
NB : Ini adalah cerita flashback dari Maira dan Raka sebelum menikah
.
.
"Mba Flo..." Sapa Maira dan Flo yang sedang sibuk merapikan bunga yang baru datang itu pun menoleh ke belakang dan tersenyum senang melihat Maira.
"Kau datang Mba Mai, bagaimana?" Tanya Flo karena tau hari ini adalah sidang terakhir perceraian dan terlihat wajah Maira yang bebinar cerah.
"Aku sudah berstatus janda mba Flo.." Ujarnya senang, Flo terkekeh lucu melihatnya yang senang jadi janda.
"Baguslah.. sebentar ada hadiah untukmu." Flo kembali kedalam dan membawa sebuket bunga cantik ketika keluar dari bilik lemari pendingin khusus bunga. Thika yang sedang bekerja juga tersenyum bahagia memandang wajah Maira yang biasa sendu kini terlihat cerah.
"Ini untukku?" Tanya Maira sewaktu Flo memberikan buket bunga cantik itu.
"Iya, selamat untuk status barumu dan ini dari seseorang yang sudah memperhatikanmu sebelum kalian bertemu disini." Ucap Flo dan Maira memandangi bunga cantik itu dan tersenyum ketika melihat kartu ucapan disana,.
"Kak Raka..." Gumamnya dan masih melihat bunga cantik itu karena biasanya dia membeli bunga untuk orang lain dan kini dia mendapatkan bunga.
"Ah iya mba Flo aku ingin pesan bunga dan sekaligus mengundang mba untuk datang ke toko pakaian adikku yang akan buka 2 hari lagi." Ujar Maira dan Flo senang mendengarnya, setelah mereka berbincang sejenak Maira memberikan alamat dan bunga apa yang akan dia gunakan untuk acara pembukaan toko adiknya.
"Seneng ya Flo liat mba Maira udah ceria seperti itu, terlihat cantik dan bersinar." Ujar Thika menghampiri Flo setelah Maira pulang.
"Iya, terkadang perpisahan itu tidak buruk dan malah mendatangkan kebahagiaan tersendiri." Balas Flo dan Thika mengangguk karena dia juga hasil bahagia karena perpisahan.
"Iya kaya aku hahaahha." Thika tertawa karena bahagia telah berpisah dari pria mengerikan dan hanya memanfaatkannya. Flora memberikan jempol kearahnya yang sudah move on lebih dari setahun lalu.
"Permisi, apakah pemilik tempat ini ada?" Tanya seorang pria bule berwajah tampan dan badan atletis begitu masuk ke Magical Flower, suasanya menjadi lebih sejuk dan cerah seketika. Bahkan si Lilem juga terpesona dengan ketampanan pria bule itu dan mengeluarkan aroma memabukkannya tanpa sadar, Lion juga langsung menerbangkan kelopak halusnya tanpa dia sadari, membuat Flo terkejut dan berdehem menyadarkan 2 bunga di mejanya.
"Selamat sore, saya pemilik tempat ini Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Sapa Flo ramah dan pria bule itu juga tampak terpesona oleh kecantikan Flo, padahal Flo sudah menutupinya seperti yang dia lakukan pada Imel tapi sepertinya pria ini dapat melihatnya.
"Saya sedang mencari bunga yang langka, tapi sepertinya sudah saya temukan, nona bunga yang cantik." Jawabnya dan membuat Flo tersenyum dengan ramah, masih dengan senyum profesionalnya yang dia pelajari di dunia manusia.
"Bunga apa Tuan yang langka itu? Bisa saya bantu carikan." Tanya Flo lagi dan si bule tampan ini terkekeh dan menjawab, "Sudah saya temukan dan itu anda nona."
"Ha?" Flo melongo mendengarnya.
"Siapa nama anda?" Tanya si pria.
"Saya Flora tapi panggil saja Flo. Dan Tuan?" Jawab Flo sembari kembali bertanya karena pria itu langsung tersenyum lebar mendengar namanya.
"Nama saya Florian, panggil saja Flo." Jawab pria itu dan Flo membelalakkan matanya tak percaya.
"Siapa?" Tanyanya lagi.
"Sepertinya kita berjodoh Flo dan aku sudah menemukanmu bunga cantikku." Flo masih mengernyitkan matanya mendengar ucapan Flo di depannya.
"Kita sudah pernah bertemu tapi belum saling berkenalan dan akhirnya aku menemukanmu disini." Lanjutnya lagi dan Flo makin tak percaya dan dia malah tertawa.
"Hahahah Tuan Florian jangan becanda ah.. kalau kita pernah bertemu aku pasti ingat pria tampan dan gagah seperti anda ini." Flo masih tertawa dan menggeleng karena dia tak pernah melihat pria bule tampan ini sejak 50 tahun di dunia manusia.
