
Shankara menghisap batang rokok ke 4-nya malam itu di tengah laut yang gelap dia hanya ditemani lampu dari kapal pesiar yang sudah 2 minggu ini tidak berlabuh. Shanka begitu orang-orang memanggilnya, seorang staff senior di kapal pesiar, sudah 6 tahun dia bertahan di kapal ini, dari 1 negara ke negara lain.
Bukan tanpa sebab pria 29 tahun yang mirip aktor India ini bekerja di kapal dan selalu merasa kesepian. Seperti saat ini, teman-temannya sedang berpesta karena 2 hari lagi kapal mereka akan kembali ke negri asal tercinta dan 1 temannya akan melepas masa lajang, tapi Shanka malah terlihat sangat sedih. Kontrak kerjanya telah habis dan dia memutuskan untuk kembali setelah 6 tahun berkelana di lautan lepas.
"Shanka.. ayo kita rayakan, kau tak senang melihatku akan menikah seminggu lagi? Ayolah kawan." Ujar salah satu temannya disana tapi Shanka tetap diam dan menikmati rokok ke 5 nya sekarang, dia mulai takut, dia takut akan pertemuan dengan seseorang yang selama ini dia hindari.
Kapal akhirnya berlabuh, sudah 6 tahun dia tidak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. "Shanka!!!" Teriak seorang wanita dari jauh untuk datang menjemputnya, dia adalah Prithika.
"Thika.. wah makin cakep aja." Ujar Shanka begitu menghampiri Thika yang menjemputnya bersama Kula adiknya.
"Iya dong.. Thika gitu loh." Sahut Thika tak mau kalah.
"Wah Kula uda gede aja nih.." Shanka meninju bahu Kula yang kini sama besarnya dengannya.
"Bang Shanka kok makin ganteng, mirip Hrithik Roshan waktu muda dulu." Puji Kula pada Shanka yang memang sangat tampan melebihi aktor Bollywood. Bahkan di kapal banyak wanita yang ingin sekedar bermalam dengannya dengan bayaran fantastis tapi dia menolaknya.
Akhirnya para wanita kaya itu hanya puas memandanginya dari jauh tetapi tetap memberi tips untuknya jika dia datang membawakan sesuatu yang mereka pesan berulang-ulang hanya untuk melihatnya.
Thika dan Kula membawa Shanka ke rumahnya yang dulu tetapi rumah itu rusak cukup parah dan tidak bisa ditinggali untuk sementara, karena telah malam mereka mengajak Shanka menginap saja dirumah mereka yang hanya berjarak 2 rumah.
"Sorry, kami gak bisa jaga rumahmu ini. Sementara tinggal di rumah kami aja." Ucap Thika merasa bersalah karena rumah itu adalah peninggalan orang tua Shanka.
"Gak apa, aku memang mau bangun ulang rumah ini, tolong carikan tukang yang bisa selesai dengan cepat dan pekerjaannya rapi."
Thika langsung mengangguk dan menyuruh Kula memanggilkan Pak Parmin tukang paling top di daerah itu. Hanya 5 menit, Pak Parmin sudah ada di depan Shanka dan melakukan negosiasi untuk membangun rumah ini, setelah perdebatan panjang tetapi tidak pakai urat itu selesai Thika membawa Shanka kerumahnya untuk menginap tapi Shanka memilih menginap di hotel saja.
"Yakin mau ke hotel?" Tanya Thika dan Shanka mengangguk.
"Ehm.. baiklah padahal cuma beda 2 rumah aja tuh.." Thika menunjuk kearah rumahnya.
"Iya tau.. aku belum lupa." Ujar Shanka dan akhirnya mereka memutuskan pergi makan malam dulu karena Shanka sudah kelaparan.
Mereka berdua mencari makan dekat rumah saja karena Shanka sangat rindu jajanan kampung seperti mie tek-tek, nasi goreng, sate yang dijual pinggir jalan, bakso, soto gerobak dan lainnya.
"Kau mau makan berapa banyak lagi? Ini udah menu ke 3 loh.." Keluh Thika dan Shanka masih butuh asupan energinya karena rindu dengan makanan ini.
__ADS_1
"Sabar, ini yang terakhir.." Ujar Shanka tapi dia masih memesan 10 tusuk sate lagi.
"CK.. dasar, kau makan begini tapi badanmu bisa kekar ya.." Thika menusuk otot lengan Shanka dengan jarinya dan Shanka hanya tertawa.
"Kau kira ini instan? Karna tidak ada hiburan di tengah lautan dan hanya ada tv dengan layar buram tak ada sinyal yaudah aku gym aja tiap hari, mayan kan jadi macho." Jelas Shanka tapi Thika malah menatapnya dengan jijik.
"Jangan coba-coba masuk gym di sini\, habis kau di godain sama *******." Ujar Thika dan Shanka merinding seketika.
"Ohh ok ok, thanks infonya." Ujar Shanka dan melanjutkan makannya.
"Hei kapan kita balik, aku dah ngantuk nih.." Keluh Thika berteriak, mereka ada di motor dan sudah hampir jam 11 malam tapi Shanka masih asik mengendarai motornya Thika untuk keliling kota kelahirannya.
