
Dua hari kemudian, Aditya berada di rumah orang tua Gauri dan mereka berbicara serius, Gauri menyuruh orangtuanya untuk membawa Arjun pergi dari sana agar tidak mendengar pembicaraan mereka. Malam itu memang Aditya ingin berbicara berdua saja dengan Gauri dan dia sebenarnya sudah mengantongi surat cerai.
"Aditya, apa salahku?" Tanya Gauri dan Aditya sudah tau inti dari pertanyaan istrinya itu, mereka duduk bersama di sofa ruang tamu dengan pintu masih terbuka lebar.
"Salahmu? Pikirkan sendiri, aku sebenarnya sudah muak padamu Gauri!" Ujar Aditya membuat Gauri mengerutkan keningnya, dia tidak tahan lagi lalu berdiri dan mengambil surat utang yang telah melewati jatuh tempo pada Aditya.
"Aku mau kau segera bayar 100juta itu beserta bunganya, kalau tidak rumah ini akan di gadaikan lagi oleh pemilik uang itu." Tegas Gauri, mata Aditya memerah karena marah, dia menarik Gauri dan mendekatkan wajahnya.
"Kau itu selain minta uang, apa lagi yang kau bisa hah?!" Bentak Aditya sembari mendorong Gauri hingga dia jatuh dan menghantam pintu luar.
Suara Aditya sampai keluar sehingga Shanka yang ada di luar rumahnya sedang merokok dan akan memakan pizza pesanan yang baru datang pun mendengar suara itu, tapi Shanka tidak bergeming, dia tidak bisa mencampuri urusan rumah tangga Gauri meskipun dia mencintai wanita itu.
"Bahkan melayani suamimu di ranjang aja kau tidak bisa, apa yang bisa aku harapkan dari istri sepertimu, kau kira cuma nurut, masak dan melayaniku makan itu sudah cukup? Kau tidak mikir? Kenapa udah 2 tahun ini aku tak pernah menyentuhmu?" Ujar Aditya lagi sambil menoyor kepala Gauri yang masih terduduk di lantai.
Gauri yang geram langsung bediri dan mendorong Aditya, dia tidak mau lagi menjadi istri penurut dan menghormati suaminya.
"Kau yang gak mau menyentuhku, apa aku pernah menolak? Kau itu suami tidak bertanggungjawab, apa pernah aku tidak melayanimu? Aku tidak pernah mencintaimu tapi aku berusaha menjadi istri yang baik selama ini, apa kau pernah menghargai usahaku? Bahkan kau juga tidak pernah perhatian pada Arjun anakmu sendiri.!!" Teriak Gauri marah.
Aditya menjadi naik pitam dan langsung menamparnya berkali-kali, rambut Gauri ditarik dan kepalanya di tekan ke dinding. Gauri berteriak dan meminta tolong, Shanka yang mendengarnya menjadi panik dan segera menghampiri mereka.
"Hei lepaskan! Jangan kasar pada wanita!" Bentak Shanka yang telah sampai di depan pintu rumah Gauri.
"Siapa kau? Jangan ikut campur karna aku lagi mengajari istriku!!" Hardik Aditya yang tangannya masih menekan kepala Gauri di dinding dengan kuat. Gauri sejak tadi sudah tidak sanggup dan hanya pasrah, tenaganya tidak cukup untuk melawan suaminya.
"Lepaskan atau aku panggil polisi? Aku hanya tetangga yang tidak suka melihat kekesaran." Ancam Shanka, tiba-tiba orang tua Gauri pulang karena Arjun terus menangis ingin bertemu Gauri.
"Aditya.. apa yang kau lakukan?" Teriak Adnan, dia berlari masuk dan mendorong Aditya agar melepaskan Gauri tapi Aditya malah menarik rambut Gauri dan dia seret keluar.
BUUGGHH!!
1 pukulan telah mendarat ke wajah Aditya, dia melepaskan Gauri karena sakit yang dia terima. Shanka sangat marah melihat kondisi Gauri, dia tidak mau tau lagi dan langsung merangkul Gauri untuk berdiri dan membawanya ke sebelah Adnan, Mahi juga tengah sibuk mendiamkan Arjun yang terus menangis melihat ibunya.
