
Setelah seminggu mengajar Edward mulai memberikan tugas yang sangat membuat mahasiswa stress, ternyata dia termasuk dosen killer dan sangat tega memberikan tugas menumpuk dan sulit. Meskipun dia tampan dan banyak mahasiswi yang menggilainya tapi sikap dinginnya lebih ditonjolkan dan itu sisi baru yang Fany lihat darinya.
"Tugas kemarin tidak ada yang mendapat nilai sempurna tapi ada 1 orang yang tetap mendapat niai tertinggi. Fany nanti setelah selesai datang ke ruangan saya." Tutup Edward lalu pergi meninggalkan ruangan kelas itu dan setumpuk kertas di mejanya. Salah seorang mahasiwa mengambil kertas paling atas, "Wah.. yang tertinggi aja nilainya C, kita? Ya sudalah.."
Fany mengambil hasil tugasnya yang bernilai C dan menghembuskan napasnya kasar. "Fan, kamu mau ke ruangan Mr Ed?" Tanya salah satu teman sekelasnya.
"Iya, duh ada apa ya?" Gumam Fany setelah selesai mata kuliah kedua siang ini. Perlahan dia mengetuk dan membuka pintu ruangan Edward dan berjalan masuk tapi Edward malah tertidur di sofa panjang di ruanganya itu. Fany mengintip dengan mendekat padanya. Mata Edward perlahan terbuka dan, "Fay.. itu kamu Fay.. aku merindukanmu." Ucap Edward lalu memeluk Fany hingga tubuhnya berada diatas Edward.
"Mr Ed, tolong lepaskan." Teriak Fany lalu Edward tersadar dan melepaskan Fany.
"Maaf, maaf aku tidak sadar salah mengenali orang." Ujarnya merasa bersalah lalu berdiri dan merapikan kemejanya.
"Silakan duduk." Fany duduk di kursi pas di depan Edward.
"Kamu dapat nilai C yang tertinggi di kelas dan aku ingin tau kenapa kau memilih jawaban itu?" tanya Edward lalu Fany menjelaskan dia berbicara panjang lebar yang menurutnya benar. Edward memperhatikannya dan mendengar suaranya dengan seksama.
"Gadis ini mirip sekali dengan Fay, namun terlihat lebih muda dan suaranya juga mirip." Batin Edward yang sudah tidak fokus mendengarkan dan malah memandangi wajah Fany dan membayangkan kalau dia adalah Fay.
"Mr. Ed.. Mr. Edward.." Panggil Fany beberapa kali tapi Edward masih melamun melihatnya, akhirnya Fany menepuk tanganna pelan.
"Ah maaf Fany.." Akhirnya Edward tersadar.
"Maaf, aku ingin bertanya.. apakah kamu punya kakak atau saudara yang mirip denganmu, usinya sekitar 20an tahun, 24-27 tahun?" Tanya Edward pada Fany.
"Ehm.. tidak Mr. Ed, saya anak tunggal dan hanya ada 1 sepupu itu juga usianya hanya diatasku 1 tahun, kami tidak mirip sama sekali." Jawab Fany dengan yakin, tapi di dalam hatinya dia sangat takut kalau Edward benar-benar mengenalinya.
"Tidak mungkin.. Fany sangat mirip dengan Fay dan tadi waktu aku memeluknya rasanya sama dengan aku memeluk Fay dan aroma tubuhnya, wangi sabun segar itu, Fay juga tidak memakai parfum." Batin Edward lalu dia menyudahi pertemuannya dengan Fany untuk ke club mencari tau lagi tentang Fay.
Fany akhirnya selesai kuliah dan dia sudah memberitahu ke Thika jadwal kuliahnya setiap hari selama seminggu dan memang minggu ini dia masuk sift siang.
"Loh.. Fany!!!" Pekik seorang gadis saat melihatnya di lapangan yang luas dan ramai.
