Magical Flower

Magical Flower
BAB 14 - Janda Kembang (Part 7)


__ADS_3

"Ceritakan masalahnya dengan singkat padat dan jelas." Perintah Edo.


Dia duduk di kursi single miliknya di sofa panjang sebelah kanan duduklah Alister dan Calla, di depan mereka ada Jordi dan istrinya sedangkan Andy duduk di kursi single di depan Edo dan Tama berdiri disamping agak berjauhan dengan Andy sambil memantau pembicaraan di depannya.


"Dia pelakor, dia menggoda suamiku dan bahkan diberi bunga, aku ada buktinya.. ini."


Istri Jordi mengeluarkan hpnya dan memperlihatkan Calla sedang memegang bunga kuning dengan tersenyum senang dan ada Jordi disana juga tersenyum melihatnya. Jika orang yang tidak tau akan mengira mereka adalah sepasang kekasih.


"Sepertinya ini salah paham." Ujar Alister dan sepasang suami istri itu melihat kearahnya.


"Bunga ini aku yang kirim untuk Calla dan ini buktinya." Alister memperlihatkan chat dari WA Magical Flower dan foto bunga kuning itu, istri Jordi memucat seketika dan dia memandang suaminya dengan tatapan takut.


"Siapa yang mengirimkan foto itu?" Tanya Tama yang akhirnya mendekat, tentu dia paham situasinya dan dia bisa mencari siapa dalang semua ini.


"A a aku tidak tau." Jawab wanita itu dengan gugup karena menyadari kesalahannya.


"Boleh aku pinjam ponsel anda nyonya?" Tanya Tama dan istri Jordi memberikannya. Tama segera mengotak atik Hpnya dan akhirnya dia tau.


"Lokasi pengiriman ada disini dan sepertinya dia karyawan disini, namanya Anita Prima." Ucap Tama dan Jordi tau siapa dia.


"Anita ternyata.. maaf Pak Edo sepertinya ini memang salah saya, karena Anita sempat beberapa kali mengajak saya keluar tapi saya menolak dan terakhir saya malah makan siang dengan Calla." Jelas Jordi dan membuat istrinya dan juga Alister cemburu.


"kenapa mesti makan siang dengan Calla?" Tanya Alister dengan nada tidak senang.


"Maaf bukan maksud untuk mendekati Calla, kami hanya berteman seperti yang lainnya di kantor ini tetapi sudah seminggu ini Calla selalu dijauhi oleh semua orang dan saya tidak tega melihatnya setiap hari hanya sendiri karena Bu Mina juga sedang cuti panjang. Jadi hanya berinisiatif menemani makan dan ngobrol biasa saja." Jelas Jordi membuat Alister tambah bingung.


"Kenapa kau dijauhi Calla? Apa ada masalah dengan karyawan lain?" Tanya Edo, dia bingung sebab Calla yang dia tau adalah sosok baik dan disukai semua orang disini.


Calla diam dan tidak menjawabnya, dia hanya menunduk takut.


"Biar saya jawab Pak, jadi selama ini tidak ada masalah antara Calla dengan yang lain tapi setelah ada Ibu Lidia, dia menyebarkan rumor tidak baik tentang Calla sehingga semua tidak ingin mendekati Calla karena takut ketiban sial." Lanjut Jordi dan seketika Alister murka, dia memukul meja di depannya hingga meja itu retak membuat Calla sangat terkejut dan refleks memegang tangan Alister.


"Al.. kau ingin menghancurkan meja antikku? Duh.. papiku bisa ngamuk ini Al." Keluh Edo melihat nasib mejanya sudah retak sampai ke ujung.


"Apa lagi yang dilakukan Lidia?" Tanya Edo dan Jordi melanjutkan ceritanya.


"Dia juga mempersulit Calla dengan meminta hal-hal yang tidak ada di sini, seperti map warna kuning hijau atau pulpen dengan warna lain yang tidak ada, sehari bisa 3 sampai 4 kali menyuruh Calla bolak-balik meminta sesuatu, sementara kita hanya pagi atau sore saja sesuai jadwal pengantaran Calla." Lanjutnya.


"kenapa kau tidak melawannya Calla, aku tidak membenarkan hal seperti itu dan kau tau aku tidak suka." Tanya Edo menoleh ke arah Calla karena dia juga kesal dengan Calla yang mau saja di suruh begitu.


"Maaf bang, tapi orang seperti Lidia jika dilawan dia akan semakin menjadi, Calla sudah tau bagaimana mengurusnya, karena itulah Calla hanya diam diperlakukan begitu agar Lidia tidak semakin sadis. Benarkan?" Jelas Tama dan dia memandang Calla dengan bertanya, Calla mengangguk membenarkan masih dengan menggenggam tangan Alister kuat.


"Tapi aku rasa Lidia punya andil dalam masalah ini karena tadi aku cerita padanya kalau Alister tertarik pada Calla karena dia wanita polos." Ucap Andy dan semua memandang padanya.


