Magical Flower

Magical Flower
BAB 89 - Magical Flower dan Flora 1


__ADS_3

Imel masih sibuk dengan teleponnya karena dia sejak sejam lalu menghubungi pemasok bunga yang di kenalkan oleh Ramses di daerah lain tapi sangat sulit untuk menyediakan bunga dalam jumlah banyak dan cepat. Karena daerah mereka juga sedang hujan dan tidak berani turun gunung. Jika mau mereka hanya bisa turun dengan kendaraan kecil yang pastinya bunga yang dibawa juga sedikit.


"Tidak bisa, hanya buang waktu dan tenanga, biaya kirim juga lebih mahal, bisa rugi kalau begini." Gumam Imel setelah menutup teleponnya dan dia mulai menelepon lagi.


Fano hanya duduk lalu rebahan di sofa panjang satu-satunya di ruangan itu untuk Imel istirahat jika lelah. Fano tidak mau mengganggu kalau urusan bunga, jika cafe yang bermasalah maka Fano dengan cepat turun tangan. Akhirnya Fano tertidur karena bosan sedangkan Imel masih menelepon dan sesekali melirik ke jendela besar di sebelah kanannya melihat situasi.


.


.


.


Florian dan Flo turun dari mobil mereka, Flo tampak tercengang melihat keadaan Magical Flower yang tidak lagi sama, cafe begitu ramai dengan pelayan jalan hilir mudik membawa pesanan atau mencatat pesanan. Flo dan Florian saling menatap. Dengan perlahan mereka ber empat jalan dan masuk ke toko bunga.


"Selamat siang.." Sapa Daisy yang tidak dikenal oleh Flo.


"Apa semuanya sudah tidak kerja?" Gumam Flo pelan lalu balas tersenyum sedangkan Aster dan Iris berjalan mendekati beberpaa pot bunga yang hanya beberapa tangkai, bahkan banyak pot bunga besar itu kosong, Flo juga melihat lemari pendingin yang biasanya banyak bunga, sekarang kosong.


"Kenapa bunganya hanya segini?" Tanya Flo akhirnya karena dia sedih.


"Iya mba, sedang ada longsor di gunung dan pasokan bunga berkurang sudah lebih dari seminggu ini." Jawab Daisy dan Flo merasa sedih begitu juga Iris.


"Apakah Imel ada? Atau Thika, Mala? Rayhan?" Tanya Flo lagi dan Daisy sedikit terkejut.


"Oh mba Imel ada di ruangannya di dalam tapi sedang sibuk menghubungi pemasok bunga lainnya. Kalau mba Thika sedang cuti melahirkan, mas Reyhan lagi bantu cafe mengantar pesanan, mba Mala..." Daisy menghentikan penjelasannya dan menoleh ke meja di sampingnya, tempat tadi Mala berkerja tapi kini dia tidak ada.


"Tadi ada disana.." Sambung Daisy menunjuk ke arah meja yang hanya ada laptop dan kopi yang masih mengepul.


"Oh.. kalau begitu kami duduk di sana dulu ya.." Ucap Flo lalu mengajak Aster dan Iris untuk duduk di satu-satunya meja yang tersisa di cafe.


Flo duduk sebentar dan melihat pelayan yang lalu lalang tapi tidak ada 1 pun yang dia kenal, tapi dia tersenyum saat pelayan datang untuk menanyakan pesanan. Setelah memesan dia kembali ke meja depan dan Daisy masih disana merapikan beberapa wraping dengan gesit dan rapi.


"Boleh saya bertemu Imel?" Tanya Flo tapi sebelum dijawab dia sudah mendengar ada yang memanggilnya.


"Flo FLORA!!" Teriak Imel yang baru keluar dari ruangannya untuk ke toilet. Flo yang terkejut karena teriakan Imel lalu tersenyum. Berbeda dengan Imel yang sudah berlari sambil menangis kearah Flo lalu mereka saling berpelukan.

__ADS_1


Daisy yang melihat itu sedikit terkejut dan melihat Flo lalu melihat foto yang ada di mejanya lalu melihat Flo lagi.


"Astaga.. ini mba Flo pemilik tempat ini." Pekik Daisy terkejut. Imel melapaskan pelukannya dan melihat wajah Flo yang sedikit berubah.


"Flo.. ini hanya perasaanku atau.. kau sedikit lebih tua? Tapi tetap cantik." Tanya Imel yang masih memperhatikan wajah Flo.


"Hem.. nanti aku ceritakan." Jawab Flo lalu dia menoleh ke arah tempat Florian duduk dan memanggil mereka dengan isyarat tangan.


"Wah.. Florian! Kau kembali juga? Dan ini..." Imel melihat seorang gadis cantik dan gadis kecil cantik dan menggemaskan, wajah mereka mirip Flo dengan mata biru mirip Florian.


"Mereka?" Tanya Imel lalu Flo berbisik. "Apa ada tempat kita mengobrol?" Tanyanya. Imel langsung menrik Flo untuk keruangannya meskipun kecil tapi masih nyaman.


