Magical Flower

Magical Flower
BAB 21 - Aku Tidak Mandul (Part 4 - Special Masa yang akan datang - END)


__ADS_3

Enam bulan pernikahan Raka dan Maira, mereka diliputi kebahagiaan apa lagi pagi ini Maira berteriak senang dan berlari menghampiri Raka yang baru selesai memakai kemejanya untuk berangkat ke kantor.


"Kak Rakaaaaa!!!" Teriak Maira lalu melompat ke pelukan Raka dan ditangkap oleh suamninya.


"Ada apa sayang.." Raka sedikit terkejut lalu Maira turun dan memperlihatkan sesuatu.


"Kamu hamil?" Tanya Raka sambil memegang test pack dan ada 2 garis disana, Raka langsung memeluk Maira yang sudah menangis haru.


"Kenapa menangis.. ini berita membahagiakan sayang." Raka memeluk Maira yang masih menangis di pelukannya.


"Aku sudah lama menantikan ini kak, akhirnya aku hamil." Jawabnya masih terisak.


"Lalu kenapa tiba-tiba bisa inisiatif cek pakai ini sayang?" Tanya Raka lagi setelah Maira berhenti menangis.


"Aku bingung... sudah lama tidak haid makanya aku coba-coba." Jawab Maira dan Raka baru ingat.


"Pantas saja, aku merasa senang saat tiap hari minta jatah selalu bisa dan sudah beberapa bulan deh kayanya, eh jangan-jangan... kamu semakin liar diranjang karena hamil?"


Pernyataan Raka membuat Maira sangat malu, dia memang akhir-akhir ini sangat mudah bergairah dan selalu minta duluan.


"Memang kamu semakin montok sih yang.. dan ini juga makin besar dan perut kamu seperti orang kekenyangan kenapa bisa tidak sadar ya?" Ucap Raka lagi yang baru memperhatikan bentuk tubuh Maira yang telah berubah dari dadanya hingga perutnya.


"ayo kita pergi ke dokter sekarang." Raka menarik pinggang Maira dan keluar kamar dan menuruni tangga, dibawah sudah ada seluruh keluarga menanti mereka untuk sarapan.


"Kami akan ke rumah sakit pi mi, mau cek kandungan Maira." Pamit Raka yang lalu menarik Maira tetapi di hadang oleh maminya.


"Maira hamil?" Tanya Mami dan Raka mangangguk


"Kami akan cek dulu mi, soalnya ada yang aneh. Maira sudah tidak haid entah berapa bulan dan kami tidak sadar perubahan itu." Jawab Raka lagi dan maminya langsung memeluk Maira yang masih bengong, dia tidak merasakan apapun.


"Baiklah segera pergi, hati -hati."


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Selamat Bapak, Ibu, janin nya sehat, ini sudah 3 bulan dan janinnya kembar ya.." Ujar sang dokter membuat mereka tambah bingung.


"Begini dok, kami baru sadar kalau istri saya sedang hamil tadi pagi dan selama ini tidak ada gejala dan kalau kembar kenapa perutnya masih seperti orang kekenyangan?" Tanya Raka dan dokter tersenyum dan menjelaskan.


"Setiap ibu hamil mengalami gejala yang berbeda, ada yang mual muntah, mood swing dan sebagainya, ada juga yang seperti ibu Maira tidak mengalami apapun tapi sebernarnya pasti ada, seperti nafsu makan yang bertambah maupun berkurang atau mungkin di ranjang?" Ujar dokter membuat Maira menunduk malu karena benar dia mengalami yang terakhir itu.


"Kalau banyak makan mungkin iya deh yang.. makanya kami kira kamu itu gemuk karena makan, dan itu tuh.. hehehe." Raka terkekeh dan kembali mengelus perut Maira.

__ADS_1


Setelah itu mereka menanyakan banyak hal tentang kehamilan dan apa yang harus mereka lakukan.


Maira begitu bahagia, sepanjang jalan dia hanya tersenyum dan mengelus perutnya dan tidak menyangka akan dapat anak kembar sekaligus. Setibanya dirumah mereka semua terlihat bahagia dan lebih bahagianya lagi Rafa mengumumkan kalau dia juga akan menikah 2 bulan lagi.


Maira sama sekali tidak manja dan hanya selalu meminta Raka mengelus perutnya ketika tidur agar dia lebih nyenyak, hal itu masih berlangsung sampai 2 bulan kedepan.


