
Tepat jam 5 pagi Flo turun dari atas tendanya dan pas baru menapakkan kakinya di tanah Florian juga keluar dari tenda.
"Kau sudah bangun ternyata." Ucap Florian dengan mata masih terpejam setengahnya sepertinya pria itu masih sangat mengantuk.
"Tidurlah lagi, aku bisa sendiri." Kata Flo tapi Florian tetap mengikuti Flo yang berjalan ke tepi sungai untuk mencuci wajahnya dan menggosok gigi.
"Kau sudah benar-benar seperti manusia Flo." Ujar Florian dan Flo mengangguk.
Setelah selesai mereka berjalan santai ke dalam hutan menuju tempat yang sudah di tandai oleh Flo, dia mulai menjentikkan jarinya dan keluarlah beberapa benih bercahaya.
Flo menebarkan benih itu dan berusaha menumbuhkannya dan Florian membantu menyirami dengan tetesan air dari mata air terdekat, tetesan halus seperti embun membasahi benih itu. Dari 7 hanya 2 yang tumbuh, Flo sudah kelelahan dan berhenti sejenak.
Setelah kira-kira tenaganya pulih dia mulai lagi menumbuhkan sampai tumbuh beberapa helai daun yang sangat kecil.
"Sepertinya cukup, kita hanya perlu menjaganya supaya tetap dingin dan jangan sampai terpapar sinar matahari secara langsung." Ucap Flo sambil mengeluarkan benih lainnya.
"Ya, kurasa tempat ini sudah pas untuknya tumbuh." Seru Florian yang juga mengeluarkan 2 benih.
"Kau dapatkan ini dari mana?" Tanya Flo begitu Florian memberikannya 2 buah benih.
"Ini dari Petunia, tapi dia ingin kau berusaha dulu." Flo mengambilnya dan dia tidak berkomentar karena sudah tau bagaimana sifat ratu dunia peri itu.
"Baiklah aku tumbuhkan juga." Flo kembali menumbuhkannya dan 2 benih itu lebih mudah tumbuh mungkin karena Petunia yang memberikan.
Flo berjalan mendekati area sungai lalu dengan jarinya menumbuhkan beberapa jenis bunga dan tumbuhan disana yang akan di gunakan sebagai bahan lainnya untuk ramuan yang akan mereka buat.
"Florian, kita akan menunggu mereka tumbuh mungkin beberapa hari untuk yang di dekat sungai dan 2 minggu untuk yang di dalam." Ujar Flora sedikit mengeraskan suaranya karena Florian yang masih didalam hutan.
"Iya, aku akan menyirami ini dulu, kembalilah ke dekat tenda." Terdengar suara Florian yang membalas Flo.
Di lain tempat,
__ADS_1
Celine masih berkutat dengan pekerjaannya yang sangat melelahkan. Sejak Mario sakit dan hanya terbaring di tempat tidur, semua pekerjaan dia yang mengerjakan. Lia juga sudah pasrah dan hanya bisa menatap anaknya dengan sedih setiap harinya.
"Tante, bolehkah Celine bicara dengan tante sebentar?" Tanya Celine begitu membuka kamar Mario dan melihat Lia ada disamping putra satu-satunya itu.
"Ada apa Cel?" Tanya Lia begitu mengikuti Celine masuk ke kamarnya.
"Tante.. jangan sedih, Mario akan sembuh. Celine janji akan membuat Mario sembuh tapi ada harga yang harus kita bayar demi kesembuhan Mario." Ujar Celine dengan sendu.
"Berapapun akan tante bayar, Cel. Kehilangan harta, semuanya juga boleh asal Mario sembuh." Katanya dengan tangis yang sudah pecah.
"Bukan soal uang atau harta benda. Mario akan sembuh tapi mungkin dia tidak akan mengingat Jade lagi, tante janji tidak akan memberitahukan pada siapapun tentang hal ini. Bisakah?"
"Tante janji, pasti."
Celine lalu menceritakan semuanya pada Lia, tentu saja tidak menyebutkan siapa 2 orang yang membantunya yang penting Mario akan sembuh.
"Tante janji Cel.. siapapun mereka, mau manusia atau dewa sekalipun, tante tidak peduli yang penting Mario kembali."
"Kalau begitu, tante bantu untuk singkirkan semuanya tentang Jade dari kamar, rumah dan kantor, bahkan rekening. Kita bersihkan semuanya bahkan tentang Celine sendiri."
