Magical Flower

Magical Flower
BAB 84 - Flora dan Hutan Peri 2


__ADS_3

Flora masih merenung di dalam kamarnya di rumah pohon, karena dia sudah kembali ke hutan peri dia pun kembali ke tubuhnya yang semula, kecil dan bebas bergerak kemanapun.


Florian mengetuk rumah pohon mungil itu, "Flo.. ayo kita bicara." Ujar Florian dari luar.


Flo keluar dan terbang di depan wajah Florian dan melihat wajah tampan itu, berbeda sekali dengan ingatannya tentang anak lemah yang dulu menjadi temannya.


"Apa benar kau anak lemah itu? kok tidak mirip?" Tanya Flo yang kini terbang ke segala arah mengelilingi Florian.


"Kau yang tidak pernah berubah Flo masih seperti dulu. Ayo kita bicara di tempat lain dan tolong ubah dirimu seperti biasanya kalau tidak akan ku masukkan kau ke dalam kantong celanaku." Ujar Florian sedikit mengancam karena gemas melihat Flo yang tidak bisa diam.


"Baiklah.." Flo tampak malas namun mengikuti kemauan Florian untuk mencari tempat untuk mereka bicara.


Florian dan Flo duduk di atas sebuah pohon besar dan tinggi, bagi Flo tentu mudah untuk berada di sana tapi Florian juga tidak sulit karena beratus tahun dia tinggal di hutan dan tubuhnya sudah di tempa apalagi dia memliki kekuatan peri.


Mereka memandang jauh ke kegelapan, memang waktu sudah malam dan semakin mencekam saat mereka memandang ke arah lembah kegelapan. Hanya terlihat beberapa cahaya kecil hilir mudik menjaga 8 tanaman yang masih hidup disana.


"Kau mau mencobanya? Menjaga atau kau bisa menumbuhkan sesuatu di lahan itu." Tanya Florian sambil melihat wajah Flo yang berubah menjadi raut kesedihan.


"Aku takut.." Cicit Flo.


"Jangan takut, mungkin dengan kekuatanmu sekuntum bunga bisa tumbuh disana, 8 tanaman yang tersisa itu hanya rumput dan ilalang. Ayo besok pagi cobalah." Bujuk Florian dan Flo mengangguk.


"Jika berhasil, kita punya lebih banyak waktu untuk mencetak anak." Lanjut Florian lagi yang membuat wajah Flo bersemu merah.


"Anak.. aku saja tidak tau cara membuat anak." Ucap Flo tanpa sadar.


"Akan aku ajari Flo, jangan berpikir hal lainnya dulu yang penting kita harus selamatkan seluruh tempat ini dan kaum peri."

__ADS_1


"Baiklah.. aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku. Lagi pula menjadi manusia tidak buruk, nanti aku bisa menua bersama Imel dan teman-teman kita yang lainnya." Flo memantapkan dirinya, dia harus menyelesaikan semua ini.


Setelah mengobrol lama mereka akhirnya kembali ke tempat masing-masing. Sebelum itu, Florian menghadap ke Petunia untuk segera menyiapkan ritual pernikahan mereka.


.


.


.


Pagi harinya Flo di temani oleh Florian bersama menuju lembah kegelapan, disana Flo akan mencoba menumbuhkan bunga yang akan memperpanjang umur tempat ini.


Dengan sentuhan tangannya, Flo berhasil menumbuhkan beberapa jenis tanaman yang bisa hidup di tanah gersang dan cahaya minim seperti Sanseviera dan Agave. Lalu dia mencoba menumbuhkan bunga tetapi beberapa kali gagal.


Bunga yang tumbuh hanya bertahan beberapa menit layu dan mati. Beruntung 2 jenis tanaman tadi bertahan lama dan belum ada masalah, beberapa peri lainnya membantu Flo menghidupkan tanaman dengan jenis yang sama dan menjaganya.


"Semoga mereka bisa hidup lebih lama." Gumam Flo setelah meyelesaikan lumayan banyak tugasnya. Lalu mereka kembali untuk menemui Petunia yang masih sibuk mengurus ritual pernikahan peri dan manusia yang hanya terjadi ribuan tahun sekali.


