Magical Flower

Magical Flower
BAB 31 - Kisah Cinta Sahabat (Part 9)


__ADS_3

Seminggu berlalu dan Damian mengajak Fano dan Imel mengikuti mereka untuk berkunjung ke tempat Florian. Mereka akan melihat keadaan Flo disana dan ternyata perjalanan mereka cukup jauh.


"Yana.. mau gantian lagi gak?" Tanya Damian pada Yana yang sedang bergantian nyetir dengannya.


"Gak usah, aku masih kuat kok." Jawab Yana.


"Harusnya bawa Bian juga tadi.." Kata Fano tapi Damian memang tidak suka bepergian bersama keluarga dengan membawa orang lain meskipun Bian adalah teman dekat Fano.


Mereka bergantian lagi dan kini Fano yang menyetir setelah Damian dan sudah mau sampai ke tempat yang mereka tuju, dari jauh Imel melihat sebuah villa yang ada di puncak bukit.


"Itu uda keliatan villa nya.." Mereka semua melihat arah yang ditunjuk Imel dan memang benar mereka sudah sangat dekat. Hari juga menjelang malam, semuanya telah lelah.


"Gila.. jauh sekali Flo. Gimana caramu kesini setiap bulan, ga capek?" Keluh Damian saat Florian keluar untuk menyambut mereka.


"Udah biasa.. lagian rumahku yang sebenarnya memang disini, ayo masuk." Florian mengajak mereka masuk ke rumah mewah berwarna putih dan full di selelilingnya ditumbuhi berbagai jenis bunga yang indah.


"Kalian lihat Flo dulu, masuklah." Florian menuntun mereka masuk ke taman belakang yang di tutupi kaca seperti rumah kaca, disana terlihat ada tempat tidur yang dirancang khusus di bawahnya ada air mengalir membasahi tubuh Flo dan sesekali air itu surut dan 5 menit kemudian air itu naik lagi membasahi tubuh Flo.


"Wah.. ini kau buat khusus ya?" Tanya Imel dan dia melihat wajah Flo tidak pucat lagi malah bertambah cantik dalam tidurnya.


"Iya, ini untuk mengobati peri yang terluka atau bekerja terlalu lelah supaya mudah, dibuatlah tempat tidur ini khusus untuk peri air dan peri bunga saja." Jelas Florian dan mereka melihat sekelilingnya sangat indah dan tertata rapi.


"Apa dia akan tidur terus sampai sebulan?" Tanya Imel pada Florian karena tidak ada tanda aneh pada Flo dalam tidurnya.


"Mungkin tidak sampai sebulan, aku menggunakan mata air murni dari pegunungan yang memang sangat baik untuk peri jadi mungkin seminggu lagi dia akan bangun." Jawab Florian, Imel lega karena di toko semua bunga telah layu, kata Thika sudah dari 4 hari lalu bunga tidak ada yang bisa hidup meskipun sudah diberi air dan di lemari pendingin, bunga yang baru sampai juga mudah layu hanya bertahan 2 hari saja.


"Semoga Flo bisa segera bangun.." Gumam Imel pelan.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Yana.. istirahatlah, kita sudah menyetir hampir 9 jam dan kau belum tidur sama sekali." Tegur Damian yang baru selesai mandi, Florian telah menyiapkan kamar untuk mereka, setelah makan malam tadi mereka langsung kekamar untuk istirahat.


"Iya, tapi bisakah kau bakai bajumu..." Ujar Yana karena Damian hanya memakai handuk kecil yang melilit dipinggangnya.


"Kenapa, biasanya juga begini." Jawab Damian dan dia sebenarnya sengaja untuk menggoda Yana.


"Ck.. kau ini..." Yana mencebik kesal lalu masuk ke kamar mandi, 20 menit dia keluar dan Damian sudah ada diatas tempat tidur masih tanpa pakaiannya.