"Kenapa Mario tidak bersamamu saja Cel? Kenapa harus Jade?"
"Jangan begitu, ini sudah takdir. Kita harus menerimanya dan jalani kehidupan kita. Kalau ada kesempatan Celine bertemu dengan Mario lagi, Celine tidak akan melepaskannya lagi tante."
Lia memeluk Celine dengan erat, kedua wanita itu menangis tersebu-sedu karena akan berpisah. Meskipun Mario sembuh tapi Celine tidak ada juga merupakan hal yang menyedihkan bagi Lia. Selama ini Celine lah yang menemaninya dan merawat Mario sepenuh hati.
"Sudah.. tante, ayo kita bereskan mulai dari kamar dan ruang kerja." Celine melepaskan pelukannya, menata kembali perasaan dan mulai beranjak untuk segera membereskan semuanya.
,
,
__ADS_1
Di hutan, Flo sejak sore sampai malam bingung melihat 4 tunas kecil yang dia tanam tadi pagi. Dua tunas dari benih yang diberikan Petunia sangat cepat tumbuh sedangkan punya dia masih sama, 4 benih lainnya malah terlihat mati dan dia abaikan saja.
"Sudah lah.. benih dari Petunia memang lebih ajaib, dia kan ratunya jadi jangan heran." ucap Florian menenangkan Flo. Akhirnya Flo menghela nafasnya karena memang benar, pantas jika benih dari Petunia cepat tumbuh karena Flo belum memiliki banyak kekuatan setara Ratu.
"Siram lagi Florian, ini yang terakhir lalu aku mau tidur, capek. Tapi aku tidur di tenda bawah ya.. soanya diatas takut jatuh tidak nyenyak." Pinta Flo sambil mereka berjalan bersama kembali ke area tenda.
"Aku pindahkan kebawah saja kalau gitu, aku takut tak bisa menahan diri kalau kamu tidur di tendaku." Jawab Florian sambil tersenyum manis.
"Ck! Bukan maksudku tidur bersama tapi aku tidur di bawah dan kau tidur diatas." Decak Flo kesal alalu mempercepat langkahnya.
Florian memindahkan tenda Flo di samping tendanya sedangkan Flo sedang membuat teh setelah air yang dia masak mendidih.
"Duduklah kita minum teh sambil ngobrol dulu." Ujar Flo setelah melihat FLorian selesai dengan tendanya.
"Flo.. apakah kau bahagia hidup di dunia manusia?" Akhirnya Florian bertanya.
"Awalnya tidak, tapi beberapa tahun ini begitu bahagia karena aku bertemu banyak orang-orang baik dan tulus padaku. Lalu makin senang karena akhirnya aku menemukan sesuatu yang aku sukai dan bisa membuat orang juga menyukainya." Jawab Flo lalu menyeruput tehnya.
"Magical Flower." Gumam Florian.
"Ya itu, aku senang saat pelangganku senang sekaligus misiku perlahan selesai." Sambung Flo.
"Sandainya Petunia menyuruhmu cepat kembali ke dunia peri bagaimana?" Tanya Florian lagi dan Flo menoleh kearahnya, jantungnya berdetak kencang karena ada rasa tidak rela dan takut meninggalkan dunia manusia.
"Aku.. aku tidak tau, tapi mungkin masih lama. Kan misiku belum tercapai, tidak mungkin Petunia menyuruhku pulang sebelum hukumanku selesai." Jawab Flo sambil tertawa kecil meskipun hatinya sedikit takut.
"Tapi kemarin waktu aku bertemu Petunia, dia mengakatan ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan kesalahanmu itu, tapi karena dia sangat sibuk belum sempat menemuimu." Lanjit FLorian lagi membuat Flo tidak tenang dengan ucapan itu.
Keslahannya memang fatal, akibat rasa ingin tau yang begitu dalam, keisengan dan beniat baik menolong malah menjadi sebuah kesalahan yang tidak bisa di perbaiki.
"Aku tidak tau, tapi jika Petunia menyuruhku kembali dan bisa memperbaiki keadaan aku akan berusaha. Magical Flower akan aku serahkan pada Imel karena itu adalah ide nya untuk membuka toko bunga."
__ADS_1
Florian sedikit merasa bersalah, dia tau, meskipun Flo tampak tenang tapi di lubuk hatinya dia sangat sedih jika akan meninggalkan semua yang dia sayangi.
TBC~