Magical Flower

Magical Flower
BAB 52 - Bukan Wanita Malam (Part 3)


__ADS_3

Fany kini berada di dalam mobil Edward dan mereka menuju salah satu hotel mewah terdekat, Edward sudah tidak sabar untuk bisa menikmati tubuh wanita yang telah menarik perhatiannya ini.


Fany sebenarnya sangat takut tapi dia juga lega karena telah terbebas dari club itu dan hutangnya, dengan sisa uang yang dia punya dia akan memulai hidup baru, dan biarlah dia kehilangan kehormatannya demi masa depan dan ketenangannya.


"Hanya sekali Fany, kau harus kuat dan iklaskan." Kalimat itu selalu dia ucapkan dalam hati untuk meyakinkan dirinya.


Edward menarik Fany masuk ke sebuah kamar mewah dan langsung melancarkan aksinya begitu Fany meletakkan tas dan semua keperluannya. Tak menunggu lama tubuh Fany telah polos dan Edward menjatuhkannya diatas tempat tidur besar dan mewah.


Edward mencium seluruh wajah Fany\, dia tak peduli dengan make up yang masih menempel diwajahnya dan terus turun ke bawah. Sampai di benda kenyal itu Edward begitu rakus mengh*s*p ujungnya dan membuat Fany mendes*h hebat\, baru kali ini dia merasakan sensasi luar biasa dan dia membiarkan Edward melakukan apa saja pada tubuhnya.


Edward yang sudah tidak tahan langsung membuka seluruh bajunya membuat Fany memelik kecil melihat benda panjang besar dan berurat menggantung pas di depannya.


"H*sap." Titah Edward dan Fany yang memang sudah mengerti karena sering diajari oleh teman-temannya dengan film biru langsung tanpa ragu mempraktekkannya. Awalnya sangat susah karena dia ragu tapi lama dia berusaha akhirnya berhasil membuat Edward mendesa* dan makin memaju mundurkan miliknya dalam mul*t Fany sampai dia kewalahan.


"Oh Fay.. kau aahh.." Pelepasan pertama Edward dia keluarkan didalam mul*t Fany membuatnya terbatuk dan hampir menelannya tapi dia berhasil membuangnya dengan berlari ke arah wastafel didalam kamar mandi. Setelah kembali Edward sudah terlihat bergairah lagi menatap tubuh polos Fany.


"Kemarilah..." Panggilnya dan Fany hanya menurut dan dia dituntun dan merebahkan dirinya lagi, kedua kakinya dibuka dan tanpa aba-aba Edward memasukkan miliknya kedalam luba*g gelap Fany.


"Shiitt.. kenapa susah sekali?" Geramnya dan Fany sudah meringis kesakitan, dengan kuat dan sekali hentakan Edward yang memang telah di penuhi kabut gairah melesak masuk.


"Aahhhkkk sakit.. plis hentikan tolong.." Terika Fany dan memang benar, bukan hanya Fany yang merasakan sakit tapi juga Edward.


"Gila, ini sempit sekali... tunggu kau?" Edward menatap Fany yang masih menangis kesakitan dibawah tubuhnya.

__ADS_1


"Mr Ed, tolong keluarkan.. sakit sekali aku tidak tahan." tangis Fany begitu menyayat hati tapi tidak mungkin Edward mau melakukannya, dia telah merasakan nikmat yang sangat yang belum pernah dia rasakan dari wanita manapun.


"Tidak bisa sayang.. kau sangat luar biasa dan kenapa kau tidak bilang kau masih virgin hm?" Tanya Edward dan Fany hanya menggeleng masih menangis.


"Aku janji ini akan membuatmu melayang dan aku akan pelan-pelan." Ucap Edward lembut lalu kembali mencium bibir Fany dan rasa kali ini berbeda, begitu lembut dan penuh perasaan. Perlahan dia menarik miliknya membuat Fany meringis dan dengan pelan bergerak, lama-lama Fany menjadi tenang dan rasa sakit itu perlahan berubah nikmat dan akhirnya mereka bisa menikmati malam panas itu.


"Stop.. aku sudah tidak kuat." Ucap Fany lemah lalu dia sudah tertidur, Edward masih bergerak sampai dia puas dan mengeluarkan benihnya di dalam Fany yang telah terlelap karena lelah.


"Tidurlah sayang.. aku mencintaimu, aku janji akan menikahimu sayang." Edward mencium puncak kepala Fany lalu memeluknya dengan erat.