"Ini.. tadi pelayan Florian mengantarkan teh jahe, disini dingin jadi takut kita masuk angin." Damian menyodorkan segelas teh yang ada diatas meja nakas samping tempat tidur, Yana mengambilnya dan minum sampai habis.


"ehm.. ini enak gak kaya teh jahe biasanya." Komen Yana dan Damian setuju. Yana akhirnya berbaring disamping Damian, sangat dekat karena kasur ini lebih kecil dari pada yang ada di kamar Damian membuat Yana sedikit gerah padahal daerah pegunungan ini sangat dingin apalagi dimalam hari.


"Kok gerah ya?" Tanya Yana dan Damian juga merasakan hal yang sama.


"Hem.. apa karna teh jahe tadi ya.." Ujar Damian, tapi ini berbeda, rasa panas ini bukan karena hangat dari minuman.


"Yana..." Panggil Damian dan dia mengubah posisi tidurnya dan miring menghadap ke Yana dan hal yang sama juga di lakukan Yana\, mereka saling menatap lembut\, entah apa yang mendorong mereka kini mereka saling berciuman dan mel*mat lembut bibir pasangannya lama-lama menjadi p*gutan panas dan penuh gairah.

__ADS_1


Tidak tau siapa yang memulai duluan, mereka sudah polos tanpa sehelai benangpun dan saling mencumbu mesra. Damian yang tidak bisa menahan diri lagi meminta izin pada Yana untuk melakukan lebih dari pada cumbuan mesra.


"Yana.. bolehkah..?" Yana menatap mata Damian lama lalu mengangguk kecil, dia juga sudah tidak tahan dan Damian perlahan memasukinya.


"Aakkk sakit Dami, stop! Sakiiitt..." Pekik Yana tetapi Damian yang sudah dipuncak gairah tetap melesakkan sampai masuk sempurna dan setelah Yana tenang dia memulai pergerakannya hingga keduanya mencapai kepuasan.


Damian memeluk Yana dan membiarkannya istirahat, tak lama rasa panas itu muncul lagi dan mereka saling memberikan kenikmatan hingga hampir pagi menjelang.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Aduhh... kenapa sakit sekali sih.." Keluh Yana saat dia terbagun di pagi hari menjelang siang. Damian yang mendengarnya juga terbangun melihat keadaan Yana yang duduk di tepi ranjang ingin ke kamar mandi tapi tidak bisa karena rasa perih di tubuh bawahnya, Yana memakai bajunya hanya bagian atas saja karena itu yang dia temukan di tepi tempat tidur.


"Kenapa Yana? Apanya yang sakit?" Tanya Damian polos.


"Ck.. apanya, ini gara-gara kamu Damiiii.. kau terlalu buas tadi malam sampai sakit begini nih." Kesal Yana dan Damian terkekeh mendengarnya.


"Iya istriku, kau terlalu menggairahkan jadi aku tidak tahan deh.. sini.." Damian menggendong Yana dan membantunya untuk ke kamar mandi padahal cuma 5 langkah tapi Yana benar-benar tidak sanggup.


"Sana pergi aku mau mandi.." Usir Yana saat Damian masih menunggunya setelah didudukkan di toilet. Damian tersenyum lalu keluar dari sana dan kembali ke tempat tidur untuk berbaring lagi.


Damian mengerutkan dahinya saat melihat bercak merah yang lumayan banyak di kasurnya dia berpikir sejenak.


"Kau datang bulan ya?" Tanya Damian pada Yana saat keluar dari kamar mandi dan jalan perlahan ke tempat tidur masih menggunakan baju tidurnya yang tadi dan handuk dililitkan di pinggangnya, rambutnya di biarkan basah terurai.


"Gak kok, baru berhenti 3 hari lalu.. kenapa?" Jawab Yana sedikit bingung, Damian menunjuk ke arah bercak merah itu dan Yana juga bingung kerena dia sudah tidak perawan dan kenapa ada darah disana?


