Magical Flower

Magical Flower
BAB 16 - Janda Kembang (Part 9)


__ADS_3

Setelah terdiam lama, mereka akhirnya menyusun kembali rencana untuk menjebak Lidia dan ibunya. "Apakah jika kasus ini dibuka akan berhasil membuat Lidia dan ibunya masuk penjara?" Tanya Alister dan Tama menggeleng, "Sulit." Jawabnya.


"Dari awal nama mereka tidak ada di dalam daftar saksi dan kalau tiba-tiba kita mengaitkan nama mereka, setidaknya harus ada bukti." Sambung Tama, mereka tampak berpikir.


"Jebak saja Lidia untuk keceplosan ngomong." Celetuk Imel yang sejak tadi ada di meja kasir menunggu Flo tanpa mereka sadari. Semua menoleh ke arah suara Imel, "Imel, kapan datang?" Tanya Flo dan Imel hanya nyengir dan Fano seperti biasanya selalu mengekori Imel kemanapun.


"Maaf, dia temanku yang juga kerja disini cuma lagi magang karena kuliahnya." Jelas Flo agar mereka tidak perpikir aneh tentang Imel yang suka nyeletuk dan punya ide bagus meskipun tidak bisa dia realisasikan pada hidupnya sendiri


"Tapi itu ide bagus, kalau Lidia bisa mengatakan sedikit saja rahasianya maka bisa kita rekam. Tapi gimana caranya...?" Tama berpikir lagi.


"Bisa saja.. aku punya cara kan aku ada ilmu sihir." Kata Flo melirik ke Alister dan Calla. "Jangan becanda Flo.." Tegur Alister dan Flo tersenyum.


"Tapi jangan aku yang lakukan akan aneh, cari orang yang bisa dekati Lidia saja untuk cari kesempatan agar dia jujur mengatakannya, sedikit juga tidak masalahkan?" Tanyanya pada Tama.


"Sepertinya aku bisa. Lihat ini.. Lidia tertarik padaku dan dia ingin merebutku dari Calla." Ujar Alister samil memperlihatkan isi chat Andy pada mereka dan membuat Calla langsung menoleh menatapnya.


"Tenang Calla-ku aku tidak seperti pria lain, aku ini setia." Sambung Alister sekalian menyindir Tama, begitu tau wajah Calla berubah cemas melihatnya.


"Al, cepat kau urus si Lidia, dia menerorku sejak kemarin ingin bertemu denganmu, aku sudah pusing." Isi pesan itu dibaca oleh Flo dan dia mengangguk mengerti.


"Begini, Al.. kau pura-pura saja saat dia menggodamu kau jadi tergoda dan jauhi Calla. Lalu jika ada kesempatan bawa dia kemari agar aku tanya-tanya dia." Saran Flo tapi Alister sepertinya tidak mau.


"Gak ah, aku mana bisa jauh-jauh dari Calla." Tolak Alister membuat Calla menjadi begitu bahagia, kini dia lebih bisa mengutarakan perasaaanya, Calla tersenyum mendengar kalimat itu tetapi Flo dan Tama membujuknya sampai akhirnya dia menerimanya demi Calla.


"Bakilah, aku terima demi Calla. Tapi ..." Alister berhenti lalu semua melihat kearahnya menunggu lanjutan kalimat yang akan dia ucapkan. "Tapi.. sampai kasus ini berhasil dibuka lagi secara resmi, kau harus menikah denganku." Lanjut Alister memberikan syaratnya pada Calla.


"Tapi kalau Lidia tau dia akan..." Calla berhenti bicara, dia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Jangan khawatir, begitu kasus dibuka maka mereka pasti akan sangat sibuk dan kau akan jadi nyonya Alister Cole, siapa yang berani menyentuhmu." Ungkap Tama membuat Flo dan juga Calla terkejut, Cole jika benar maka dia bukan orang sembarangan.


