
"Maaf ibu, Wina.. ginjal kamu bermasalah dan ginjal sebelah kiri sudah parah dan sekarang menjalar ke sebelah kanan." Ujar sang dokter dan Wina seperti di sambar petir, dia terdiam mematung hanya lelehan air mata yang jatuh di pipinya.
Mama Wati juga sudah terisak karena nasib malang keluarga mereka tidak juga berakhir dan kini malah menyerang anaknya.
.
.
Setelah di rawat beberapa hari, Wina akhirnya pulang dan akan rawat jalan saja sesuai anjuran dokter, dia akan mengikuti prosedur Hemodialisis (prosedur cuci darah untuk gagal ginjal, Hemodialisis dilakukan menggunakan mesin khusus untuk menyaring darah dan menggantikan ginjal yang rusak) seminggu 2 kali.
Wina masih bekerja seperti biasanya dan belum mengatakan apapun pada teman dan sahabatnya, dia masih menyimpan seorang diri dan tetap menjadi Wina yang angun dan pendiam seperti yang di kenal banyak orang.
Tapi beberapa bulan kemudian, cobaan kembali datang. Perusahaan tempatnya bekerja mengalami kerugian hingga dia terkena PHK masal meskipun mendapat uang kompensasi yang cukup banyak setara sisa kontaknya tapi Wina kembali harus mencari pekerjaan yang sama, dengan masuk sift terpagi atau tersiang maka dia sempat untuk ke rumah sakit.
Untunglah Wina dapat pekerjaan setelah sebulan lebih menganggur dan dengan pekerjaan yang sama, sift pagi selalu diberikan pada Wina karena manajernya adalah kakak kelasnya waktu kuliah dulu.
Perpisahan Wina dengan Rima dan Asmi juga sangat tidak menyenangkan karena mereka jadi jarang bertemu apalagi keluar bersama. Wina juga harus banyak berhemat dan tidak boleh lelah makanya hampir setiap di ajak jalan dia pasti menolaknya.
"Wina.. dulu pernah beli bunga dimana ni? Ada yang pesan lagi tapi mama gak tau kamu beli dimana." Tanya mama Wati melalui telepon.
"Oh nanti Wina yang beliin deh ma, sekalian mau ketemu sama Asmi dan Rima." Balas Wina karena memang mereka akan bertemu nanti sore hanya saja belum tau tempatnya.
Selesai dengan mama Wati Wina mengirimkan pesan untuk kedua temannya untuk menentukan tempat ketemuan mereka, untung keduanya setuju untuk bertemu lagi di Magic Flower.
\=//=
Jam 6 sore, Wina, Asmi dan Rima sedang mengobrol dan bercanda bareng karena sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Pesanan bunga juga sudah Wina pesan dan akan di antar besok pagi.
"Ah kenyang..." Ucap Asmi yang sudah menghabiskan 1 piring besar nasi goreng kampungnya.
"Na, lu makan kok jadi dikit gitu? trus minummu belum habis juga." Tanya Rima yang sedikit heran dengan Wina yang juga semakin kurus.
"Ehm.. sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan pada kalian tapi aku belu... " Wina menghentikan ucapannya saat melihat seseorang masuk kedalam Magic Flower dan memesan bunga.
"Selamat malam bapak, bisa saya bantu?" Sapa Flo dengan ramah.
__ADS_1
"Malam, saya mau pesan buket uang tapi ada bunganya juga ya yang asli. Pakai uang ini." Bapak itu memberikan 30 lembar uang USD pada Flo.
"Oh, boleh pak mau bunga warna apa?" Tanya Flo lagi dan bapak itu memilih mawar merah dan pink.
"Ini untuk istriku, dia lagi ulang tahun dan sekalian buatkan buket snack ya warna pink dan putih, buat anak saya biar gak cemburu sama mamanya hehehe.." Ujar Bapak itu lagi.
Wina yang mendengar pembicaraan itu langsung emosi, mama, kaka Bayu dan dia sendiri sangat kesusahan selama ini dan papanya ternyata begitu menghamburkan uangnya untuk istri barunya.
"Papa!" Teriak Wina dan menghampiri ayahnya itu yang sedikit terkejut melihat Wina, tapi dia tetap pura-pura tak kenal pada anak kandungnya itu.
"Teganya papa ninggalin kami, apa hebatnya wanita itu sampai papa pergi 8 tahun ini tanpa ada kata cerai ke mama. Mana tanggungjawab papa pada kami?" Tanya Wina dengan sedikit berteriak dan menangis.
Sedangkan Bagas hanya menarik napas panjang, tidak mau ada keributan dia segera membayar pesanannya dan pergi keluar tapi Wina malah terjatuh dan tak sadarkan diri disana.
Flo yang tidak tega mengetuk 2 kali ke pot Lion untuk mengikuti Bagas yang tidak menoleh sedikitpun ke arah Wina yang terjatuh tak sadarkan diri.
Asmi dan Rima panik, untung ada Flo dan di bantu beberapa pelayan cafe, Wina dibawa ke mobil Flo dan diantar ke RS terdekat.
