Magical Flower

Magical Flower
BAB 85 - Flora dan Hutan Peri 3


__ADS_3

Flo telah bersiap pagi ini, dengan ukuran tubuh manusianya dia berjalan berdampingan dengan Florian.


Petunia bersama dengan 7 peri lainnya yang merupakan tetua dari kaum peri mengelilingi Flo dan terbang sambil menyebarkan serbuk 7 warna ke seluruh tubuhnya. Diakhiri dengan Petunia mengangkat tongkat ajaibnya menyinari Flo.


"Kalian bisa menuju kamar kalian dan setelah janin hidup maka kami akan mulai lagi memberikan energi dan perpindahan pada anak kalian." Ucap Petunia dan Florian menggandeng tangan Flo menuju sebuah rumah yang telah dia bangun sebagai tempat tinggal di salah satu area yang lumayan jauh dari hutan peri.


Dengan bantuan para peri, Florian dan Flo diterbangkan menuju rumah mereka.


"Ini rumah kita disini Flo, sederhana dan hanya cukup untuk kita berdua." Ujar Florian sembari membuka pintu rumah itu.


"Bagus, aku juga tidak suka sesuatu yang mewah Florian." Balas Flo lalu melangkah masuk kedalam rumah yang sangat asri. Terbuat dari full kayu dan begitu banyak bunga disana.


"Kita sudah jadi suami istri disini, aku berjanji akan menikahimu lagi setelah kau benar-benar jadi manusia dan kita akan menggelar pesta yang meriah nanti."


Flo hanya menanggapinya dengan senyuman, dia tidak tau apakah dia benar-benar akan bersama Florian selamanya atau mereka akan berpisah pada akhirnya?


Flo tidak bisa membayangkan pergi dari hutan peri meninggalkan anaknya nanti.


"Kau siap Flo?" Tanya Florian dan Flo mengangguk, dia memang telah menyiapkan hati dan juga dirinya agar segera bisa melahirkan peri penjaga selanjutnya.


Tak menunggu lama Florian membawa Flo masuk ke dalam kamar mereka yang berukuran mungil bila dibandingkan rumah Florian di dunia manusia.


Mereka duduk di tepi tempat tidur, masih saling diam, Florian masih mengatur detak jantungnya sedangkan Flo seakan lupa pada Florian yang sebenarnya juga telah membuat jantungnya mempompa lebih cepat sejak saat pertama kali bertemu.


"Aku ingin katakan sesuatu." Akhirnya Florian bersuara setelah mereka diam cukup lama.


"Setelah kita melakukannya kau akan menjadi manusia seutuhnya, jadilah istriku untuk selamanya Flo. Tapi aku berjanji akan menunggu kau siap baru kita akan kembali."


Flo menatap Florian, mata mereka bertemu saling menatap. FLorian dengan mata biru jernihnya membuat Flo kembali merasakan detak itu.


"Iya.." Jawab Flo dengan suara pelan.


Florian mendekat, sebuah kecupan mendarat di kening Flo, Flo merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya setelah beratus-ratus tahun dia hidup.

__ADS_1


Hari ini penyatuan mereka berhasil, Florian memperlakukan Flo dengan sangat lembut seakan Flo merupakan bunga dengan kelopak yang akan hancur bila di sentuh dengan sedikit kasar.


Jangan di tanyakan bagaimana perasaan atau yang dirasakan Flo, semua serba asing, aneh, terkadang sedikit sakit tetapi sangat nikmat dalam waktu bersamaan.


"Apakah sudah selesai?" Tanya Flo yang sangat lelah. "Ini sangat melelahkan Florian.. rasanya seperti aku menumbuhkan seluruh wilayah ini ketika musim semi tiba."


Florian tertawa kecil lalu kembali memeluk Flo dengan erat. "Ini belum berakhir, kita lakukan sekali lagi Flo, aku mencintaimu." Ucap Florian lalu kembali merengkuh Flo lagi dan lagi sampai mereka ketiduran karena lelah.


Malam pun tiba, jangan bertanya apakah Flora akan segera hamil? Jawabannya adalah IYA.


Petunia dan para tetua sudah  menyiapkan tempat untuk calon anak Flo dapat berkembang dan besok pagi mereka akan memulainya.


"Selesaikan malam ini juga Bud." Ucap Petunia pada ajudannya itu.


"Hampir ratu, tengah malam akan selesai." Jawab Bud yang masih mengarahkan para peri untuk menumbuhkan bunga super besar itu.


