Magical Flower

Magical Flower
BAB 39 - Pergi Untuk Kembali (Part 7)


__ADS_3

Shanka menemani Arjun makan dengan pizza-nya yang telah dia hangatkan di microwave, Arjun yang memang sudah lapar makan dengan lahap. Shanka sangat menyayangi Arjun, entah karna anak ini mirip Gauri atau memang dia punya perasaan tulus pada anak ini.


"Kau butuh seorang ayah yang baik Arjun, setelah ibumu bercerai aku akan mengejarnya lagi seperti dulu." Shanka mengguyar rambut lembut Arjun membuat si bocah itu terkikik. Setelah makan Arjun terlihat mengantuk dan Shanka membawanya ke kamarnya dan berbaring disana bersama sampai mereka ketiduran.


Gauri masih bersama Thika dan ayahnya membicarakan tentang perceraiannya, apa yang akan dia lakukan untuk kedepannya.


"Sebenarnya tidak ada masalah, aku punya suami atau gak juga gak ada bedanya, selama 5 bulan ini Aditya juga tak beri nafkah apapun, malah aku semakin capek mengurus ibu mertuaku. Ya udalah cerai saja.." Keluh Gauri pada mereka, Adnan mendukung apapun keputusan Gauri, dia juga merasa bersalah kenapa dulu menyetujui Gauri menikah dengan Aditya.


"Bener, cerai aja.. aku dukung. Kau harus memulai hidup barumu Gauri, kau sudah bekerja dan aku rasa gajimu cukup untuk membiayai Arjun dan untuk kedepannya kau pasti akan dapat pria baik yang menerimamu dan Arjun, kau sangat cantik dan masih muda jadi jangan takut." Ujar Thika lalu memluk temannya itu.


"Jangan khawatir Gauri, Shanka masih menunggumu.." Batin Thika, dia tau kali ini Shanka pasti tak akan tinggal diam, sebenarnya dia malah sudah curi start dengan cara mengambil hari Arjun duluan.


"Udah tengah malam, ayah tidur duluan aja aku mau jemput Arjun." Gauri berdiri dan mengingat rambutnya yang masih berantakan sejak tadi.


"Ayo aku antar ke rumah Shanka, mungkin Arjun ga mau pulang tuh.." Thika menarik tangan Gauri dan pergi ke sebelah, rumah Shanka. Baru kali ini Gauri masuk ke rumah itu lagi setelah dibangun ulang. Gauri sedikit kaget melihat isi rumah itu.


"Kau masih ingat Shanka, rumah impianku.." Batin Gauri, rumah dengan nuansa putih dan coklat yang klasik dan terkesan hangat sesuai dengan rumah yang selalu Gauri impikan, dulu sering mereka bicarakan jika sedang berkencan. Mereka naik ke lantai 2 rumah itu dan benar saja, semua isinya seperti yang pernah Gauri inginkan dulu bahkan ada lukisan yang sangat dia sukai tadi di ruang tamu.


"Ini kamar Shanka." Thika mengetuk beberapa kali tapi tak ada yang menjawab, dia membuka pelan pintu itu dan terlihat Shanka dan Arjun sedang tidur bersama, "mereka bukan ayah dan anak tapi kenapa sangat mirip gaya tidurnya?" Pikir Thika dan dia menarik gauri untuk melihat mereka dan gauri sedikit terkejut, dia tersenyum tipis melihat Arjun yang bisa dekat dengan orang lain selain dirinya dan kakek neneknya.


"Hei, kau menculik anak orang." Bisik Thika pada Shanka yang terbangun, dia mengucek matanya tak percaya kalau ada Gauri dikamarnya.


"Maaf, Arjun merepotkanmu.." Ucap Gauri tidak enak.


"Gak kok, aku senang Arjun mau bersamaku." Balas Shanka.


"Iyalah, anaknya dulu baru ibunya di embat." Timpal Thika terkekeh.