"Mungkin kau tak ingat Flo.. tapi aku selalu mengingat sosok cantikmu yang bercahaya dan cantik." Ucapnya lagi dan Flo makin bingung dengan pria ini, apakah dulu dia salah satu pengagum Flo? Tapi sudah sejak 40 tahun lalu kalau iya, tidak mungkin pria ini masih terlihat muda.
"Mungkin anda salah orang Tuan Florian dan apakah anda jadi memesan bunga? Soalnya sudah ada yang mengantri dibelakang." Tanya FLo karena sudah ada 2 orang lagi yang masuk padahal 1 orang telah dilayani oleh Thika di sisi sebelah.
"Aku akan menunggu karena pembicaraan kita akan lama Flo." Ujarnya dan mempersilakan ibu di belakangnya untuk dilayani duluan. Florian menatap Flo dari tempat duduknya di meja cafe sambil menyeruput teh jasmine terenak disana.
Setelah 20 menit FLo mendatangi meja FLorian dan mereka berbincang lagi, karena Florian ingin mencari pemasok bunga hias untuk hotel dan restorannya.
__ADS_1
"Ohh jadi Fano yang merekomendasikan Magic Flower ini ke Tuan Florian? Wah Fano memang baik banget." Ujar Flo dan Florian tersenyum melihat tingkah Flo yang tidak banyak berubah dan masih seperti dulu yang dia tau.
"Iya, jadi selama ini hotelku menggunakan bunga dari toko lain dan hanya bertahan paling lama 6 hari, setelah Fano melihat bunga layuku di restoranku dia merekomendasikan tempat ini. Jadi apakah anda mau kerjasama dengan ku? Tapi apakah benar bungamu bisa bertahan lebih lama?" Tanya Florian dan Flo tersenyum dan dia tidak mau diremehkan.
"Aku akan memberikan sesuatu." Flo masuk kembali ke area lemari bunganya dan kembali membawa 1 batang bunga tulip dan membawanya ke hadapan Florian.
"Ini Tuan FLorian bisa bawa tulip ini dan letakkan saja di ruang tamu anda tanpa air, 3 hari kemudian bawa lagi padaku." Tantang Flo dan FLorian setuju.
"Baiklah, dan panggil saja aku Flo atau apapun tanpa menambahkan Tuan, mengerti?" Florian menatap lekat pada mata Flo yang terpesona sejenak padanya membuat Florian menjentikkan jarinya agar Flo sadar dan dia terkekeh geli melihatnya.
"Ah maaf, anda terlalau tampan Florian, yah harap maklum saja." Jujur Flo dan Florian berdiri dari duduknya dan pamit untuk pulang dan akan kembali 3 hari lagi.
Florian telah di dalam mobilnya dan tersenyum memikirkan Flo dan masa lalu mereka saat pertama kali bertemu.
"Kau memang jujur Flo dan kenapa kau pakai nama aslimu juga disini?" Florian melaju lambat karena dia menikmati kenangannya bersama Flora dahulu meskipun hanya satu hari tapi itu sangat berkesan baginya hingga dia mencari sosok Flora selama ini.
Sementara Flo masih duduk termenung di tempat yang sama dan memikirkan siapa Florian, dia tidak mengenalnya sama sekali dan Florian bilang mereka pernah bertemu.
"Hei Flo! Mikirin apa sih dari tadi dipanggilin ga denger." Bentak Mala yang kesal sejak tadi menanggil Flo tapi dia asik melamun.
"Pasti mikirin cowo bule tadi kan..." Tebak Mala benar membuat Flo tersenyum kecil.
"Tapi kalau Flo sampai memikirkan cowo bule itu emang pantes sih, tuh bule gantengnya kebangetan tauk, kaya ada aura pangerannya gitu." Sambung Mala lagi.
"Iya Flo.. aku juga ngerasain hal yang sama." Teriak Lilem dari tempatnya.
"Wah harusnya tadi aku ngikutin dia Flo, ah nyesal deh.." Sambung Lion dan Flo mendesah pelan, memang benar pria itu sangat tampan bahkan lebih gagah dari raja peri yang digilai seluruh kaum peri.
"Uda deh, 3 hari lagi dia balik kok.." Ujar Flo dan Mala terkekeh karena dia tau Flo pasti sudah tak sabar ingin ketemu dia lagi.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Setelah 3 hari Florian kembali dan membawa setangkai tulip yang diberikan Flo tanpa air dan dia letakkan begitu saja di meja ruang tamunya dan hari ini dia membawanya dalam keadaan masih segar.
"Tentu saja Flo.. tapi kau harus ikut bersamaku ke 2 hotel dan 3 restoranku, apa bisa?" Tanya Florian dan Flo berpikir sebentar lalu menyanggupinya.
