
"Huh... beberapa hari ini kenapa sepi sekali ya?" Keluh Thika yang masih bosan hanya duduk termenung karena tidak ada pesanan buket snack dan sejenisnya, hanya ada pesanan buket bunga segar yang setiap hari pasti ada. Selain langgaan juga sudah musim ziarah bagi orang Tionghua sehingga banyak yang membeli bunga tanpa di rangkai. Bunga di Magical Flower cukup terjangkau jika itu bunga tertentu seperti Aster, Krisan, Anyelir, Lotus dan beberapa jenis lainnya yang biasa digunakan untuk sembahyang.
"Siang mba.. saya mau beli bunga krisan putih apakah ada?" Tanya seorang wanita cantik begitu masuk.
"Iya ada mba, mari masuk saja.." Jawab Flo yang melihat wanita itu masih berdiri di dekat pintu, wanita itu melangkah mendekati meja Flo dan melihat disampingnya telah tersusun rapi beberapa jenis bunga Krisan berbagai warna.
"Wah ada banyak warna, aku mau krisan putih yang itu 4 tangkai, yang kuning 1 dan merah 1 ya." Pesan si cantik dan Flo mengambilkan dan tidak dipilih lagi karena bunga milik Flo selalu bagus segar dan cantik seperti dirinya.
"Ini mba, ada tambahan?" Tanya Flo.
"Em.. ada dedaunannya ada kah? Untuk penghias aja di vas bunga nanti." Tanya wanita itu dan Flo mengambil beberapa batang dedaunan hias untuknya.
"Ini mau dibungkus kertas saja kah mba?" Tanya Flo lagi karena dia yakin ini untuk ziarah karena wajah wanita itu sangat mirip artis korea terkenal yang dia tau, wajah oriental manis dan cantik menggoda tetapi ada raut sendu yang tidak bisa dia tutupi.
"Iya, berapa ya?" Tanyanya dan Flo menghitung jumlah tangkai bunganya.
"setangkai 6ribu jadi total 26ribu mba." Jawab Flo dan terlihat wanita itu sedikit kaget.
"Wah murah ya .. saya kira sudah 60 ribuan loh seperti di toko lain." Ucapnya dibalas tawa oleh Flo.
"Iya kalau tidak dirangkai memang murah mba, karena kan hanya jual bunga dan cuma ambil untung sedikit saja." Jawab FLo lagi dan wanita itu jadi tersenyum lalu mengangguk pelan. Setelah pamit wanita itu jalan keluar dan menaiki motornya.
"Cantik banget ya Flo cici itu tadi." Ujar Thika yang memperhatikan pelanggan tadi.
"Iya, mirip artis artis korea siapa ya namanya.. padahal aku baru nonton filnya bulan lalu yang jadi pelakor." Flo mengingat-ingat tetapi masih lupa.
"Han Sohee?" Ujar Thika dengan nada bertanya karena wajahnya memng terlihat seperti itu.
"Nah iya.. mirip kan. Wajah manis dan cantik tapi seksi menggoda loh.. pasti banyak pria kepincut tuh." Sambung Flo lagi, ya begini lah kalau mereka lagi senggang pasti bergosip, biasa perempuan. Sementara hari ini juga hari pertama Imel magang jadi dia sudah pasti kesepian apalagi Fano juga izin cuti seminggu.
Siang itu, seorang wanita cantik membawa 2 vas bunga krisan. Pot yang satu penuh krisan putih dan 1 lagi krisan putih kuning dan merah kesukaan ibunya.
"Mami, papi, Calla datang hari ini.. " Wanita yang benama Calla itu melakukan ritual sembayangnya seperti tahun-tahun lalu dan hanya bisa dia lakukan setahun sekali saat bulan ziarah bagi masyarakat Tionghua yang dinamakan Chengbeng. Hanya 1 jam dia berada disana karena harus bergantian dengan pengunjung lain, ditempat perabuan itu yang penuh sesak dengan orang yang akan ziarah juga. Setelah itu dia kembali ke apartemennya di pusat kota.
