Magical Flower

Magical Flower
BAB 20 - Aku Tidak Mandul (Part 3)


__ADS_3

Raka pulang hari itu langsung kerumah setelah singgah sebentar ke pembukaan kantor baru temannya untuk bicara masalah Maira.


"Kita harus bantu Maira pi, kasian dia tertekan batin." Ucap raka dan Papinya yang sering disapa Om Wan itu pun mengangguk dia tak menyangka Maira anak temannya yang begitu ceria dimasa kanak-kanaknya menjadi sangat menderita.


"Baiklah, kalau gitu besok bawa Bu Misye saja untuk bantu Maira." Jawab Om Wan dan Raka tersenyum dan memeluk papinya.


"Hei ada yang tidak beres nampaknya, kau sedang tunggu jandanya Maira?" Tanya Om Wan karena Raka memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu darinya.


"Emangnya ga boleh pi? Raka kan duda, Maira juga bentar lagi jadi janda, cocok dong." Ujar Raka dengan perasaan bangga.


"Iya cocok sih tapi apa Mairanya mau?" Goda Om Wan membuat Raka menciut.


"Lah baru gitu uda mau nyerah.. payah.." Tiba-tiba adiknya Raka menyeletuk membuat Raka melemparnya dengan bantal sofa.


Maira yang sedang dirumahnya menjadi sasaran empuk kemarahan Hendra sejak tadi karena lama menunggu bunga yang dibeli olehnya.


Setelah pulang dari kencannya, Hendra seperti orang kesetanan dan ingin melakukan hubungan suami istri dengan Maira tetapi dia menolak karena jijik membayangkan Hendra telah menjamah wanita lain sehingga Maira di tampar dan dipukul sampai hampir pingsan.


Untungnya Maira sudah memindahkan semua surat penting dan barang berharganya keluar rumah dan dititip ke adiknya yang masih tinggal di rumah orang tua mereka dan malam itu juga Maira keluar dari rumah dan menyetir sendiri.


"Kak.. hiks hiks... tolong aku kak Raka." Tangis Maira menelepon Raka yang sedang duduk bercanda dengan orang tua dan adik-adiknya.


"Maira kenapa nangis?" Jawab Raka dan membuat keluarganya juga cemas mendengar ucapan Raka.


"Aku dimobil di pinggir jalan gatau dimana, tadi aku nyetir dan gatau tujuan..Mas Hendra memukulku..." Jawab Maira dan Raka menyuruhnya untuk share location dan akan menjemputnya.


"Rafa ikut aku, kita jemput Maira dia sedang nangis di mobilnya di pinggir jalan." Ajak Raka pada adik lelakinya itu.


"Hati-hati nak.." Pesan maminya sebelum mereka jalan.


Butuh waktu 45 menit sampai ke lokasi dan Raka akhirnya menemukan mobil Maira yang terparkir di salah satu mini market karena Raka menyuruhnya mencari tempat aman seperti mini market 24 jam atau SPBU untuk menunggu.


"Maira..." Panggil Raka yang sudah ada di dalam mobil Maira dan melihat keadaannya, kacau... kedua pipinya memerah dan bengkak, matanya lebam, sudut bibirnya berdarah dan ada bekas cekikan di lehernya dan mungkin ada luka lain di balik pakaian Maira.


Raka menyuruh Rafa mecari RS terdekat dan dia akan melakukan visum untuk mempercepat proses perceraian nantinya, hati Raka sakit melihat luka yang ada di wajah dan tubuh Maira. Dia sangat ingin memeluknya tapi Maira masih berstatus istri orang.


Mereka akhirnya ke RS di kota karena RS disekitar sini tidak bisa melakukan visum, Om dan tante Wan sudah menunggu mereka di RS rekanan yang sering dirujuk oleh firma hukum mereka kalau ada visum atau kebutuhan lainnya sehingga Maira dapat dipercayakan pada mereka.


"Jangan beritau adikku, dia kan stress sebentar lagi dia akan sidang kelulusan S2 nya." Ucap Maira dan Raka mengangguk. Setelah selesai, dokter menyarankan agar Maira dirawat 1 malam di RS agar bisa istirahat dengan tenang.


"Om, tante.." Lirih Maira melihat kedua orangtua Raka, Tante Wan memeluknya sehingga Maira menangis tersedu-sedu, dia mengingat bagaimana dekatnya kedua orang tua mereka dan membuatnya sangat sedih.


"Sudah jangan sedih lagi, ada kami, sekarang Maira tidak sendirian lagi." Ujar tante Wan dan Maira mengangguk.


