Magical Flower

Magical Flower
BAB 60 - Bunga Terakhir (Part 4)


__ADS_3

Sebulan berlalu dan Flo sudah memberitaukan pada Wati untuk segera mendaftarkan Wina di yayasan RS Arche agar dia menjadi list pertama jika ada donor ginjal di RS itu.


Wati juga sudah memindahkan semua data Wina dan sekarang dia akan di rawat di RS Arche agar lebih mudah jika ada informasi perihal donor ginjal.


"1 lagi Bu, harusnya ibu menggugat cerai bapak. Lumayan hartanya setengah bisa ibu pakai buat Wina dan Bayu. Kasihan kan Bayu sudah pacaran 2 tahun tapi gak ada kelanjutannya. Minimal ada modal buat Bayu untuk usaha. Selama ini dia kan hanya kerja, mau usaha gak ada modal." Ujar Flo memberi saran.


"Tapi urus begituan ibu gak ngerti nak Flo, apalagi bayar pengacara kan mahal." Jawab Wati.


"Jangan di pikirkan, nanti ada mas Raka datang aku kenalin sama ibu." Balas Flo seraya membungkus semua pesanan bunganya Wati karena besok ada pernikahan anak temannya dan pendapatannya lumayan kalau ambil bunga dari Flo yang harganya terjangkau, paling pentingnya Flo bisa cash bon jika untuk Wati.


"Nah tuh dia.." Flo menunjuk Raka yang baru masuk ke tokonya.


"Ada apa? Sepertinya menungguku." Tanya Raka menghampiri Flo dan Wati.


"Ini ibu Wati, dia perlu pengacara. Suaminya pergi 8 tahun gak ada kabar dan meninggalkan mereka gitu aja dengan istri baru, istri siri. Kalau bisa ambil setengah harta suaminya itu mas." Jelas Flo berapi-api.


"Oh.. boleh, mari bu Wati kita bicara disana saja." Tunjuk Raka ke area cafe.


"Tapi biayanya.."


"Gratis bu.. saya ada firma hukum dan team yang memang menangani kasus seperti ini secara gratis." Ujar Raka dan Wati tersenyum mendengarnya.


Setelah berbincang mereka akhirnya mencapai kesepakatan kalau Wati akan menceraikan Bagas dan ini akan mudah pasalnya Bagas sudah menghilang tanpa kabar dan tidak bertanggungjawab pada istri serta anak-anaknya, menikah lagi tanpa izin. Wati juga hanya tau aset suaminya yaitu rumah yang sekarang di tempati Bagas dan istri baru, sebuah ruko di daerah pasar. Selebihnya tugas teamnya Raka yang mencari tau.


"Terima kasih nak Raka, sudah membantu Ibu." Ujar Wati dan Raka hanya menggeleng.


"Ini tugas saya bu, dulu istri saya juga di zolimi oleh mantan suaminya dan saya tergerak untuk membantu para istri dan ibu lainnya." Ucap Raka dan Wati sangat senang masih ada orang baik seperti Raka di dunia ini.


.


.

__ADS_1


.


Sebulan kemudian, urusan perceraian Wati dan Bagas menemui titik terang. Tentu saja pihak keluarga Bagas tidak terima tapi mereka juga tidak bisa protes karena pengadilan yang sudah memutuskan kalau setengah harta Bagas akan di alihkan ke Wati dan 2 anaknya.


Ruko di pasar, sebidang tanah, dan rumah kecil di daerah padat penduduk dan tabungan 350jt. itu sudah cukup bagi Wati karena ruko berguna untuk membuka usahanya nanti.


Sebenarnya masih banyak uang dan 2 rumah lagi tapi Wulan sempat mengalihkan rumah itu ke namanya dan uang tabungan juga dia pindahkan atas namanya agar Wati tidak mengambil lebih banyak lagi. Wati juga bukan orang yang serakah, dia hanya inin keadilan dan sudah dia dapatkan meskipun sebenarnya itu belum cukup.


Bayu mulai membuka usaha sampingan selain pekerjaannya di kantor, membuka kios minuman di daerah sekolahan dan sorenya dia sambung untuk menjual kue hasil buatan Wati. Bayu memang anak yang rajin sedangkan Wina yang tidak boleh bekerja keras hanya di berikan pekerjaan mengatur keuangan mereka sambil tetap bekerja di kantor.


Ruko di pasar mereka gunakan untuk membuka toko roti dengan modal dari hasil perceraiannya dengan Bagas, toko roti itu lumayan di kenal karena memang Wati selama ini hanya berjualan online dan sistem pesanan.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Mama.. Wina pingsan lagi ma!" Teriak Bayu saat dia melihat Wina tergeletak di dapur. Bayu menggendong adiknya dan segera membawanya ke rumah sakit.


