Magical Flower

Magical Flower
BAB 12 - Janda Kembang (Part 5)


__ADS_3

"Eh ada si janda kembang.." Ujar Lidia yang sedang bersama beberapa staff disana dan mereka kaget mendengar Lidia berkata seperti itu. Calla hanya diam tak merespon ucapan Lidia dan tetap menjalankan tugasnya memberikan segala keperluan para staff di kantor ini.


"Makasih Calla.." Ucap salah satu staff pria disana yang sengaja menggoda Calla. Dia sedang berada di divisi keuangan yang isinya lebih banyak wanita dan hanya ada 2 pria di sana.


"Cih.. jangan mau menggodanya ataupun digoda mas, nanti mas nya bisa sial." Ujar Lidia lagi dan beberapa orang sudah kepo mendengarnya.


"Dia itu pembawa sial jadi jangan dekat-dekat ya.. hiii takut ketularan sial. Bayangin aja janda 2 kali karena suami meninggal di malam pernikahan." Ujar Lidia membuat semua yang dengar begidik ngeri, lantaran banyak yang masih percaya dengan tahayul.


Sedangkan Calla yang telah terbiasa mendengar yang lebih parah dari itu hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya. Lidia yang kesal karena Calla tidak merespon menjadi kesal dan akan lebih mempersulitnya lagi.


"Hei janda sial, bawakan ini ke mejaku nanti siang." Lidia memberikan selembar note pad kecil untuknya, Calla mengambilnya namun telah dijatuhkan oleh Lidia. "ops, maaf aku kira kau sudah mengambilnya", ujarnya membuat Calla menunduk dan mengambilnya di lantai.


"Lidia, kamu jangan keterlaluan padanya. Dia sangat dekat dengan bos loh.. lagian sepertinya kepala bagian HRD Pak Jordi juga suka padanya." Ujar salah satu staff yang memang telah mengenal Lidia sebelum dia tugas disini.


"Heh... ternyata dia masih sama, tukang goda lawan jenis." Sahut Lidia dan memandang Calla yang sudah jauh dengan tatapan meremehkan.


"Tukang goda? Gak mungin lah.. penampilan dan bodi kaya gitu mana ada cowo yang tertarik." Sambung seseorang lagi.


"Dia itu cuma pura-pura, sebenarnya dia itu cantik dan modis tapi setelah pindah dari lingkungan tempat tinggal kami dia merubah penampilan agar tak di kenali, padahal kelakuannya busuk." Jelas Lidia lagi dan yang lain tercengang mendengarnya.


"Kenapa kamu benci banget sih sama dia? Apa jangan-jangan..." Tanya mereka lagi.


"Hais.. aku hanya ingin balas perlakuannya dulu yang sudah merebut pacarku." Jawab Lidia kesal dan yang lain menjadi paham kenapa Lidia sangat membencinya.


Calla saat ini sedang berjalan ke kantor divisi perencanaan yang sangat ramai dan kantor dengan karyawan terbanyak. "Calla... akhirnya kamu datang, aku baru email bahan yang kita perlukan pasti belum di lihat kan?" Tanya seorang wanita muda disana, membuat Calla tersenyum tipis.


"Maaf mba, saya masih keliling jadi belum sempat balik ke meja. Setelah ini ya.." Jawab Calla tak enak karena tim perencanaan ini sangat gesit dan butuh cepat segala sesuatunya.


"Ho.. baiklah, tapi tolong ya manis." Balasnya dan Calla hanya mengangguk. Setelah dari sana Calla cepat-cepat kembali dan membuka email yang lumayan banyak permintaan dari berbahai divisi. Jika dia tidak bisa mengantar semuanya dia akan meminta tolong OB juga.


Sampai siang menjelang Calla baru menyelesaikan semua permintaan barang yang masuk melalui email dan kini dia sedang menyusun barang permintaan Lidia yang sedikit aneh.


