Magical Flower

Magical Flower
BAB 7 - Pekerja Part Time (Part 6 - END)


__ADS_3

"Hahahah aku tidak percaya kau it.." Gio terdiam saat Vero tiba-tiba mendekat dan mencium bibirnya, lumayan lama.


"Nah itu buktinya kau berikan ciuman pertamaku untukmu." Ucap Vero lalu di bangkit dan berlari ke arah tangga menuju kamarnya. Gio masih mematung, ini juga ciuman pertamanya.


Vero memukul kepalanya kesal karena kebodohannya, "Kenapa aku cium kak Gio? Besok gimana? Bodoh bodoh!"  Ucapnya pelan dan merutuki diri sendiri. Vero memilih mandi saja mengguyur dirinya dengan air hangat dibawah shower untuk menangkan diri. Sama halnya dengan Gio yang memilih air dingin karena tubuhnya panas setelah mendapatkan ciuman dari Vero, jantungnya seakan mau meledak dan hatinya tiba-tiba terasa hangat, sama saat pertama kali dia melihat Susan.


"Tak mungkin aku juga mencintainya.." Lirih Gio yang masih diguyur air dingin.


Jam 8 pagi Gio sudah bersiap akan pergi ke Magic Flower, dia yang sudah terbiasa bekerja keras tidak bisa berdiam dri, itu bukan dirinya.


"Vero.." Panggil Gio sambil mengetuk pintu kamarnya dan ternyata Vero sudah ada dibawah.


"Ya kak, aku di dapur." Teriak Vero dan Gio menyusulnya, dia melihat Vero sedang mengaduk panci entah apa yang dia masak. Gio jalan mendekat dan melihat ternyata Vero memasak Sup jagung dengan irisan ayam.


"Duduk dulu sana kak, bentar lagi siap." Ucap Vero yang masih sibuk dengan masakannya. Gio menurut dan memandangi Vero dan berpikir, "Sejak kapan gadis kecil ini tumbuh jadi dewasa dan cantik?" Pikirnya, karena selama ini Gio selalu mengingat Vero sebagai gadis kecil ceroboh dan bawel, mengekori dia kemanapun dengan lelehan ingusnya dihidung.


"Nih sarapan dulu, aku masukin banyak jagung biar kenyang." Ucap Vero menyodorkan semangguk sup yang masih mengepul tanpa memandangnya. Mereka sarapan dalam diam, sesekali hanya terdengar Gio menyeruput sup panas sambil melirik ke Vero yang tetap menunduk.


"Hmm.. kak, kalau aku membuatmu tidak nyaman aku pindah saja ya?" Tanya Vero membuat Gio langsung menatapnya.


"Hei, diamana Vero si gadis bawel dan percaya diri yang selalu mengekoriku kemana-mana? Kalau kau bisa membuatku jatuh cinta padamu aku akan menikahimu." Tantang Gio, entah kenapa kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, dia sendiri juga bingung.


"Benarkah?" Akhirnya Vero mengangkat kepalanya dan menatap Gio dengan senyum cerahnya. Gio mengangguk dan Vero jadi ceria lagi seperti biasanya.


Flo sudah cemas saja sejak tadi malam dan tidak tidur nyenyak memikirkan Gio yang pasti sangat sedih, tapi rasa cemasnya menguap seketika saat melihat Gio dan Vero masuk dengan wajah ceria mereka.


"Gio? Kau gak apa-apa kan?" Tanya Flo begitu Gio masuk dan menyapanya.


"Gak kok, tenang aja, dan makasih sudah bersusah payah untuk membuatku sadar." Ucap Gio sambil masuk kedalam untuk memulai kerjaannya yang sebenarnya belum waktunya.


"Baguslah aku liat kau juga lebih segar." Kata Flo membuat Vero tersenyum cerah,


"Iya, aku hanya lelah tadi malam saat mengetahui semuanya, seakan tubuhku berontak merasa capek, tapi setelah itu aku segar lagi dan entah kenapa terasa lega, seperti tidak ada pikiran dan beban hanya ringan saja." Jelas Gio membuat Flo makin lega mendengarnya.


