
"Selamat pagi Flo.." Sapa seorang gadis cantik yang baru masuk ke area cafe Magical Flower di pagi hari sebelum cafe dibuka. Flo yang baru selesai menyusun bunga-bunganya dan bersiap buka toko tersenyum lembut padanya.
"Pagi Juniper.. wah pagi benar datangnya, kan masuknya jam 10 ini baru jam 9 loh." Balas Flo sembari mengelap beberapa air yang jatuh saat menyusun bunganya tadi.
"Iya, karna udah terbiasa bangun dan kerja pagi Flo." Jawab Juni, sebenarnya dia masih bingung dengan apa yang harus di kerjakan di cafe ini karena basic nya adalah seorang sekretaris selama ini.
"Jangan terlalu memaksakan diri ya.. kamu sedang hamil dan yang kamu lakukan hanya mengatur jadwal, sekaligus atur keuangan sisanya yang bikin capek akan dibantu Mala." Flo mengingatkan kembali kerjaan yang akan dikerjakan oleh Juni. Flo sebenarnya sangat ingin menanyakan lebih dalam lagi tentangnya karena disaat hamil 4 bulan begini dia malah kerja dan tidak ada suami yang mendampinginya, bahkan perutnya saja sudah terlihat kalau gadis muda ini sedang hamil.
Juniper baru umur 21 tahun dan dia baru lulus kuliah tahun lalu dan hampir 2 tahun dia bekerja sebagai sekretaris dan akhirnya resign beberapa bulan lalu. Juni tinggal di rumah kontrakannya sendiri tanpa didampingi oleh siapapun maka Flo sangat khawatir dengan kondisinya.
"Wah Jenifer, kau sangat pintar baru diajari sekali sudah bisa semuanya." Ujar Mala memujinya dengan menaikkan 1 jempolnya ke depan wajah Juni.
"Namaku Juniper Mala.." Ralat Jeni dan Mala menggaruk kepalanya malu, sudah seharian ini dia panggil Juniper dengan nama Jenifer.
"Habisnya yang aku ingat cuma Jenifer, maaf ya..." Ujar Mala terkekeh.
"Panggil Juni aja, biar gampang diinget, lagian namaku emang terdengar aneh sih.."
"Juni, bole juga.. kau lahir di bulan Juni ya?"
"Iya tepatnya 1 Juni."
Juni dan Mala ngobrol banyak hari itu, Juni memang anak yang cepat tanggap dan cekatan, sayang nasibnya tak semulus otaknya yang pintar. Dia harus hamil tanpa suami dan keluarga yang telah mengusirnya karena buat malu keluarganya jadilah dia saat ini berjuang sendiri untuk menghidupi dia dan anaknya kelak.
Sudah sebulan Juni kerja di Magical Flower menjadi manajer dan gaji yang diberikan Flo lumayan untuknya yang hidup sendiri, tapi dia harus pindah rumah kontrakan lagi sebab Juni tidak tahan dengan omongan tetangga yang selalu memojokkannya karena hamil tanpa suami.
"Napa Jun, kayanya mumet gitu tuh muka?" Tanya Flo saat lewat didepan Juni.
__ADS_1
"Iya Flo lagi cari kontrakan baru yang mulut tetangganya ga resek tapi susah juga ya.." Keluhanya sambil melihat aplikasi pencari kost dan kontrakan dari hapenya.
"Hm.. Thika, rumah Gauri udah ada yang sewa belum?" Tanya Flo sedikit berteriak berhubung lagi tidak ada pelanggan. Thika berlari menghampiri mereka sekalian dia mau ngobrol bareng.
"Belum tuh siapa yang mau sewa?"
"Ini Juni mau cari kontrakan karna yang tetangganya ga resek."
"Oh bisa bisa.. " Thika menghubungi Gauri dan tanya harga sewa perbulan dan pertahun berapa dan Juni sebenarnya keberatan dengan harga perbulan yang lumayan mahal dan harga per tahun dia tak punya uang sebanyak itu.
"Kalo gitu aku tanya lagi nanti waktu pulang, kalo bisa kita jadi tetangga di jamin ga ada yang julid dan gauri juga lagi hamil 2 bulan." Jelas Thika, dia juga merasa kasihan dengan Juni yang hamil sudah 5 bulan dan tinggal sendiri.
"Kalo bisa di rumah Gauri, kau bisa tenang di kiri ada rumah Gauri di kanan ada rumahku, depan lahan kosong jadi aman deh.." Ucap Thika lagi dan Juni hanya tinggal nego harga lagi dengan Gauri.
Malamnya Juni menunggu Thika untuk pulang bersama untuk bertemu Gauri agar bisa nego harga, Juni di berikan sift pagi agar dia tidak pulang terlalu malam, Flo tidak tega melihat gadis itu sendirian dengan kehamilannya yang sudah mulai membesar.
