
Celine hanya bisa menghela nafasnya lemah saat membuka ruang kerja Mario pagi itu. Sudah 2 minggu Celine mengikuti Mario dan melihat sendiri kekacauan sahabat dan cinta pertamanya.
"Ini lah makanya tante Lia menyuruhku pulang dan melihat sendiri keadaanmu Mario. Bisakah kau melupakan cintamu pada Jade? Dia sudah bahagia disana dan tinggal kau yang menderita disini." Ucap Celine pelan dengan nada lirihnya. Celine berjongkok di depan Mario yang tertidur di sofa single di ruang kerjanya, di tangannya masih ada gelas dengan minuman keras yang masih ada setengah sedangkan di meja sudah ada sebotol minuman keras yang hampir habis.
Celine perlahan mengambil gelas itu lalu menyingkirkan semua minuman keras di meja dan di letakkan kembali ke dalam lemari kaca di ruangan itu lalu kembali dan mengendurkan dasi Mario yang masih mengikat rapi di kemeja pria itu.
"Ini pasti tidak nyaman.." Lirihnya lagi tapi Mario yang terusik sedikit membuka matanya dan melihat Celine, tapi bukan sosok Celine yang dilihatnya malah Jade yang berada dalam pandangannya.
"Jade.. kau kah itu.. Jade, sayang.. aku merindukanmu." ucap Mario lalu memeluk pinggang Celine dengan erat dan kepalanya bersandar pada dada Celine.
"Mario.. sadarlah aku bukan Jade. Lihat baik-baik.." Ujar Celine setelah berhasil melepaskan pelukan Mario darinya.
"Tidak Jade.. sayang, jangan tinggalkan aku sayang." Mario kembali menarik Celine dan mendekapnya dengan erat, dia tidak mau melepaskan wanita ini lagi.
"Biarlah.. yang penting kamu tenang dulu.." Celine mengusap kepala Mario yang masih ada di dadanya, meskipun Celine tidak nyaman dengan posis begini, dia setengah menunduk dan 5 menit Celine sudah lelah dan akhirnya berhasil membujuk Mario untuk pindah ke kamar.
"Kemarilah sayang.." Mario tetap menarik Celine ke dalam dekapannya. Perlahan dia merebahkan Celine lalu menindihnya, Mario mendaratkan kecupan kecupan di seluruh wajah Celine lalu membenamkan bibirnya di bibir Celine yang sexy dan menggoda. Mario tetap saja mengira kalau Celine adalah Jade sampai puas Mario menciuminya dan kembali tertidur.
Cairan bening mengalir keluar dari mata cantik Celine, dia sangat senang Mario memeluk dan menciumnya tapi bukan sebagai Celine melainkan Jade. Hatinya begitu sakit, tapi Celine tetap bersabar dan menemani Mario sampai tenang.
.
.
Seminggu berlalu dan Mario masih sama, dia akana terus bekerja, bersikap dingin dan kasar lalu pulang dan mabuk. Celine selalu menemaninya bahkan sekarang dia juga bekerja sebagai sekretaris Mario atas permintaan mama Lia. Setiap malam juga Mario akan mabuk dan memeluknya kadang menciumnya mengangap Celine adalah Jade kekasih yang amat dia cintai dan Celine menerima itu semua dengan perasaan yang juga sedih dan terluka.
Suatu malam, Lia memanggil Celine setelah Mario tenang dan tertidur pulas sehabis mabuk. Celine menuju ruang keluarga dan berbincang dengan Eli yang terlihat sangat serius.
"Ada apa tante? Sepertinya sangat serius dan penting?" Tanya Celine yang duduk di samping Lia yang terlihat gusar dan wajahnya sangat tidak tenang.
__ADS_1
"Sebenarnya ini ada hubungan dengan Jade dan Mario, tante menemukan hal yang sangat mengesalkan dan juga sedih. Kasihan Mario." Ucap Lia dengan air mata yang hampir jatuh.
"Memangnya kenapa tante? Mario baik-baik saja kan? Ya..selain hal yang biasa beberapa bulan ini." Tanya Celine menatap Lia dengan intens.
"Sebenarnya ini karena Jade." Jawab Lia setelah itu dia menghela nafasnya pelan tapi panjang, Celine mengerutkan dahinya bingung.
