Magical Flower

Magical Flower
BAB 46 - Juniper (Part 4)


__ADS_3

"Juni hati-hati jangan jalan cepat gitu..." Teriak Flo panik melihat si ibu hamil masih dengan lincahnya berjalan cepat bahkan sedikit berlari padahal perutnya sudah sangat besar.


"Hehehe..habisnya mau cepat kejar abang siomay itu sih." Juni akhirnya berjalan pelan dan berhasil membeli siomay itu.


"Dasar, bumil ini.. uda berapa bulan sih kayanya cepet banget besarnya?" Tanya Mala yang baru saja selesai cuti menikah.


"Yah baru juga cuti seminggu uda kaya sebulan, masih sama aja kok, sekarang udah masuk bulan ke 8." Jawab Juni dan dia asik makan siomay nya di dekat meja Thika yang agak kedalam karena ada beberapa meja cafe yang tersisi jadi dia tidak enak makan dimejanya di samping meja kasir.


"Udah kenyang.." Gumam Juni senang sambil mengelus perutnya dan memang perutnya sangat besar.


"Wah Juni.. gede banget ini." Imel mengelus perut Juni sambil tangan 1 nya menenteng kotak bekal buatnya, keluarga kecil itu datang untuk bermain sekalian ambil pesanan buketnya pada Thika.


"Nah ini kan gara-gara kalian, selalu kirim makanan enak, susu, vitamin, jadinya jagoanku ini jadi sehat deh." Jawab Juni yang kini berjalan keluar bersama Imel.


"Hahah bagus dong.. jadi nanti baby J punya teman main bola sama berantem ya J.." Sambung Fano dan mencium dengan gemas pipi anaknya yang kemerahan mirip Imel.


"Ya ampun J, kamu lucu sekali sih.. liat nih wajahnya perpaduan Imel sama Fano, cakepnya melebihi papi n opa nya deh.." Flora yang makin gemas terus mengambil J dari gendongan Fano, juga pegawai lainnya pasti akan berdatangan jika Fano datang bersama J. Bayi lucu itu makin besar dan sudah berisik saja sejak masuk ke toko dengan ngoceh dan bicara bahasa bayi.


"Thika, mana balonku." Panggil Imel padahal Thika sudah membawakan pesananya.


"Iya ini Nyonya Imel.. bagus kan karya terbaru nih." Thika meletakkan buket balon itu ke meja depan, warnanya hitam ****** dan biru navy.


"Eh masih bisa di edit ga nih balon?" tanya Fano melihat sesuatu yang kurang.


"Edit? Kamu kira foto di edit hahaha bisa sih mau nambahin apa?" Jawab Thika lalu Fano mengeluarkan 10 lembar dollar singapura pecahan 1000 ke Thika.


"Nah tambahin ini biar seru." Ujar Fano tersenyum cerah.


"Woohh sultan sih emang beda." Thika mengambilnya dan segera mengerjakan lagi degan cekatan.


Juni dan Imel duduk bersama dan ngobrol di kursi yang biasa digunakan customer untuk menunggu bunga, karena hari ini sepi jadi mereka seakan bukan kerja tapi bermain bersama, Fano dan beberapa teman kokinya bercanda bersama sedangkan baby J masih asik bermain dengan Flo dan Mala.


"Hai baby J, kok kamu disini sayang..?" Terdengar suara yang mereka kenal.


"Zidan?" Imel bersuara dan Zidan menoleh ke samping dan begitu kaget melihat ada Juni duduk disamping Imel dan, "Juni..."


Zidan sangat syok melihat Juni, dia sedang mengandung dan sudah sangat besar sepertinya sebentar lagi akan melahirkan.


"Juni.." Panggil Aretha juga yang baru masuk, mereka semua terdiam tapi Juni dengan cepat dia berdiri dan sedikit berlari masuk tapi terlambat Zidan sudah memegang tangannya.


"Juni.. kau kemana saja Jun? Apa kau sudah menikah?" Tanya Zidan tapi Juni dengan panik menghempaskan tangan Zidan tapi Aretha juga menghadangnya.