"Duh Maira, kamu jadi cantik sekali nak.." Puji tante Wan karena memang Maira tumbuh menjadi wanita yang cantik dan bersahaja. Setelah lelah menangis akhirnya Maira tertidur dan juga karena obat penenang yang diberikan dokter.


Sudah 2 hari Hendra uring-uringan mencari Maira karena dia memang tidak bisa apapun kecuali Maira yang menyiapkan, terpaksalah Intan sebagai ibunya yang sejak kecil memanjakannya yang menyiapkan segalanya.


Setelah seminggu Hendra baru sadar kalau semua barang berharga dan surat penting milik Maira sudah tidak ada membuat dia murka.


"Sialan, ternyata dia sudah bersiap-siap. Aku belum menemukan harta-hartanya dan tidak akan menceraikannya sebelum mendapatkan semuanya." Ujar Hendra di dalam kamarnya yang terlihat berantakan.


"Mami, suruh pelayan bereskan kamarku dan buang semua barang Maira, aku akan menikahi Gita segera." Ujar Hendra dan Gita yang sedang ada disana tersenyum senang lalu memeluk Hendra dengan manja, Hendra sangat senang ada Gita yang telah mengandung anaknya dan tidak membutuhkan Maira lagi.


Sedangkan Maira sedang ada di apartemen milik Raka dan sudah seminggu lebih dia tinggal disana sendiri menikmati hidupnya dan Raka hanya sekali datang menjenguk itupun ditemani oleh adiknya si kembar yang cantik untuk mengantarkan keperluan wanita.


"Aku sudah kirimkan surat ceraimu ke alamat rumah kalian dan kita tunggu saja dia akan datang atau tidak." Lapor Raka saat berkungjung kedua kalinya dan kini ditemani tante Wan. Maira yang sedang masak makan siang untuk mereka menyerahan semuanya ke pengacara saja lagi pula seluruh aset Maira sudah pindah nama ke adiknya.

__ADS_1


"Wah.. enak sekali masakan Maira.. sama rasanya dengan masakan teman baikku itu." Puji tante Wan yang memang tidak terlalu bisa memasak meskipun sudah mencoba berkali-kali belajar pada ibunya Maira dulu.


"Hehehe kan memang bunda yang ajarin tante..." Ujar Maira yang ini sudah ceria lagi, senyuman Maira telah hilang selama beberapa tahun kini kembali, wajah sendunya kini sangat cantik dan bercahaya membuat Raka makin jatuh cinta.


"Maira mau yah jadi mantu tante nanti setelah selesai masa idah?" Tanya tante Wan dan Maira terkejut mendengarnya.


"Mami kok duluan sih?" Protes Raka membuat Maira tambah terkejut.


"Hm.. tapi kan Maira janda tante, ga pantes lah.." Tolak Maira membuat Tante Wan tertawa sambil melihat putranya.


"Kamu janda dan Raka duda jadi cocok dong.." Goda Tante Wan membuat Maira menganga tak percaya.


"Iya aku duda, duda keren.. " Ujar Raka lalu kembali mengunyah makanannya dengan lahap karena masakan Maira memang sangat enak.


"Kok bisa? Wanita mana yang begitu bodoh.. hmm..." Maira langsung menutup mulutnya karena keceplosan.


"Lebih tepatnya sih Raka yang bodoh, di selingkuhi selama 2 tahun dan bahkan di poroti uangnya dan dia masih bucin, untung sekarang sudah sadar dan jadi trauma sama wanita model begitu makanya uda umur 32 tahun masih duda." tante Wan yang menjawabnya membuat Raka sangat malu.


"Memangnya wanita model seperti apa tante?" Tanya Maira mulai penasaran wanita tipe apa yang membuat Raka menjadi sebodoh itu sama dengannya.


"Yah model seksi, tinggi kurus langsing, makanya kalau ketemu wanita seperti itu dia langsung nolak, uda tante jodohin ke anaknya temen tante juga gak mau." Jelas Tante Wan membuat Maira mengerti.


"Jadi mau ya.. jadi mantu tante, biar tante jodohin lagi nih anak kalau masih gak mau tante nyerah de."


"Nanti aja tante Maira juga belum cerai, nanti apa kata orang kalau sudah main di jodohin." Tolak Maira secara halus


"Tapi tante duluan loh, nanti kalau ada yang ngejer kamu lagi.. bilang sama mereka sudah ada yang ambil antrian nomor 1." Ucapan tante Wan membuat Maira malah tertawa karena lucu.