"Kertas HVS 2 rim, map kuning 2, hijau 1, merah 1, pulpen warna hitam 1, merah 1, ungu 1, note pad berbagai warna. Kenapa sih dia tuh... ah yang ada sajalah." Calla mengerutu dan menyusun barang permintaan Lidia ke toli dan membawanya ke meja Lidia.


"Hei, kenapa pulpennya cuma merah dan hitam? Dan ini map warnanya biru dan merah tidak sesuaai permintaan." Protes Lidia yang sedang duduk dan bekerja di ruangan yang khusus disediakan untuk timnya di salah satu ruang meeting berukuran sedang.


"Maaf, cuma tersedia ini dan saya tak punya kewenangan untuk memesan seluruh barang permintaan anda karena atasan saya sedang cuti dan semua stock telah tersedia." Jawab Calla sengan sopan tetapi Lidia malah memarahinya membuat 2 orang timnya disana merasa aneh karena permintaan Lidia bukan kebutuhan di dalam pekerjaan mereka dan itu sebenarnya tidak penting.


"Maaf mba Lidia, sepertinya anda sudah keterlaluan." Seorang pria masuk membawakan map berisi laporan permintaan Lidia.


"Pak Jordi, tidak apa-apa saya permisi dulu." Pamit Calla dan segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Hai Nona Calla, ini ada kiriman bunga special lagi." Sapa Reyhan yang tak sengaja bertemu saat akan mendatangi meja kerja Calla seperti biasa. Pas sekali Jordi juga akan ke tempat Calla dan mereka bertemu disana.


"Loh.. ada yang kirim bunga nih, selamat ya Calla akhirnya gak akan jomblo lama-lama." Goda Jordi membuat Calla tersenyum malu karena ketahuan orang kalau dia menerima bunga.


Reyhan segera pamit dan akan menjalankan misi setelah tadi bertanya pada security dimana ruangan Lidia dan akan memberikan kartu nama dan diskon, tentu ke beberapa keryawan lainnya juga agar tidak mencurigakan.


Calla sudah kembali ke meja kerjanya dan masih memandangi bunga kali ini, buket bunga mawar merah dan Calla lily putih yang cantik, dia sangat suka perpaduan dua bunga ini.


"Benar kata Vio, dia pasti akan suka." Gumam Alister yang sedang melihat Calla dari layar Hpnya, dia sejak tadi menunggu Calla kembali dari kesibukannya. "Sekarang waktunya menemui si janda cantik milik Alister seorang." Ujarnya dengan nada bahagia membuat Andy menggeleng dan terkekeh melihat atasan sekaligus temannya itu.


"Oh iya.. selidiki apa saja tentang Lidia." Titah Alister membuat Andy melotot sempurna, "LIDIA? Kenapa kau tau nama itu?" Tanya Andy begitu kaget.


"Oh dia sekarang lagi audit perusahaan Edo dan sebulan dia disana dan hari pertama dia sudah membuat Calla-ku menangis, kalau bukan karena Edo udah ku habisi dia." Jawab Alister dengan nada kesal membuat Andy menghela napas panjang.


"Dia masih belum berubah, Calla pasti akan punya waktu yang sulit bersamanya. Dari kecil Lidia suka menyiksanya karena Calla menang segala hal darinya. Mulai dari kasih sayang kakek nenek, orang tua yang lebih mapan, sejak remaja Calla banyak di gilai lawan jenis dan memang dia sangat cantik kan, lalu pria yang di sukai Lidia malah jatuh cinta pada Calla membuat rasa benci dihatinya makin dalam dan sejak saat itu Lidia selalu merebut apa yang menjadi milik Calla. Dulu Calla punya pacar dan baru saja 2 bulan pacaran sudah direbut Lidia dengan cara licik dia membuat si pria seolah-olah tidur dengannya padahal nggak, Calla yang terlanjur percaya jadi kecewa dan mereka putus." Jelas Andy dan membuat Alister tiba-tiba punya ide bagus.


