Magical Flower

Magical Flower
BAB 56 - Bukan Wanita Malam (Part 7 - End)


__ADS_3

Edward begitu kesal dibuatnya, Fany benar-benar keras kepala, "Baiklah kalau begitu siap-siap saja aku akan membuatmu hamil sebentar lagi."


"Kau jangan coba-coba! Jangan menyentuhku." Bentak Fany dan dia hendak turun dari mobil Edward tapi pintu itu sama sekali tidak dapat dibuka.


"Fay.. hei, dengar." Edward menarik tangan Fany lalu mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Fany dengan begitu dalam dan menuntut hingga Fany tidak dapat berontak tetapi malah terlena dengan ciuman yang sangat handal dari Edward.


"Jangan panggil aku Fay! Aku gak suka." Kesal Fany saat Edward sudah melepaskan ciumannya.


"Baiklah Fany, sayang.. kalau memang gak mau nikah kita pacaran dulu ya..? Kamu juga masih terlalu muda, aku akan sabar menunggumu Fany." Ucap Edward dengan lembut seraya mendekapnya.


"Baiklah kita pacaran dulu tapi jangan sampai orang-orang di kampus tau, kau itu punya banyak fans dan aku tidak mau dibuli." Kata Fany menegaskan.


"Baiklah tapi kamu tetap jadi asistenku biar kita tetap bisa bertemu di ruanganku dan bermesraan dengan aman disana." Kekeh Edward sambil menatap Fany dengan tatapan mesumnya.


"Jangan melihatku begitu, dasar mesum." Fany menepuk lengan Edward karena kesal dengan tatapannya seakan menelanjangi Fany. Dia bergidik negri membayangkan pertama kali mereka melakukannya dan rasa sakit yang teramat sangat waktu itu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sudah sebulan sejak Fany menerima perasaan Edward dan mereka selalu bermesraan di dalam ruangan Edward tanpa ada yang tau. Untungnya Edward masih bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Fany lebih jauh lagi karena dia sadar kalau Fany masih 18 tahun dan dia akan menunggu 2 tahun lagi saja untuk melamar Fany.


Hubungan itu berlanjut dan berjalan dengan baik sampai suatu hari Fany dikejutkan dengan kedatangan ayahnya yang ada di halaman kampus untuk mencari Fany.


"Hai Fany.. ada yang mencarimu didepan dan aku sudah bawa dia ke taman samping kampus biar kalian bisa berbicara dengan leluasa." Sapa Putri lalu memberitaukan ke Fany.


"Siapa?" Tanya Fany bingung karena dia tidak punya kenalan lain yang tau kalau dia berkuliah disini selain di Magic Flower.


"Lihat saja sendiri." Jawab Putri lalu pergi  meninggalkan Fany yang masih bingung di kelasnya.


Seperti perkataan Putri, Fany segera ke halaman samping kampus yang luas itu. Dengan menjinjing tasnya karena dia sekalian akan pulang dan langsung bekerja di Magic Flower.

__ADS_1


Dari jauh Fany melihat dulu siapa yang menunggunya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok yang sangat dia benci. Ayahnya, ya ayahnya datang, Fany yang ketakutan langsung berlari begitu ayahnya menoleh. Fany tidak ingin bertemu dengan orang yang seharusnya bertanggungjawaba atas apa yang menimpa dirinya setahun belakangan.


Untungnya taman belakang itu memang dekat dengan parkiran motor dan Fany segera membawa motornya dan meninggalkan kampus. Ayahnya yang melihat itu langsung menghadang tukang ojek dan mengikuti Fany dari jauh.


"Loh kenapa Fan? Kok buru-buru gitu?" Tanya Flo dan belum sempat Fany menjawab ayahnya sudah ada di belakangnya dan menariknya keluar.


"Sini kamu!" Fany ditarik dan diseret oleh ayahnya, Flo dan Mala yang kebetulan hanya berdua di depan langsung mengikuti mereka.


"Lepas!" Fany memberontak dan ayahnya langsung menamparnya agar dia bisa diam.


"Bapak.. lepaskan karyawan saya, anda siapa?" Teriak Flo lalu menarik Fany agar menjauh dari ayahnya.


"Saya ayahnya dan saya berhak padanya disini." Bentak orang tua itu. Flo yang mendengar itupun langsung emosi karena dia tau apa yang telah menimpa Fany, itu semua adalah karena ayahnya.


"Ayah mau apa lagi? Ayah sudah menjualku dan sekarang ayah tidak berhak lagi padaku. Lepaskan!" Fany terus berontak dan terjadilah saling tarik menarik disana hingga Fany terhempas ke jalanan dan tertabrak mobil yang kebetulan lewat melaju dengan cukup kencang.


"FANY!!" Teriak Flo dan Mala mendekat pada Fany yang telah tergeletak bersimbah darah.


Fany mengerjabkan matanya, rasa sakit dikepala dan seluruh tubuhnya membuatnya meringis.