Dua bunga putih yang masih menguncup kecil itu kini mulai membesar tapi kuncupnya tidak boleh mekar, di dalamnya lah calon anak Flo akan berkembang.


"Bangun lah Flo, kita belum makan siang ataupun malam. Ingat sekarang kau manusia bukan peri jadi hiduplah seperti kau biasanya di rumahmu." Florian masih berusaha membangunkan Flo dari tempat tidur. Flo sangat lelah, dia lemas tak bertenaga sama sekali.


Florian akhirnya membantunya membersihkan diri dan membuatkan makanan dan menyuapinya. Setelah itu mereka kembali tidur.


Pagi harinya saat mereka masih terlelap, Flo tiba-tiba bangun karena merasakan panas pada perutnya. Dia meringis sambil memegang perutnya sampai membuat Florian bangun dan khawatir dengan keadaan istrinya.


"Flo kita ke tempat Petunia sekarang." Ujar Florian lalu mengangkat Flo membopongnya dan saat dia keluar dari rumah ternyata Petunia dan rombongan telah menunggu mereka diluar.


"Selamat pagi Flo." Sapa Petunia dengan senyum menawannya yang tidak bisa dikalahkan siapapun.


"Pagi ratu Petunia." Balas Flo pelan masih di dalam gendongan Florian sambil memegang perutnya.


"Mari, kita pergi." Ucap Petunia lalu memberikan mereka cahaya dari jarinya dan akhirnya mereka terbang bersama.


"Rebahkan disini saja." Ucap Bud lalu Flo di rebahakn di meja yang telah di lapisi oleh kelopak bunga yang banyak. Flo tidur dengan tangannya masih di perut. Rasa panas itu makin menjalar hebat.

__ADS_1


Perlahan Petunia mendekat lalu tersenyum manis, Flo hanya melihatnya sambil menahan rasa panas itu.


"Lihat Flo, itu tempat anakmu akan berkembang." Petunia menunjuk dua kuncup bunga berukuran besar berwarna putih.


"Kenapa ada dua?" Tanyanya setelah melihat bunga putih itu.


"Memang, selalu ada 2 karena kita tidak bisa memprediksi berapa anak yang ada di perutmu atau peri-peri sebelumnya." Jawab Petunia lalu Flo mengangguk.


Petunia langsung menumpahkan secangkir air berwarna biru dan menyiramkannya pada perut Flo, dengan ajaib air itu menarik sesuatu dari dalam, terlihat kini air itu membawa setitik sinar kecil namun sangat terang dan bunga putih yang kuncup itu terbuka perlahan sembari menunggu air biru membawa sinar itu masuk, lalu bunga itu menutup kembali.


"Lihat itu!" Terika Bud saat bunga yang kedua juga perlahan membuka. Semua orang begitu terkejut karena air biru kembali membawa titik cahaya berikutnya dan masuk ke dalam bunga.


"Oh tidak! Ini terjadi lagi." Gumam Petunia yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Ada dua lagi calon peri penjaga kita!" River berteriak kencang.


Florian memapah Flo untuk bangun dan mendekati 2 calon anaknya, mereka mendekat ke bunga yang pertama dan melihat anak mereka masih berbentuk cahaya, lalu berpindah ke bunga kedua, sama masih cahaya yang ada di dalam sana.


"Tunggulah mereka berkembang, tidak akan lama hanya 8 hari." Ucap Petunia dan Florian mengangguk, dia sudah mengerti semuanya dan ada sesuatu yang dia lihat tapi masih tidak bisa dia katakan. Florian terus berada dan menatap bunga pertama, anak pertamanya.


"Apa yang kau lihat Florian?" Tanya River yang mendekatinya.


"Aku lihat, gadis kecil yang sangat cantik bermata biru. Tapi tidak tau yang mana dia." Jawab Florian sembari melihat ke bunga yang kedua. Perlahan cahaya didalam bunga itu penjadi penuh dan tidak bisa di lihat dengan mata mereka karena begitu terang.


"Ayo kita keluar, kita akan kembali 8 hari lagi." Petunia berbalik sambil tersenyum di ikuti oleh semua tetua peri disana. Sedangkan Flo masih merasa enggan meninggalkan anak-anaknya.


"Apa mereka aman disini?" Tanya Flo akhirnya pada Florian dan River yang masih disana.


"Kau juga juga lahir dari sini Flo, apa kau lupa? meskipun warna bungamu waktu itu warna merah dan kecil." Jawab River dan Flo tersenyum mengingatnya.


"Ya aku dulu pernah didalam sana." Gumam Flo lalu mereka mengikuti Petunia keluar dari ruangan besar itu.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2