"Jangan melihatku begitu.. aku adalah aku jangan sangkut pautkan dengan Cole yang lain." Bantah Alister tapi mereka masih terbengong. Nama Cole bukan sembarangan dapat dipakai, hanya keluarga inti saja yang dapat memakai nama itu dan Alister juga sudah menutupi nama itu selama ini.


"Dasar kau, jangan sembarangan membuka rahasia orang." Kesal Alister menatap tajam pada Tama yang sudah terekeh geli, sedangkan calla sudah cemas akan masa depan apa yang menantinya, sepertinya akan semakin sulit.


"jangan cemas sayang.. aku sudah bilang, orang tuaku tak akan permasalahkan hubungan kita. Aku menikah dengan siapapun mereka tidak akan melarangnya, aku sudah cerita kalau ibuku dulunya pelayan di rumah kakek." Jelas Alister lagi karena Calla terlihat cemas dan raut wajahnya berubah sedih.


"Iya, tapi apakah Miranda akan setuju?" Flo bertanya membuat Alister terkejut kenapa dia bisa kenal nama itu.


"Kau kenal nenekku?" Tanya Alister dan Flo mengangguk, "Kami sudah tak ada hubungan lagi dengan mereka sejak ayahku nikah dengan ibu." Jawab Alister membuat Flo tertawa.


"Tidak mungkin, jika kau masih menggunakan nama Cole berarti masih diakui olehnya. Dia itu egois dan pemarah." Flo masih tertawa dan membuat Alister bingung.


"kenapa kau kenal nenekku, usia mu saja masih jauh dibawahku Flo." Tanya Alister dan Flo terdiam memikirkan alasan apa yang akan dia berikan.


"Ah.. waktu kecil aku pernah bertemu karena nenekku kenal dengan nenek Miranda." Flo bebohong lagi padahal dia lah yang kenal dengan Miranda yang saat itu Flo lah yang menolong keluarga itu dari kebangkrutan.


"Begini saja, jika nanti si nenek tua itu keberatan, bilang padanya 'Zinnia menitipkan Calla lily ini padanya' dia akan mengerti." Pesan Flo pada Alister.


"Siapa lagi Zinnia?" Alister mengerutkan keningnya bingung. "Nama nenekku Zinnia." Ucap Flo dan ALister mengangguk saja.

__ADS_1


Mereka melanjutkan rencana untuk mendekati Lidia, dimulai dari sore ini Alister akan sengaja datang ke perusahaan Edo agar bisa bertemu Lidia sepulang kerja dan mulai akan didekati olehnya.


"Aku disini saja boleh ya Flo, aku ingin sekali-kali melihatmu merangkai bunga dan belajar." Pinta Calla pada Flo yang sedang membungkus bunga segarnya karena sedang ditunggu pembeli.


"Untuk apa sayang? Kalau kau mau aku akan buka toko bunga mu sendiri dengan nama 'Calla Florist'" Ucap Alister dan langsung di protes oleh Flo, "Jangan dong nanti pembeliku kabur semua kalo lihat Calla si cantik ini jual bunga yang kalah cantiknya dari dia."


"Oh iya, gak jadi. Nanti makin banyak yang suka padamu. ya udah disini aja nanti aku akan jemput agak malam. Jangan pulang sendiri." Titah Alister dan dengan patuh Calla mengangguk. Alister pamit pergi setelah mengecup lembut kening Calla membuat Flo begitu bahagia melihatnya.


"Eh mba Maira, mau bunga apa hari ini?" Tanya Flo pada seorang wanita cantik dan berwajah sendu keibuan masuk pas Alister membuka pintunya.


"Hari ini tolong buatkan buket cantik untuk mertuaku ya, kira-kira apa yang cocok?" Tanya Maira dengan suara lembutnya.


"Bagaimana kalau tulip dan lili? Itu perpaduan bagus untuk ibu sih." Saran Flo dan Maira setuju, Flo segera mengambil 7 tangkai tulip pink dan 3 tangkai lily dengan 1 kelopak terbuka dan 2 masih kuncup dan merangkainya dengan indah.


