
"Juniper? Kau Juniper kan?"
"Iya.. anda..." Juni terdiam, dia melihat seseorang yang sangat tidak ingin dia temui.
"Ada apa Fano?" Tanya Imel begitu Fano memanggil seorang gadis hamil yang duduk di tempat Mala.
"Dia Juniper, sekretarisnya Zidan, temanku Zidan Adhitama." Ujar Fano sedikit panik.
"Kenapa sih Fan.. kamu terlihat panik setelah liat Juni, memangnya kenapa?" Tanya Flo sambil mengambil baby baby J yang masih 3 bulan itu dan menciumnya dengan gemas.
"Tunggu, kau.. hamil? Anak siapa? Dan kenapa kau tiba-tiba resign?" Tanya Fano bertubi-tubi dan Imel yang heran mengelus pelan lengan Fano.
"Sabar Fano, tanyanya satu satu dong.. dia jadi bingung tuh.." Ujar Imel dan Fano makin tidak sabar tapi Juni malah berbalik dan masuk ke dalam ruang istirahat di dalam cafe, dia tidak mau berbicara apapun dengan Fano.
"Bentar deh.. aku juga penasaran sih tapi jangan di paksa kalau Juni ga mau bicara, takutnya nanti dia stress dan kandungannya malah bermasalah. Sabar aja nanti aku tanya pelan-pelan." Ujar Flo dan dia mengembalikan baby J ke Imel karena ingin berbicara serius dengan Fano. Mereka masuk ke dalam ruang penyimpanan bunga, meskipun lebih dingin tapi Imel suka berada disana seperti dulu, baby J sepertinya senang karena sejak tadi tertawa terus.
"Nah coba ceritain Juni siapa dan kenapa?" Tanya Flo dan Fano mulai ceritakan yang dia tau tentang Juni.
"Aku beberapa kali ketemu dengannya di kantor Zidan temanku dan sering mendengar namanya dari Zidan yang mencintainya lalu tiba-tiba Juni menghilang dengan surat resign di meja Zidan, mungkin dia marah karena Zidan malam itu kedapatan tidur dengan wanita lain di kamar hotel, tapi dia sendiri gak tau siapa wanita itu dan pagi itu dia hanya menemukan bercak darah di kasur dan tak lama Juni masuk ke kamar dengan wajah pucat dan terlihat sedih. Mereka memang belum pacaran tapi Zidan sudah mengatakan padanya kalau dia mencintai Juni. Sejak Juni pergi Zidan jadi berubah, dia tidak bisa mencari Juni juga karena kesibukannya. Perusahaannya sedang kacau dan saat ini masih di Singapura." Jelas Fano, Flo yang mendengarnya makin bingung dan berpikir sejak tadi.
"Apa jangan-jangan wanita itu Juni? Bulan berapa kejadiannya? Sekarang Juni hamil 5 bulan."
"Mungkin 6 atau 7 bulan yang lalu."
"Nah bisa jadi itu Juni, kita tinggal pertemukan mereka aja..'
"Gak bisa juga, Zidan udah tunangan kemarin dan mungkin 6 bulan lagi mereka akan nikah."
"Tapi Juni lebih membutuhkan Zidan, kita gak bisa biarkan dia melahirkan tanpa ada ayah dari anaknya kan? Harusnya Zidan tanggungjawab dengan apa yang dia lakukan." Timpal Imel.
Fano dan Flo masih berpikir tapi Juni langsung masuk dan membuat mereka terkejut, "Tolong jangan katakan apapun paa Zidan, aku mohon."
Juni mulai menangis sambil memegang perutnya, dia merasakan pergerakan didalam mungkin anaknya juga gelisah, gerakannya begitu intens sampai Juni merasa cemas dengan kandungannya.
"Tapi kenapa Juni? Dia harus tanggungjawab." Tany Fano, dia menggeser 1 kursi lagi untuk Juni dan menuntunnya duduk di kursi itu.
"Sebentar, aku segera kembali." Flo keluar dia mengambil Lilem dan meletakkannya di daerah meja penyimpanan bunga berukuran kecil.
"Untuk apa itu?" Tanya Fano dan Flo meliriknya kesal, "Ah..lupakan. Lanjut jadi kenapa Jun?"