"Sebenarnya tante lah yang mengurus pemakaman Jade dan saat sampai di rumah sakit waktu itu, dokter bilang kalau Jade sedang hamil kemungkinan masih 4 sampai 6 minggu." Sambung Lia.
"Jadi..." Celine terbelalak kaget, mulutnya tidak bisa tertutup karena dia tidak percaya Mario dan Jade bisa melakukan hal itu.
"Bukan.. bukan anak Mario. Itulah yang membuat tante sedih dan merasa Jade tidaklah sebaik yang kita pikirkan."
"Maksud tante... Jade selingkuh? Tapi tidak mungkin, mereka saling mencintai."
"Lihat sendiri, ini yang sudah tante temukan dari detektif yang tante sewa."
Celine melihat sebuah map biru di meja depannya dan perlahan mengambilnya lalu membuka lembar demi lembar dan membacanya dengan mata nanar tidak percaya.
"Iya.. dia adalah pacarnya Jade dan mereka saling mencintai, sementara Mario hanya sebagai bank berjalan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Selama ini tanpa sepengetahuan tante, Mario selalu memberikan uang dan fasilitas kelas 1 pada Jade yang bukan siapa-siapa sampai orang tua dan kakaknya mempunyai toko sendiri, rumah dan lainnya, semua dari Mario sebagai penyokongnya. Tentang kehamilan, Jade dan pacarnya juga tidak tau, tante menutup informasi itu." Jelas Lia dan Celine merasakan sakit luar biasa di hatinya.
Celine masih menangis.. mereka akhirnya diam dan tidak sanggup berkata-kata lagi. Apalagi Celine, dia sangat menyesal telah merelakan Mario pada sahabatnya Jade saat itu dan memilih mundur untuk kebahagiaan mereka yang nyatanya malah membuat Mario semakin terpuruk.
"Cel.. ingat, rahasiakan ini dari Mario ya.. tante tidak mau dia menjadi semakin gila karena ini. Kita akan simpan sampai kapanpun."
"Iya tante.. kita harus menyimpannya dengan baik. Celine janji akan merawat Mario dengan baik dan kita harus mendukungnya."
Setelah pembicaraan serius itu Celine kembali ke apartementnya dan mulai membersihkan diri, rasa sakit dan sedih masih menggerogoti hatinya dan dia mulai menangis lagi sampai tertidur.
.
__ADS_1
.
.
Seperti biasanya, Mario dan Celine setiap hari jam 10 pagi ke Magical Flower untuk membeli bunga untuk Jade dan pagi itu mereka duduk sebentar di cafe untuk menikmati teh dan sarapan.
"Eh.. tunggu Mario, Hp ku di meja tadi, ketinggalan." Pekik Celine saat Mario akan memundurkan mobilnya untuk keluar dari parkiran.
"Ya ampun, cepat lah..ck!" Decak Mario kesal dengan kecerobohan Celine.
"Akh.. makasih ya mba Flo.. hehehe." Ucap Celine yang sudah sedikit akrab dengan Flo karena setiap hari mereka kesana.
"Ouch..!" Pekik Celine karena tidak hati-hati dan menabrak rang dibelakangnya ketika berbalik.
"Loh.. om kan.. " Ucap Celine menatap sosok pria gagah dan tampan di depannya.
"Siapa ya? Sepertinya tidak asing.." Tanya Pria itu.
"Om yang terluka di gunung itu, benar-benar tidak menua. Apakah om memang bukan manusia?" Tanya Celine yang telah mengingat kejadian 10 tahun lalu dan pria di depannya masih sama, tidak menua dan tetap tampan.
"MMMPPP"
Pria itu membekap mulut Celine sambil berbisik.. "Hei bocah, aku ingat kau dan jangan berisik." Pria itu perlahan melepaskan Celine setelah dia mengangguk.
"Berikan nomormu nanti aku hubungi." Pintanya sambil menodorkan ponsel dan Celine mengambil dan mengetikkan nomornya dan pamit karena Mario sudah meneleponnya.
"Kau kenal dia Florian?" Tanya Flo yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Yah begitulah.. sekarnag dia sudah tumbuh jadi gadis cantik." Jawab Florian yang pagi itu datang untuk menemui Flo karena ada hal serius di dunia peri yang harus mereka bahas.
__ADS_1
TBC~