"Gimana yah... si Juni kasian Mala, dia juga gak mau cerita siapa pria yang menghamilinya dan dia hidup sendiri lagi. Kata orang ibu hamil itu manja dan banyak maunya nah kalo dia sendiri gitu mau manja sama siapa?" Flo menghela napas berkali-kali malam itu memikirkan nasib Juni kedepannya, memang mereka baru kenal sebulan tapi Flo tau kalau Juni anak yang baik.
"Jangan mikir itu juga, nih kalo Juni melahirkan trus dia pasti libur lama, kerjaan gimana? Kalo dia lanjut kerja anaknya gimana?" Ujar Mala dan Flo kembali bingung dengan hal itu.
"Iya yah.. duh, aku pusing."
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Juni telah bertemu Gauri dan Shanka, mereka sepakat akan menyewakan rumah itu ke Juni dengan setengah harga karena merasa iba dengan kondisinya. Gauri juga bisa menjaga ibu hamil itu, tepatnya saling menjaga. Gauri yang baru 2 bulan hamil saja sudah merepotkan banyak orang dengan kondisinya yang mudah lelah dan banyak permintaan, bagaimana dengan gagis muda ini hamil 5 bulan sendirian.
"Kak, besok aku pindahannya ya.. mungkin malam seperti jam begini lah." Ujar Juni.
__ADS_1
"Kalo mau sekarang juga bisa, Shanka akan bantu kalo barangmu tidak banyak." Jawab Gauri dan Juni tampak senang mendengarnya.
"Benarkah? Tidak banyak sih cuma 2 koper dan 1 kardus, udah aku siapkan kok.."
"Nah.. lebih baik sekarang aja, ayo cepat keburu malam."
Gauri, Shanka dan Juni akhirnya ke kontrakan lama Juni yang lumayan jauh dari sana sekitar 40 menit perjalanan, untung saja dia bisa dapat rumah yang lebih dekat ke toko, setelah beres-beres dan menyerahkan kunci Juni kembali naik ke mobil Shanka dan Gauri dan kembali ke rumah mereka.
"Kalau punya teman lebih enak ajak temanmu tinggal bareng, rumah ini ada 2 kamar dan 1 kamar yang kecil di belakang." Ucap Gauri sambil membuka pintu rumah, Juni mendorong 1 kopernya dan sisanya dibantu Shanka.
"Iya sih tapi aku gak punya teman disini, jadi mungkin untuk sementara aku sendiri aja kak." Balas Juni yang kini duduk di sofa ruang tamu karena dia cukup kelelahan hari ini.
"Sayang.. tolong bilang ke mbok bikinin susu hamil dan makanan buat Juni sepertinya dia lelah." Bisik Gauri ke Shanka, suaminya itu langsung gerak cepat karena juga kasihan dengan Juni, tak ada yang menjaga gadis itu. Hanya 15 menit mbok Padma sudah datang membawa pesanan Gauri dan meletakkan di meja kaca ruang tamu itu.
"Juni ini makan dulu, ada susu dan makan malammu, Shanka juga sedang ambil air untuk ganti dispensermu, semua di rumah ini komplit dan pakai saja."
"Terima kasih kak, kalian sangat baik.."
"Jangan sungkan, kalau ada apa-apa panggil saja kanan kiri ok kok hahahah..."
"Iya kak pasti."
Gauri meletakkan kunci pintu dan beberapa kunci lainnya di meja dan pamit kembali ke rumah setelah Shanka selesai mengganti air dispenser rumah itu. Juni mulai makan dan minum susu hamil yang diberikan Gauri, bahkan dia sangat jarang minum susu hamil karena sangat mahal, untuk saat ini dia fokus untuk menabung saja dan tidak makan sembarangan untuk kesehatan dirinya dan calon anaknya.
"Nak.. terima kasih ya kamu sangat baik dan tidak menyusahkan mama, anak baik nanti kalau sudah lahir mama akan selalu menjagamu meskipun tidak ada papa di sisi kita." Juni mengelus lembut perutnya, "Ohh.. kamu gerak-gerak hahaha..." Tawa Juni merasakan pergerakan di dalam perutnya, sepertinya sang anak mengerti akan perkataan Juni padanya.
Juni berkeliling lagi di dalam rumah itu, dia melihat ada kompor gas dan gas yang terpasang masih penuh, 1 kamar mandi di daerah pojok ruang dapur full keramik putih yang bersih seperti baru, kata Gauri memang mereka merenovasi sedikit rumah itu jadinya lantai yang dulunya keramik coklat diganti putih, cat dinding biru muda kini ganti nuansa putih dan krem, di kamar utama ada kasur spring bed baru, tapi di kamar kedua hanya ada kasur biasa di lantai dan lemari kecil.
__ADS_1
Setelah Juni mandi dan menyusun sedikit pakaiannya dia naik ke tempat tidur empuk itu merebahkan dirinya sambil mengelus perut buncitnya dan langsung tertidur.
TBC ~