Tolak Edo membuat Alister kecewa dengan temannya.
"kalau gitu aku akan kirim foto ini ah ke group family outing.." Alister membuka Hpnya dan memilih 1 foto dan diperlihatkan pada Edo. Group family outing juga ada Alister karena istri Edo adalah sepupunya.
"Tolong berikan akses live ruangan bagian umum segera." Ujar Edo begitu teleponnya di angkat oleh kepala pengawal gedung dan Alister terkekeh penuh kemenangan.
"Teman brengsek!" Umpat Edo dan menghapus semua foto aibnya di Hp Alister. "Nanti akan dia kirimkan link dan password jadi ayo sekarang kita berangkat." Ajak Edo karena mereka harus ke acara ulang tahun salah satu keponakan mereka.
"Kau duluan, aku ingin pamit sama Calla-ku."
"Dasar bucin!"
"Calla..." Panggil Alister setelah sampai di meja kerja Calla yang sangat berantakan sebab dia sedang menyusun barang ATK yang baru masuk hari ini.
"Iya Tuan Alister, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Calla dengan sopan dan sedikit tersenyum.
"Jangan panggil aku tuan, aku tidak suka. Panggil saja Al atau sayang juga boleh." Ujar Alister dengan tatapan menggoda dan menundukkan badannya agar setara sengan Calla yang lumayan mungil jika dibandingkan dengannya yang sangat tinggi menjulang.
"Baik Tuan Al." Jawab Calla yang membuat Alister kesal tapi gemas melihatnya. Alister menarik kaca matanya lagi dan mengecup kedua mata Calla membuatnya kaget.
"Tu tuan.. tolong jaga sikap anda, ini di kantor dan saya sedang bekerja." Tolak Calla sebelum Alister bertindak makin jauh.
"Jika kamu panggil aku Tuan lagi aku akan mencium ini." Ancam Alister dan jarinya sudah menyentuh bibir mungil Calla membuatnya tertegun dan langsung memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Maaf, aku sudah pernah bilang kan.. aku tidak mau membuat siapapun menjadi sial karena dekat denganku. Lagi pula kita belum saling mengenal jadi tidak pantas anda melakukan itu." Jelas Calla dan Alister tidak kecewa malah tersenyum senang.
"Berarti aku masih punya kesempatan? Jika aku tidak sial didekatmu bagaimana?" Tanya Alister lagi membuat Calla menghela napasnya berat.
"Sudah aku katakan aku ini janda dan tidak pantas dengan anda." Tolak Calla lagi.
"Hem, tapi hanya status saja janda.. faktanya suamimu itu belum menyentuhmu kan?" Tanya Alister dan kini wajah mereka sangat dekat membuat Calla mundur lagi selangkah.
"Tidak masalah, hei.. aku ini hidup lebih lama di luar negri dan kau pikir saja sudah berapa banyak wanita yang bersamaku. Aku tidak sekaku itu dan kalau keluargaku tidak masalah, yang penting bagi mereka aku bahagia." Jelas Alister hingga Calla bingung menolaknya lagi.
"Terserah Tuan, aku tidak mau ikut campur dengan pemikiran keluarga anda. Aku hanya tidak mau direpotkan lagi kalau sesuatu terjadi pada anda." Calla pasrah apa yang akan Alister lakukan, dia tak sanggup dan sebisa mungkin dia hanya akan menghindar.
"Baiklah, sesuai dengan ucapanku tadi." Alister lalu menunduk lagi dan menahan tengkuk Calla lalu menciumnya dengan dalam dan penuh gairah membuat Calla tidak bisa bernapas. Dia memukul dada Alister dan mencoba mendorongnya tetapi tidak bisa.
"Kau sangat keras kepala Calla-ku." Ujar Alister setelah melepaskan ciumannya. Calla menata tajam padanya dan mencoba menendangnya tapi dia kalah kuat dengan Alister yang sudah memegang kakinya.
"Kau sangat agresif Calla-ku yang cantik." Alister mengecup sekali lagi bibir Calla yang sudah memerah dan basah karena ulahnya lalu pergi dengan hati gembira bisa mencuri ciuman Calla.
"Hei kau jangan melecehkan karyawan ku Al." tegur Edo yang sejak tadi melihat cctv kelakuan Alister dan Calla.
"Kau mengintip?" Tanya Alister dan Edo memperlihatkan cctv di hpnya membuat Alister tersenyum dan meminta id dan password untuk memantau Calla.
"Kita ke toko bunga yang kau rekomendasikan dulu ambil pesanan." Ujar Edo dan mereka berangkat dengan Edo yang menyetir sendiri karena dia tidak suka memakai supir. Hanya 20 menit mereka sampai ke Magic Flower yang juga sedang sibuk membuat cukup banyak pesanan hari itu.
"Halo Tuan Alister." Sapa Flo begitu melihat bule tampan itu masuk.
"Hai Flo.. bisa panggil aku Alister atau Al saja." Sapa Alister balik dan Flo sudah tersenyum ramah pada Edo yang ada di sampingnya.
"Mau ambil pesanan atas nama Edo dan bisa kirimkan Calla lily untuknya lagi?" Tanya Alister dan tentu saja Flo bisa.
"Bisa Alister.. untuk nona Calla yang cantik semua bisa diatur dan nanti juga dia akan datang kesini." Jawab Flo dan ALister terlihat kaget.