.
.
"Tidak mungkin seorang ayah tega pada anaknya sendiri. Kalau pada istri aku masih maklum karena memang banyak pria brengsek seperti itu. Tapi ini anak kandung..." Gumam Flo setelah mendengar cerita dari mama Wati.
"Begitulah nak Flo.. aku sudah berjuang selama ini. Kalau aku yang sakit, gak apa, aku rela tapi kenapa harus Wina. Dia anak baik, tidak banyak menuntut bahkan selalu membantuku." Lirih Wati yang terus menangis.
"Tenang bu.. kita berdoa saja supaya Wina dapat segera operasi ginjalnya, minimal 1 ginjalnya berfungsi untuk dia bertahan." Ucap Flo dan Wati mengangguk.
Rima dan Asmi juga baru tau keadaan Wina yang sebenarnya, mereka sangat terpukul dan menangis bersama di kamar bersama Wina. Mereka tidak menyangka gadis sebaik Wina harus mendapatkan cobaan seperti ini.
.
.
.
__ADS_1
3 bulan berlalu, Wina masih menjalani harinya seperti biasanya. Setiap Selasa Kamis dia selalu ada di RS untuk cuci darah. Kadang di temani oleh mama Wati, kak Bayu atau salah satu dari Rima dan Asmi.
Mereka juga sering ke Magic Flower untuk mengambil pesanan bunga, Flo memberikan kesempatan Wati untuk menjual bunga di daerah tempatnya untuk menambah pemasukan. Ya, Wati mengambil 20-30% dari hasil menjual bunga yang diambil dari Flo dan sangat lumayan menambah penghasilan apalagi di bulan Februari, pesanan membludak.
Flo sedang mengobrol dengan Imel dan menceritakan tentang Wina padanya, berharap yayasan mereka bisa membantu, meskipun hanya sedikit. Fano juga mendengarkan dengan seksama.
"Coba aku bicarakan pada Archi nanti, dia baru bangun yayasan Acrher untuk membantu orang kurang mampu dan RS barunya juga udah selesai di bangun, bisa pakai kartu sehat dan lainnya secara gratis." Jelas Fano dan Flo tersenyum mendengarnya.
"Aku akan beritau bu Wati nanti." Ujar Flo dan dia juga sudah tau tentang Bagas.
"Nah sekarang si Lion sudah tau nih tentang Bagas, suaminya Wati itu, dia punya istri kedua nih masih umur 34 tahun, yang masih muda dan cantik lah dibanding Bu Wati kan.. tapi yang aku heran keluarga Bagas semuanya tunduk sama wanita itu, namanya Wulan." Jelas Flo.
"Hm.. kenapa bisa 1 keluarga suka sama Wulan dan meninggalkan Wati dan anak-anaknya? Soalnya kalau anak kan darah daging kita, gak mungkin bisa pisah." Ujar Fano, lalu memeluk erat J karena dia merasa akan mati jika berpisah jauh dari anaknya apalagi sampai tidak mau mengenalnya.
"Dari ceritamu Bu Wati itu baik dan anak-anaknya juga baik, ini aneh sih Flo. Coba Lion disana agak lama dan perhatiin si Wulan lagi." Sambung Imel.
"Sudah sih, aku rasa ada sesuatu. Kalian tau pelet?" Tanya Flo memandang mereka berdua.
"Taulah.." Jawab Imel dan Fano bersamaan.
"Kalian percaya?" Tanya Flo lagi.
"Hahaha setelah mengenalmu aku sudah percaya semua tentang keajaiban dan misteri di dunia ini Flo." Jawab Fano sambil tertawa keras.
"Hus.. masih banyak orang." Tegur Flo karena mereka sedang duduk di cafe dan masih ada beberapa meja yang terisi pasangan muda mudi.
"Lion bilang kalau Wulan itu setiap pagi selalu bikin teh bunga tapi gak tau bunga apa karena sudah dalam keadaan kering, tapi aku rasa bukan karena bunga tapi ada 1 botol air yang selalu dia campurkan ke minuman atau makanan yang dia masak untuk acara keluarga Bagas itu. Lalu setiap hari jumat Wulan pasti mandi air bunga dan ada sesajen gitu di belakang rumahnya tapi Bagas gak tau, dia lakukan itu saat semua orang di rumah sudah tidur." Jelas Flo lagi.
"Apakah kau gak bisa patahkan semua hal mistik itu dengan sihirmu?" Tanya Imel dan Flo menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ini dua hal yang berbeda, kami gak bisa lakukan itu dan di larang. Makanya aku hanya ingin fokus bantu Bu Wati dan 2 anaknya itu." Jawab Flo.
"Bagas kerjanya apa?" Tanya Fano yang penasaran karena dia bisa memberikan hadia 3 ribu USD pada istrinya.
"Belum tau karena Lion cuma fokus memperhatikan rumah, besok aku suruh dia ikutin Bagas deh." Ujar Flo.
__ADS_1
TBC~