"Putri..." Sahutnya lirih melihat sepupunya. Fany menjadi sedikit gemetar melihat ada Putri disana. Keluarga Putri jugalah penyebab dia dijual paksa karena ayahnya juga punya hutang pada ibunya Putri.
"Astaga.. kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau sudah di jual ayahmu dan jadi wanita malam di club?" Ujar Putri dengan suara lantang, akhirnya banyak orang disana yang mendengarnya. Fany merasa terpojok saat mata orang-orang melihat padanya dengan tanda tanya dan tatapan jijik.
"Jangan sembarangan Put, nanti jadi fitnah loh.." Ujar salah satu teman Putri yang sedang bersamanya.
__ADS_1
"Benar loh.. ayahnya juga punya hutang sama ibuku makanya jual dia untuk bayar hutang dan aku bingung aja kenapa dia ada disini, setauku dia udah jadi pelacur buat bayar hutang di club itu." Jelas Putri dengan sengaja karena dia memang tidak menyukai Fany sejak kecil.
Fany berlari menjauh saat melihat temen sekelasnya juga ada disana dan akhirnya tau siapa dia yang hanya seorang wanita malam, Fany menangis, impiannya untuk kuliah dengan tenang menjadi angan-angan belaka.
Sampai di Magic Flower, Fany sampai dalam keadaaan kacau dan untung saja dia berhasil sampai disana dengan selamat dengan motornya.
"Ya ampun Fany... kenapa?" Tanya Flo lalu merangkulnya dan menuntunnya masuk kedalam untuk menenangkan diri. "Ceritakan Fany, ada apa.. mungkin aku dapat bantu." Ujar Flo lembut padanya.
"Aku..aku malu mba Flo.." Lirih Fany lalu menceritakan apa yang terjadi. "Aku ini memang wanita malam dan pelacur, bahkan menjual keperawananku untuk membayar hutang di club itu, mengambil sisa uang itu untuk mulai hidup baru, aku.. aku.."
"Sudah sudah.. jangan nangis, kamu tidak salah Fany, yang salah adalah ayahmu yang menjualmu, kamu hanya korban dan jangan dengarkan mereka. Buktinya kamu kerjanya disini kan bukan di club, bilang saja ke teman-teman kalau kamu bukan seperti yang mereka kira." Flo memeluknya, mengusap punggungnya lembut.
"Nanti kalau mereka mau bukti suruh aja kesini, aku akan kasih voucher diskon sebagai buktinya." Sambung Flo lagi.
"Tapi ..."
"Jangan ada tapi, kau harus kuat. Bukankah kau bilang ingin mulai hidup baru? Inilah saatnya dan jangan pikirkan masa lalu, lihat kedepan dan jalani impian yang telah kamu susun." Flo melepaskan pelukannya dan menatap mata Fany dengan lembut, "Sudah jangan menangis lagi ya.." Flo mengusap air mata Fany dan dia mengangguk.
"Baiklah.. aku akan berusaha keras untuk cepat lulus kuliah dan bekerja keras untuk membuka bisnisku sendiri nanti." Ujar Fany setelah sedikit tenang.
"Apa cita-citamu?" Tanya Flo, "Dulu waktu kecil aku ingin jadi designer baju tapi karena mahal biaya sekolahnya jadi aku ubah haluan setelah bebas dari club dan hanya ingin punya toko baju sendiri nantinya, menjual baju-baju cantik." Jawab Fany dengan matanya berubah berbinar indah membayangkan dirinya punya toko baju sendiri.
"Nah gitu dong.. senyum dan jangan patah semangat hanya karena omongan orang, kalau kamu takut, kuliah online dulu kan masih semester 1 seperti Imel dulu." Saran Flo lagi.
"Siapa Imel?"
"Ah iya kamu belum kenal, nanti dia datang aku kenalin deh.."
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Edward telah menyewa banyak wanita malam di club untuk hanya mencari tau tentang Fay tapi tidak ada yang tau keberadaanya sampai Leah yang kini ada disana, "Mr. Ed mencari Fay?" Ucapnya langsung setelah masuk kedalam ruangan VIP itu.