"Aku punya ide, kau ikut aku hari ini jadilah teman bicara Lidia dan cerita padanya kalau aku tertarik pada Calla dan buat Lidia cemburu dan berusaha merebutku dari Calla." Perintah Alister dengan senyum smirknya membuat Andy menghela napas lagi untuk pekerjaan tambahan itu, waktunya telah banyak terkuras karena si bos bucin ini selalu meninggalkan pekerjaan demi melihat Calla dan kini memberikan tugas tambahan lagi.


Alister dan Andy kini telah berjalan santai melewati kantor divisi keuangan hanya untuk tebar pesona pada Lidia yang saat itu sedang meminta laporan pada salah seorang staff. Wanita disana langsung heboh, "Ahhh mimpi apa aku tadi malam, Alister ada disini. Ya ampun tambah ganteng aja itu bule!" Pekik seorang wanita disana.


"Dia siapa sih?" Tanya Lidia dan salah seorang menjawabnya,


"Dia Alister pemilik hotel xxx umur 30 tahun dan masih single, teman baiknya Pak Edo, dia sering kesini."


"Kak Andy.." Panggilnya saat mereka lewat di depannya.


"Eh.. Lidia. Kenapa ada disini?" Andy menoleh mendengar namanya dipanggil.


"Aku lagi tugas disini kak.. " Jawab Lidia tetapi arah pandangannya tetap melirik ke Alister dan Andy tau itu.


"Siapa dia?" Tanya Alister dan Andy langsung perkenalkan mereka berdua yang akhirnya mereka ngobrol bersama sambil jalan ke ruangan Edo.


"Ok, aku ke ruangan Edo dulu, kalian ngobrol saja jangan pedulikan aku karena mungkin akan lama." Pamit Alister dan mereka mengangguk sopan.


"Eh kak Alister kenapa baik banget sih orangnya...?" Tanya Lidia basa basi.


"Hahah kamu tertarik ya... jangan deh dia lagi kepincut sama Calla tuh makanya sering kesini tapi masih tahap pendekatan." Ujar Andy sengaja memberi pancingan.


"Issshh kenapa selalu janda sial itu, sebal ih!" Kesal Lidia, Andy menahan senyumnya dan masih akan sesuai rencana.


"Kenapa? Mau nikung lagi?" Andy meliriknya.

__ADS_1


Lidia tersenyum, "Aku pasti bisa merebutnya, kakak tenang saja. Tapi ceritakan tentang Alister suka wanita seperti apa dan kenapa dia masih single padahal tampan dan kaya." Pinta Lidia dan dengan senang hati Andy akan ceritakan kisah cinta buatan yang telah disusun oleh Alister.


"Alister itu suka dengan gadis polos dan cantik, dia tidak suka dengan wanita yang terlihat menggoda gitu, karena dulu dia sempat patah hati karena wanita yang dia sukai ternyata menggoda pria lain dan sejak saat itu dia terus mencari wanita polos tapi sangat susah ditemukan nah dia lihat tuh si Calla dari penampilannya dan wajahnya juga cantik kan, makanya si Al tertarik padanya." Jelas Andy dengan cerita karangannya, padahal Alister adalah seorang playboy tobat sejak kekasihnya meninggal.


"Ahh begitu, kalau gitu gampang kak.. aku sudah tau cara singkirin si Calla itu karena dia baru saja menggoda pria, tadi ada yang memberinya bunga dan aku tanya orang sini setiap hari dia menerima bunga." Ujar Lidia dan Andy hanya tersenyum, padahal bunga itu dari Alister.


Yang dibicarakan saat ini malah sedang asik menggoda Calla yang sejak tadi sibuk menyusun barang sesuai tugasnya, "Tuan jangan menggangguku, pekerjaanku sedang banyak." Kesal Calla dan Alister malah tersenyum senang.