Besoknya Hendra mendapatkan surat gugatan cerai dari Maira dan dia dengan marah meremas surat itu dan membantingnya, sudah berkali-kali dia menghubungi Maira tapi selalu di reject dan di rumah orang tuanya juga tidak ada.


"Baiklah kalau mau cerai akan aku kabulkan." Geram Hendra dan proses itu berlangsung dengan cepat bahkan saat mereka bertemu di pengadilan, Hendra memandang remeh pada Maira yang datang dengan pengacaranya seorang wanita cukup berumur.


"Mau bukti? pergilah ke dokter Tuan Hendra dan periksakan dirimu dan buktikan kamu atau aku yang mandul." Tantang Maira dan Hendra tertawa geli mendengarnya.


"Buktinya sudah ada Maira. Gita sudah mengandung anakku." Ucap Hendra sombong.


"Ohh kamu yakin itu anakmu? Soalnya wanita yang mau tidur dengan suami orang.. ouh aku meragukannya." Balas Maira dan berlalu dari sana dengan status barunya.


Maira kini telah tinggal kembali ke rumah orang tuanya dan melanjutkan konveksi dibantu oleh adiknya, Raka tetap membantunya dan malah memperkenalkan teman bisnis untuk memperluas usaha Maira tetapi Raka sedikit khawatir sebab kini Maira terlihat makin cantik setelah 2 bulan menjandi janda.


.


.


.


"Maira.. maukah kau menikah denganku?" Tanya Raka di sela-sela pembicaraan mereka di kantor Raka, mereka sedang membahas kerjasama dengan suatu produk baju yang lumayan terkenal.


"Apa ini tidak terlalu cepat? Masa idah ku sebulan lagi kak." Jawab Maira tidak enak.


"Tidak kok, yang penting aku mengikatmu dulu dengan ini." Raka mengeluarkan kotak kecil dan membukanya, sebuah cicin bertahta berlian. Maira sangat terharu, kebersamaan mereka selama beberapa bulan memang telah menumbuhkan benih cinta di hati Maira, apalagi kenangan masa kecil mereka begitu dekat dan tidak dipungkiri Maira juga sangat sayang pada keluarga Raka yang sangat baik.


"Iya, aku mau." Jawab Maira pelan dan menatap mata Raka.


"Terima kasih sayang... dengan ini aku punya hak untuk mengclaimmu sebagai milikku saat mata-mata nakal para pengusaha memandangmu." Ujar Raka membuat Maira tertawa, Raka memang terlihat cemburu saat Maira banyak bertemu teman bisnisnya tetapi tidak bisa berbuat apapun.


"Aku akan berehenti bekerja saat sudah menikah kak, aku akan serahkan semuanya pada Bimo saja karena dia lelaki dan harus punya modal kuat untuk menikahi  pacarnya kelak." Ungkap Maira sambil memandangi cincinya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, keuangan rumah tangga akan aku serahkan sepenuhnya kepada mentri keuanganku." Ucap Raka sambil mencubit pipi Maira dengan gemas.


Maira juga telah merubah penampilannya menjadi lebih modis tetapi sopan rambut panjang hampir sepinggang dia potong sebahu agar terlihat lebih fresh, membuat dia kelihatan lebih muda sampai banyak pria melirik ke janda baru ini.


"Aku akan beritahukan ke mami kalau dia akan punya menantu hehehe..." Kekeh Raka lalu segera menelpon maminya untuk mengabarkan kabar bahagia ini dan tentu calon mertua Maira itu sangat bahagia dan akan menyelenggarakan pernikahannya 2 bulan lagi.


Sementara di rumah Hendra, dia telah kelimpungan mencari surat rumah miliknya yang telah diambil oleh Maira karena rumah itu akan menjadi mahar untuk dapat menikahi Gita, karena dia menolak dinikahi jika tidak ada rumah atas namanya.


"Kita nikah siri dulu deh kalo gitu Git, nanti sambil aku cari Maira untuk mengambil kembali rumah itu." Bujuk Hendra dan akhirnya Gita setuju, mereka menikah seminggu kemudian secara siri dan sangat sederhana.


Pernikahan mereka biasa saja, karena selain telah mengandung dan permainan ranjang Gita, tidak ada yang special, bahkan Gita termasuk istri yang sangat malas menyiapkan kebutuhan suami dan semua disiapkan oleh pelayan.


Keuangan mereka juga amburadul karena Gita terlalu sering belanja hal tidak perlu membuat Hendra begitu pusing melihat tagihan kartu kreditnya, sedangkan dulu tagihan kartu kredit hanya tagihan Hendra sendiri karena Maira tidak pernah menggunakannya. Hal tersebut juga membuat mereka beberapa kali ribut dan saat Gita tak bisa melawannya lagi maka dia akan pura-pura sakit perut.