"Kamu kenal, akhirnya ada yang kenal." Ujar Edward lega.
"Kenapa Mr cari dia?" Tanya Leah lagi penasaran.
"Aku hanya butuh dia, bukan yang lain." Jawab Edward dan Leah tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Aku yang suruh Fay menjual dirinya padamu, dari pada dia harus melayani tua bangka untuk pertama kali disini, lebih baik dengan pria tampan dan masih muda seperti anda." Ujar Leah dan Edward mengerutkan keningnya bingung.
"Jadi dia Fay disini hanya sebagai menebus hutang ayahnya dan dia bekerja sebagai pelayan, belum tersentuh siapapun anda pasti mengerti kan maksudku." Edward mengangguk dan masih menunggu informasi lainnya dari Leah.
"Uang yang anda berikan itu sebagian dia gunakan untuk menebus dirinya sendiri dari sini dan dia sudah pergi, dan sebagiannya mungkin dia gunakan untuk memulai hidup barunya. Dia sangat ingin melanjutkan kuliah dan menggapai impiannya, jangan mencarinya jika anda hanya ingin tubuhnya." Lanjut Leah lagi.
"Aku mencarinya bukan karena itu, sejak pertama bertemu dia disini aku sudah tertarik padanya, dia wanita tercantik yang pernah aku temui sejak pindah ke sini dan sayangnya dia wanita malam, jika tidak aku sudah membawanya dan menikahinya. tapi ternyata dia.. aku sangat menyesal." Edward berubah sendu, mata indah berwarna biru cerah itu mendadak berair dan dia hampir menangis mengingat kesakitan yang dia perbuat pada Fay.
"Maaf, aku tidak tau juga Fay ada dimana dan siapa nama aslinya karena kami tidak boleh memanggil nama asli disini dan aku ketemu dia juga setelah dia bekerja 5 bulan disini, yang kutau dia masih SMA saat aku baru masuk." Sambung Leah lagi dan Edward benar-benar terkejut.
"SMA? Dia anak SMA?" tanya Edward lagi dan Leah mengangguk.
"Sekarang mungkin sudah kuliah.. aku akan berikan fotonya yang tanpa make up, mungkin ini bisa membantumu." Leah mengeluarkan ponsel yang sejak tadi diam-diam dia bawa, dia menyembunyikannya di dalam bra agar tidak ketahuan Tino.
"Ini.. Fany.." Ucap Edward melihat foto polos tanpa meke up beberapa wanita malam disana. "Kenapa ada Fany?" Tanya Edward lagi.
"Dia Fay.. berarti anda kenal dia?" Tanya Leah lagi dan Edward sangat terkejut lalu dia tersenyum.
"Akhirnya.. aku menemukannya, dia mahasiswiku dan memang dia mirip sekali dengan Fay tapi aku tidak menyangka dia seimut itu." Edward kembali tersenyum dan wajahnya menjadi cerah dan sangat tampan.
"Baiklah.. berarti masalah selesai. Aku permisi." Leah bangkit dari duduknya dan melangkah pergi tapi suara Edward menghentikannya.
"Tunggu, kau.. apakah juga ada hutang disini?" Tanya Edward dan Leah mengangguk.
"Kami yang ada disini punya masalah sendiri-sendiri dan aku juga sama seperti Fay hanya saja aku bukan wanita suci jadi sudah terbiasa dengan kehidupan malam disini."
"Kamu ingin bebas?"
"Tentu saja Mr, semua wanita ingin hidup normal."
"Aku akan bantu, berapa hutangmu, ini balasanku karena informasi yang kau berikan."
"Anda yakin?"
"Tentu saja.. kau bisa bebas dan bekerjalah dengan normal."
Leah tersenyum dan dia terharu kemudian menangis dihadapan Edward, Kris masuk setelah Edward meneleponnya dan mengurus masalah Leah disini.
__ADS_1
TBC~