Pada Hari pernikahan Rafa 2 bulan kemudian, perut Maira sudah semakin besar pada kehamilan 5 bulannya seperti ukuran 7 bulan. Barulah dia sering merengek hal tidak penting dan manja membuat Raka siap siaga penuh memenuhi keinginan si bumil kesayangannya.


"Eh Maira.. bukannya kamu mandul?" Ujar Intan yang membat heboh disana sehingga beberapa orang melihat kearah mereka.


"Aku tidak mandul!" Tegas Maira menatap marah ke arah mantan ibu mertuanya itu.


"Kalau ngomong lihat dulu dan dipikirkan dulu Ibu, istri saya sedang hamil masa dibilang mandul." Tegas Raka membuat sebagian orang mencibir kearah Intan.


"Ah iya maaf, habisnya dulu waktu jadi menantu saya, 5 tahun ga bisa hamil." Bantah Intan dan Hendra akhirnya mendatangi mereka dengan menggendong seorang bayi kecil.


"Mami ada apa?" Tanya Hendra tidak enak karena ini pesta pernikahan teman sekantornya. "Maira.. kamu hamil?" Tanya Hendra begitu lihat Maira disana dan dia tidak percaya ternyata Maira bisa hamil.


"Ya istri saya sedang hamil 5 bulan dan bayi kami kembar, anda puas? Jadi jaga mulut ibu anda dan jangan pernah bilang istri saya mandul. Permisi." Tegas Raka lagi dan merangkul Maira dengan hati-hati pergi meninggalkan Hendra dan Intan yang masih melongo tak percaya.


"Dimana Gita Hen?" Tanya Intan karena sejak tadi Gita hanya keliling bersama teman-temannya dan Hendra lah yang menjaga putra mereka.


"Lagi sama temannya mi, tolong mami jagain cucu mami bentar ya." Hendra lalu mencari Maira setelah meninggalkan Intan dan putranya.


Hendra masih tak percaya Maira hamil dan dia teringat pesan Maira untuk ke dokter dan cek dirinya apakah mandul atau tidak dan menjadi ragu apakah anak yang dilahirkan Gita adalah anaknya atau bukan.


"Ya, besok aku akan kedokter sekalian test DNA karena Farhan sama sekali tidak mirip denganku." Hendra lalu berbalik dan berbaur lagi dengan para tamu undangan lainnya.


Jam 11 siang, Hendra sudah berada di rumah sakit untuk memerikasakan dirinya dan ternyata memang yang bermasalah adalah dirinya sendiri, dokter tidak mengatakan dia mandul tapi dia harus mejaga diri dari makanan tidak sehat, hindari alkohol dan rokok, sama dengan yang pernah diucapkan Maira dulu, dia sangat  menyesal.


Hendra lanjut untuk cek DNA dari sampel yang telah disiapkannya, untuk hasilnya akan dia ambil sendiri di rumah sakit.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


3 bulan kemudian,


Maira yang berada di rumah masih dengan manjanya meminta ini itu sama Raka yang selalu dipenuhi oleh suaminya dan kali ini dia ingin makan makanan korea yang dibungkus selada dan Raka langsung membawanya ke restoran terbaik di sana, dengan lahap dia memakan semua yang ada di meja dan Raka hanya tersenyum melihat istrinya yang makin lucu dan chubby.


Habis ini mereka juga akan mengunjungi Magical Flower karena Raka akan memesan bunga untuk koleganya seperti biasa dan mengunjungi Flo, Raka juga rutin seminggu sekali mengirimi bunga untuk Maira agar mood istrinya terus baik.


"kau sangat lucu sayang.. aku ingin menggigitmu." Ujar Raka dan Maira terkekah mendengarnya. Kandungan Maira yang sudah masuk bulan ke 8 makin terlihat membulat dan Raka selalu menggigit pipinya karena gemas, setelah makan Raka mengajak istrinya untuk membeli perlengkapan bayi lagi yang sebenarnya sudah sangat banyak dari oma, opa, uncle dan onty kembarnya tapi tetap saja Raka ingin memilih sendiri.

__ADS_1


"Untuk 2 jagoan papa.. kita beli mainan lagi." Ujar Raka sambil mengelus perut Maira yang sangat besar.


"Jangan mainan lagi yang.. beli baju aja tuh lucu baru masuk. Eh ada apa itu?" Maira mendengar ada suara orang yang berteriak di dalam toko sebelah aksesoris bayi dan dengan kepo dia jalan pelan melihat apa yang terjadi karena dia mengenal suara ini.