"Sakiitt.." Lirihnya.


"Fany.. sayang, jangan bergerak dulu ya." Edward mendekat dan melarangnya bergerak karena dia ingin sekali untuk duduk tetapi rasa sakit dikepalanya yang sedang di perban membuatnya harus tetap rebahan.


"Dimana ayah?" Tanyanya setelah sedikit tenang.


"Ayahmu sudah aku jauhkan dan dia tidak akan berani mendekat lagi, jangan takut ya.."


"Kamu apain ayah?"

__ADS_1


"Tidak, aku cuma memberinya uang yang banyak agar dia tidak mengganggumu lagi dan sebagai mahar untuk menikahimu, hanya itu caranya agar dia mau pergi." Jelas Edward dan Fany menghela panjang.


"Jangan pikirkan ayahmu lagi, lihat kapalamu ada jahitan begini jadinya, dan luka di kaki dan tanganmu.. " Lanjut Edward sambil mengelus kepala Fany dengan lembut, dia sebenarnya sangat kesal pada ayah Fany dan ingin menghajarnya tetapi saat itu Flo yang menenangkannya dan memilih menjauhkan ayahnya dari Fany saja.


Seminggu berlalu dan akhirnya Fany dapat kembali kuliah dan bekerja, lukanya berangsur sembuh hanya tinggal bekas yang sudah mengering namun Fany kesal dengan bekas luka di seluruh tangannya. Malah luka dikakinya yang tidak berbekas sama sekali.


"Kenapa cemberut gitu hem?" Tanya Edward saat Fany keruangannya untuk memberikan tugas yang telah dia kumpulkan tadi.


"Aku kesal dengan bekas luka ini, apakah akan begini terus? Tanganku jadi jelek." Ucap Fany dan bibirnya mengerucut lalu duduk di sofa depan meja kerja Edward.


"Jangan gitu sayang.. kamu tetap cantik dan sexy." Edwar berdiri dan mendekati Fany lalu duduk disebelahnya, mengelus bekas luka itu dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Ini.. mom yang berikan, cream khusus yang bisa menyamarkan bekas luka dan dia mengirim sangat banyak jenisnya dan aku bingung." Fany melihatnya dan matanya berbinar.


"Inikan cream dari merek terkenal dan mahal itu!" Ucapnya lalu mengambilnya dari Edward lalu segera membuka dan memakaikan di bekas lukanya. Fany memang telah mencari cream untuk menyamarkan bekas luka, tapi yang paling bagus ini sangat mahal. Sebenarnya Edward sudah ingin membawanya ke dokter kulit untuk menyembuhkannya tapi Fany tidak mau.


"Kalau pemberian mom saja kamu mau, aku ajak ke dokter kulit selalu menolak." Gumam Edward dan Fany hanya nyengir mendengarnya. Fany sangat senang dengan perhatian calon mertuanya itu karena dia rindu dengan sosok ibu. Untung saja Edward segera memperkenalkan mereka meskipun hanya melalui video call saat Fany masih di RS.


Kini hubungan Edward dan Fany semakin dekat bahkan Fany sudah mulai cemburu melihat Edward yang banyak didekati oleh mahasiswi yang mencari perhatian darinya, tak jarang dia bahkan yang membalas pesan dari mahasiswi yang menanyakan jadwal kuliah dan sebagainya agar Edward tidak kepincut dengan yang lain.


"Kamu kenapa menggemaskan sih.." Edward mendaratkan kecupan di pipi Fany karena dia sejak tadi yang membalas pesan masuk itu. Bahkan ada beberapa mahasiswi yang mengajak dinner dan sebagainya membaut Fany gerah.


"Aku mau kerja dulu.. kamu jangan macam-macam." Ujar Fany dengan berkacak pinggang.


"Iya sayang.. hatiku kan semuanya sudah kamu ambil, tidak ada sisa untuk wanita lain." Jawab Edward dan Fany tersenyum mendengarnya.


"Cup.. aku pergi." Fany mengecup sekilas bibir Edward dan keluar ruangan itu untuk lanjut bekerja di Magic Flower. Edward membiarkannya menjalani hidup sesuai yang dia inginkan mengingat kehidupan remaja Fany yang hanya ada kesedihan dan kesepian, jadi dia tidak akan mengekangnya. Untuk menikah.. Edward telah berjanji baru akan menikahinya setelah Fany berumur 20 tahun yang berarti 1 tahun lagi agar Fany bisa menikmati masa remajanya.


Edward juga membantu Fany untuk membuka tokonya sendiri seperti impiannya, menjual pakaian rancangan dan begitu banyak model baju yang dia gambar telah di bawa ke konveksi Maira dengan bantuan Flo sehingga Fany bisa bebas dalam berkreasi, juga tidak perlu bekerja di Magical Flower lagi nanti bila waktunya tiba.

__ADS_1


Bukan Wanita Malam (Fay/Fany - Edward) - END


 TBC~


__ADS_2