"Kau sengaja ya..." Alister langsung menciumnya. "Kau sengaja ingin aku cium kan makanya panggil aku Tuan?" Tanya Alister begitu melepaskan Calla.


"Tidak, aku tidak sengaja, kamu pergi saja.." Calla mengusirnya lagi tapi Alister malah kini duduk di kursi kerja Calla.


"Kenapa kamu cantik banget sih? Aku tak bisa tidur tenang karena ingin memelukmu saat tidur Calla.." Bisik Alister membuat wajah putih Calla jadi memerah karena malu.


"Dih.. mukamu merah, pasti membayangkan sesuatu yang iya-iya yah?" Godanya lagi dan Calla langsung menatapnya tajam.


"Jangan tatap aku begitu dong, jadi gemas pengen cium lagi." Calla langsung memalingkan wajahnya yang masih merah.


"Benar deh, ga sabar pengen nikahin kamu, tiap hari bangun tidur akan liat kamu, mau tidur juga liat kamu dan tidur sambil meluk kamu." Alister sudah membayangkan kehidupan bahagianya jika menikah dengan Calla.


"Ingat, aku ini janda 2 kali dan tidak semua orang bisa menerimanya. Lagian statusku jauh dari keluargamu." Ujar Calla lirih.


"Ga peduli, mau janda 10 kali juga kalau itu kamu aku mau, dan kalau soal status di keluarga.. hei, ibuku itu dulu pelayan di rumah kakekku dan ayahku jatuh cinta pada pesona ibuku dan menikah jadi apa lagi? Ayo kita nikah." Jelas Alister membuat Calla sedikit terkejut, dia sudah mencari tau keluarga Alister dan mereka bukan keluarga sembarangan, dari cerita Vio juga.


"Tapi Vio bilang keluarganya sangat menjunjung tinggi status dan kekuasaan." Ujar Calla dan Alister tertawa.


"Keluargaku dan Vio itu cuma sepupu, dan kalau mau aku bisa menikahi Vio karena memang sudah cukup jauh hanya saja keluarga kami dekat makanya kedua sisi keluarga sangat berbeda." Jelas Alister dan Calla menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu karena bingung.


"Jadi gini.. hubungan sepupu aku dan Vio tidak ada hubungan darah, pamanku nikah dengan tantenya Vio makanya bisa jadi kerabat dan memang kedua keluarga kami adalah teman sejak zaman kakek kami makanya kami sangat dekat." Jelas Alister membuat Calla akhirnya mengerti.


"Kita baru kenal Tuan jadi aku tidak bisa.. lagi pula aku belum mengenalmu secara pribadi." Alister menciumnya lagi membuat Calla terdiam dan hanya menikmati ciuman dasyat yang diberikan Alister.


"Kau menyukainya kan.. ciuman ini akan membuatmu mabuk kapan pun kau mau Calla-ku." Alister mengusap lembut bibir Calla yang memerah dengan jempolnya dan Calla masih terdiam memandang wajah tampan Alister yang telah membuatnya terpesona sejak pertama bertemu.


"Aku tidak mau gara-gara aku kau menjadi sial." Calla tetap pada pendiriannya membuat Alister kesal dengan kata sial.


"Jika aku bisa membuktikan kalau kematian 2 suamimu bukan karena kesialanmu kau mau kan menikah denganku?" Tanya Alister dengan tegas.  "Atau minimal jadilah kekasihku Calla..." Lirihnya penuh harap.


"Beri aku waktu perpikir." Ujar Calla yang kini lanjut dengan pekerjaannya yang sempat terhenti karena aksi liar Alister.


"Jangan lama-lama, nanti aku diambil orang." Bisik Alister ditelinga Calla membuatnya merinding dan dia segera berjalan pergi setelah mencium pipi Calla dengan cepat.

__ADS_1


~TBC~


__ADS_2