"Tapi kau suka kan?" Tanya Damian dan dia kembali memeluk Yana yang sedang duduk di meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kering, dia mendaratkan kecupan ringan di pipi Yana, "i love you baby." ucapnya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Damian masuk ke kamar mandi dengan membawa Hpnya dia ingin konfirmasi lagi tentang Yana pada Jason.


[Damian] Jason... Jas.!!


[Damian] JASON!!


[Jason] Apa sih.. ganggu aja Dami...


[Damian] Ceritakan yang benar, apa yang kau lakukan pada Yana saat dia mabuk waktu dulu dengan mantannya?


[Damian] Oh... kan sudah aku ceritakan.


[Damian] Jas...


[Jason] hahah iya iya.. udah gol kah? itu hadiah untukmu Dami.


[Damian] Maksudmu?


[Jason] Hey.. aku gak sejahat itu mengambil perawannya gadis baik-baik

__ADS_1


[Damian] Kau gila!


[Jason] Gimana enakkan?


[Damian] Kasian Yana kesakitan Jas, aku akan menghajarmu nanti!


[Jason] Hahahaha kau main tancap aja kasian Yana


[Damian] Tapi kenapa bisa?


[Jason] Aku hanya mengambil beberapa foto dan spe*ma itu beneran sih biar dia percaya aja dulu


[Damian] Haiss.. kau ini, kalau tau gitu aku tidak main tancap dan akan pelan-pelan saja menikmatinya..


[Dayana] KALIAN BISA GAK BICARA HAL GINIAN DI CHAT PRIBADI!!??


[Dayana] KALIAN MENYEBALKAN!!!


[Damian] Oh shiittt ini di grup Jas!!


[Jason] Hahahahah... selamat menikmati surga dunia pengantin baru...


Setelah percakapan itu Damian segera mandi dan keluar mencari Yana yang ternyata ada di balkon, karena dingin dia memakai baju hangatnya dan menikmati udara yang sangat bersih disana.


"Yana sayang.. kau baca sendiri kan.. jadi jangan sedih lagi tentang itu ya.." Ucap Damian sambil memeluknya dari belakang. Yana menghidup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskan perlahan.


"Iya aku lega.." Ucapnya pelan.


"Yuk kita turun, aku laper, udah jam 11 siang loh." Ajak Damian dan dia menarik tangan Yana lembut untuk keluar dan mencari sarapan yang sudah menjadi makan siang mereka.


"Mba.. yang lain kemana ya?" tanya Yana pada salah satu pelayan di ruang tengah.


"Tuan Flo dan 2 temannya sedang ke bukit atas, Tuan Flo pesan jika kalian bangun bisa makan dulu dan menyusul, silakan." Jawab pelayan itu dan membawa mereka untuk makan.


Setelah makan Damian dan Yana menyusul kebukit dengan jalan kaki menaiki anak tangga yang lumayan banyak.


"Yana.. kau bisa?" Tanya Damian khawatir karena tadi pagi Yana bahkan tidak bisa berjalan.


"Bisa, pelan-pelan." Jawab Yana dan Damian menemaninya jalan menaiki tangga itu dengan pelan sambil menggenggam tangannya.


"Disini indah banget yah.. jadi pengen punya rumah di daerah begini." Ujar Damian dan Yana tersenyum mendengarnya.


"Nanti kalau kita sudah tua, sudah pensiun kita bikin rumah di tempat kaya gini." Ujar Yana membuat hati Damian serasa terbang ke angkasa karena bahagia.


"Iya, nanti setelah kita pensiun dan menyerahkan semua ke anak-anak kita, aku akan membawamu ke tempat seperti ini untuk menikmati hari tua kita." Ucap Damian dan Yana tersenyum dan memandangnya, kali ini jantungnya berdetak kencang sama seperti waktu dulu dia melihat Damian sebagai seorang lelaki dan perasaan itu muncul lagi.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2