__ADS_1


"Jun, kamu kemana aja? Aku sangat cemas mencarimu kemana-mana dan orang tuamu juga ga tau, kamu benar uda nikah?" Tanya Aretha tapi Juni tetap diam dia tidak mau menjawab mereka.


"Juni.. " Panggil Zidan lirih tapi Juni tidak mau menjawab sama sekali, dia bungkam. Fano mencoba menenangkan Zidan tapi dia malah marah.


"Selama ini kau tau dimana Juni tapi kenapa kau diam saja Fan? Kau tau aku mencarinya setelah kembali kan?"


"Maaf Zidan, aku sebenarnya mau memberitahumu tapi Juni melarangnya, tenang dulu baru bicara baik-baik."


"Gak bisa Fan, aku harus tau siapa yang menikah dengannya dan seperti apa suaminya."


Zidan mengejar Juni lagi yang berjalan cepat sambil memegang perutnya tapi Zidan benar-benar menariknya kali ini dan mendekapnya. Juni terus berontak dan ingin melepaskan diri.


"Jelaskan padaku Jun, kalau kau memang menikah dan telah bahagia akan aku relakan. Kau pergi pagi itu karna marah kan? Aku tau kau kecewa tapi benar sumpah aku gak ingat apa-apa Jun." Jelas Zidan tapi Juni tetap diam bahkan dia sudah menangis.


"lepas.." Ucapnya pelan tapi Zidan tetap tak melepaskannya. Aretha bingung dengan sikap Zidan, dia tau mereka dekat tapi hanya sebatas atasan dan sekretaris, Juni juga tidak pernah bercerita apapun tentang Zidan padanya bahkan selama mereka bersama Zidan juga bersikap dingin pada Juni juga.


"Lepas.. perutku sakit, tolong lepaskan aku." Juni memegang perutnya sepertinya ada kontraksi tapi ini baru jalan 8 bulan.


"Zidan lepas, aku sepertinya mau melahirkan, tolong.."


Zidan kaget dan langsung melepaskan pelukannya dan benar saja Juni kesakitan sambil memegang perutnya.


"Flo.. aduh, baby J gimana dong.." Imel juga panik karena kalau dia ikut bagaimana dengan baby J, dia nyesal tidak bawa baby sitter tadi.


"Aku ikut sambil bantu jaga Jarred, Thika titip toko." Flo dan Imel berlari ikut masuk ke mobil Fano sedangkan Zidan dan Aretha memilih mengikuti Fano dari belakang.


Fano telah menghubungi RS untuk standby di depan karena dia sudah hampir sampai.


"Aduhh sakit.. " Tangis Juni sambil meremas tangan Imel yang ada ada di sampingnya. Perutnya sangat sakit dan sepertinya memang dia akan melahirkan. Setelah sampai dokter segera memindahkan Juni dan membawanya ke ruang bersalin. Zidan juga sampai bersama Aretha yang sangat cemas dengan keadaan Juni.


"Ini sudah bukaan 6 dan yang mana suaminya?" Tanya dokter wanita itu dan tidak ada yang berbicara sampai Flo yang membuka suara.


"Dia tidak menikah dokter, bisakah salah satu dari kami saja yang menjadi walinya?" Tanya Flo membuat Zidan dan Aretha sangat terkejut.


"Fan.. " Panggil Zidan pada Fano dan dari tatapannya dia butuh penjelasan.


"Kalau begitu kau saja yang masuk." Saran Fano dan Zidan makin tidak percaya.


"Bagaimana bisa? Ada apa dengan Juni Fan?" Bentak Zidan.


"Dokter, sudah saatnya." Salah satu suster keluar dan dokter tidak mau menunggu lagi dan bayinya harus segera di lahirkan.

__ADS_1


"Masuklah Zidan, nanti aku ceritakan kau masuk dulu temani Juni." Fano mendorong Zidan masuk bersama dokter.


"Jun, Juni.." Lirih Zidan begitu melihat Juni berteriak berusaha sekuat tenaga melahirkan bayinya.


"Kuat Jun, aku ada disini.. kau harus kuat, Juni.. sayang.." Zidan terus memberikan semangat dan Juni meremas dan mencakar kuat tangan Zidan dan akhirnya bayi itu berhasil dilahirkan.