"Eits.. jangan melihatku, tanya padanya, ini rencanamu kan?" Tunjuk Andy ke Alister.

__ADS_1


"Batalkan rencana itu aku gak mau berurusan dengan wanita mengerikan itu." Bantah Alister membuat Andy menjadi kesal.


"Rencana apa?" Tanya Calla pada Alister dengan nada suara pelan.


"Nanti aku cerita tapi selesaikan ini dulu, aku mau Calla libur seminggu." Tuntut Alister melihat ke Edo yang sudah mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mina masih cuti Al.. kalau tidak ada Calla bagaimana karyawanku bisa kerja dengan tenang." Tolak Edo halus karena pekerjaan Calla sangat dia butuhkan.


"Kau lihat tangannya, dia gak boleh gerak selama seminggu ini." Alister mengangkat tangan Calla dan membuat Edo lemas.


"Baiklah gini aja, Calla tetap masuk dan hanya memberi perintah, semua dikerjakan oleh Jordi sebagai hukuman buatnya." Saran Edo dan Jordi bersedia karena ini semua karena salahnya.


"Gak bisa, enak aja Calla berduaan terus sama pria lain. Dia kerjakan semuanya dan Calla istirahat dirumah." Protes Alister membuat Calla tidak enak.


"Aku masih bisa kerja, jadi tidak masalah." Ujar Calla dan Alister masih tidak mengizinkan.


"Gak bisa, kau harus libur seminggu. Gak ada bantahan lagi." Tegas Alister.


"Hei Al, yang bos nya disini siapa sih sebenarnya?" Tanya Edo menyindir sahabatnya yang bucin parah.


"Itu kau tapi ini permintaan kakak iparmu, jadi harus turuti." Alister tetap pada keinginannya dan Edo hanya bisa menuruti keinginannya.


"Jordi, kamu gantikan Calla seminggu ini dan Calla ajari Jordi pekerjaan apa saja yang biasa kamu lakukan." Perintah Edo dan mereka paham dan sebagai akhir istri Jordi meminta maaf pada Calla dan dan nanti akan mentraktirnya sebagai permintaan maaf.


Setelah selesai mereka pulang dan Calla sudah ada di dalam mobil Alister, Calla dipaksa dan di bopong masuk ke mobil olehnya dan tidak bisa berbuat apapun. Calla masih membawa bunga kuning dari Alister tadi.


Mereka masuk bersama dan Alister baru kali ini datang ke rumah seorang wanita dan dia merasa sangat senang. Calla mempersilakan dia masuk dan duduk terserah dimanapun asalkan dia nyaman.


Alister menyorot seluruh isi aprtemen mungil itu dengan matanya mulai dari ruang dapur saat dia masuk tadi, tidak ada meja makan, mungkin karena Calla tinggal sendiri dan tidak perlu meja makan, lalu ke ruang tamu tempat dia duduk, ada nakas kecil disudut ruangan yang terhimpit sofa dan meja kecil di depannya.


Yang menjadi perhatian Alister adalah balkon mungil itu penuh dengan bunga pemberiannya tersusun rapi, ada yang di meja dan di lantai, totalnya ada 9 dan dengan yang hari ini ada 10. Calla merawat bunga itu dengan baik.


"ini..." Calla memberikan air mineral kemasan dan Alister mengambil dan meminumnya sedikit, mereka diam tidak tau harus membicarakan apa, sedangkan Alister tetap memandangi wajah cantik Calla.


"Calla.. aku akan nginap disini untuk menjagamu." Ujar Alister dan Calla menoleh dan menatapnya.


"Gak boleh Tuan, itu tidak baik." Tolak Calla membuat Alister mempunyai kesempatan dan langsung menciumnya dalam dan membuat Calla melemas dan menikmati ciuman yang memabukkan itu.


"Jangan menggodaku Calla, kau ini selalu membuatku tidak tahan untuk selalu menciummu. Ayo kita menikah saja, aku mencintaimu." Alister masih menangkup kedua pipi Calla dan sesekali mengecupnya, Calla hanya diam, dia sebenarnya juga telah jatuh cinta pada pria ini, hatinya ingin tapi logikanya tidak.


"Jawab aku." Titah Alister.


"Aku takut.." Lirihnya, "Takut apa? Tentang kamu pembawa sial?" Calla mengangguk.


"Jika kamu bukan pembawa sial kamu mau nikah denganku?" Tanya Alister masih dengan posisi yang sama, Calla terdiam lagi.

__ADS_1


"Tama hari ini datang untung melakukan penyelidikan ulang tentang kematian 2 suamimu, nanti dia akan menemuimu lagi dan meminta keterangan tentang malam itu, kamu mau kan?" Calla mengangguk lagi.


"Anak pintar, aku akan menemanimu nanti, sekarang aku mau mandi, dimana kamar mandinya?" Tanya Alister dan Calla menunjuk pintu di sebelah dapur, Alister mengambil ransel yang sejak tadi dia bawa dan ternyata sudah ada baju ganti disana.