"Makasih ya Flo, cantik sekali.." Ujat Maira sebelum keluar dari toko dan Flo menatapnya dengan sendu dan perasaan khawatir, wanita itu terlihat kuat tapi sebenarnya sangat rapuh, berbeda dengan Calla yang terlihat rapuh tapi kuat didalam.


"Kenapa Flo?" Tanya Calla yang melihat Flo diam saja setelah kepergian wanita bernama Maira itu.


"Dia.. Maira, sudah sebulan ini sering beli bunga hampir seminggu 2 kali tapi wajahnya selalu sedih." Jelas Flo membuatnya menghela napasnya. Calla juga tidak mengerti tapi dia juga ingin tau, tapi tidak lanjut bertanya karena dirinya saja sudah sangat banyak masalah. Akhirnya mereka hanya ngobrol seputar bunga dan cara merawatnya.


Sesuai rencana, Alister ikut dengan Edo untuk mengikuti meetingnya dengan Lidia dan team, setiap 3 hari sekali mereka melakukan meeting untuk temuan audit di perusahaan itu dan Alister juga sudah memberitahu Edo kalau Lidia dan Anita ingin menjebak Calla. Mereka akan mengikuti permainan Lidia dan Anita dengan pura-pura akan kerjasama untuk mengungkap korupsi yang di lakukan Calla dengan bukti buatannya Anita, sembari Alister akan memberikan kesempatan pada Lidia untuk menggodanya.


Rencana berjalan mulus karena 2 hari ini dia sudah 2 kali menemani Lidia makan malam dan jalan ke mall, Lidia sebenarnya telah jatuh cinta pada Alister yang begitu baik dan lembut. Sehingga kini Lidia sedikit terbuka padahal baru dua hari, Alister akan menunggu lebih lama tetapi dia tetap tekankan ke Lidia bahwa status mereka hanya teman dan tidak lebih.


"Itu cukup untuk saat ini Al, yang penting kamu sudah bisa menerimaku disampingmu." Ujar Lidia saat itu.


Sedangkan Tama sedang berusaha dengan membujuk keluarga supir yang mengendarai mobil Calla dan suaminya untuk mau membuka kasus ini lagi agar membantu Calla agar jaksa mau menerima kasus ini. Sudah 2 hari juga Tama terus datang dan akhirnya dia menceritakan penderitaan Calla selama ini pada mereka.


2 minggu berlalu, Calla sudah bekerja seperti biasa tetapi dia sedikit kesal dengan kedekatan Alister dan Lidia di kantor. Membuatnya cemberut seharian selama seminggu ini, bahkan dia masih kesal dengan Alister dan tidak membiarkannya masuk ke kamar jika dia menginap.


Lidia juga tinggal beberapa hari disini dan sudah menyerahkan seluruh laporan pemeriksaan bagian umum untuk segera di tindak sebelum dia pergi, tapi Edo menundanya sampai Mina masuk 2 hari lagi dari libur panjangnya dan Edo sudah menceritakan pada Mina dan nantinya dia yang akan jadi penolong Calla.


"Calla-ku sayang..." Panggil Alister saat Calla mengantar kopi untuknya. Alister menariknya dan memeluk Calla yang berdiri diam, tapi malah Edo yang berdecak kesal dan mencibirnya, "Dasar bucin, jangan berbuat mesum disini, masuk sana ke kamar atau ruang meeting disana."


Alister menarik Calla dan masuk ke ruang meeting, "Calla, jangan marah lagi... aku senang kau cemburu tapi ini sudah seminggu, aku janji sore ini akan bawa dia bertemu Flo dan mengungkapkan siapa dia seberbarnya. Sabar yah beberapa hari lagi."


Bujuk Alister dan Calla hanya mengangguk tapi masih diam, Alister yang gemas pun menciumnya dan akhirnya Calla membalas ciumannya, mereka saling ******* dan karena Calla duduk dipangkuan Alister membuatnya merasakan sesuatu yang tiba-tiba menonjol.