\= = = = = = =


\= = = = = = =


"Thika.. aku titipin toko ya, nanti kalau ada apa-apa bisa hubungi aku atau Fano. Aku juga tidak bisa setiap hari datang." Pinta Imel pada Thika yang paling senior di Magical Flower.


"Beres, kita sama-sama jaga tempat ini sampai Flo kembali, jangan cemas ya Mel.. Lagian sudah ada 3 orang yang bisa bantu kok." Jawab Thika menerima tugas dari Imel.


Imel masih melihat ruangan yang sudah Fano buat, ruangan kecil di sudut ruang penyimpanan bunga untuk tempat Imel bekerja. Sedangkan di lantai 2 masih utuh semua barang Flo dan mereka tidak akan mengubah apapun.

__ADS_1


"Sayang.. masih sedih?" Tanya Fano pada Imel yang terus termenung sejak kepergian Flo.


"Iya.. selama ini Flo yang selalu menemaniku. Dia bukan teman ataupun sahabat, dia lebih dari itu." Jawab Imel, sebenarnya dia sangat cemas dengan keadaan Flo. Hukuman apa yang akan diterima peri baik itu?


"Jangan banyak berpikir dan sedih. Percayakan pada Flo dan disana juga ada Florian. Mereka akan baik-baik saja." Fano memeluk istrinya itu agar memberinya kekuatan juga membagi kesedihan yang dirasakan Imel.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Flo, tidak banyak ritual untuk pernikahan hanya saja kau harus siap tidak bisa kembali ke ukuran perimu lagi dan besok ritual terpenting akan dilaksanakan." Ujar Petunia pada Flo yang bersiap untuk istirahat malam itu.


"Iya ratu, tapi apakah ini akan berhasil? Bagaimana kalau sebelum anakku lahir Rosseta kembali?" Tanya Flo yang sangat khawatir saat ini.


"Semua akan baik-baik saja, jangan pikirkan hal lain. Kau lupa? Kalau kaum peri tidak menunggu lama untuk dewasa." Jawab Petunia dan Flo baru mengingatnya. Mungkin dia terlalu lama bersama manusia sehingga lupa akan kaumnya sendiri.


Peri tidak menunggu lama untuk dewasa, peri yang baru dilahirkan bahkan sudah memilih jalan hidupnya. Tidak ada bayi atau anak-anak, semua telah siap begitu dilahirkan.


"Tapi apakah sama? Florian itu manusia." Tanya Flora lagi.


"Hanya saja sedikit berbeda. Kita jalani bersama saja karena kami yang ada disini juga belum pernah melihatnya secara langsung dan Lilac, tubuh aslinya juga seukuran manusia normal dan dengan kekuatannya dia bisa seperti kita. Jadi anakmu kelak juga akan begitu."


"Ada lagi.. Flo, apakah kau siap menua seperti manusia?"


Flo terdiam, dia belum memikirkan sejauh itu karena yang ada dipikirannya saat ini adalah dengan cepat memulihkan dan menyelamatkan hutan peri dan lembah kegelapan.


"Aku belum tau.. mungkin iya, yang aku pikirkan saat ini hanya cepat mengembalikan semuanya. Rasa bersalahku begitu besar jadi tidak memikirkan hal lain lagi. Semoga aku bisa mengembalikan semuanya." jawab Flo dengan rasa bersalah yang luar biasa di hatinya. Penyesalan, yah dia sangat menyesal.


"Ini adalah takdir, percaya kita akan berhasil. Florian bisa melihatnya di masa depan tapi, tidak dengan prosesnya dan itulah tugas kita." Ucap Petunia dan Flo mengangguk.

__ADS_1


Setelah Petunia pergi, Flo masih duduk termenung. "Apakah aku akan menjadi tua? Tidak buruk juga bisa menua bersama orang yang kita sayangi, Imel dan Fano.. mereka akan tua juga. Thika dan Mala juga akan menjadi tua. Kalau aku juga


TBC~


__ADS_2