"Bisa, tapi diatas jam 6 sore ya tunggu toko agak sepi." Jawab Flo lalu ada pasangan yang masuk ke dalam untuk mencari kado.
"Berarti 1 jam lagi, aku tunggu disana." Ujar Florian menunjuk ke arah cafe dan Flo mengangguk.
"Selamat sore, mau cari bunga apa ya?" Tanya Flo ramah dan Florian memandangnya dari jauh dan memperhatikan semua yang dilakukan Flo.
"Kami cari bunga untuk kado ulangtahun." Kata si pria dan Flo sudah membawakan buku kumpulan foto contoh berbagai rangkaian bunga yang cocok untuk ulang tahun.
"Ah tapi dia masih 16 tahun apakah ada yang lain mba?" Tanya si wanita yang terlihat pucat dan tak bersemangat.
"Oh ada, kalau remaja kasih buket bunga dengan uang saja yang lagi di sukai banyak orang, pilihannya ada banyak disini."
Flo mengambil tabletnya Thika dan memberikan pada mereka, si pria dengan malas melihatnya dan yang wanita terlihat tersenyum tipis melihat rangkaian cantik dari buket itu.
"kamu saja yang pilih, budgetnya 1 juta tidak lebih, aku akan cari minuman." Ujar sang pria dengan ketus dan si wanita hanya diam.
"Awas jangan macam-macam." Bisik si pria tapi Flo bisa mendengarnya jelas karena dia peri yang bisa mendengar lebih baik dari manusia biasa.
"Yang ini saja mba, tapi bunganya di ganti putih dan kertasnya diganti pink ya." Tunjuk si wanita pada buket 20ribuan dengan harga 1 juta.
"Tapi ini 1 juta hanya uangnya saja mba, belum sama pembuatannya." Jelas Flo dan si wanita tersenyum. "Sisanya dari saya saja mba dan.. boleh minta tolong antarkan ke alamat ini besok." Tanyanya lagi dan terlihat dia terlihat makin lemas.
"Bisa mba, tolong catat disini nama, alamat dan nomor telepon sekalian punya mba." Kata Flo lalu si pria datang mendekat.
__ADS_1
"Mau apa?" Tanyanya menghentikan wanita itu yang baru mau menulis.
"Mau tulis alamat dan nomor penerima buket mas." Flo yang menjelaskan dan si pria pun dengan sinis melihat ke arah wanita itu dan Flo lalu kembali ke tempat duduk nya.
"Flo menggeser lagi 1 kertas dan tersenyum ke arah wanita itu." Sepertinya dia mengerti dan menuliskan nama dan nomor seseorang, lalu menuliskan help, polisi, di belakang kertas itu.
Flo yang melihatnya lalu pura-pura menelepon pegawainya untuk memesan bunga putih yang tinggal sedikit, karena si pria terus mengawasi dari jauh dan Flo kembali kedalam untuk berbicara dengan Tama yang sudah dikenalnya dan menceritakan keadaan wanita yang ada di tokonya.
"Tama, dia pucat banget dan si pria kayanya pacarnya terus mengawasi dan aku ligat pergelangan tangan wanita itu memar dan di lehernya ada bekas merah seperti di cekik tapi dia tutupi dengan syal." Jelas Flo dan Tama menyuruhnya mengulur waktu 10 menit dan dia dan tim nya akan segera datang.
"Mba, bisa tunggu sebentar? Soalnya bunga putih dan uang 20ribunya habis, sedang dicari oleh pegawai saya dan karena sudah jam 5 sore bank sudah tutup, 10 menit saja." Jelas Flo dan si wanita mengangguk.
Lalu dia bergumam pelan, "Aku harus tahan, jangan pingsan sampai polisi datang."
Flo mendengarnya lalu menyuruhnya duduk dulu, Flo keluar dan menarik kursi untuknya agar dia duduk di depan meja Flo saja. Si pria datang mendekat, "Kenapa? Kalau sudah selesai ayo pergi." Ajaknya ketus.
"Sebentar mas, lagi tunggu laporan dari anggota saya yang sedang tukar uangnya, belum dapat konfirmasi apakah uang 20rb nya ada atau tidak." Jelas Flo dan si pria terlihat marah.
"Kalau tidak ada yang lain saja! Kenapa harus repot karena ponakanmu yang manja itu." Bentak si pria.
"Gak bisa mas, papi suruh belikan yang Riska mau kan.. dia suka warna hijau dan cuma uang 20rb yang hijau dan 1 juta." Jawab si wanita dan membuat si pria kesal dan kembali duduk ke tempatnya dan meminum kopi pesanannya lagi sambil memantau.