"AH.. ini apa?" Pekik Calla dan menyentuh sesuatu yang keras itu dengan polosnya.


"Sshhh... kau membuatnya bangun sayang." Bisik Alister dan Calla yang sadar bahaya langsung lompat turun dari pangkuan Alister. Dia melotot marah padanya dan Alister hanya terkekeh.


"Aku sudah 7 tahun puasa tidak menyentuh wanita jadi mungkin dia sudah protes." Ujar Alister membuat Calla sedikit kaget.


"Berarti dulu kau sering tidur dengan banyak wanita? Soalnya Vio pernah bilang kau mantan playboy." Ucap Calla membuat Alister mendesah pelan dan menarik Calla lagi untuk duduk dipangkuannya, dia mendekap Calla dan menghirup aroma shampo segar dari puncak kepalanya.


"Dulu saat remaja aku sekolah dan kuliah di Jerman, disana aku biasa melakukan **** dengan teman sekelas bahkan wanita malam padahal saat itu aku masih 16 tahun. Karena ibu dari negara ini dan budayanya masih tidak begitu cocok dengan sana aku dikirim ke sini dan tinggal dengan kakek nenek, tapi tetap aja kelakuanku tidak berubah, malah semakin liar dengan wajah bule ganteng aku bisa dapatkan wanita seperti apapun. Kau percaya aku saat 19 tahun sudah punya 2 kekasih umur 25 tahun dan artis ternama saat itu dan mereka sangat liar." Calla menggeleng dan terlihat sudah cemberut lagi.


"Jangan cemberut begitu, kau makin cantik." Alister menciumnya lagi tapi hanya sekilas lalu melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Saat umurku 20 tahun aku pacaran dengan seorang gadis polos, tidak terlalu cantik tapi dia sangat baik. Dia mengurusku dan membantu mengerjakan tugas kuliahku karena kami sekelas. Akhirnya aku pacaran dengannya hampir 2 tahun lebih, tetap dengan gaya pacaran yang bebas sampai akhirnya dia hamil."


Calla tertegun dan Alister sudah berubah sedih, "Aku ingin menikahinya tapi dia tidak mau dan dia telah dijodohkan dengan pria lain. Dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya makanya dia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Aku tidak mengizinkan, aku menyeretnya bertemu orang tuanya dan mengakui semua perbuatan kami tapi orang tuanya tetap tidak merestui dan ingin gugurkan anak kami. Lalu aku diusir dan kekasihku di kurung sambil diberi obat penggugur janin, hanya 2 hari aku sudah mendengar kabar dia meninggal." Alister sudah menangis sambil memeluk Calla, dia tak kuat mengingat kejadian itu meskipun sudah 7 tahun berlalu.


"Setelah itu aku berjanji tidak akan menyentuh wanita lagi sebelum menikah." Lanjut Alister dan Calla juga menangis mendengarkan kisah pilu itu, dia tidak menduga dibalik Alister yang selalu ceria dan kuat menyimpan kisah yang begitu memilukan. Calla mengelus lembut punggung Alister sampai dia sedikit tenang.


"Aku bukanlah pria yang baik Calla, makanya saat kau bilang tidak pantas bersamaku sebenarnya akulah yang tidak pantas bersamamu. Makanya aku ingin segera mengikatmu dengan pernikahan agar kau tidak bisa pergi." Lanjut Alister, Calla menatap matanya, kesungguhan Alister membuatnya luluh.


"Kalau gitu jalankan sesuai rencanamu." Alister tersenyum lebar mendengarnya dan kembali mengecup bibirnya.


.


.


.


.


Alister telah sampai di Magic Flower bersama Lidia dengan alasan memesan bunga untuk acara pembukaan toko baru temannya yang memang akan diadakan besok siang. Flo melihat sosok Lidia yang memang cantik dan sedikit mirip dengan wajah oriental Calla tetapi dia lebih tinggi sehingga terlihat anggun.


