
"Kau sudah sembuh? Ahh tidak mungkin hahahahah aku sudah mengutukmu kakak-ku.." Ucap Rosseta masih dengan tawa menggelegarnya. Sedangkan Lilac hanya tersenyum lembut, dia sebenarnya sangat sayang pada adiknya itu. Mereka lahir dari cahaya yang sama.
"Hai adik.. apakah sudah terlambat untukmu kembali?" Tanya Lilac yang sebenarnya sudah tau jawabannya, tapi Rosseta masih tersenyum sinis dan malah menghunuskan pedangnya yang dia ciptakan dari gelap dan bertarung di udara.
Lilac melihat ke bawah, banyak manusia yang telah jadi korban bahkan keluarga kerajaan telah musnah.
"Maaf aku terlambat." Gumam Lilac pelan lalu dengan kekuatan terakhirnya dia mengumpulkan seluruh kekuatan peri dari hutan peri dan menciptakan sebuah pedang cahaya yang sangat besar. Sementara hutan terlihat sangat gelap, bahkan cahaya peri pun menghilang. Mereka menyatu dalam pedang cahaya milik Lilac lalu pedang itu menghunus tepat pada jantung Rosseta dengan cepat.
"AAAAHHHHHH... SIALAAAN!! SAKIT INI SAKIT AKU KUTUK KALIAN AKU KUTUK!! Teriak Rosseta dengan amarahnya yang memuncak tapi akhirnya dia musnah.
Lilac tau, kalau hanya raga Rosseta yang hilang, kutukan tetap ada dan tidak pernah akan hilang sampai waktunya tiba di masa depan. Dengan kesedihan, dia membinasakan adiknya sendiri, air mata Lilac jatuh dan setetes air mata itu mengenai seseorang dibawahnya yang masih hidup.
Florian, dia yang telah terkena beberapa tusukan pedang kegelapan masih bernafas meskipun hidupnya di ujung tanduk.
Lilac mengambil kembali pedang cahayanya, seketika cahaya gelap dan terang itu menyatu dan menjadi lebih terang lagi kemudian menyebar ke segala penjuru hutan peri untuk kembali pada peri yang sedang lemah tak mempunyai kekuatan. Cahaya itu masuk kembali dan membuat para peri kembali dan terlihat semakin bersinar.
"ASTAGA!!" Pekik Lilac saat melihat kebawah, terdengar teriakan kesakitan dari Florian yang mendapatkan juga cahaya itu.
Dengan tubuh sudah lemas, Lilac menghampiri Florian yang masih mengerang kesakitan lalu membawanya ke hutan peri.
"Florian masih hidup?" Tanya Petunia pada Lilac dan dia mengangguk dengan cemas.
"Panggil River kemari." Perintah Lilac dengan panik dan segera Bud bergerak cepat ke daerah sungai di hutan peri dan memanggil River yang memang suka berada di gua tempat tinggalnya untuk menjaga mata air murni disana.
"River! Dimana kau?" Teriak Bud dan dengan cepat River muncul dari aliran sungai di dalam gua.
"Ada apa Bud, kau ini. Tugasku banyak untuk menjaga tempat itu!" Tukas River yang memang tidak ada ramah-ramahnya dan sepertinya dia juga tidak tau keadaan diluar yang sudah kacau.
"Cepat, Lilac memanggilmu." Mendengar nama Lilac, River langsung bergegas tetapi dia memang lebih suka air sehingga aliran sungai mempercepatnya ke tempat Lilac berada.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa kacau semua?" Tanya River begitu melihat keadaan di luar.
"Makanya jangan di gua terus, ayolah terbang saja biar cepat." Jawab Bud dan mau tak mau River mengikutinya terbang.
"River, dia.. dia.." Lilac sangat susah untuk berbicara karena sangat lemah. Hampir seluruh kekuatannya telah di pergunakan.
"Jangan bicara, biar aku cari tau sendiri." Sergah River yang melihat betapa lelahnya Lilac.
River lalu menggunakan airnya untuk membalut seluruh tubuh Florian dan menyelami kejadian yang dialami dan dilihat oleh pria tampan itu. Akhirnya River mengerti dan menghela nafasnya karena ini sangat sulit.
"Tubuhnya ada kekuatan peri dan juga kekuatan gelap dari Rosseta. Kalian coba cari di lokasi tadi apakah ada manusia yang sepertinya. Manusa yang masih hidup jika mendapatkan kekuatan peri maka dia akan jadi seperti kita, tapi karena cahaya itu juga ada kekuatan dari kegelapan maka tubuh manusianya tidak bisa memurnikan kegelapan itu, apalagi hatinya sedang marah dan dendam yang berkobar dalam hatinya akan sangat berbahaya." Jelas River dengan pengetahuannya yang sangat banyak.
River adalah peri air yang hidup paling lama, pria tua itu bahkan kenal dengan 3 pendahulu ratu peri dan 1 pendahulu peri hutan. Umurnya sudah tidak bisa di hitung.
"Kita bisa membantunya agar menghilangkan dendam, bukan menghilangkan tapi agar dia hidup lebih baik dengan kekuatan yang dia punya, manusia bisa serakah dan menjadi jahat." Lanjut River lagi kemudian salah satu peri menghadap dengan panik dan ketakutan.