"Akan kuhabisi kau keparat!"
"Kau yang akan kuhabisi, aku tak suka melihat pria yang memukul wanita."
__ADS_1
Aditya menerjang Shanka dengan tinjunya namun Shanka dengan gesit dapat mengelak malah Aditya yang kena sebuah tinju lagi karena Shanka dengan lihai berbalik menyerangnya dan memukulnya berkali-kali. Dari postur tubuh saja Aditya tak sebanding dengan Shanka yang tinggi tegap berotot, sedangkan Aditya tinggi tapi terlihat lemah.
"Baiklah.. hari ini kau menang." Tujuk Aditya ke arah Shanka dan dia melihat ke arah Gauri yang masih di dekap oleh Adnan, "Dan kau, ini... aku ceraikan kau wanita bodoh kau hanya onggokan kayu, tak bisa memuaskan suamimu." Aditya mengambil gugatan cerai yang sejak tadi di sematkan di belakang celana dan didalam bajunya lalu melemparkan ke arah Gauri dan ayahnya.
"Aditya!! Apa yang terjadi?" Anju datang dan menghampiri putranya dan melihat wajahnya yang babak belur.
"Ibu sudah dapat uangnya?" Tanya Aditya dan Anju memberikan uang cash 100juta di dalam kantongan kresek padanya, lalu dia mengambil lagi 10 juta dari dalam tasnya, total 110juta dia berikan pada anaknya. Aditya lemparkan kantongan penuh uang itu ke arah Gauri dan uang itu jadi berserakan dimana-mana.
"Itu.. ambil uang itu dan kita selesai, kau akan dapat surat cerai mungkin sebulan lagi." Ujar Aditya dengan tatapan menghina.
Shanka sudah mengepalkan kedua tangannya sambil melihat Aditya, dia sangat ingin menghajar pria itu lagi lalu dia menoleh dan menatap Gauri, wanita itu menggeleng pelan membuat Shanka menurunkan emosinya.
Aditya dan Ibunya pergi dari sana dengan menggunakan taxi yang di pakai Anju tadi, motor Gauri juga dia tinggalkan begitu saja di depan rumah dengan kunci masih nyangkut.
"Ibu udah jual tanahnya? Dapat berapa?" Tanya Aditya pada Anju sampai di dalam taxi.
"Lumayan, nanti ibu kasih rekeningya ke kamu.. kita kemana ini?"
"Hotel aja dulu.. besok kita cari rumah. Ok ke hotel terdekat."
Sementara di rumah Gauri, Mahi sedang mengobati luka Gauri dan Adnan sedang membereskan kekacauan diluar karena uang yang dilempar oleh Aditya sempat beterbangan. Arjun juga sedang duduk dengan mata hampir terpejam karena ngantuk, malam itu begitu melelahkan untuk mereka semua.
"Gauri!! Ya ampun... kenapa sampai begini?" Thika dengan paniknya berlari masuk ke dalam rumah Gauri dan dilihatnya wajah Gauri telah memerah bengkak, bahkan sudut bibirnya juga tampak sedikit luka, rambutnya masih acak-acakan, dia bahkan mengabaikan Shanka dan Adnan yang ada diluar sedang memungut uang.
"Dia sudah memberiku gugatan cerai Thika.." Ujar Gauri padanya.
"Baguslah.. lebih baik cerai saja, dari pada begini.." Balas Thika tapi Mahi malah tidak ingin Gauri cerai.
"Apa maksudmu? Kalian gak boleh cerai, kalau cerai berarti tanah kita di kampung akan dia ambil lagi." Bentak Mahi dan Adnan yang sudah geram melihat anaknya di pukuli langsung menghardik istrinya "Mahi!!"
"Kau jangan ikut campur urusan mereka! Yang kau pikirkan hanya harta, kau lihat anakmu di pukuli sampai begitu, gak di kasih nafkah, kau ini ibu macam apa?" Adnan meluapkan emosinya yang tidak pernah dia lakukan selama ini.
"Tapi apa kata orang nanti kalau Gauri jadi janda di usia semuda ini? Belum lagi omongan orang-orang." Bantah Mahi tidak terima, Gauri hanya diam, Thika dan Shanka juga tidak bersuara, Arjun mulai menangis lagi.