15 menit Alister didalam dia sempat melihat ukuran bra Calla yang tergantung di balik pintu, "Cukup besar juga, aku kira di kurus saja.." Ucapnya pelan lalu membuka pintu dalam keadaan rambut masih basah hanya pakai celana pendeknya tanpa baju membuat Calla malu melihatnya.


"Kenapa..?" Tanya Alister dan kembali duduk mendekat dengan Calla yang tertunduk malu.


"Kau boleh menyentuhnya sesukamu, aku ini milikmu." Bisik Alister lalu menuntun tangan Calla untuk menyentuh dada dan perutnya, Calla sontak terkejut dan menarik tangannya.


"Aku akan masak dulu baru mandi." Ujar Calla tapi Alister menariknya lagi untuk berhenti.


"Gak usah sayang.. kau mandi dulu nanti aku urus makan malamnya." Ujar Alister dan Calla menurut, dia masuk ke kamar dan mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.


"Astaga, ini tergantung dari tadi." Ucap Calla begitu dia menutup pintu kamar mandi dan melihat bra nya tergantung disana. Cukup lama Calla ada didalam karena dia kesulitan tapi akhirnya dia selesai.


Dia keluar dan Alister terus menatapnya, wanita pujaannya baru selesai mandi dengan rambut masih basah, wajah polos dan bersih dengan baju tidur model dress dengan aksen pita di pinggang, sangat cantik membuat tubuhnya panas.


"Cantik." Ucapnya begitu Calla keluar lagi dari kamarnya setelah sisiran. Calla duduk di lantai seperti biasanya saat dia makan sendiri dirumah tetapi bedanya sekarang ada Alister dan dia sangat senang ada seseorang yang menemaninya makan.


Calla makan dengan disuapi oleh Alister, awalnya dia menolak tetapi Alister yang pemaksa berhasil membuat Calla menghabiskan semua makanannya sambil dia juga makan di piring yang sama.


"Bisa seperti ini setiap hari sangat indah kan?" Ujar Alister, "Iya." Jawab Calla tanpa sadar. Alister tersenyum menang dan Calla pun melotot dan akhirnya menunduk malu karena keceplosan.


"Biasanya Calla-ku ini ngapain aja kalau sendirian dirumah?" Tanya Calister karena tempat kecil ini hanya ada tv tanpa hiburan lain dan cukup sepi di ketinggian 12 lantai.


"Aku biasa nonton tv atau baca novel di hp trus tidur, kadang telponan sama Vio dan curhat." Jawabnya dan akhirnya Calla berbicara sedikit panjang pada Alister, dia senang Calla sedikit membuka dirinya.


"Baiklah, karena kau sedang sakit jadi jangan nonton tv dan main hp, sekarang tidur saja. Ayo.." Ajak Alister dan kini dia berdiri menarik Calla untuk ikut kekamar milik Calla satu-satunya kamar di aparteman mungil itu.


Setelah masuk, Alister tersenyum melihat kamar mungil itu hanya ada 1 kasur ukuran single tapi lumayan besar karena ukuran tempat tidur Calla yang 120x200 cukup untuk mereka berdua.


"Kau juga tidur disini?" Tanya Calla dengan panik, "Iya dan aku akan memelukmu selagi tidur." Alister lalu menarik Calla tapi Calla malah mendorongnya dan keluar lagi dari kamarnya.


"Aku tidak bisa tidur dengan orang lain, tidak nyaman." Tolak Calla lalu membanting pintu kamarnya membuat Alister pasrah untuk tidur di sofa saja.


Tapi tengah malam dia menyelinap ke kamar Calla yang tidak dikunci karena Calla sempat pergi ke kamar mandi lagi tadi. Alister masuk dengan pelan dan melihat cara tidur Calla yang membuatnya ingin tertawa tapi gairahnya juga naik.


"Kau sangat seksi sayang.. pantas saja tidak mau tidur denganku." Bisiknya pelan, Calla tidur tanpa pakaian dalamnya dan itu sangat terlihat menerawang dibalik baju tidur berwarna biru muda.


Sesuatu yang mungil mencuat keatas membuat Alister tergoda untuk menjamahnya tetapi dia masih menahan diri, gaun tidur itu juga teringkap keatas memperlihatkan kaki sampai pangkal paha Calla yang cantik dan mulus, bahkan sesuatu mengintip sedikit dari celah rok itu.


Alister hanya menatapnya tanpa bisa berbuat apapun, dia menurunkan rok Calla lalu menggesernya pelan dan berbaring disampingnya. Calla menggeliat sesaat lalu mengganti posisi tidurnya yang kini memeluk Alister bagai memeluk gulingnya yang sudah terjatuh sejak tadi. Alister sangat bahagia dan mendekap erat Calla yang tidur dengan nyenyaknya.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2