"Hai ALister, mau pesan bunga apa hari ini?" Tanya Flo dengan ramah.


"Lidia, duduk di cafe sana dulu ya.. kita sekalian makan malam disini." Ujar Alister dan Lidia tersenyum sambil mengangguk dan berjalan menuju salah satu meja cafe.


"Yang aku chat tadi untuk besok dan bungkuskan bunga apa saja untuknya dan kau kesana saja buat dia kesal dengan Calla dan menceritakan semuanya, rekamannya jangan lupa dipakai, ini." Jelas Alister dan dia jalan ke meja Lidia untuk memesan makanan.


Flo segara memakai kacamata baca yang diberikan Alister lalu membungkus 1 buket dengan setangkai bunga Lilem di dalamnya. Alister permisi ke toilet setelah melihat Flo berjalan ke arahnya dengan membawa bukrt bunga.


"Hai nona Lidia kan?" Tanya Flo basa-basi dan Lidia tersenyum dan mengangguk. "Ini bunga dari Alister untukmu." Ujar Flo dan Lidia tersenyum cerah tidak menyangka Alister akan memberinya bunga.


"Tapi aneh deh.. biasanya dia kirim bunga untuk gadis bernama Calla juga, kenapa gitu yah?" Tanya Flo sok polos dan karena Lidia sudah mencium aroma Lilem dia pun mengeluarkan sifat aslinya dan menceritakan semuanya.


"Aku yang merebut Alister dari wanita sialan itu, dan dia tidak akan pernah bahagia. Akan aku hancurkan dia seperti dulu." Ucap Lidia dengan wajhnya yang menurut Flo sangat mengerikan.


"Seperti dulu? Memangnya ada apa ya?" Tanya Flo lagi.


"Yah, dulu kami berhasil merebut harta terakhir orang tuanya dengan ibuku yang merusak rem mobil saat hujan lebat itu hingga kecelakaan dan meninggal, lalu kami kuasai deposito dan tabungan rahasia orangtuanya untuk kakak-kakaknya dan Calla, uang itu harta terakhir mereka untuk pendidikan. Lalu saat suami kaya Calla mati juga aku yang menyuruh pacarku saat itu merusak rem nya dan suami keduanya juga aku yang menggodanya untuk memberikan seluruh hartanya atas namaku dan setelah mereka menikah aku dorong dia ditangga lalu Calla jadi janda lagi dan di juluki janda sial, hahaahahah dan ibuku yang mencabut alat pernafasan suami bodohnya itu. Sekarang Alister juga akan jadi milikku." Lidia mengatakan semua yang ada di hatinya tanpa sadar, lalu Flo segera pergi dari hadapannya sebelum dia emosi dan menampar wajah mengerikan Lidia. Sedangkan Lidia telah sadar dan melihat sekeliling, untung saja tidak ada yang mendengar.


Alister kembali dari toilet dan makan malam bersama Lidia membuatnya hilang selera makannya tetapi dipaksa juga sampai habis lalu mengantar Lidia pulang.


Alister kembali ke Magic Flower menemui Flower stelah menyuruh Tama kesana dan menonton video itu bersama.


"Apa ini cukup?" Tanya Flo.


"Sangat cukup, aku tak menyangka dia mengatakan semuanya." Jawab Tama dan dia menatap aneh pada Flo yang sudah salah tingkah.


"Nona kenapa tidak jadi polisi penyidik saja, aku yakin semua penjahat akan mengakui kejahatannya." Tanya Tama dan Flo hanya nyengir saja dan berkata dalam hati, "Ya karena ratu peri menyuruhku pemisahkan atau menyatukan pasangan bukan tangkap penjahat. "


Rencana mereka berjalan lancar dan sudah ada jaksa penuntut yang mau membantu membuka kasus ini lagi. Mereka akan melancarkan asksi saat Lidia melakukan meeting terakhir untuk menjebak Calla.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2