"Iya nih mau balik, besok pinjam motormu ya, nanti kerja aku antar jemput deh.." Teriak Shanka agar Thika dapat mendengarnya.
"Iya oke, sekarang pulang, besok aku masuk pagi jam 8." Teriak Thika dan Shanka melaju cepat kembali ke area rumahnya.
Setelah mengantar Thika pulang, Shanka kembali ke hotel dan besok dia akan mencari kontrakan untuk mementara sampai rumahnya selesai dibangun, mungkin sekitar 2 bulanan.
Seperti biasa jika Shanka merasa kesepian dia akan merokok dan kali ini dia menghabiskan 3 batang rokok di balkon kamar hotelnya, sambil memikirkan masalalu dan apa yang akan dilakukannya sekarang dengan uang banyak yang telah dia kumpulkan selama 6 tahun.
Jam 7 pagi Shanka sudah ada di depan rumah Thika yang masih sedang tidur, Shanka tidak mau berdiam diri, dia malah membantu ibunya Thika di dapur. Hidup di kapal membuat Shanka belajar banyak hal selain house keeping dia juga pernah bekerja di bagian dapur dan berakhir di Bar.
"Jangan makan lagi... kau ini lelet kalo makan, nih udah aku siapain di kotak." Shanka menarik Thika dan keluar dari rumah agar bisa cepat mengantarkannya karena dia ada janji bertemu temannya pagi ini.
"Stop stop..." Teriak Thika dan untung saja Shanka sempat ngerem sebelum kelewatan, Thika langsung berlari masuk tapi dia malah kelupaan dengan bekal yang sudah di buat oleh Shanka, terpaksa Shanka harus memarkirkan motor dulu dan turun untuk menyusulnya.
"Selamat pagi kami belum bukaaa...." Sapa Flo dan dia langsung ternganga melihat Shanka yang ada di depannya.
"Saya cari Thika mba, dia lupa bawa ini. Tolong berikan padanya ya.. makasih." Ujar Shanka lalu berbalik pergi.
"THIKAAAA!!!!" Teriak Flo dan Thika yang ada di dalam ruangan pendingin langsung panik dan keluar.
"Kenapa Flo kenapa??" Tanyanya dengan wajah cemas dan Flo meliriknya tajam.
"Siapa pria ganteng tadi?" Tanya Flo masih memicingkan matanya curiga.
__ADS_1
"Pria ganteng mana?" Thika bingung dengan pertanyaan Flo dan dia baru ingat saat Flo mengangkat kotak makanan Thika.
"Ohh itu Shanka temanku sejak TK, eh sejak balita, aku lupa.. dia lebih tua dariku sih.." Jawab Thika sambil mengambil kembali kotak makannya dari tangan Flo yang masih menatapnya curiga.
"Dia terlalu ganteng untuk jadi temanmu Thikaa... "
"Iya iya tauk, dari dulu juga aku nih dianggap pelayannya, puas!" Kesal Thika dan Flo tertawa sangat puas mendengar itu.
.
.
"Thika.. kamu kerjain yang mana dulu?" Tanya Flo melihat catatan pemesanan yang ditulis Thika tadi pagi.
"Oh yang hotel dulu, karna mau diambil sore ini."Jawab Thika sambil mengerjakan pesanan hotel itu.
"Tapi ini sudah sore Thikaaa..." Ujar Flo mengingatkan dan thika baru sadar.
"Mampus, orangnya datang 10 menit lagi." Ujar Thika yang baru saja melihat jamnya, FLo hanya menggeleng karena Thika hari ini sangat tidak fokus sehabis menerima telepon pada jam makan siang tadi.
"Permisi..." Suara seorang pria dan Thika mulai panik dan melihat kearah itu.
"Shanka.. ngapain? Aku belum pulang kerja." Tanya Thika begitu melihat Shanka masuk.
"Shankaaa... !!! Ahhh si ganteng kapan kau pulang?" Mala berteriak senang melihat teman baik dari sepuppunya ada di disini.
"Kemarin malam, kau kerja disini juga Mala?" Tanya Shanka dan Mala mengangguk dengan senyum yang sangat lebar.
"Mala jangan genit deh.." Tegur Thika karena Mala memang terbiasa genit di depan Shanka yang telah menjadi idolanya sejak kecil.
"Aku datang mau ambil pesanan Raju nih.." Ujar Shanka dan Thika baru sadar, iya Raju itu nama yang pesen buket snack nya.
"Tunggu, lagi aku selesaikan nih.. bentar 10 menit." Ujar Thika panik dan Shanka menggeleng melihat kepanikan Thika.
Flo malah tersenyum simpul melihat ketampanan Shanka yang menurutnya cocok jadi aktor, model dan apalah yang penting terkenal.
__ADS_1
Setelah buketnya selesai Thika menyerahkannya ke Shanka tanpa bertanya untuk apa dan siapa yang memesan itu dan kenapa dia yang mengambilnya, karena di pikiran Thika saat ini sangat kacau memikirkan sesuatu.
TBC~