
6 tahun berlalu,
"Aster.. cepat kembali, ibumu mencarimu." Teriak salah satu peri yang selalu menemani Aster kemanapun di lembah itu yang kini bernama Flows Valley.
"Iya sebentar." Teriak Aster membalasnya. Lalu dengan cepat dia menumpuhkan bunga kesukaannya yaitu Aster seperti dirinya.
Lembah itu jadi begitu indah dengan begitu banyak jenis bunga, tetapi tidak seperti dulu, kini Aster menumbuhkan jenis bunga dalam 1 area dan tertata rapi.
Dengan bantuan para peri, Aster dikembalikan ke bukit tengah hutan dengan terbang, biar cepat. itu kata Aster.
"terima kasih yaaa..." Teriaknya melambaikan tangan pada peri-peri kecil yang telah membantunya.
"Ayah ibu..." Teriak Aster yang telah menginjak 7 tahun, gadis kecil pintar dan telah tumbuh dewasa sebelum waktunya.
"Putri cantik ayah.. ayo, cepat bereskan barangmu sayang. Kita akan kembali ke dunia manusia dan kau ingatkan tentang semua pelajarannya?" Tanya Florian dan Aster mengangguk cepat. Florian telah menyiapkan Aster untuk mulai masuk ke kehidupan manusia karena Aster yang kini telah 7 tahun dan akan masuk sekolah.
"Ayah.. apakah disana banyak teman? Seperti yang di tunjukan kakek Oliver dan uncle Will?" Tanya Aster. Oliver dan cucunya Will selalu mengajari Aster dan memperlihatkan video tentang bersosialisasi dengan sesama manusia agar Aster siap kembali ke kehidupan normalnya.
"Tentu sayang.. nanti ayah akan ajak ke rumah teman ayah dan ibu agar kau bisa berteman dengan kakak-kakak disana." Ujar Flo yang menghampiri mereka dengan 2 koper yang dia tarik.
"Sudah selesai?" Tanya Florian dan Flo mengangguk. Lalu mereka keluar dari rumah dan disana sudah ada Iris yang berpenampilan seperti gadis biasa yang cantik.
"Aku akan disana 2 hari saja, agar ibu tidak menangis lagi." Ucap iris dan Flo langsung memeluknya, sangat sulit meninggalkan putrinya disini meskipun memang inilah tempat tinggalnya.
"Iya 2 hari cukup sayang.." Flo menggenggam tangan Iris dan mereka siap untuk berangkat menggunakan mobil yang sudah di siapkan oleh Will asisten Florian menggantikan kakeknya, Oliver yang baru saja pensiun.
Setelah menempuh perjalanan 4 jam untuk keluar dari area hutan dan lembah, mereka sampai di padang rumput luas dan sudah ada helikopter yang menunggu mereka.
.
.
__ADS_1
.
"kita sudah sampai." Ujar Florian sembari membangunkan Aster yang masih tidur pulas.
"Nggh ayah, Aster masih mau tidur." Rengeknya dan makin memeluk lengan Florian untuk melanjutkan tidurnya.
"Kita sudah sampai di kota Aster sayang.." Ujar Florian lagi dan Aster langsung terbelalak dan duduk dengan benar. Setelah 2 jam dengan helikopter mereka lanjut dengan mobil lagi dan sampailah mereka di rumah mewah Florian di tengah kota.
"Wuaahhh rumahnya besar sekali!" Teriak Aster begitu dia turun dari mobil dan langsung berlari menuju depan rumah itu.
"Ini rumah kita dan di samping sampai belakang ada taman luas untukmu berkreasi dengan bunga tapi hanya 2 hari ini. Karena lusa sudah ada pelayan dan ingat pesan ayah dan ibu?" Tanya Florian setelah menjelaskan.
"Tidak boleh menggunakan kekuatan di depan manusia dan di area yang ada manusia biasa seperti uncle Will. tapi uncle boleh..."
Flo menggeleng kepala melihat kelakuan Aster, mirip dengan dirinya.
"Iris ikut ibu yuk.. biar saja Aster dan ayah. Hanya ayah yang bisa menjinakkannya." Ucap Flo dan menarik Iris yang juga belum pernah keluar dari hutan.
"Tapi Iris merasa tidak nyaman.. disini terlalu kering dan tandus." Ucap Iris yang memang sejak keluar dari hutan dia sangat terlihat tidak nyaman.
Flo dan Iris terpukau melihat luasnya taman disana bahkan kalau dilihat, ini masih di tengah kota tapi kenapa bisa seluas ini lahan kosongnya?