Pagi harinya, Fany terbangun duluan dan merasakan sakit dan pegal luar biasa pada seluruh tubuhnya dan semua bercak merah itu membuatnya mendesah kesal. Dia perlahan turun dari tepat tidur dengan jalan tertatih dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya dan make up tebalnya.


Setelah segar dia melihat Edward yang sedang tidur pulas, "Apa yang kau katakan itu benar, kalau kau mencintaiku? Atau karena sedang bercinta makanya kau ucapkan itu?" Ucap Fany lalu berjongkok dan menghela napasnya dalam.


"Apa yang sekali saja? Kau melakukannya berkali-kali sampai badanku remuk Mr. Ed, tapi terima kasih karena kau aku bisa bebas dan aku tidak menyesal memberikannya padamu. Aku akan memulai hidup baruku dengan normal sesuai dengan umurku. Terima kasih." Fany berdiri dan dia berjalan pelan meninggalkan kamar itu dan meninggal semua hal lalu untuk menggapai masa depannya.


"Masih belum kau temukan?" Tanya Edward pada Kris pengawal pribadinya, sudah 3 bulan dia mencari dan terus mencari keberadaan Fany tapi dia tidak menemukannya sama sekali. Dia juga sudah berulang kali ke club tapi tidak ada seorag pun yang tau dia dimana.


"Sudahlah Tuan, cari saja wanita lain yang lebih baik." Saran Kris tapi Edward malah melemparkan tatapan tajam untuknya.


"Dialah wanita baik itu, aku menyesal mengatainya wanita malam Kris, dia masih suci saat bersamaku." Jujur Edward membuat Kris terkejut.


"Yang benar Tuan? Dia.."

__ADS_1


"Iya Kris, makanya aku harus menemukannya."


"Aku akan berusaha, Tuan tenang saja dan besok anda harus sudah berada di kampus untuk mengajar sesuai janji anda pada nyonya besar." Kris mengingatkan karena Edward datang ke negara ini untuk mengambil alih universitas milik ibunya yang dulu dibangun bersama beberapa temannya disini.


"Baiklah aku ingat dan cepat cari tau tentang Fay." Kris membungkuk lalu segera pergi mencari cinta Tuannya yang hilang.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Fany sedang merapikan tempat kerjanya yang sangat berantakan, dia sudah mahir dalam merangkai bunga, buket snack dan lainnya membuat pekerjaan Thika terasa ringan.


"Fan, besok kau sudah kuliah kan? Jadwal kuliah jangan lupa kasih tau ya biar aku bisa susun jadwal kerja kita bergantian." Thika mengingatkan.


"Iya kak, aku akan fotokan besok kalau sudah dapat ya.." Jawab Fany dan dia selesai berberes, sekarang Fany sudah menjadi karyawan full time di Magical Flower dan dia juga sering menjual bunga di toko online miliknya dan menjual baju dan aksesoris buatannya sendiri. Dengan sisa uang yang diberikan Edward dia menyewa apartemen kecil dan membeli motor matic untuk kebutuhannya dan sisanya dia gunakan untuk membayar kuliahnya selama setahun penuh, dan masih bersisa lagi.


"Hah.. simpananku bertambah." Ucapnya saat melihat notifikasi di hapenya kalu gaji sudah masuk ke rekeningnya.


Jam 8 pagi Fany sudah duduk di salah satu kursi di kelasnya dan telah banyak mahasiwa/i yang juga hadir dan duduk di sembarang tempat yang mereka mau. Fany belum mempunyai teman dan impiannya adalah mempunyai banyak teman seperti gadis pada umumnya tapi karena dia sedikit tertutup maka tidak ada yang mengajaknya mengobrol.


"Selamat pagi." Ucap dosen pria yang baru saja masuk kedalam kelas mereka.


"Deg!" jantung Fany seakan mau keluar saat dia melihat siapa dosen itu.


"Perkenalkan saya Edward dan kalian bisa memanggil saya Mr. Ed atau Edward saja juga boleh, kita akan sering bertemu dalam beberapa tahun kedepan." Ucapnya memperkenalkan diri, lalu Edward memanggil satu persatu nama mahasiswanya untuk mengenal mereka. Pas giliran Fany, Edward hanya biasa saja dan Fany merasa lega karena dia tidak mengenalnya.

__ADS_1


"Untung dia gak kenal.. haha make up ku jago berarti." Batin Fany lega tapi dia sedikit cemas juga bagaimana jika ada yang mengenalnya nanti.


TBC~


__ADS_2