
Hari-hari Celine masih sama, menemani Mario kemanapun dan membantunya bekerja. Celine yang memang cerdas itu dengan cepat menguasai seluruh pekerjaan Mario yang kini telah dipercaya untuk menghandle beberapa rapat penting dan tender. Seperti pagi ini di jam 9 pagi dia sudah bersiap menunggu pihak hotel yang akan bekerja sama dengan mereka untuk membangun sebuah resort di tepi pantai di kaki bukit suatu wilayah di ujung timur pulau ini.
"Selamat pagi bapak Florian." Sapa Celine dengan senyum hangatnya pada Florian yang baru sampai di ruang meeting pagi itu.
"Selamat pagi dan senang bertemu denganmu lagi,.. bocah." Bisik Florian di akhir kalimatnya. Celine hanya tersenyum dan mereka pun memulai meeting penting pagi itu dengan sangat baik.
"Lain kali aku traktir ya.. restoranku sudah menunggumu." Ucap Florian setelah mereka bersantai sehabis meeting.
"Boleee... tapi serius, om kenapa tidak tambah tua ya? Ck! Aku juga mau kalau gitu, dulu om bilang.. om itu sejenis peri?" Tanya Celine dan Florian hanya terkekeh.
"Dan.. om juga punya ilmu menyembuhan luka kan, aku masih ingat dulu." Lanjut Celine lagi dan Florian mengangguk.
"Dan kau sangat hebat bocah, sekarang sudah jadi kepercayaan si Mario yang angkuh itu."
"Jangan mengejeknya, dia itu baik hanya saja sesuatu yang membuatnya begitu. Sebenarnya dia sangat kasihan loh.." Ucap Celine membela Mario.
"Apa yang terjadi? Dulu memang sempat bertemu sekali di tahun lalu mungkin, dan dia terlihat baik tapi sekarang rasanya ingin menghajarnya, kalau tidak mengingat kinerjanya yang bagus itu." Keluh Florian dan Celine mendesah pelan mendengarnya.
"Kekasihnya meninggal di depannya, tau kejadian jalan Merdeka 2? Nah itulah mereka." Ucap Celine dan Florian sedikit terkejut karena kecelakaan itu sempat ramai di bicarakan tapi media memang tidak memberitahukan nama korban karena Lia yang menutup semuanya.
"Wah.. gila dan dia jadi seperti itu?" Tanya Florian dan Celine mengangguk.
"Seandainya ada obat yang bisa membuat orang melupakan cintanya aku akan membelinya berpapun harga obat itu." ucap Celine pelan dan mulai sendu.
"Ck.. kau menyukainya ya? Hahahha ada kok obat itu tapi memang sulit di buat." Ucap Florian tanpa sadar.
__ADS_1
"Bernarkah ada obat itu?" Tanya Celine dengan antusias.
"Eh... tidak, aku asal bicara saja." Ucap Florian salah tingkah. "Mampus, ramuan itu tidak sembarangan, jangan sampai Flo tau." Batin Florian dengan cemas.
"Huh.. om tidak konsisten." Tukas Celine sebal.
.
.
.
Sore ini Mario pulang ke rumah lebih cepat karena ada urusan dengan Lia ibunya. Mario sudah mencari Lia ke seluruh rumah yang sedang sepi itu tapi tidak menemukannya.
"Nyonya sedang keluar Tuan, sudah sejam lalu." Jawab pelayan itu dan Mario hanya berlalu tanpa komentar apapun lagi.
"Hah.. biasanya mama simpan diamana sih.." Ucap Mario sampai mengusap wajahnya dengan kasar. Mario sudah menelepon Lia tapi nomornya sedang tidak aktif.
Mario masih mencari file penting yang dulu sempat dia titipkan pada Lia karena saat ini dia membutuhkan file itu dan biasanya akan di simpan di brankas di kamar ibunya tapi ini malah tidak ada. Mario membongkar lemari di kamar itu satu per satu sampai melihat nakas di samping ranjang.
"Ini apaan?" Mario menemukan map biru dan membukanya sambil menjatuhkan dirinya di atas ranjang dengan santai dan membaca isi map itu.
"Tidak mungkin... ini.." Lirih Mario begitu tau isi map itu dan dia sangat terpukul. Lalu Mario mengingat kembali kelakuan Jade selama berpacaran dengannya. Jade tidak pernah bersikap manja selayaknya seorang perempuan pada kekasihnya, dia cenderung pasrah dan menerima saja. Kecuali kalau dia membuthkan sesuatu dan akhirnya Mario paham kenapa dia begitu.
"Ternyata kau bohong.. kau mengkhianatiku Jade, kau perempuan brengsek!" Teriak Mario lalu keluar dari kamar Lia menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
Ruang kerja Mario sudah habis berserakan, Mario kembali lagi menjadi pria yang kejam bahkan lebih dari sebelumnya.
"Aku akan hancurkan kalian brengsek! Kalian semua penipu." Mario masih membanting semua yang ada di ruangan itu sampai Celine datang dan melihat kekacauan yang dibuat oleh Mario.
"Mario! Ada apa ini?" Bentak Celine untuk menghentikan kegilaan Mario yang kini ingin membanting lemari kacanya.
"Celine.. lihat, kelakuan sahabatmu! Aku.. aku.. disini sangat sakit." Ucap Mario sambil meremas dadanya dan akhirnya terduduk di lantai yang penuh pecahan kaca. Dia tidak pedulu dengan kaki dan tangannya yang sudah penuh luka.
Celine melihat map yang pernah dia baca dan menarik nafasnya dalam-dalam lalu mendekati Mario, memeluknya dan menenangkannya. Tidak ada 1 kata pun terucap tapi Celine sempat mengirim pesan pada dokter yang biasa merawat Mario untuk datang dan memberitahukan sedikit tentang kondisi Mario.
"Dia sangat lugu dan polos Cel.. dia sangat cantik dan membuatku makin mencintainya setiap waktu tapi, dia penghianat!" Ucap Mario dengan lirih setelah Celine berhasil membujuknya kembali ke kamar dan mendudukkan Mario di sofa, masih dengan tangan dan kakinya yang penuh luka karena kaca yang berceceran. Tak lama dokter datang dan mereka mengobati Mario dan juga menyuntikkan obat penenang agar Mario dapat beristirahat.
.
.
.
"Aneh.. kenapa Mario dan Celine tidak datang yah? Sudah 3 hari." Ucap Flo yang sedang gabut karena toko sedang sepi. Tak lama ada seorang pria yang masuk dan membeli beberpa tangkai bunga mawar pink seperti yang biasa di beli oleh Mario.
"Kau!!" Teriak Mario yang juga baru saja sampai di Magical Flower dan melihat seorang pria dengan mawar pink dan dia mengenali pria itu sebagai selingkuhan Jade dari berkas yang dia lihat sebelumnya.
Tak menunggu lama pukulan bertubi-tubi Mario layangkan pada pria itu sampai beberapa pelayan harus melerainya. Pria itu hanya diam dan tidak membalas karena dia tau kalau dia salah dan sepertinya Mario sudah tau semuanya.
TBC~
__ADS_1