Magical Flower

Magical Flower
BAB 40 - Pergi Untuk Kembali (Part 8)


__ADS_3

Thika mengirimkan video yang dia ambil langsung ke Raka, dia mengirim pesan untuknya agar Gauri tidak melihat video itu jika nanti mereka bertemu untuk membicarakan perceraiannya untuk menjaga perasaan Gauri, bagaimanapun dia tetap seorang istri.


Malam itu Thika kembali bersama Mala dan singgah ke tempat Gauri untuk membicarakan tentang Raka yang akan membantunya.


"Raka? Raka Chandrika? Serius?" Gauri tak percaya dengan nama yang telah di sebut Thika.


"Iya Gauri, Raka akan membantumu dan aku sudah memberikan semua bukti kekerasan suamimu padanya dan dia akan pastikan kalian akan bercerai." Ucap Thika. Mahi yang mendengar itu langsung marah pada Thika yang terlalu mencampuri urusan rumah tangga orang lain.


"Pergi kau Thika! Urus hidupmu sendiri yang belum benar itu." Hardik Mahi dan menyeret Thika keluar dari rumahnya.


"Ibu, jangan gitu.. Thika udah banyak bantu Gauri. Ibu juga jangan ikut campur urusan keluargaku, selama ini Gauri sudah patuh dan nurut sama ibu sekarang biar Gauri memutuskan hidup Gauri sendiri." Teriak Gauri kesal pada ibunya yang selalu mengekakang kehidupannya.


"Ibu hanya mau kamu hidup lebih baik dari pada ibu." Bantah Mahi yang makin membuat Gauri marah. Gauri meminta Mala membawa Arjun pergi dari sana dulu agar tidak mendengar semuanya. Mala membawa Arjun ke sebelah, rumah Shanka untuk bermain.


"Bu, ibu lihat apakah hidup Gauri lebih baik dari ibu? Apa ibu pernah kekurangan uang sampai harus jual emas? Tabungan habis dan bekerja tinggalin anak? Apa ibu pernah di bentak, dihina dan dipukul oleh ayah? Gak kan? Gauri alami itu semua bahkan ibu gak pernah urus mertua, Gauri seperti pelayan bu.. bukan menantu, mertuaku hanya mau makan enak sendiri dan anakku hanya makan seadanya, apa ibu pernah alami itu semua??" Gauri tak bisa menahan air matanya lagi, sampai Adnan tiba di depan pintu rumah yang baru kembali dari membeli makanan untuk mereka.


"Kamu mau apa lagi Mahi? Sudah aku bilang kalau kau masih mencampuri urusan keluarga Gauri, kita pulang jadi kemas semua barangmu dan kita pulang." Tegas Adnan membuat Mahi terkejut. Adnan tidak mau banyak bicara lagi, dia kekamar dan menyusun semua barangnya dan menarik koper keluar.


"Ayah, besok aja yah.. ini sudah malam." Gauri memegang tangan ayahnya dan Thika menghalangi pintu agar Adnan tidak keluar rumah, Mahi masih terdiam. "Gauri mohon ayah..." Gauri memelas dan akhirnya Adnan meletakkan kopernya.


"Besok kita pulang, Thika bantu om beli tiket kereta ya.." Ujar Adnan dan Thika mengangguk.


Di Restoran Madhuri


Aditya dan Madhu telah selesai melakukan penyatuan tubuh mereka dan Aditya sangat puas dengan pelayanan Madhu yang agresif tidak seperti Gauri yang seperti orang mati tidak bergerak dan hanya menerima perlakukan darinya tanpa respon yang membuatnya bergairah.


"Madhu, apakah kau tidak mau menikah lagi?" Tanya Aditya sambil memakai kembali kemeja dan celalanya, begitu juga Madhu yang baru kembali dari toilet setelah membersihkan dirinya.


"Belum ah.. masih seneng main dan bebas, lagian aku gak suka di kekang oleh suami yang ujung-ujungnya cerai lagi. Kalau gini kan enak, mau main dengan siapapun terserah aku." Jawabnya tanpa memandang Aditya, dia malah dengan santai memoles kembali makeup-nya sambil bercermin di wastafel kantornya.


"Jadi apa hubungan kita?" Tanya Aditya lagi yang sudah cemas dengan jawaban Madhu, dia mendudukkan dirinya di sofa sambil menatap Madhu yang masih berdiri di dekat toilet.

__ADS_1


"Kita? Ehm.. aku gak tau, yang pasti aku suka permainanmu." Jawab Madu sambil mengerling nakal pada Aditya. Madhu kembali mendekatinya dan duduk dipangkuan Aditya lalu menciumanya mesra.


"Aku sangat ingin menikahimu Madhu, kau sangat luar biasa.. permainanmu membuatku candu." Bisik Aditya setelah melepaskan ciuman mereka.