"Kamu itu terlalu banyak pikiran dan menempatkan Susan diatas dirimu. Kau itu cuma terbiasa di jadikan pesuruh olehnya." Jelas Flo lagi untuk memantapkan hati Gio agar membuang jauh nama Susan.


"Iya sepertinya begitu ya.. aku juga tidak sedih-sedih amat pisah darinya heheheh.." Kekehnya membuat Flo juga ikut bahagia mendengarnya.


"Berarti bisa dong cewe lain mampir nih.." Goda Flo sambil melirik Vero yang masih bersiap dengan pekerjaannya pagi itu.


"Nah itu yang sulit, jadi agak trauma apakah benar wanita itu akan mencintaiku dengan tulus?" Tanya Gio membuat Vero mencebik kesal. "Tapi aku sudah janji sama seorang gadis kecil untuknya mencoba hehehe somoga dia berhasil." Sambung Gio membuat Flo tekikik karena dia tau gadis kecil itu adalah Vero.


"Pasti bisa kok... jangan nyerah." Ucap Flo semangat ke arah Vero yang sudah tersenyum malu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sebulan berlalu dan Gio sudah tidak melakukan pekerjaan driver online lagi, dia lebih memilih waktunya digunakan untuk istirahat dan memanjakan diri dengan pergi nonton dan menikmati pasar malam bersama Vero. Kini mereka sudah lebih terlihat dekat sebagai teman pria dan wanita daripada kakak dan adik.


Gio juga sudah move on dari Susan yang kini hanya masa lalunya dan dia bahagia dengan hidupnya sekarang yang lebih teratur. Untuk bekerja di Magic Flower masih dia lakukan karena itu merupakan kesenangan tersendiri melihat betapa kompaknya teman disana dan sewaktu mengantarkan bunga untuk pelanggan, dia bahagia melihat senyuman pelanggan yang mendapatkan bunga itu.

__ADS_1


"Gio.. ini ada pesanan bunga untuk hm.. Susan." Ucap Flo ragu menyebutkan nama Susan, tapi apa boleh buat karena ini pesanan dengan pengiriman langsung jadi harus dikirim dalam waktu 2 jam.


"Iya sini biar aku antarkan, loh alamatnya beda.." Gumam Gio melihat alamat itu bukan di tempat kost nya Susan melainkan apartemen di kawasan dekat perkantoran.


"Tapi itu dia sih.. karena ada fotonya sama cowo itu tuh.." Tunjuk Flo pada buketnya dan Gio melihat foto mesra Susan dengan pria yang terlihat sedikit berumur.


"Astaga! Ini kan... ah sudahlah bukan urusanku, sepertinya dia dapat mangsa kelas kakap." Ujar Gio menghembuskan napas dan menggeleng.  Dia lalu pergi mengantarkan bunga itu dan setelah sampai langsung meminta security saja yang menghubunginya.


"Ini ada kiriman bunga nona dari Tuan Andreas untuk Susan, silakan tanda tangan disini." Ucap Gio sopan begitu Susan ada di depannya.


"Ohh sekarang jadi pengantar bunga, cih.. memalukan." Cibir Susan lalu melenggang pergi membuat Gio hanya menggeleng pelan melihat kelakuan mantan pacarnya yang baru sebulan itu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Ah senangnya Mel... sudah bertambah 52 orang lagi yang terbantu dengan bungaku." Ucap Flo membuat Imel memberikan 2 jempol padanya. "Kalau cepat begini aku tidak akan dikirim ke lembah kegelapan." Batin Flo dan dia merasa tenang.


"Eh Vero.. kau sudah tau berita terbaru dari Susan?" Tanya Flo begitu melihat Vero sudah datang di sift siangnya.


"Ohh tau, kenapa?" Tanya Vero dan Flo menceritakan Gio yang sedang mengirim bunga untuk Susan.


"Hah.. wanita itu sekarang jadi sugar baby salah satu pengusaha di kota ini, seluruh kampus juga sudah tau karna di baru saja setengah jam lalu dia viral di portal berita kampus. Tuh liat videonya..."


Vero memnuka Hpnya dan memperlihatkan Susan yang sedang di jambak dan dipukul habis-habisan oleh seorang wanita muda.