Florian dan 2 putrinya mengikuti dan mereka masuk ke ruangan kantor Imel, Fano juga sangat terkejut ketika dibangunkan Imel.


"Apa aku mimpi? Ada Flo dan Florian." Ujar Fano tapi Imel langsung mencubit lengannya sampai dia sadar.


"Astaga, aku tidak bermimpi! Ini benar kau FLO?" Tanya Fano dan Flo hanya tertawa mendengarnya.


Akhirnya Flo dan keluarganya duduk di kursi panjang yang hanya muat 3 orang, Fano membawa 2 kursi lagi dari luar agar semuanya nyaman disana.


Flora menceritakan semuanya tanpa ditutupi sama sekali pada sahabat baiknya itu dan Imel serta Fano hanya berdecak kagum lalu melihat ke Iris yang sangat cantik, benar-benar terlihat berbeda. Aura kuat nan lembut tapi terlihat cantik dan anggun, mirip dewi.


"Iya, aku Florian dan Aster akan menetap disini dan menjadi manusia biasa. Iris akan kembali besok. Karena hidupnya memang di hutan peri dan menjaga kelangsungan hidup tempat itu." Jelas Flo lagi sampai Imel ingat longsor di gunung.


"Kalau begitu Iris bisa membantu pak Ramses, gunung tempat tinggalnya longsor dan mereka terjebak disana." Ucap Imel tapi Iris menggeleng karena sudah tau apa yang terjadi disana.


"Peri penjaga hutan disana sudah di usir secara tidak langsung, penebangan hutan, pembangunan besar-besaran, gunung itu jadi gundul dan peri hutan tidak akan bisa bertahan hidup dan menghilang. Manusia lah yang harus bertanggung jawab dan kini mereka menanggung akibat perbuatan mereka sendiri." Jelas Iris dengan perasaan sedih.


Fano yang mendengar itu langsung tersentil karena besok dia akan meeting untuk pembangunan resort di gunung AA.


"Begitu yah.. bagaimana ini Flo? Bunga kita semakin menipis bahkan sebenarnya sudah habis." Ujar Imel sedih tapi Flo hanya tersenyum.


"Ada.." Jawabnya santai.


"Ha? Dari mana Flo?" Tanya Florian yang juga bingung.

__ADS_1


"Di ruamh kita, kau lupa berapa jenis dan banyak bunga tumbuh disana?"


"Ah iya... aku lupa."


Florian menatap Aster dan Iris bergantian dengan senyum bangga, dia lupa tadi di halaman luasnya 2 putri cantiknya menanam banyak bunga beraneka jenis.


"Baiklah, malam ini datanglah ke rumah kami untuk makan malam dan bawalah semua bunga itu." ucap Florian.


Mereka mengobrol lama dan bahkan Mala yang sudah tau Flo kembali sangat senang dan menangis heboh. Beberapa karyawan yang masih ada disana juga menyambut Flo dengan suka cita.


"Lalu kamarku diatas dijadikan apa?" Tanya Flo yang melihat pintu tangga itu masih sama.


"Masih kamarmu Flo, cuma di lantai 3 aku bangun kamar lagi yang kecil untuk karyawan toko bunga, dia sangat kasihan dan sementara tinggal disini seperti aku waktu dulu tinggal di rumahmu 2 tahun." Jelas Imel lalu memperlihatkan foto seorang gadis cantik mungil di ponselnya.


"Wah cantik.. sepertimu dulu bagaimana kalian bertemu?" Tanya Flo penasaran.


"Aku bertemu dengannya setahun lalu, waktu pulang dari sini bersama supir. Dia sedang di kejar beberapa anak lelaki karena mau dilecehkan. Supir kami menolongnya dan aku membawanya ke RS karena ada luka cukup parah di kepalanya. Lalu aku suruh tinggal disini sekalian membersihkan kamarmu setiap harinya dan bekerja di sini sewaktu pulang sekolah." Jelas Imel tentang gadis yang ditolongnya.


"Siapa namanya?" Tanya Flo.


"Canna." Jawab Imel.


"Wah canna itu cantik ibu.." Celetuk Aster.


"Iya Canna yang ini juga cantik sayang." Balas Imel.


"Tante Imel juga cantik, mirip peri." Ujar gadis kecil itu lagi dan di benarkan oleh Iris yang juga sejak tadi memandang Imel.


"Benar." Sahut Iris.


"Istriku memang yang paling cantik." Imbuh Fano tak mau kalah.


"Halah.. masih bucin." Goda Flo yang akhirnya membuat mereka tertawa.


"Ya sudah, sebaiknya kita kembali karena akan ada makan malam di rumah. Ingat ajak sekalian Damian." ucap Florian dan mereka akhirnya berpisah sore itu.

__ADS_1


Florian menghubungi Will untuk menyiapkan makan malam dari restorannya dan juga beberapa orang yang bisa membantu membawakan bunga nanti ke toko.


TBC~


__ADS_2