"Lihat nanti ya.. hatiku belum bisa dimiliki siapapun, dan aku masih ingin bebas Adit.." Ujar Madhu lalu dia berdiri dan pergi meninggalkan Aditya yang masih duduk di sofa ruangan itu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Jam 8 pagi Gauri telah menyiapkan barang Adnan dan Mahi yang bersiap untuk ke stasiun kereta, mereka akan kembali ke kampung dengan menempuh perjalanan dengan kereta selama 5 jam. Setelah itu dia baru mengantarkan Arjun ke rumah Thika untuk di jaga oleh nenek dan pergi bekerja.


"Gauri, ini untumu makanlah.." Shanka meletakkan sepaket bento dan minuman dingin di meja Gauri, itu adalah menu kesukaan Gauri selama ini. Shanka sengaja mulai memberikan perhatian lebih untuk mendapatkan hati Gauri lagi, sedangkan Gauri masih tidak enak dengan perhatian yang diberikan Shanka, tapi dia tetap menerima makan siang itu.


"Terima kasih, tapi lain kali tidak perlu aku bisa makan sendiri di kantin." Ucap Gauri dengan memberikan senyum tipisnya.


"Gak apa Gauri.. " Balas Shanka dan menepuk pelan kepala Gauri beberapa kali seperti kebiasaannya dulu, gauri sedikit terkejut dan hatinya mulai merasakan sesuatu yang selama ini dia hindari saat bertemu Shanka kembali. Gauri makan siang dengan tenang dan merasakan ketenangan di ruang kantornya pada istirahat siang itu, sementara Gauri merasa tenang, Adnan dan Mahi tengah dihadapkan pada kenyataan pahit di kampung mereka.


"Jadi rumah dan tanah ini udah di jual? Tapi siapa yang jual ke kalian?" Tanya Adnan karena dia tidak merasa menjual tanah dan rumah ini.


"Kotak perhiasan disini mana?" Tanya Mahi panik sambil membongkar semua isi lemari.


"Tolong jangan berantakin barang saya nyonya, barang kalian sudah aku simpan di kamar belakang dan memang ada kotak kayu disini dan itu hanya kotak kosong." Jelas pemilik rumah, Mahi terjatuh.. dia terduduk dan menjerit menangis. Adnan paham isi kotak itu adalah perhiasan dan emas yang selama ini disimpan oleh Mahi sejak dia muda dulu.


"Kita cek dulu Mahi, ayo ke kamar belakang." Ajak Adnan, mereka bersama memeriksa seluruh barang disana tapi tidak menemukan apapun, bahkan kotak perhiasan itu memang benar kosong dan kuncinya telah dibobol paksa. Mahi berteriak dan menangis histeris lalu kesakitan memegang dadanya, tak lama dia jatuh pingsan, Adnan panik dan mengguncang tubuh Mahi namun tidak ada respon. Adnan menggendong Mahi dan dibawanya ke puskesmas terdekat untung saja hanya beberapa rumah dari sana.


"Maaf pak Adnan, Bu Mahi sepertinya kena serangan jantung dan sudah terlambat." Ujar dokter begitu selesai memeriksa Mahi yang kini sudah tak bernapas. Adnan jatuh terduduk, dia menangis meratapi nasib mereka. Istrinya sudah pergi dan rumah, tanah dan harta mereka juga hilang, setelah dia sedikit tenang barulah memberitahukan ke Gauri tentang berita ini.


\=++=


Gauri masih di kantornya memeriksa beberapa laporan dengan Shanka karena sudah mau akhir bulan lagi, Gauri melihat pada hapenya yang berbunyi, nama Adnan disana.


"Halo, ayah apakah sudah sampai?" Tanya Gauri dengan nada senang, "APA?? Ibu..." Gauri berteriak kemudian dia menangis histeris membuat Shanka terkejut dan langsung menghampirinya. Devi yang kebetulan ada disana juga kaget mendengar Gauri menangis histeris.

__ADS_1


"Ada apa Gauri? Gauri..." Shanka berusaha menenangkan Gauri agar mau mengatakan apa yang terjadi.


"Ibuku ibu.. meninggal Shankaaa...." Gauri masih menangis, dia masih belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Shanka mengambil hape Gauri yang masih terhubung ke Adnan yang juga menangis disana. Adnan menceritakan apa yang terjadi dan Shanka sangat emosi mendengarnya, Aditya dan Ibunya sungguh jahat dan tidak punya hati. Shanka mengepal tangannya kuat sambil memandang Gauri yang masih ditenangkan oleh Devi atasannya.


"Shanka.. bawa Gauri pulang, aku beri kalian libur beberapa hari. Pergilah.." Ujar Devi yang memang tau hubungan Shanka dan Gauri sejak dulu karena Devi adalah tempat curhat Gauri yang sudah dianggap kakak sendiri olehnya sejak dia berkerja disini saat pertama kali.