Gauri mengangkat Arjun perlahan dan menggendongnya untuk kembali kerumah, sedangkan Shanka tersenyum sambil memandang Gauri dan Arjun, rasa ingin melindungi mereka bertambah besar apalagi Arjun sangat patuh dan pendiam seperti dirinya waktu kecil, 'Sebenarnya Arjun itu anakku atau suamimu sih? Kenapa lebih mirip aku sifatnya?' Ucap Shanka dalam hati, matanya tidak berpaling sedikitpun dari Gauri sampai dia mengantarkannya ke pintu rumahnya.


"Terima kasih Shanka, untuk semuanya." Ucap Gauri pelan dan tersenyum pada Shanka. 'Duh.. Gauri jangan senyum begitu, aku ingin menciummu.' Batin Shanka.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa, aku siap membantumu kapan saja." Shanka juga tersenyum manis pada Gauri, mantan pacar yang akan dia perjuangkan kali ini.


"Ehem!" Thika berdehem, sengaja dengan suara keras karena Shanka masih memandangi Gauri padahal orangnya sudah masuk kedalam rumahnya.


"Aku pulang, siap-siap ngejer jandanya mantan ya." Thika melambaikan tangannya sambil jalan kembali kerumahnya tengah malam itu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Besoknya di Magical Flower Thika terlihat ngantuk dan tak bersemangat, setelah menguap berkali-kali dia sudah tak tahan lagi. "Mala.. minta kopi 1 lagi dong..." Ucapnya sedikit berteriak karena di cafe memang tidak ada pelanggan.


"Hei Thika, jatah 2 harimu udah habis ya..." Ucap Mala sambil menunjuk note jatah karyawan di mejanya.


"Dari pada kopi mending makan ini." Saran Flo dan membuka keripik super pedas yang baru dia keluarkan dari laci mejanya.


"Nah bener juga tuh, kalo gitu pesen esteh 1, kan ga pake jatah." Tukas Thika dan kembali ke tempatnya dan makan keripik bersama Flo dan menceritakan apa  yang dialami Gauri kemarin malam yang menyebabkan dia tidak bisa tidur.


"Nah kalo gitu tinggal percepat aja cerainya, jangan sampe si Aditya itu minta rujuk lagi." Saran Flo karena mereka berencana menyatukan Gauri dan Shanka lagi yang memang adalah pasangan serasi.


"Kita kan punya temen, kau lupa Raka pengacara hebat dan dia sudah buka tim khusus untuk wanita teraniaya secara gratis?"


Ya, Raka telah mengumpulkan para pengacara yang akan membantu para istri yang dianiaya suaminya secara gratis, sebab dia ingat bagaimana dulu Maira babak belur oleh mantan suaminya, saat itu Maira dalam kondisi cukup saja sulit untuk lepas apalagi para istri yang tidak mempunyai cukup dana untuk menyewa pengacara, maka dia buat tim khusus itu secara gratis.


Thika langsung sumringah, untung dia mengambil beberapa foto kondisini Gauri tadi malam dan cctv di rumah Shanka juga pasti merekamnya. Thika segera menghubungi Shanka untuk meminta copy cctv rumahnya yang menghadap ke arah depan rumah Gauri. Selesai semua mereka mengirimkan ke Raka untuk jaga-jaga dan memeriksa sampai mana gugatan perceraian itu berlangsung dan kalau bisa di percepat.


"Nah itu orangnya..." Ujar Flo saat Raka masuk kedalam tokonya sambil menggendong anaknya yang lucu. "Baru di sebut udah muncul aja." Ucap Flo pada Raka.


"Loh kenapa? Kangen sama aku?" Tanya Raka dengan nada becanda.


"Hai jagoan.. makin lucu aja sih..." Flo mengelus pipi gembul jagoan kecil itu yang masih mengantuk. Sedangkan si princess masih di gendongan Maira.