Calla memilih tinggal di apartemen karena sudah muak dengan hinaan orang-orang padanya, "Janda kembang, janda sial, wanita pembawa sial, dan sebagainya." Itulah julukan orang untuknya sehingga dia memlilih meninggalkan rumah mungilnya di daerah pinggiran kota dan menyewa apartemen kecil ini untuk dirinya sendiri.
Sementara 2 kakak lelakinya sudah menikah dan pindah ke luar kota karena malu mempunyai adik janda 2 kali dan takut ketiban sial juga. Dia masih punya tante dan 2 adik sepupu wanita dengan usia yang hampir sama dan selalu membencinya tanpa sebab sehingga Calla malas untuk berurusan dengan mereka.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
***2 hari yang lalu***
"Calla, nanti tolong siapkan kopi ini dan harus seperti ini ya cara seduhnya." Perintah manajer umum yang adalah atasannya pagi itu, karena akan ada rekan bisnis baru di perusahaan tempatnya bekerja. Calla yang sadar akan kecantikannya yang membuat para wanita iri dan para pria mendekat selalu berdandan culun dan kuno sehingga tak banyak diperhatikan.
Dengan kacamata tebal berbingkai kotak besar, rambut di cepaol keatas, kemeja putih dan blazer kedodoran, celana panjang bahan dan flat shoes sehingga dirinya sangat tidak ingin dipanjang oleh pria bahkan wanita sering mengejeknya, padahal sekarang sudah banyak pakaian office look yang modis dan sexy.
"Ini kenapa harus di seduh begini sih..." Keluh Calla saat membaca note dari manajer-nya. "Bodo ah, aku seduh kaya biasa papi minum saja." Call amenyeduhkan dengan takaran yang diajarkan papinya dulu dan semua teman papi sangat menyukainya padahal waktu itu dia masih kecil.
Jam 9 pas, Calla sudah ada di dalam ruang direktur dengan seorang pria blasteran bule tampan didalam sana sedang membicarakan kerjasama. Calla dengan hati-hati meletakkan kopi pesanan si tamu di meja dan teh melati kesukaan bosnya juga disana, lalu dia perlahan undur diri.
Si bule tampan itu mencium aroma kopi hitamnya sangat menggoda penciumannya dan menyeruput sedikit. "Wah, ini sangat enak." Pujinya membuat dirut di depannya tersenyum bangga.
"Siapa yang buat ini? Aromanya menggodaku dan rasanya pas." Sambungnya lagi.
"Hahaha kau bisa kesini sering-sering Alister untuk mencicipi kopi itu." Ucap si dirut senang dengan temannya itu yang akhirnya menemukan kopi sesuai seleranya.
"Yah Edo, aku akan kesini besok sambil minum kopi dan kita bicara perihal kerjasama ini."
"Besok sudah masuk Tuan, karena dia izin ziarah ke makam orang tuanya." Jawab si manajer dengan sopan.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Calla sudah masuk kerja lagi dan dia sedang membereskan barang yang berserakan di mejanya akibat dia tidak masuk dan pegawai lainnya pasti mencari ATK (Alat tulis kantor) dengan sembarangan.
"Calla, buatkan kopi lagi tapi nanti siang jam 11 pas ke ruang meeting 2 ." Perintah menajer umum seperti biasa dengan ketus dan tidak bersahabat, wanita umur 45 tahun itu memang ketus kepada siapapun kecuali sanag Dirut.
"Baik Bu Mina." Jawab Calla dengan sopan. Setelah Mina kembali ke tempatnya Calla mulai lagi dengan kerjaannya menghitung stock ATK dan dapur dengan teliti lalu membaca email yang masuk, menyiapkan pesanan setiap pegawai yang ingin barang kebutuhannya diantar saja. Dia sudah menyiapkan troli dan menaruh barang dengan note sesuai permintaan, nama dan divisi terkait lalu mulai jalan mendorong troli dan sesekali melihat jam nya sambil mengantarkan seluruh pesanan.
