Magical Flower

Magical Flower
BAB 32 - Kisah Cinta Sahabat (Part 10 - END)


__ADS_3

2 Bulan kemudian


Damian sedang bekerja seperti biasa di kantornya dan tiba-tiba Yana datang membawakan makan siang. Dia sudah sering memasak bersama Lusia dan Imel dirumah seminggu ini, entah apa yang membuatnya rajin memasak, biasanya juga hanya mengambil makanan di restorannya saja.


"Ehm.. hari ini beda lagi dan lebih enak, kamu sudah jago sayang.." Puji Damian dan Yana tersenyum senang melihat suaminya makan dengan lahap.


"Kau tidak makan?" Tanya Damian dan Yana menggeleng, "Aku tidak selera makan, tapi lihat kamu makan aku sudah kenyang." Jawab Yana membuat Damian tertawa.


"Mana ada yang kaya gitu.. ayo makan." Damian memaksanya dan menyuapi Yana tapi dia maah mual dan memuntahkannya. Yana berlari menuju toilet didalam ruang kantor itu dan mengeluarkan semua isi perutnya.


"Yana.. kau kenapa?" Tanya Damian khawatir karena Yana tidak biasanya muntah begini.


"Mungkin masuk angin, aku gak makan dari pagi." Jawabnya dan Damian merangkulnya kembali dan duduk di sofa.


"Kenapa gak makan? Ayo mau makan apa aku suruh OB belikan."


"Gak mau ah.. kalau liat makanan gitu ga selera dan maunya liat kamu makan aja." Tolak Yana dan Damian tambah bingung mendengarnya.


"Tapi kalau tidak makan nanti tambah sakit Yana.. " Bujuk Damian dan Yana akhirnya meminta makan soto ayam. Damian segera menyuruh OB membelikannya dan akhirnya Yana makan dengan lahap.


"Aku pulang yah.. sama Imel dan diantar supirnya mami tadi." Pamit Yana dan Damian mengecup bibirnya sebelum dia pergi dari sana.


Yana pergi ke ruang Fano untuk mencari Imel yang juga membawakan makan siang untuk suaminya itu, mereka sudah menikah 1bulan yang lalu.


"Astaga!! Kalian ini... gak bisa apa tunggu dirumah." Ujar Yana yang begitu masuk sudah disuguhi pemandangan menantang. Imel yang terkejut langsung lompat berdiri dari pangkuan Fano, mereka asik berpagutan dan bercumbu mesra.


"hehehe... kak Yana.." Imel terkekeh pelan, entah mengapa akhir-akhir ini Imel lebih berani bermesraan dengan Fano dimanapun dia mau.


"Ayo balik, perutku mual nih ga enak dari tadi." Ajak Yana dan sekali lagi Imel mengecup Fano dan pamit pulang.


"Hati-hati sayang..." Ucap Fano dan Imel melambaikan tangannya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sudah 2 hari ini Damian dan Fano sama-sama tidak enak badan, mereka mual dan lemas apalagi mencium aroma masakan dengan banyak bumbu membuat mereka muntah berjamaah.


"Haduh.. anak-anak mami kenapa begini deh.." Keluh Lusia yang sebenarnya sangat khawatir. Istri mereka juga sudah repot mengurus para suami manja yang sedang sakit.


"Peri kecil... kenapa anak-anak ini? Kok jadi lemah begini?" Tanya Ken yang melihat Damian dan Fano terkulai lemas di sofa pagi-pagi, padahal mereka hanya ingin sarapan tapi malah jadi mual dan lemas.

__ADS_1


"Iya kak.. gak tau kenapa mereka ini. Paggil dokter gih.." Ujar Lusia dan Ken seperti mengingat sesuatu.


"Kok.. mirip papi dulu ya, waktu mami hamil Tatiana." Ujar Ken dan Lusia juga baru sadar.


"OH IYA benar!!" Pekik Lusia lalu melihat kedua memantunya yang sedang memijat suaminya. Dia lalu menelepon dokter keluarga untuk segera datang.


"Gimana dok?" Tanya Lusia dan dokter itu tersenyum.


"Iya, betul para istri mereka hamil.." Ucap dokter dan Lusia melompat kegirangan.


"Aahhh senangnyaa... aku akan jadi oma bentar lagi!" teriak Lusia padahal kedua anaknya bahkan tak bisa bergerak, mereka juga sangat ingin melompat kegirangan dan memeluk istrinya tapi rasa mual dan lemas lebih mendominasi. Setelah dokter menjelaskan kondisi mereka dan apa saja yang harus dilakukan barulah dokter itu pergi.


"Nanti siang mami yang antar kalian ke dokter dan USG." Ucap Lusia semangat.


"Gak mi.. kami yang antar." Ucap Damian dan Fano bersamaan.


"Nah kalo gitu cepat makan dan minum obat, trus jangan lupa, 2 hari lagi Ana nikah jadi siapkan diri kalian baik-baik." Lusia pergi dan menyiapakan sarapan untuk 2 putranya yang sedang manja itu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Yana dan Imel secara bergantian masuk ke ruang dokter dan melakukan pemeriksaan, Lusia tetap mendampingi keduanya karena takut kedua putranya lemas dan mual lagi dan tidak bisa menjaga menantunya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Hah.. tinggal Morgan nih mami gatau lagi itu anak maunya apa." Keluh Lusia saat melihat Tatiana sudah resmi menikah pagi ini.