"Ya ampun, bungaku masih disana dan terinjak mereka." Pekik Flo yang lebih mengkhawatirkan bunganya dan dia mendengar notif di kepalanya bahwa bertambah 1 lagi pasangan putus akibat bunganya. "Baguslah berarti bunga ini yang buat dia ketauan dan akhirnya putus." Ucap Flo dalam hati.


"Udah balik? Gimana rasanya ketemu mantan?" Tanya Vero menyindir Gio yang sepertinya tau akan kejadian Susan tadi.


"Kak, ga sebaiknya rumah kakak itu dijual saja terus beli rumah yang lebih kecil sesuai dengan kakak lah." Saran Vero saat mereka makan siang bersama. Flo dan yang lain juga ikut mendengarkan.


"Benar juga sih.. tapi jual dan cari rumah tidak gampang juga."


"Coba aja dulu, soalnya rumah itu terlalu besar untuk kakak sendirian."


"Tapi kan nantinya Gio juga akan nikah setelah calonnya ketemu." Timpal Flo yang ingin ikut dalam perbincangan mereka.


"Iya tapi emang bener rumah itu kebesaran jadi makin terasa kesepian." Keluh Gio dan sedang memikirkan sesuatu. "Aku berpikir akan cari rumah dekat kantor saja dan sisa uangnya akan membuka usaha nantinya yang akan di jalankan istriku kelak. Kalau ninggalin kerjaanku sekarang juga sayang dengan gaji yang sudah segitu." Jelas Gio hingga Vero tersenyum karena Gio telah berubah lebih memikirkan diri sendiri dan masa depannya.


"Ide bagus, berarti nanti Vero dah ga bisa tinggal denganmu lagi." Sambung Mala.


"Bisa aja kalo mereka nikah." Celetuk Flo membuat Gio terbatuk karena tersedak minumannya.


"Hahahah tenang Gio..." Flo menepuk pundaknya sambil tertawa.


"Tapi bulan depan aku sudah harus ikut magang loh.. 6 bulan di perusahaan yang sudah aku pilih, tapi belum tau sih kepilih apa ngga." Sambung Vero menghela napas karena akan berpisah dengan orang-orang disini.


"Lah.. Vero magang, Imel juga, terus disini..." Keluh Flo dan Imel langsung mendekat dan menepuknya pelan.


"Kau disini sama Thika dan Rey.. panggil aja lagi beberapa anak part time kalau bisa anak SMA sana biar ga banyak drama." Saran Imel membuat senyum Flo kembali mengembang.

__ADS_1


"Trus, kau akan magang dimana Mel?" Tanya Flo karena dia tau Imel sangat tidak suka dengan bertemu banyak orang.


"Aku coba di H&S Group staff keuangan biar kerja dengan tenang." Jawab Imel santai.


"Ha..? Serius? Dengan nilaimu itu bisa loh minta ditempatkan di sekretaris atau bagian perencaaan, banyak gadis-gadis itu mengincar posisi yang bisa bertemu langsung dengan dirutnya." Protes Vero pajang lebar karena dia juga telah memilih posisi itu saat magang nanti.


"Kalau bagian keuangan berarti mencakup seluruh H&S Group dan ditempatkan di kantor utama dong? Kau tau siapa direktur keuangannya?" Tanya Gio karena dia yakin Imel tidak tau.


"Gak tau.. emangnya siapa?" Tanya Imel dengan polosnya.


"Anak ke 3 dari Tuan Kenny." Jawab Gio cepat lalu dia sudah melirik ke arah Fano yang dari tadi berdiri dekat meja kasir dan menatapnya horor, Gio baru saja sadar kalau orang yang dia bicarakan sedang menatapnya.


"Wah, berarti jodoh dong, kan kau bilang Tuan Kenny itu mau jodohin kamu dengan anak ketiganya." Sambung Flo membuat Gio kembali terbatuk, dia tak menyangka akan secepat ini.


"Gak boleh.. bukannya kau tertarik sama Fano dan .... " Imel menutup mulut Thika yang sedang nyerocos dan akhirnya ketauan kalau Imel tertarik pada Fano, sedangkan Fano sudah tersenyum tipis menutupi kebahagiaannya, padahal saat ini dia sangat ingin melompati meja kerja Flo dan mendekap gadis pujaannya itu.