"Terima kasih Mba Devi." Shanka mengambil barangnya dan Gauri lalu memasukkan ke tas ranselnya, memapah wanita itu untuk pulang bersama. Shanka juga memberitahukan ke Thika kalau mereka akan pergi ke kampung orangtua Gauri dan membawa Arjun dengan mereka, Shanka akan menyetir sendiri


"Gak boleh Shanka, kalian jangan bersama nanti bisa muncul fitnah, Kula akan ikut kalian saja dan dia bisa gantian nyetir denganmu, itu perjalanan jauh loh." Saran Thika dan Shanka setuju, begitu mereka sampai rumah Kula juga pas kebetulan sampai setelah diberitahu oleh Thika. Setelah membereskan barang-barang mereka langsung berangkat dengan mobil Shanka dan akan menempuh 8 jam perjalanan.


"Kita mampir ke rest area dulu ya.." Ujar Shanka setelah mereka menempuh hampir 4jam perjalanan untuk istirahat malam itu. Shanka menggendong Arjun yang masih tidur dan mencari tempat duduk di daerah rest area. Gauri permisi untuk ke toilet dan Kula akan membelikan makanan dan minuman, beberapa cemilan untuk nanti malam saat dia akan menyetir.


Setelah Gauri kembali gantian mereka yang ke toilet dan istirahat kurang lebih 1 jam. Untung saja Gauri sudah tidak sesedih tadi, dia sudah mau makan meskipun sedikit. Arjun yang sudah bangun juga sedang disuapi oleh Gauri, Shanka sibuk memberitau Thika untuk menghubungi pengacara dan bertanya tentang tanah dan rumah serta perhiasan yang hilang apakah bisa di tuntut, dan Thika akan menanyakan ke Raka besok.


Mereka melanjutkan kembali perjalanan jauh, Kula kini yang menyetir dan Shanka istirahat untuk berganti lagi nanti setelah Kula lelah. Mobil  memasuki daerah perkampungan yang sepi dan gelap setelah 3jam lebih dan Gauri masih tidur sambil memeluk Arjun.


"Gauri.. Gauri.." Shanka hanya 2 kali menyebut namanya dan Gauri sudah terbangun, "Sudah sampai daerah sini kami tidak tau jalan lagi." Ujar Shanka memberitahunya, Gauri membenarkan duduknya dan masih mendekap Arjun sambil melihat sekeliling.


"Masih lurus dan nanti ada kuil besar di sebelah kiri langsung belok saja disampingnya ada jalan." Ujar Gauri dan setelah 20 menit mereka menemukan Kuil besar dan berbelok.


"Lurus lagi, nanti ada sawah belok ke kanan, rumahnya ada di dekat sana." Sambung Gauri, Kula menyetir dengan perlahan karena saat itu masih jam tiga pagi, setelah melewati sawah Gauri menyuruh Kula cari tempat saja untuk parkirkan mobil ini dan mereka akan jalan kaki ke rumah.


Gauri masih menggendong Arjun, Kula dan Shanka membawa barang mereka lalu jalan mengikuti Gauri dibelakang. Setelah sampai, terlihat Adnan yang sudah menunggu di kuil dekat sana dan segera melakukan ritual untuk kremasi Mahi di kuil daerah sana, sampai hampir siang baru semuanya selesai dan Adnan duduk lemas di lantai kuil dengan mata yang masih sembab.


Untung mereka mengajak Kula agar bisa menjaga Arjun, sedangkan Shanka lebih sibuk mencari bukti untuk menjerat Anju ke ranah hukum, Gauri juga baru selesai dengan kesibukannya, dia tak punya waktu untuk larut dalam kesedihan karena yang paling menderita adalah ayahnya.


"Ayah ikut pulang saja ya, kita tinggal bersama dirumah dan sama Arjun, disini juga sudah sendirian. Rumah lama ayah dijual saja." Tutur Gauri dan Adnan hanya mengangguk pasrah, dia juga tidak bisa tinggal dikampung ini lagi, rumah dan tanah sudah diambil kembali dengan cara licik oleh Anju, padahal itu adalah mahar yang mereka berikan untuk bisa menikahi Gauri, sedangkan rumah lama mereka hanya gubuk kecil yang hampir roboh meskipun tanahnya cukup luas.


Mereka memutuskan langsung kembali ke kota karena tidak ada tempat menginap, Shanka juga sudah mendapatkan beberapa saksi yang melihat Anju bersama seorang pria tua masuk dengan paksa ke rumah itu dengan alasan itu adalah rumahnya dan akan diambil lagi, dan tetangga tak bisa menahannya saat Anju sudah mendapatkan akta tanah dan sertifikat rumah atas namanya.


Shanka bergantian lagi menyetir dengan Kula, perjalanan pulang lebih melelahkan jadi mereka berhenti sampai beberapa kali untuk istirahat dengan total perjalanan mereka lebih dari 10 jam untuk sampai ke rumah.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2