__ADS_1
Aroma Lilem tercium samar oleh mereka dan menjadi tenang, Juni mulai bercerita apa yang terjadi waktu itu sampai dia hamil.
\=7 bulan lalu=
Juni melangkah santai dan anggun dari lobi menuju lift khusus yang selalu di pakai para eksekutif di perusahaan itu, dia mempunyai akses juga karena atasannya Zidan selalu ingin dia cepat menyelesaikan pekerjaan dan tidak berlama-lama menunggu ramainya lift umum. Tentu Juni senang dengan hal khusus sederhana, karena menunggu lift itu sangat membosankan apalagi berdesakan disana.
"Jun, sudah diserahkan laporan tadi kan?" tanya Zidan yang menghampiri Juni di meja kerjanya di luar ruangan direktur.
"Sudah Pak dan mereka akan memeriksanya dengan teliti, mungkin 2 hari." Jawab Juni sopan, meskipun mereka dekat tapi Juni tidak mau mencampurkan pekerjaan dengan urusan pribadi tapi tidak dengan Zidan, dia selalu mencari kesempatan untuk terus mendekati Juni.
"Jun.. bisakah kau menerima perasaanku? Aku sangat mencintaimu Juniper." Ucap Zidan lagi sambil menyentuh wajah Juni sehingga gadis itu mengelak dan menjauhkan wajahnya dari tangan Zidan.
"Maaf pak, saya tidak bisa dan masih banyak pekerjaan." Tolak Juni lalu kembali fokus pada laptp di mejanya sedangkan Zidan terus disana, dia memilih duduk di depan Juni sambil terus memandang gadis itu yang sedang fokus bekerja.
"Besok ikut aku ke pesta jamuan makan malam, pakailah gaun yang cocok ya.. kita sekalian bicarakan bisnis juga disana." Ajak Zidan dan dia masih betah berlama-lama memandangi wajah Juni.
"Baik Pak." Jawab Juni singkat, gadis ini sangat sulit di runtuhkan, hatinya sedingin es dan sifatnya teguh menurut Zidan. Tapi sebenarnya Juni gadis polos dan apa adanya, dia hanya tidak ingin terlalu dekat dengan Zidan dan dia telah menciptakan dinding pertahanan agar Zidak jatuh semakin dalam pada pria tampan itu.
"Hey.. kalian bolos kerja dan malah ngobrol!" Tegur seorang gadis yang baru keluar dari lift diujung ruangan. Zidan langsung mendengus kasar melihat gadis itu dan memilih kembali masuk ke ruangannya sendiri.
"Gak kok Aretha, kami tadi bicarakan pekerjaan karena Pak Zidan baru ingat makanya dia keluar." Elak Juni agar sahabatnya ini tidak perpikir mcam-macam.
"Are! Udah de.. " Sebal Juni membentak pelan ke Aretha.
"EH, aku sengaja kesini mau ajak kamu belanja, besok ada acara makan malam seluruh pebisnis di kota ini dan aku mau tampil cantik agar Zidan mau melirikku, hehe bantuin yah.."
"Bole.. aku juga mau cari gaun ah, tadi Pak Zidan ajak aku dan kau tau sendiri aku ga punya baju bagus untuk acara kaya gitu.
"Sip.. gampang deh, jadi jam berapa kau pulang hari ini?"
"Setengah jam lagi, aku selesaikan ini dulu dan kau duduk tenang dan jangan ganggu biar bisa pulang ontime."
"Siap bos!!"
Aretha benar duduk diam dan tenang, Juni dengan cepat selesaikan beberapa laporan dan menyusun kembali jadwal Zidan besok dari pagi sampai siang saja karena sorenya Zidan akan pulang cepat untuk menghadiri acara itu. Sedangkan Zidan yang kesal karena kesenangannya di ganggu Aretha memilih pulang duluan, dia berjalan sambil pamit pada Juni dan sambil lalu masuk kedalam lift.
"Gila.. dingin banget tuh bos mu, gimana caraku dekat dengannya?" Ujar Aretha dan Juni tertawa mendengarnya.