"Biar aja apa kata orang, aku gak mau anakku menderita karena suami seperti itu. Kau cukup beruntung Mahi punya suami yang selalu menurut padamu selama ini, kali ini kau yang harus menurutiku." Bentak Adnan lagi, Gauri akhirnya menangis melihat ayahnya yang selama ini diam kini membelanya.
__ADS_1
"Ayah.. terima kasih." Ucap Gauri lirih.
"Jangan takut, ayah akan menjagamu disini." Adnan memeluk Gauri dan mengelus kepalanya lembut.
Shanka menaruh uang tadi kembali kedalam kantongan kresek dan Mahi mengambilnya dengan kasar takut akan diambil oleh Shanka.
"Kemarikan, jangan-jangan sudah kamu ambil lagi.." Ketus Mahi membuat Thika berang.
"Itu uang apa Gauri?" Tanya Thika sambil melirik ke Mahi dengan sinis.
"Itu diberikan Adit buat bayar pinjaman rumah ini pada temanmu." Jawab Gauri dan dia mengambil semua uang itu dari Mahi dan memberikannya ke Thika.
"Aku ga bisa hitung lagi, nanti kalian saja yang hitung.. sepertinya ada tambahan 10 juta untuk bunganya." Thika mengambil kantongan kresek itu dan melihat uang lembaran warna merah yang berserakan.
"Baiklah akan ku kembalikan pada temanku yang meminjamkannya waktu itu." Thika memberikan uang itu pada Shanka, "Nih uangmu sudah kembali, coba hitung ada 110juta ga?"
Shanka mengambilnya dan tidak tau harus berbuat apa, padahal dia sudah sepakat dengan Thika untuk tidak membocorkannya. Gauri menatap heran pada Shanka, begitu juga Mahi yang melongo tak percaya bahwa Shanka memiliki uang sebanyak itu untuk dipinjamkan, rumah, mobil, uang...
"Shanka.. jadi selama ini kau yang membantuku?" Tanya Gauri pelan dan menatap mata Shanka.
"Iya.. maaf, sebenarnya...hm, aku gak mau kamu tau. Thika gak bisa jaga rahasia." Jawab Shanka tidak enak dan melirik tajam pada Thika yang sudah nyengir disamping Gauri.
"Terima kasih." Ucap Gauri sambil menunduk, "Iya nak.. terima kasih atas bantuanmu." Adnan menepuk pelan pundak Shanka, sedangkan Mahi masih tetap sinis dan tidak bersahabat.
"Gauri, pokoknya ibu gak mau kamu cerai.. Ibu yakin Aditya gak sejahat itu, kau harus minta maaf padanya dan bujuk dia batalkan gugatan cerai. Kau lihat dia masih punya banyak uang kan.. kau pasti berbuat kesalahan sampai dia selingkuh." Ucap Mahi lagi, Thika hanya bisa menarik napasnya kesal, Gauri hanya diam, matanya sudah terpejam kesal juga mendengar ibunya.
"Besok kita balik ke kampung! Jangan urusi rumah tangga Gauri. Jangan membantah!" Bentak Adnan dan Mahi yang kesal lalu berjalan masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Adnan juga duduk di samping Gauri dan memberikan semangat pada anaknya itu.
"Maaf, ini aku kembalikan. Aku hanya mengambil uangku saja." Shanka mengembalikan uang 10 juta pada Gauri, dia menolak tapi Shanka memaksa, akhirnya Thika yang mengambilnya dan menyimpan uang itu di dalam tas Gauri yang tergeletak di sudut sofa ruang tamu itu.
"Kalian bicaralah, aku minta izin membawa Arjun sepertinya dia sangat lapar, aku membeli pizza tadi dan belum memakannya." Ucap Shanka dan Adnan menggendong Arjun yang duduk tenang setelah menangis tadi dan memberikannya ke Shanka, "tolong ya nak.. tenangkan juga cucuku ini, kasian dia." Ujar Adnan karena dia tau Arjun suka dengan Shanka.
"Iya om, aku akan menjaganya." Jawab Shanka.
TBC ~
__ADS_1