"Bisa diam gak.." Bisik Imel yang sedang menahan malu, kini semua orang sudah tau, apalagi Flo yang sering menggodanya sudah tersenyum penuh arti memandang Imel dan Fano bergantian, akhirnya Imel pergi dari sana untuk sembunyi saja di dalam ruang penyimpanan bunga yang dingin.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sebulan lagi berlalu dan Gio telah mendapatkan calon pembeli rumahnya, mereka sudah berada di bank untuk pindah tangan kredit rumah itu. Begitu selesai dia juga merasa lega dan kini dia dan Vero sudah siap pindah ke rumah baru yang minggu lalu di belinya dengan tabungannya selama ini. Rumah mungil nan cantik di komplek sederhana dekat perkantoran Archer hanya 15 menit dengan mobil, ada 3 kamar yang cukup untuk mereka tempati. Kamarnya tidak besar dan mewah tapi cukup dan nyaman bagi Gio dan di kamar utama sudah ada kamar mandi yang telah dia renovasi sehingga ada bathtub untuk dia bersantai.


"Wah.. kalau gini kan enak kak. Aku juga ga capek besihin kamar dan gak usah pake pelayan lagi, nanti aku bereskan semuanya." Ujar Vero melihat-lihat kamarnya dan dia kembali lagi melihat dapur mungil tetapi tertata rapi. langsung ada ruang makan dan ruang tamu sehingga terlihat luas. Di samping dapur ada pintu belakang dan kamar mandi tamu dengan taman mungil juga ada laundry room kecil hingga tempat menjemur.


"Kamu ini... pilih dulu kamar bawah atau atas? Dibawah hanya ada 1 kamar, atas ada 2 dan ruang keluarga. ayuk kita lihat." Ajak Gio yang sudah menarik tangan Vero untuk naik ke tangga menuju kamarnya.


"Wah ini kamar kak Gio, bagus..." Ujarnya dan telah berjalan ke arah jendela yang memperlihatkan rumah disamping. Ya ini adalah komplek dengan rumah saling berdempetan meskipun tetap ada celah sedikit taman.


"Suka kamar ini?" Tanya Gio dan Vero mengangguk.


"Tapi ini kan kamar kakak." Ujar Vero membuat Gio mendekatinya dan menggenggam kedua tangan Vero.


"Kalau kamu suka bisa jadikan ini kamar milik kita bersama." Ucap Gio menatap mata Vero dengan posisi yang sangat dekat.


"maksud kak Gio?" Tanya Vero sedikit gugup.


"Kau mau kan menikah denganku? Aku sudah janji kalau kau berhasil membuatku mencintaimu maka aku akan meikahimu." Tanya Gio membuat mata Vero sudah berembun, dia menangis haru dan mengangguk pasti.


"Terima kasih kau sudah mau berusaha dan menungguku dengan sabar, terima kasih kau sudah masuk kedalam hatiku Veronica." Ucap Gio membuat Vero makin menangis sambil tersenyum.


Gio mengecup puncak kepalanya dan mendekapnya. Gio telah luluh pada seorang gadis kecilnya yang kini telah tumbuh dewasa dan cantik, selama 2 bulan dia selalu memperhatikan Gio di mulai dari sarapannya, menyiapkan segala kebutuhan Gio bahkan merawatnya ketika sakit dengan tulus. Gio merasakan ketulusan itu.


"Kita menikah setelah kamu selesai magang ya.. ayah juga sudah setuju." Tanya Gio, Vero lalu melepaskan pelukannya dan memandang Gio dengan heran.


"Kapan kak Gio ketemu ayah? kok aku gak tau?" Tanyanya dan Gio pun terkekeh karena memang dia bolos kerja demi menemui calon ayah mertuanya.


"Minggu lalu, biar cepat, takut kamu diambil orang." Jawab Gio sambil mencubit pipi lucu Vero dnegan gemas. Mereka akhirnya menjadi pasangan resmi dan Gio kembali mendapatkan kebahagiaannya yang kali ini dia dapatkan dengan perasaan tenang dan lega.


~Gio & Vero~ END~

__ADS_1


TBC~


__ADS_2