"Dia gak sedingin itu kalo kamu mau tau Are." Batin Juni yang selalu mendapatkan perhatian Zidan selama hampir 2 tahun ini bekerja dengannya. Sementara Aretha yang sudah sejak kecil tau dan berada di sekeliling Zidan sama sekali tidak dilirik sedikitpun olehnya, padahal mereka sering bertemu dalam acara bisnis karena Aretha sering dibawa oleh ayahnya yang seorang ayah tunggal setelah istrinya meninggal saat melahirnya adik lelaki Aretha.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Acara makan malam,
Juni datang bersama Zidan, Juni sudah sejak tadi kesal dengan Zidan yang terus merayunya bahkan telah mencuri ciuman pertama nya di dalam mobil. "Maaf aku gak tahan lagi, kamu sangat cantik Jun." Sekali lagi Zidan menciumnya, kini ciuman itu semakin dalam dan perlahan berpindah ke leher jenjang Juni.
"Stop Zidan!" Bentak Juni kesal, dia hampir terlena lagi tapi Juni harus dasar posisinya dan tidak boleh terlarut dalam perasaannya.
Zidan tersenyum puas, akhirnya Juni memanggil namanya juga tanpa embel-embel Pak di depannya, "Akhirnya kau pangil namaku juga Jun, sudah lama aku tidak mendengarnya." Zidan mengelus bibir Juni yang belepotan karena ulahnya.
Sejak Zidan mengutarakan perasaanya Juni semakin menjauh darinya padahal mereka sudah sangat dekat sampai memunculkan gosip kalau Direktur dan Sekretarisnya ada suatu hubungan, tapi Juni memilih untuk menghindar dan hanya fokus bekerja.
"Kenapa kau keras kepala sekali sih.. nanti aku akan berbuat nekad kalau kau terus menolakku Jun." Ancam Zidan.
"Nekad? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Juni sambil melirik kesal padanya.
"Aku akan membuatmu hamil Juni sayang.." Bisik Zidan pas ditelinga Juni dan dia menggigit pelan telinga itu membuat darah Juni mendesir dan jantungnya memompa cepat.
"Jangan macam-macam." Juni mendorong Zidan dan langsung membuka pintu mobil dan keluar, Zidan mengikuti tapi dia terkekeh geli melihat Juni yang terlihat gugup. Mereka berjalan santai bersama dari parkiran menuju aula gedung acara makan malam itu.
Disana sudah ada Aretha yang duduk bersama ayahnya, "Nak, kau akan mendapatkan Zidan malam ini, ayah akan membuatnya mabuk dan kau lakukan saja apapun untuk membuatnya jadi milikmu." Ujar sang ayah dengan berbisik pelan.
"Gak mau yah, aku ga mau bermain curang seperti itu." Jawab Aretha kesal.
"Jangan bodoh nak, ini kesempatanmu jika berhasil kau dapatkan Zidan loh." Aretha tetap tidak mau.
Ayah Aretha benar-benar membuat Zidan mabuk dan telah memesan sebuah kamar diatas dan memberikan kartu kamar ke Aretha, tapi Aretha malah memberikannya ke Juni untuk membantunya membawa Zidan ke atas.
"Ini Jun, ayahku juga mabuk jadi tolong ya antar Zidan ke kamarnya." Juni mengangguk dan dia membopong Zidan untuk ke kamar yang telah disiapkan ayahnya Aretha.
"Zidan, aku pergi kamu istirahat saja disini." Ujar Juni tapi tangannya malah ditarik oleh Zidan yang terbagun dari mabuknya, tentu tetap dalam keadaan mabuk berat. Zidan menarik dan menghempaskan Juni diatas tempat tidur dan menindihnya, Juni terus meronta dan minta dilepaskan tapi kekuatannya tak sebanding dengan Zidan, akhirnya Juni pasrah sambil menangis menerima perlakuan Zidan yang tidak sadar telah merenggut kesuciannya.
"Juni.. kau milikku Jun.. aaahh Juni aku mencintaimu." Geram Zidan sambil melepaskan jutaan benihnya setelah mencapai puncaknya.
Sakit sangat sakit meskipun namanya yang disebut tapi dia tidak mau ini terjadi apalagi diambil secara paksa, Zidan juga dalam keadaan mabuk. Juni terus menangis dan terisak... sampai paginya dia pura-pura tidak terjadi apa-apa tapi kemarahannya tidak dapat dia sembunyikan, melihat Zidan yang lupa apa yang dilakukannya dan lupa juga siapa gadis yang bersamanya.
.
.
__ADS_1
TBC~