"Aku membeli rumah-rumah mewah itu dan ratakan dengan tanah lalu membuat lapangan rumput ini, tenang saja kalian bermainlah sepuasnya karena tetangga kita lumayan jauh dari sini." Jelas Florian yang mengikuti Flo dan Iris, tentu dengan Aster juga yang sudah berlari jauh meninggalkan mereka dan bermain.
Mainan Aster tidak pernah jauh dari bunga, dia dengan senangnya merangkai taman itu dengan bunga-bunga ciptaannya. Di daerah pagar Iris membantunya untuk menanam pohon cemara dan beberapa tanaman rambat yang indah di dinding. Lalu di sampingnya ada bunga bakung berbagai warna. Sedangkan Aster sedang menghias pinggiran kolam dengan gazebo itu, dengan menumbuhkan beberapa jenis tanaman hias lalu di kolam ada teratai.
Setelah hampir 2 jam bermain di halaman, mereka akhirnya kembali karena Flo akan membawa mereka ke suatu tempat yang pasti akan di sukai oleh mereka.
"Iris.. kalau di tanya bilang kamu ini keponakan ayah ya.. panggilnya tetap ayah tidak apa-apa. Bisa pingsan kalau orang lain tau ayah dan ibu [unya anak cantik dan sudah sebesar ini." Jelas Forian dan Iris mengangguk paham karena sudah sejak lama mereka menjelaskan hal itu, begitu juga dengan Aster yang tetap menjadi anak mereka.
"Kita akan ke Magical Flower, ibu yakin kalian akan senang disana." ucap Flo dan dua putri cantiknya itu sangat antusias karena sejak dulu Flo selalu bercerita tentangnya yang membantu cinta manusia melalui bunga.
__ADS_1
.
.
.
"Imel sayang.." Panggil Fano yang melihat Imel telah berganti bajunya dengan penampilan yang sangat cantik.
"Iya suamiku.." Jawab Imel sambil mengambil handbag nya yang ada di kasur.
"Mau kemana?" Tanya Fano yang sudah mendekat ke Imel.
"Ke toko, kenapa?" Tanya Imel balik.
"Loh ini kan hari Rabu, pasti sepi kan di toko?" Tanya Fano yang sedikit bingung, padahal siang menjelang sore itu dia sengaja pulang cepat untuk bermesraan dengan istrinya.
"Mau cek stock bunga dan cari pemasok lagi, kan Pak Ramses sedang kemalangan karena kebun bunganya kena longsor minggu lalu.. Terus Thika juga lagi cuti melahirkan, Mala sibuk dengan cafe." Jelas Imel dan untungnya Fano mengerti.
"Ya sudah aku ikut deh, sudah lama juga jadi rindu mereka." Ujar Fano yang akhirnya bersiap ikut dengan Imel.
Hampir 1 jam lamanya Fano yang menyetir sendiri itu sampai di Magical Flower karena macet, jika di toko bunga sangat sepi berbanding terbalik dengan cafe yang sangat ramai sebab kini mereka ada tempat outdoor dan Imel juga memperluas area cafe dengan membeli rumah di sebelah toko itu jadinya kini Magical Flower lebih terkenal lagi.
"Siang mba Imel dan Tuan Fano." Sapa salah satu pelayan cafe saat mereka sampai. Imel memang tidak mau dipanggil Ibu, Nyonya, Nona atau sejenisnya. Dia masih tidak terbiasa apalagi di area toko.
Imel dan Fano masuk dan disana Mala sedang sibuk dengan urusan sift pelayan cafe yang semakin banyak, dia tengah menyusun jadwal di laptopnya. Sedangkan yang jaga toko ada Daisy yang masih anak kuliahan. Imel sengaja memilih karyawan toko bunga dengan nama yang artinya bunga, seperti Flo dulu melilih mereka melalui namanya.
"Siang mba.." Sapa Daisy ramah.
"Siang juga Daisy, kami ke dalam dulu yah.." Balas Flo lalu masuk ke dalam ruangan kantor kecilnya tetapi nyaman.
"Nah.. ini nih, bunga kita semakin menipis." Ucap Imel sedih karena ruangan penyimpanan bunga yang biasanya ada banyak jenis bunga kini hanya tinggal 2 jenis, mawar putih, krisan kuning dan 6 tangkai lily. Mawar putih karena memang itu yang jarang dibeli orang, krisan dan lily tahan cukup lama. Jenis bunga lainnya sedang kosong karena longsor karena seminggu ini hujan terus di gunung.
__ADS_1
"Seandainya ada Flo, pasti dia akan menumbuhkan banyak bunga disini." Gumam Imel lirih setelah duduk di kursi besarnya. Fano tidak mau merespon karena Imel pasti akan menangis lagi, jadi sebaiknya dia diam.
TBC~