"Kau wanita ******! Katakan Farhan anak siapa?" Bentak Hendra saat Gita dan Intan membawa Farhan berbelanja. Gita sudah pucat pasi tak berani menjawab tetapi dia harus mengelak.


"Apaan sih mas, Farhan anak kita lah." Jawabnya dan Hendra melemparkan test DNA yang sudah lama dia test dan baru sempat ambil pagi ini.


"Itu baca hasil test DNA Farhan dan dia bukan anakku." Teriak Hendra membuat Gita terdiam tak berani bicara ataupun bergerak. Kau benar-benar wanita ******, pantas kau tidak mau aku nikahi secara sah jika tidak memberimu rumah, untung surat rumah itu dibawa Maira jika tidak aku akan menyesal menikahimu secara sah. Sekarang juga kamu aku talak dan kau bukan istriku lagi Gita. Silakan pergi dari rumahku dan bawa anakmu itu."


Hendra lalu berbalik dan tidak peduli dengan tatapan dan omongan orang sekitar, tapi dia berhenti saat melihat sosok Maira dan Raka di dekat sana, Hendra menghampiri mereka dan dia langsung berlutut dan meminta maaf pada Maira.


"Maaf kan aku Maira, telah membuang istri sebaik dirimu, aku menyesal. Maafkan aku.." Lirihnya dan Maira menarik kuat lengan baju Raka yang sedang merangkulnya.


"Aku bersalah padamu dan ini karmaku Maira." Lanjutnya dan Maira memberanikan diri untuk membawa tubuh Hendra naik agar dia tidak terus berlutut.


"Aku sudah maafkan kamu mas, sekarang rubahlah perilakumu dan gaya hidupmu agar lebih baik, percayalah kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu sendiri." Ucap Maira semakin membuat Hendra menangis.


"Bolehkah aku menyentuh perutmu?" Hendra menatap ke Maira dan juga Raka sampai Raka mengangguk baru Hendra menyentuh perut Maira yang sudah 8 bulan itu.


"Dia bergerak.." Ucap Hendra sambil tersenyum.


"Terima kasih.." Ucanya lagi sebelum pergi berjalan gontai meninggalkan Maira dan Raka yang masih menatap Hendra.


Sedangkan Intan terlihat menampar Gita karena merasa malu dan marah karena dibodohi selama ini, pantas saja Intan tidak bisa menyayangi Farhan seperti yang dialami nenek lainya terhadap cucunya.


"Kau memang wanita murahan!" Hardik Intan lalu dia pergi dan pulang kerumah. Dengan cepat dia menyuruh pelayan untuk mengeluarkan semua barang Gita dan membuangnya keluar, kecuali perhiasan dan tas mahalnya yang memang dibeli dengan uang Hendra.


"Kak Raka... bisa minta tolong..?" Tanya Maira dengan manja dan Raka tak mungkin menolaknya.


"Ada apa istriku yang lucu..." Balas Raka,


"Ini tolong ubah ke nama mas Hendra aku akan kembalikan rumah ini padanya saja." Maira memberikan surat rumahnya dan Raka menatapnya bingung.


"Soalnya aku sudah punya segalanya dari suami ku yang ganteng dan kaya raya ini." Maira merangkul dan mencium pipi Raka membuatnya begitu bahagia.


"Baiklah istriku..." Raka balas menciumnya dan mereka bermesraan sampai tiba-tiba Maira mengaduh kesakitan pada perutnya.


"Sayang kenapa?" Tanya Raka panik melihat Maira memegang perutnya dan mengaduh.


"Sepertinya anak-anak kita mau keluar kak." Ujar Maira dan tidak mungkin, ini baru bulan ke 8 tapi Maira benar merasa kesakitan dan terus mencengkram kuat tangan Raka. Dia panik dan berteriak dari ruang kantornya memanggil semua orang, calon oma dan opa pun masuk dan menyuruh Raka segera membawa Maira ke rumah sakit dan benar saja dokter bilang Maira sudah pembukaan 5 dan akan menunggu sampai pembukaan sempurna untuk melahirkan.

__ADS_1


Hanya 3 jam Maira sudah melahirkan 2 putra yang sangat tampan dan mirirp dengan Raka membuat seluruh keluarga begitu bahagia, bahkan istri Rafa yang tengah mengandung 2 bulan itu sampai menangis antara takut dan haru melihat persalinan yang ternyata sangat menyakitkan. Keluarga mereka sempurna dengan hadirnya 2 jagoan dan Maira akhirnya menjadi ibu.


~Aku Tidak Mandul (Maira & Raka) - END~


__ADS_2