"Mba Ayu.. minum dulu biar tenang." Flo sudah membawakan teh hangat untuknya agar wanita bernama Ayu ini bertenaga karena terlihat lebih pucat dari tadi.
Sedangkan Florian memantau gerak gerik pria di sebelah mejanya dan dia tau ada yang tidak beres dengan pasangan muda ini, karena sejak tadi si pria mengirim pesan dan tersenyum seperti sedang kasmaran. Dia juga bangga pada Flo yang mau menolong orang lain yang tidak dia kenal sampai menolak beberapa kali telepon yang masuk di ponselnya.
Tak sampai 10 menit Tama telah datang dengan pakaian preman seperti biasanya dan Flo memberinya kode dengan lirikan matanya ke arah pria yang duduk di ujung sedang menainkan hpnya.
"Dia polisi dan temanku mba Ayu." Bisik Flo pelan agar Ayu tenang karena sudah ada polisi.
"Syukurlah.. tolong pak, saya sudah tidak kuat di siksa oleh suami saya.. tolong.." Lirihnya kemudian dia terjatuh dan tak sadarkan diri membuat Flo panik dan Tama sudah menahan tubuh Ayu agar tidak jatuh. Pria di sana lalu menghampiri dan mendorong Tama.
"Lepaskan istri saya." Bentaknya kemudian Tama menghentikannya saat dia ingin menggendong Ayu.
Tama memanggil tim nya dan Flo menelepon ambulance, si pria memberontak dan Tama memeriksa keadaan Ayu dibantu oleh seorang polisi wanita, syal Ayu dibuka dan ada bekas cekikan dan bukan hanya bekas dari tangan tapi juga tali, polisi wanita dan Tama saling pandang lalu menelepon seseorang untuk melaporkan hal tersebut karena ini bukan ranahnya.
"Aku sudah menelepon temanku yang memang menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga, jangan khawatir." Ucap Tama dan Flo juga sudah menghubungi nomor yang telah diberikan Ayu padanya tadi yang ternyata adalah nomor ayahnya.
Flo yang tidak mengenal mereka hanya bisa menceritakan apa saja yang dia lihat disini dan ayahnya akan menyusul ke RS tempat ambulance yang Flo panggil tadi, dia juga mengetuk 2 kali ke pot Lion dan 2 kali lagi yang berarti Lion harus mengikuti ke dua orang suami istri itu.
Florian melihat dari tempatnya dan dia tersenyum, "jadi begitu.. menarik Flo.. kau memang cocok jadi pendampingku kelak." Gumamnya dan masih memandang Flo dengan kagum.
Dua hari berlalu dan Flo mendapat kabar dari Tama kalau Ayu sudah keluar dari RS dan kasusnya juga sudah ditangani oleh temannya jadi Flo tidak perlu khawatir lagi, hanya saja tidak ada pengacara yang mau membantu Ayu karena keluarga si pria adalah politikus ternama.
"Jangan khawatir Tama, aku sudah punya teman yang bisa bantu." Ucap Flo lalu mematikan teleponnya.
"Jadi mas Raka bisa bantu kan? Kasian dia mas.. lihat sendiri dari cctv itu." Kata Flo saat Raka dan Maira datang berkunjung dan sepertinya akan ada kabar baik mengenai hubungan mereka yang terlihat makin lengket.
"Ah, keluarga mereka memang gila Flo.. tenang saja, kami akan bantu sebaik mungkin dan ini akan jadi berita heboh karena sudah 2 kali pria ini menyiksa wanita. Yang pertama pacarnya dulu dan dia bebas begitu saja dan kali ini aku tak akan membiarkannya bebas." Geram Raka lalu Flo memberikan nomor telapon ayahnya Ayu untuk mereka bertemu sendiri karena Flo sedang sibuk dengan Florian.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Jadi bagaimana Flo? Sudah mengerti kan bunga apa saja dan dimana saja letaknya?" Tanya Florian yang kini sedang duduk dan makan malam bersama Flo di salah satu restorannya.
"Sudah, 2 bunga dengan tinggi 1,5 meter di meja lobi utama di 2 hotelmu. Restoran, bunga mini dalam pot dengan bunga terserah aku kan total 55 bunga diganti setiap 2 minggu sekali. Aku sudah ingat." Jawab Flo enteng dan masih menyantap steak yang sangat enak dari restoran Florian.
"Kau makan dengan lahap, ternyata sudah terbiasa." Ucap Florian pelan tapi Flo mendengarnya dengan jelas.
"Ha? terbiasa?" Tanya Flo, "Iya terbiasa makan makanan enak." Elak Florian dan mereka tertawa bersama.
__ADS_1
"Ini memang enak." Celetuk Flo lagi.
TBC~