"Selamat ibu, bayi laki-kali anda sehat." Ucap sang dokter dan Juni langsung menangis haru, dia berhasil melahirkan putranya.


"Juni, selamat sayang.. kau telah jadi ibu." Ucap Zidan, yang juga menangis, entah kenapa rasanya dia begitu terharu dan sangat senang melihat bayi itu, masih merah dan mendengar tangisannya membuat hati Zidan terasa hangat dan sangat ingin memeluk bayi mungil itu.


Tak lama suster datang membawa jagoan kecil Juni, dia masih terisak haru dan suster mengajarkan dia cara menyusui bayinya. Zidan tidak bisa melihatnya karena memang mereka bukanlah suami istri, dia berbalik sampai Juni selesai menyusui anaknya dan suster membersihkan dirinya, luamayan lama dia menunggu tapi Zidan tidak mau keluar dari ruangan itu sampai selesai.


"Boleh aku menggendongnya?" Juni mengangguk dan suster memberikan bayi mungil itu pada Zidan, terasa sangat menyennagkan bisa mendekap bayi tampan dan, "Kok sepertinya mirip denganku?" Ujar Zidan dan Juni terdiam lagi padahal dia sudah tersenyum melihat Zidan yang sangat senang menggendong bayinya.


"Apa perasaanku aja, tapi.." Belum sempat Zidan menyelesaikan kalimatnya, Imel, Fano, Flo dan Aretha masuk dan heboh dengan bayi tampan itu, mereka bergantian menggendongnya dan terlihat baby J juga senang melihat adik kecilnya.


"Jadi ada yang bisa jelaskan padaku dan apakah cuma perasaan ku aja kalau bayi ini mirip denganku?" Tanya Zidan yang masih bertanya-tanya.


Fano dan Imel terdiam karena sudah berjanji pada Juni, Flo mendengus kesal menatap ke Zidan, dan Aretha juga merasakan hal yang sama.


"KARENA INI MEMANG ANAKMU, dasar bodoh..!!" Kesal Flo dengan meninggikan nada suaranya, Zidan makin bingung, dia melihat ke arah Juni yang masih diam.


"Tapi kita kan belum pernah..." Zidan diam, dia berpikir dan mendekati Juni lagi dan menggenggam tangannya, dia berlutut disampaing ranjang Juni dan menatapnya.


"Apa malam itu adalah kau Jun? Juni.. jawab aku."


"Kita keluar dulu deh.." Setelah menidurkan kembali bayi Juni, Fano mengajak Imel dan Flo keluar dari sana tapi dia tetap meminta Aretha menunggu didalam karena ini masalah mereka bertiga.


"Kalau benar ini anakku maka malam itu adalah kamu Juni.. ayo bicaralah, atau aku akan tes DNA biar jelas." Zidan berdiri dan ingin mengambil anaknya Juni buka suara.


"Kalau iya kau mau apa?" Juni menatap sinis pada Zidan, lalu Aretha mendekat ke mereka, dengan wajah yang berubah tegang dia sudah membayangkan apa yang terjadi malam itu.


"Ini salahku.. ini salahku Jun, maaf." Isak tangis Aretha terdengar.


"Apa maksudmu?" Tanya Zidan


"Malam itu.. ayah sengaja membuatmu mabuk agar aku bisa mendapatkanmu dengan cara kotor, tapi aku gak mau jadi aku minta tolong pada Juni untuk membawamu ke kamar dan aku membawa ayah pulang." Jelas Aretha sambil menangis, sedangkan Zidan sudah mengepalkan tangannya karena marah.


"Are.. ini bukan salahmu, ini tetap salahnya Zidan." Ujar Juni dan Aretha terus menangis karenanya masa depan Juni hancur, itu pikirnya. "Jangan mennagis Are, kau teman terbaikku aku gak menyalahkanmu. Sudah yaa.." Juni mengelus lembut punggung Aretha yang terus menangis sedih, bukan hanya karena Juni tapi juga dia baru tau kalau Zidan mencintai Juni.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2