"Sudah jam 10:45 waktunya buat kopi." Ucapnya pelan tanpa sadar di dalam lift itu ada Alister yang sedang memandang kebawah pas di puncak kepala Calla dengan rambutnya yang tercepol keatas. Aroma wangi segar dari rambut Calla menarik perhatian Alister, tapi dia tidak bisa melihat wajah wanita itu. Setelah lift terbuka Calla dengan cepat mendorong trolinya dan berlari kecil menuju pantry untuk membuat kopi.
Calla masuk perlahan dan disana sudah banyak karyawan yang ikut meeting dan duduk berjejer hampir berhimpitan membuat Calla sulit untuk meletakkan kopinya di depan meja bule tampan yang kemarin.
Alister yang mencium aroma kopi langsung menoleh dan wajahnya pas ada di tengkuk Calla dari samping, menghirup lagi aroma wangi segar yang tadi dia cium di lift. Alister memandang wajah Calla dari samping dengan dekat.
"Cantik." Ucapnya dalam hati, jantungnya berdetak kendang dan rasanya ingin memeluk wanita itu. Setelah Calla meletakkan kopinya dia tersenyum sebentar dan menunduk lalu pergi dari sana karena bukan wilayah kerjanya.
__ADS_1
"Bapak Panggil saya?" Tanya Calla dengan sopan dan menunduk menghadap Edo direktur utama perusahaan ini dan didepan Edo sudah duduk Alister dengan masih memandang Calla sejak dia masuk tadi.
"Oh iya.. ini dia yang bikin kopimu itu." Jawab Edo dan langsung mengarah ke Alister.
"Namamu?" Tanya Alister singkat.
"Saya Calla Tuan." Jawab Calla seadanya dengan sopan.
"Kamu mau kerja denganku? Aku suka kopi buatanmu." Tanya Alister tanpa basa-basi.
"Hei, jangan nikung karyawanku Al.. " Protes Edo membuat Alister tersenyum tipis. Sedangkan Calla hanya diam melihat kedua orang itu sedang adu argumen, Alister sejak tadi ingin Calla pindah tapi Edo tidak ingizinkan.
"Gak bisa Al, Calla ini kerjanya bagus mana mungkin aku berikan padamu. Sudah aku katakan kalau bosan kesini kapanpun kalau mau minum kopi." Ucap Edo dan Alister tampak kesal.
"Kau pelit sekali.. aku akan carikan gantinya kalau gitu." Ujar Alister membuat Calla makin bingung dan permisi pada mereka untuk melanjutkan pekerjaanya.
Alister yang kesal pada Edo ahirnya memutuskan pergi kembali ke kantornya, saat masuk ke dalam lift dia melihat Calla yang sedang membaca dan memeriksa trolinya.
"Calla.." Panggilnya dan Call langsung menaikkan kepalanya menatap Alister yang ternyata sangat tinggi itu.
"Iya Tuan.. ada apa?" Sahutnya dan langsung menundukkan kepalanya lagi, dia baru sadar ternyata Alister sangat tampan membuatnya deg-degan.
"Kenapa kau sembunyikan kecantikanmu dengan ini dan ini?" Tanya Alister sambil menarik ujung baju bagian bahu dan menarik kacamata Calla membuatnya terkejut dan segera mengambil kembali kacamatanya.
"Maaf Tuan mohon jangan lakukan itu lagi." Ucapnya pelan membuat Alister makin penasaran dengan wanita di depannya.
"Apa kau sudah menikah?" Tanyanya lagi membuat Calla merasa tidak nyaman.
"Saya rasa anda tidak berhak menanyakan itu Tuan." Jawab Calla sedikit ketus.
"Ehm.. aku punya hak jika ingin mengejarmu bukan? Jadilah kekasihku kalau kau belum punya pasangan Calla." Pinta Alister membuat Calla semakin tidak nyaman dan setelah lift terbuka dia langsung mendorong trolinya dan keluar dengan cepat.
"Dasar bule gila!" Umpatnya begitu sampai ke meja kerjanya lagi.
Sementara Alister segera memberikan perintah pada asistennya untuk mencari tau tentang Calla yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
TBC~
__ADS_1