Kini kandungannya sudah 3 bulan membuatnya semakin manja dengan permintaan aneh yang sebenarnya hanya dibuat-buat olehnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Hari H pernikahan Maira dan Raka tengah berlangsung, setelah ijab kabul mereka langsung mengadakan resepsi di malam harinya dengan memesan bunga dari Magical Flower dan Flora yang sangat bahagia merangkai bunga khusus untuk Maira.


Bunga tangan yang digunakan saat resepsi sangat indah dan sangat mencerminkan Maira yang cantik dan anggun, dengan Ranunculus peach, peony pink dan mawar putih.


Pernikahan Maira juga terdengar oleh Hendra dan Intan, mereka cukup terkejut karena baru selesai masa idah dia sudah menikah lagi dan dengan seorang pengacara terkenal dan kaya. Gita juga sempat iri mengingat Hendra hanyalah seorang pekerja dan tidak sebanding dengan suami barunya.


"Percuma Hen, dia nikah juga ga akan bisa punya anak." Cibir Intan pada Hendra, mereka sedang menonton tv yang menyiarkan pernikahan megah Maira dan Raka, karena Raka selain pengacara dia juga telah mewarisi firma hukum paling terkenal di negara ini, ayahnya juga pemilik bisnis property yang sukses, saat ini di kelola oleh anak keduanya Rafa sedangkan ibunya pemilik butik terkenal dan sudah di pegang oleh si kembar cantik Liana dan Liani. Kini Maira hanya akan menjadi istri yang baik dirumah menemani mertuanya yang sudah pensiun.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Seminggu kemudian


"Sayang.. aku kan sudah janji akan memberikan semua keuanganku untuk di kelola oleh mentri keuangan, ini semua akunku." Ujar Raka, sejak mereka menikah Raka telah mengumpulkan data asetnya untuk dikelola oleh Maira dan setelah seminggu pernikahan barulah terealisasi.


"Tidak perlu sayang.. aku kan bisa ambil uang dari rekening yang kamu kasih, belum aku cek juga karena semuanya sudah di atur mami." Ujar Maira yang telah memeluk leher suaminya dari belakang dan mencium pipi Raka.


"Lihat dulu ini.." Raka membuka akunnya dan Maira melongo tak percaya.


"Berapa digit itu?" Tanyanya tak percaya, dan Raka sudah mengumpulkan semuanya agar istrinyalah yang akan mengatur.


"Ya ampun ternyata suami ku sekaya itu." Ucap Maira masih tak percaya dan Raka terkekeh geli, padahal dia juga sudah kirim uang ke rekening Maira tapi istrinya belum cek sama sekali.


"Coba cek rekening barumu sayang.. kau harus belanjakan itu kalau tidak dia akan berlipat ganda setiap bulannya." Goda Raka dan Maira baru cek Mbankingnya dan memekik kuat.


"Kak Raka gila, sebanyak ini untuk apa?" Tanya Maira karena ada lebih dari 10 milyar di rekeningnya.


"Yah terserah kamu mau diapakan.. kan milik kamu." Kini Raka sudah mendudukkan Maira kepangkuannya. Dia mencium bibir seksi Mairah dan mengecapnya, salah satu ritualnya yang paling dia sukai selain bergelut diranjang tentunya.


"Tangannya jangan nakal deh, aku baru mandi sayang..kita kan baru bertempur tadi." Tolak Maira tapi Raka mana mau tau, dia suka dengan semua yang ada pada diri Maira.


"Aku terkejut waktu malam pertama kita sayang.. kenapa kamu sempit sekali? Aku seperti menembus perawan tau." Bisik Raka dan membuat Maira sangat malu.


"Aku juga terkejut, ternyata seenak itu aku belum pernah merasakan yang seperti itu kak.." Lirih Maira dan kini dia tengah malu membicarakan hal mesum itu.


"Memangnya apa yang beda?" Raka sengaja memancing Maira lagi,


"Ehm.. selain lebih besar ternyata permainannya juga beda, biasanya langsung tancap tapi sama kakak bikin aku itu... hmm..."


"Seperti ini..." Tangan Raka sudah masuk kedalam segitiga pengaman Maira dan menari-nari disana membuat Maira bergejolak dan terangs*ng lagi. Akhirnya mereka melakukan ritual wajib sebelum tidur sekali lagi pada malam itu.

__ADS_1


~Next Part special - Aku Tidak Mandul (Part 4) update besok yaaa~


__ADS_2