__ADS_1
"Kok bisa? Dia sering beli bunga?" Tanya Alister penasaran.
"Tidak sering tapi kadang dia beli buket snack mungkin titipan orang karena kartu ucapannya bukan nama dia." Jelas Flo dan ALister terlihat mengangguk.
"Oh iya bisa buatkan buket atau apapun untuk pembukaan restoran?" Tanya Edo yang melihat betapa bagusnya buket snack yang dia beli.
"Bisa Tuan Edo, anda tinggal pilih mau buket tangan, standing flower atau buket seperti ini nanti snacknya bisa diganti, bisa dengan barang apapun asalkan sesuai ukurannya. Barangnya bisa bawa sendiri atau kami yang belikan." Jelas Flo dan Edo terlihat berkipir dan dia punya ide memberikan sesuatu pada temannya.
"Pesan 1 bunga standing dengan ucapan seperti ini." Edo menunjukkan kalimat yang telah di tulisnya di hp dan Flo langsung mengecek Hpnya. "Lalu pesan buket begini tapi isinya ****** yang bagus jangan murahan." Bisik Edo membuat Flo tekekeh geli mendengarnya.
"Mau untuk siapa?" tanya Alister penasaran.
"Kan 2 hari lagi si Jonathan ultah masa kau lupa." Jawab Edo dan Alister baru ingat dan dia juga belum siapakan apapun.
"Oh iya Alister, ini ada warna baru Calla lily." Flo mengambil bunga baru yang datang 3 jam lalu dan memberikannya pada Alister dan dia hanya memesan 5 tangkai untuk Alister.
"Wah indah.. seperti Calla-ku yang keras kepala." Ucap Alister membuat Flo tertawa dan memang benar, Calla lily yang datang terlihat cantik dan tangguh dengan 2 warna, kuning dan ada warna keunguan di tengah.
"Baik, bungkus dan kirim hari ini soalnya dia sedang sedih karena bunga yang tadi dirusak oleh wanita brengsek itu." Geram Alister mengingat kejadian yang dia lihat tadi. Mendengar itu Flo jadi kepo tapi dia tidak ingin terlihat agar pelanggannya tidak berpikir negatif padanya, padahal mereka bisa jadi client bagus.
"Aku harus tau dulu permasalahan mereka baru bisa bantu." Gumam Flo dengan pelan dan dia lalu mengetuk 2 kali pada pot Dandelion dan kini di bunga kuning dan rapuh itu beraksi lagi.
Edo dan Alister sudah berada di sebuah restoran yang menyediakan acara anak-anak, istri Edo sudah sejak tadi sampai bersama putri mereka yang cantik. Sedangan Alister sudah sibuk mencari keponakan nakalnya itu entah dimana dia berada. Mereka sampai di sini ketika hampir malam dan Alister belum menemukan bocah kesayangannya diantara banyaknya anak-anak.
"Uncle Al." Teriak bocah lucu dan berlari menghampiri Alister.
"Hop.. anak nakal, kau kemana saja dari tadi?" Tanya ALister yang sudah menggendong ponakan lucunya yang baru berusia 7 tahun.
"Tadi Elan sama onty Lala tapi dianya entah kemana sekarang." Jawab Elan dengan polosnya membuat Alister gemas dan mencium pipi gembul bocah itu.
"Ya udah main lagi sana." Alister menurunkannya lagi dan dia juga berkumpul bersama saudara sepupunya yang lain.
"Hei Al, aku dengar kau sedang mengejar wanita cantik?" Tanya Emma sepupunya yang selalu kepo dan up to date.
"Ah.. kau seperti wartawan saja." Keluah Alister sambil mendesah kesal.
"Dia lagi ngejar-ngejar janda kembang cantik tapi susah di dekati dan udah di tolak berkali-kali." Edo yang menjawab dan mendapat tatapan sinis dari Alister.
"Wah siapa yang berani menolak seorang Alister? Janda pula?" Tanya Emma sinis yang sebenarnya hanya bercanda untuk menggoda Alister.
"Hei, dia bukan sembarang janda ya.. dia adalah bungaku yang paling cantik." Puji Alister sambil tersenyum senang membayangkan wajah cantik Calla.
"Eh temanmu yang cantik itu janda juga kan? Siapa namanya? Lala iya Lala.." Tanya Emma pada Viona.
"Yes, dia ada disini kok lagi nemenin Elan tadi." jawab Viona sepupu Alister yang lain.
"Panggil dia Vio, mana tau Alister di terima sama janda yang satu ini." Ujar Emma lagi melirik ke Alister yang tersenyum remeh.
"Hei jangan samakan wanitaku dengan yang lain, dia itu special hanya untukku." Balas Alister dan Vio segera beranjak untuk mengajak temannya untuk berganbung.
"Nah ini dia temanku namanya..."
"Calla.." Ucap Edo dan Alister bersamaan.
"Pak Edo, Tuan Alister." Sapa Calla sedikit canggung dan Alister sudah tersenyum senang melihat Calla bersama sepupunya Viola dan mereka berteman? Oh yes, ini peluang bagus.
__ADS_1
"Ha.. jangan-jangan dia yang kau kejar-kejar Al?" tanya Emma dan Alister mengangguk sedangkan Calla tertunduk malu berada ditengah keluarga ini.
TBC~