"Udahlah peri kecil, biarkan saja dia memilih hidupnya sendiri. Dia pasti tau apa yang terbaik.." Ujar Ken menenangkan istrinya.


"Iya mami, biarkan aja si berondong itu mau jadi suami ketiga, liat wanita itu cantik kan.." Ujar Fano sambil menunjuk kearah seorang wanita cantik dengan rambut pirang dan bodi bak model profesional.


"Wow.. mami cuma setengah dari tinggi badannya." Ucap Lusia berkomentar melihat wanita itu dari jauh yang tinggi menjulang.


"Cantik banget.. cocok jadi model internasional.. kenapa gak jadi model aja ya?" Komen Imel dan mendapatkan cubitan di hidungnya.


"Lebih cantik kamu sayang..." Ujar Fano dan Imel tersenyum malu mendengarnya.


"Tapi pantes aja si Morgan kepincut, bodinya aja gitu." Komen Damian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Yana, "Hehehe.. tapi aku tetap lebih suka bodi istriku yang memabukkan."


"Tapi kelihatan sih kalau dari wajah cantiknya dia sangat sedih dan kesepian.. haduh jiwa kepo ku muncul lagi." Ucap Flora dan langsung di tatap Fano, Imel, Damian dan Yana.

__ADS_1


"Jangan kepo!" Hardik mereka karena takut Flo akan beraksi lagi.


"Sudah sembuh kok dari sebulan lalu, sudah sehat dan lihat, aura pancaran kecantikanku telah kembali." Ucap Flo tapi Florian yang mendesah kesal melihat Flora yang tidak berubah juga.


"Hei Peri Air, harusnya kau beritau aku siapa kau sebenarnya dari awal jadinya aku tak perlu sampai kehilangan energiku begitu, hadeehhh..." keluh Flo dan Fano membawa mereka menjauh dari Lusia dan Ken agar orang tuanya tidak mendengar pecakapan aneh itu.


"Sudah berapa kali aku bilang, aku bukan peri air Flo.." Kesal Florian lagi setelah Fano membawa mereka ke 1 meja kosong yang hanya ada mereka berdua.


"Kalau begitu jelaskan siapa kamu Florian?" Flo menatap mata Florian, mata berwarna biru itu begitu jernih, Flo baru menyadari bahwa dimata bitu itu jika diperhatikan baik-baik ada sedikit warna kuning ditengahnya, sangat indah. Flo terpukau sesaat sebelum Florian mengelak lagi dan tidak mau menceritakan siapa dia sebenarnya.


"Aku bukan peri dan belum waktunya kau tau, nanti Petunia yang akan memberitaumu, aku sudah bilang berkali-kali."


"Jadi kenapa kau bisa megendalikan air? Juga menarik air dari mata air ke daratan itu tidak mudah." Tanya Flo lagi dan Florian nyerah pada ke-kepo-an Flo yang benar-benar mendarah daging.


"Huh.. kalau saja peri bisa bebas berciuman sudah aku cium biar kamu tidak cerewet lagi." Ujar Florian dan Flo langsung menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Sudahlah, aku pulang saja, acaranya juga sudah mau selesai. Bye!" Flo meninggalkan Florian sendirian yang sedang menggeleng melihat kelakuan Flo yang begitu tidak kapok setelah kehilangan begitu banyak kekuatannya, baru saja dia pulih dan ingin mencari client baru lagi.


Flo menyetir mobilnya sendirian sampai kembali ke Magical Flower, dia mulai lagi membuka toko bunga segarnya setelah hampir sebulan lebih hanya melayani bunga palsu dan buket snack oleh Thika. Kini kekuatannya pulih dan semua bunganya kembali segar seperti dirinya yang semakin cantik dan bercahaya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Selamat sore, bisa saya bantu?" Sapa Flo pada seorang wanita yang baru masuk dengan dandanan ala artis film bollywood.


"Gauri..." Panggil Thika kepada wanita yang baru datang itu dan Thika langsung keluar dan memeluknya.


"Flo kenalkan ini temanku namanya Gauri, ini Flora pemilik tempat ini." Thika memperkenalkan mereka dan akhirnya mereka ngobrol.


"Maaf ya, dandananku begini soalnya baru kembali dari pesta pernikahan saudara jauhku." Ucap Gauri dengan wajah mulai malu dan tertunduk.


"Gak apa Gauri, aku tadi kira kedatangan tamu artis dari india, soalnya kamu cantik banget." Puji Flo dan Gauri hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Itu benar Flo, Gauri dari dulu waktu sekolah udah cantik, pinter, disukai banyak cowo di kalangan kasta atas lagi." Ujar Thika dengan lebaynya. "Eh dimana anakmu?' Tanya Thika dan wajah Gauri tiba-tiba jadi sendu dan terlihat sedih.


"Sama neneknya." Jawab Gauri dan Thika menjadi kesal dan mengomel panjang tentang mertua Gauri dan Flo yang sedikit bingung dengan bahasa mereka yang campur aduk memilih melanjutkan pekerjaannya dan biarlah kedua teman yang sudah lama tidak bertemu itu melepas rindu.


Flo sedang menyelesaikan bunga pesanan pelanggan sepcialnya yaitu Florian yang memesan banyak bunga untuk restoran barunya di dekat tokonya Flora.


~Kisah Cinta Sahabat (Damian-Dayana-Jason-Riana) END~

__ADS_1


TBC~


__ADS_2