"Ratu, disana masih ada 1 yang seperti Rosseta.. tapi tapi.. dia.." Peri itu tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Dengarkan.. ini tidak akan berakhir. Petunia, kau harus pastikan peri itu siap melahirkan penerusku dan manusia ini lah yang terpilih." Ucap Lilac lalu dia menyentuh kening Florian dengan sebuah cahaya putih yang masuk ke kepalanya Florian menjadikan dia tenang dan tertidur.
"Aku serahkan dia padamu River, mungkin ini terakhir kalinya aku bertemu dengan kalian. Jagalah titipanku." Ucap Lilac lalu dengan sisa kekuatannya dia terbang dan kembali ke hutan tempat adanya manusia yang sama seperti Florian.
"Hahahaha kau datang lagi kakak... Kau tidak akan bisa membunuhku dengan kekuatan kecilmu itu. Aku pastikan akan kembali setelah semua tempat ini tidak bisa ditumbuhi apapun lagi untuk membalaskan dendamku. Hutan peri itu pun akan musnah." Ucap pria itu, Rosseta lah yang ada di dalamnya, jiwa pria itu telah hilang digantikan dengan Rosseta.
Petunia yang mengikuti Lilac mendengar semuanya dan merasa cemas.
"Jangan terlalu cemas Petunia, kau adalah ratu yang baik dan bijaksana. Ingatlah.. ini akan menjadi lembah kegelapan tetapi jaga lembah ini agar tanaman apapun itu tetap tumbuh." Ujar Lilac seraya mengulas senyum sambil memandang ke arah Petunia yang sedang bersedih. Dia tau ini pertemuan terakhirnya dengan Lilac.
Lilac merentangkan tangannya dan cahaya hijau menyilaukan keluar dari tubuhnya, tanah bergerak 2 kerajaan itu tenggelam dan berganti menjadi lembah yang luas dan berwarna hijau seperti padang rumput, hutan peri masih diatas sehingga hutan itu di kelilingi lembah hijau yang luas. Kemudian Lilac juga menghilang bersamaan dengan cahaya itu.
__ADS_1
Petunia masih di tempatnya melihat betapa kuat dan hebat seorang Lilac menjaga tugas dan tanggung jawabnya hingga akhir.
"Lilac tidak pergi, dia hanya kembali menjadi dirinya yang masih menjaga kita dengan baik." Gumam Petunia lalu dia tersenyum karena Lilac tetap berada di sekeliling mereka, kembali menjadi tanaman yang akan selalu melindungi bumi ini.
"Aku harus bergegas karena kegelapan masih ada, tidak ada cahaya matahari di sekeliling hutan peri." ucap petunia lalu dia kembali ke hutan peri tempat dimana Florian dirawat.
"Bud, panggil semua peri yang ada dan masih banyak tugas yang harus kita lakukan kedepannya." Perintah Petunia lalu dalam waktu setegah jam seluruh peri hadir dan berkumpul di padang rumput luas yang ada di hutan.
"Semuanya.. kita masih berjuang menjaga hutan dan wilayah lembah kegelapan. Bud, siapkan beberapa kelompok untuk memantau daerah lembah kegelapan, jika ada tanaman yang mati segera menumbuhkan lagi dan lagi sampai seterusnya. Pastikan lembah kegelapan tetap di tumbuhi tanaman sampai akhirnya tiba menunggu penerus Lilac yang selanjutnya."
"Baik Ratu Peri Petunia." Ucap seluruh peri serentak dan Bud langsung menjalankan tugasnya dengan baik, memantau lembah kegelapan dan memastikan tempat itu tetap menghijau.
\= = = = = = = = =
"Bagaimana dengan Flora?" Tanya Bud akhirnya, karena mereka sempat melupakan Flo yang masih di ruang tahanannya.
"Kita bicarakan nanti." Jawab Petunia.
"River, bagaimana dia?" Tanya Petunia saat berada di ruangan Florian.
"Dia masih mempunyai dendam yang besar, seluruh keluarga kerajaan mati di depannya itu membuatnya jatuh terpuruk." Ucap River yang juga sedih, karena dia merasakan apa yang dirasakan Florian saat ini karena airnya masih berada di dalam Florian untuk menyembuhkannya.
"Kekuatan apa yang ada pada dirinya?" Tanya Petunia lagi yang merasa penasaran.
"Kekuatan Lilac, peri, dan kegelapan yang di pelajari Rosseta. Semua ada padanya tetapi dia tidak bisa menggunakannya seperti kita, karena tubuh manusianya memang tidak tercipta untuk seperti kita. Hanya mungkin seperti... punya indra ke enam atau ketujuh? Seperti kaum manusia di luar pulau ini menyebutnya." Jelas River lagi yang mempunyai pengetahuan luas luar biasa karena dia bisa pergi kemanapun dan melihat, mendengar apapun tanpa mendatanginya. Seluruh air adalah dirinya.
"Aku paham.. jadi apakah dia bisa sembuh?" Tanya Petunia lagi.
"Tidak tau, aku akan membawanya ke gua dan tinggal di hutan sana saja. Sambil mengajarinya mengontrol emosi dan perasaan agar lebih tenang." Ucap River dan Petunia setuju dengannya.
__ADS_1
TBC~