"Kami butuh bantuan.. nih lihat suaminya mukul istrinya." Flo memberikan hapenya yang tengah memutar video cctv saat Aditya menarik rambut Gauri dan menyeretnya keluar, hanya sebentar karena cctv hanya bisa menangkap kejadian itu, lalu beberapa foto keadaan Gauri, Raka sedikit mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"CK! Suami gila, wanita secantik ini masih juga di pukuli." Ucap Raka geram.


"Siapa wanita cantik?" Tanya Maira begitu masuk kedalam toko dan mendengar suaminya menyebut wanita cantik membuatnya penasaran.


"Ini sayang.. " Raka menunjukan foto itu, Maira membulatkan matanya kaget.


"Bantu dia.. kasian.."


"Iya pasti."


Raka memberikan putranya pada Maid agar dia bisa lebih fokus mendengarkan cerita tentang foto dan video itu lebih jelas lagi, padahal kedatangan mereka untuk memesan buket snack untuk ulang tahun anak temannya Maira.


Thika menceritakan dan memberikan foto surat gugatan cerai Gauri pada Raka, dia juga minta Raka untuk bantu mempercepat perceraian itu karena takut Aditya minta rujuk atau Mahi yang memaksa Gauri untuk membujuk suaminya. Raka tentu sangat semangat untuk membantu Gauri, apalagi mendengar Aditya juga selingkuh tetapi jika mereka ada bukti lebih tentang perselingkuhan itu maka lebih baik lagi.


"Gimana caranya yah cari bukti perselingkuhan itu..." Gumam Thika yang bahkan tidak kenal dengan wanita yang bersama dengan Aditya tempo hari.


"Tenang, ada kok alamatnya sepertinya nama restoran." Flo beranjak dari tempat duduknya dan mencari nota yang pernah dia tulis dan alamat disana.


"Nah ini, namanya Madhu dan ini nomornya, ini nama restorannya, Madhuri." Flo membaca nota tersebut di dekat meja mereka duduk tadi.


"Ah aku tau, Madhuri itu restoran makanan khas India dan sangat terkenal. Coba aja kalian kesana untuk makan siang sekalian cari tau." Saran Raka dan Thika yang akan pergi kesana mungkin sore saja bersama Mala.


"Iya aku gak bisa juga, nanti ada interview manajer cafe baru, sejak Fano gak disini Mala kewalahan kan.." Ucap Flo dan Thika mengerti. Jadi mereka sepakat, Raka akan cek dulu perkembangan gugatan cerai dan Thika akan mencari bukti perselingkuhan, jika ada maka dalam 1 minggu Raka akan pastikan mereka pasti cerai. Raka segera pamit setelah pembicaraan selesai dan Maira memesan buket pada Thika untuk besok pagi diantarkan ke tempat tujuan.


Jam 6 sore Thika pamit pada Flo dan membawa Mala ikut dengannya untuk ke restoran Madhuri, sampai disana dia melihat Aditya sedang bekerja.


"Jadi dia kerja disini.." Gumam Thika dan Mala juga memperhatikan. Setelah memesan makanan, ternyata benar Madhu datang kesana dan mengajak Aditya naik ke lantai 2, Thika melihat keadaan dan karena sedang ramai sore itu Thika mencuri kesempatan untuk naik ke lantai 2 setelah tidak ada yang memperhatikan.


Thika naik perlahan dan ternyata di lantai 2 adalah ruangan VIP restoran itu dan dia berjalan di lorong yang lumayan panjang melewati beberapa ruangan barulah dia melihat ada 1 ruangan dengan pintu kaca yang terlihat samar-samar kedalam ruangan itu, dengan hati-hati Thika mengintip pada celah kaca yang bening.


"Oh Tuhan..!!" Batin Thika dan dia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara, dia mengampil ponselnya dan merekam kejadian didalam sana selama 2 menit, itu cukup untuk bukti. Thika berjalan cepat segera meninggalkan tempat itu untuk kembali makan dilantai 1 setelah menyaksikan adegan menjijikkan, bahkan selera makannya pun sudah hilang.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2