Akhirnya Wina harus dirawat karena kelebihan cairan, dia memang tidak diperbolehkan untuk minum air berlebihan, makan sayur atau buah. Tetapi Wina yang beberapa hari ini memang sangat kepanasan tidak sadar kalau dia terlalu banyak minum air menyebabkan perutnya makin membesar dan kakinya makin bengkak.


Sudah 3 hari Wina di rawat dan dokter sudah memperingatkan kalau ini terjadi lagi maka akan semakin berbahaya. Terpaksa Wina akan di pantau di RS saja.


.


.


.


Hari ke 9 Wina di rawat dan penyakitnya semakin parah, dia bahkan takut untuk tidur setelah melihat teman sekamarnya yang meninggal 2 hari laluu dengan penyakit yang sama. Ibu itu sudah pergi dan tinggal lah Wina di kamar ini sendirian.


Sebulan lagi berlalu, Wina makin melemah. Wati dan Bayu sudah pasrah melihat keadaanya yang hanya bisa tiduran dengan alat-alat terpasang di seluruh tubuhnya.


"Tante, kami sedang menuju ke RS tapi kejebak macet. Kayanya ada kecelakaan beruntun. Kalau kemaleman kita gak jadi kesana ya.." Ujar Rima melalui ponselnya. Padahal mereka sudah janji akan menonton film bersama, meskipun Wina tidak bisa bergerak tapi sekedar nonton dan mendengarkan celotehan dua temannya dia sudah sangat senang.

__ADS_1


"Duh.. macet banget Rima... kayanya gak akan bisa nyampe deh." Keluh Asmi padahal mereka bawa motor tapi tetap tidak bisa lewat.


Setelah hampir 1 jam terjebak macet Asmi akhirnya dapat melewati jalan yang telah di bersihkan sebagian karena kecelakaan 3 mobil dan 2 motor itu, begitu banyak darah yang masih dibersihkan disana dan Rima bahkan bisa melihat salah satu ambulance yang juga kearah yang sama dengan mereka.


"Wah.. tante akhirnya kita sampai, macet banget ada kecelakaan." Kata Asmi begitu sampai di kamar rawat Wina.


"Gak jadi nonton deh, udah jam 9 malam juga. Besok aja." Ujar Rima dan mereka akhirnya mengobrol saja.


"Nih bunga buat kamu lagi.. sudah banyak bunga disini kaya taman bunga deh." Ujar Asmi sambil menyusun bunganya dan mengganti bunga yang layu. Kamar ini terlihat segar dan wangi mawar semerbak dimana-mana.


Wina tersenyum tipis sambil mendengar celotehan 2 sahabatnya itu, dia sangat senang meskipun di hari terakhirnya dia akan rela pergi dengan iklas asal 2 sahabatnya ini tetap ceria menemani mamanya agar mamanya tidak terlalu sedih nanti.


\=//=


"Ibu Wati, bisa bicara sebentar?" Panggil suster pada Wati yang baru saja akan pulang karena sudah pagi lagi.


"Ah iya kenapa sus?" Tanya Wati yang mengikuti suster ke ruangan dokter.


"Ibu Wati, selamat ya, ada donor ginjal hari ini. Dan kita sudah tes dan cocok dengan Wina." Ujar dokter itu menjelaskan dengan singkat. Wati langsung menangis dan berlutut untuk berterima kasih. AKhirnya Wina punya kesempatan hidup.


Kabar baik ini pun segera dia beritaukan pada Bayu serta teman-temannya yang tau kondisini Wina, dokter memastikan Wina akan di operasi malam ini juga karena kondisi Wina yang sudah sangat mengkhawatirkan.


Flo juga mendapatkan kabar itu dan dia sangat bahagia mendengarnya.


Wati dan Bayu menunggu Wina yang masih dalam ruang operasi, sudah 2 jam mereka di luar dengan perasaan cemas dan gelisah. Bayu juga sejak tadi mondar mandir tidak tenang. Beberapa kali dia menelepon pacarnya hanya untuk menenangkan dirinya karena sang pacar yang selama ini selalu mendukungnya.


6 jam berlalu, akhirnya salah satu dokter keluar dan memberitau kalau operasi berjalan lancar dan Wina akan di pindahkan ke ruang ICU. Wati dan Bayu sangat lega, setidaknya sampai tahap ini Wina bisa bertahan.


"Ma, sudah jam 1 malam kita belum makan kan? Bayu baru terasa lapar nih." Ucap Bayu dan Wati mengangguk.


"Sudah sedikit lega baru terasa lapar ya.." Sahut Wati.

__ADS_1


"Bayu pesan apa saja yang masih buka ya ma, setidaknya mama makan lah." Wati mengangguk dan sambil menunggu Wati sholat untuk mengucapkan rasa syukurnya pada penciptanya dan meminta agar Wina segera sembuh seperti sediakala.


TBC~


__ADS_2