
Telah seharian Fany menangis di ruang tunggu sebuah club malam, dia baru saja dijual oleh ayah kandungnya sendiri untuk membayar hutang. Saat umurnya baru menginjak 17 tahun dan belum menyelesaikan sekolahnya, dia harus menjadi penebus hutang ayahnya yang memang suka berjudi dan mabuk di club ini.
"Jangan menangis lagi Fany, kamu itu harus kuat dan jalani semuanya dengan iklas." ujar seorang wanita cantik yang akan menjadi atasan dan juga maminya.
"Anda siapa nyonya?" Tanya Fany disela isak tangisnya.
"Panggil aku mami Lily dan namamu disini adalah Fay dan ingat kamu sudah menjadi salah satu anakku disini jadi layani tamu dengan baik. Sementara ini kau hanya menjadi pelayan sampai benar-benar siap baru akan aku tawarkan ke pria hidung belang." Jelas Lily dan Fany makin menangis mendengarnya.
"Sudahlah, aku akan bantu kau disini, tetaplah sekolah karena kau tetap akan mendapatkan bayaranmu jangan sampai putus sekolah ya.." Fany terkejut mendengar ucapan Lily yang tiba-tiba sangat baik terhadapnya.
"Baik mami." Jawab Fany.
"Ingat, namamu adalah Fay dan jika disini lupakan Fany." Tegas Lily lagi.
Setahun berlalu dan Fany masih menjadi pelayan di club itu dengan bantuan Lily dia sama sekali belum menjajakan tubuhnya tapi bulan depan Lily akan dipindahkan karena kesalahan yang dia perbuat membuatnya harus dimutasi ke club yang lebih kecil.
"Fay, kau harus lindungi dirimu sendiri. Aku sudah tidak bisa membantumu Fay dan yang aku dengar mami baru itu terkenal ratu tega, sakit juga dipaksa melayani tamu." Lily meatap sendu Fany yang hanya bisa meratapi nasibnya.
"Mami, sebenarnya berapa hutang ayahku? Sampai kapan aku bisa melunasinya?" Tanya Fany dengan nada lirih.
"Masih ada 342juta Fay dan itu terus di catat oleh Tino, setengah dari gajimu dan tips semua diambil sebagai potongan hutang itu, tidak tau berapa lama kau bisa melunasinya jika hanya menjadi pelayan." Jelas Lily lagi. Fany hanya termenung sambil menunggu waktu pulangnya di jam 3 pagi ini, dia sama sekali tidak pernah tidur kalau malam hari selama setahun ini dan akan lanjut sekolah dan untunglah 2 hari lalu adalah ujian akhir dan dia tidak perlu lagi datang ke sekolah.
"Apa tidak ada cara untuk aku bebas?" Gumam Fay saat dia sendirian diruang staff, setelah berganti baju dia menunggu hingga matahari terbit agar lebih aman untuk berjalan kaki pulang ke rumah kontrakan bersama dengan gadis lainnya.
"Fay..kau kan masih perawan, cari saja orang kaya yang mau beli keperawananmu dan bayar lunas hutang itu lalu kamu bebas. Cuma sekali dan selesai, daripada seperti kita yang terjerumus makin dalam." Saran salah satu gadis disana yang telah beberapa tahun menjadi wanita malam di club itu.
"Tapi.. aku takut kak, kalau sudah melakukannya berati aku tidak bisa menikah lagi ya? Mana ada laki-laki yang mau dengan wanita seperti kita?" Ujar Fany lalu menghela napasnya panjang dan dalam sambil memikirkan masa depannya.
"Yah itulah resikonya Fay, kalau kami memang sudah terlalu dalam dan sulit untuk kembali. Ada sih beberapa dari kami yang diangkat derajatnya tapi itu sangat sedikit, 100 banding 1 lah. Kalau kamu masih bisa karena hanya jadi pelayan, lagian kalau cuma sekali juga tidak ada yang curiga lah karena nantinya akan masih sempit mirip perawan, kalau kita yah pasrah saja." Jelas yang lain lagi. Fany hanya terdiam, apakah dengan cara ini dia akan terbebas?
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Hari ini Fany mengambil izajah kelulusannya dan dia yang memang selalu sendirian saat itu tengah melihat dari jauh temen-temannya berfoto dan bercanda riang, ada rasa iri dalam hatinya, bahkan dia sangat ingin bertuker tempat sehari saja dengan salah satu dari mereka agar bisa menikamti masa remaja dengan normal.
Fany sedang berjalan gontai, dengan seragam ketat dan sedikit terbuka dia telah full makeup dan terlihat jauh lebih dewasa dar usia sebenarnya. Saat usianya 18 tahun dia berdandan seperti wanita dewasa yang terlihat 2 tahunan dan itu disengaja agar tidak ada yang mengenalinya dan makeup merupakan hal yang paling dia bisa untuk saat ini.
"Fay.. antar minuman ini ke ruang VIP 5." Ujar salah satu bartender yang telah menyiapkan 2 minuman yang bahkan dia belum hafal semuanya.
Fany masuk kedalam ruang VIP 5 dan terlihat disana sangat kacau, 2 wanita yang se rumh dengannya sedang di gerayangi dan mereka terlihat tersenyum genit dan senang dengan hal itu, meskipun Fany tau itu hanyalah akting.
"Hai gadis manis.. duduk sini temani om. Pria tua itu menarik tangan Fany untuk duduk bersamanya tapi salah satu wanita disana mengahadangnya dan memberi kode agar Fany segera keluar.
Dengan perasaan takut Fany berhasil pergi dari ruangan itu dan kembali ke meja bartender untuk menunggu pengantaran selanjutnya.
"Ini ke meja nomor 21." Fany mengambil lagi nampan itu dan membawanya ke meja sesuai arahan, disana dia melihat anak muda seusianya sedang menikmati waktu bersama teman-teman dan Fany hanya bisa melihat tanpa bisa merasakannya.
"Fay nanti kamu selesai sift ikut aku ke ruang manajer baru ya.." Ucap salah satu temannya dan dia mengangguk, entah apa yang akan dilakukannya jika diharuskan melayani tamu nanti.
"Aku tidak mau tau, pokoknya kau beri kalian waktu 1 minggu untuk mempersiapkan diri dan kamu!" Mami Joey menunjuk ke Fany.
"Kamu masih perawan kan? Aku akan menjualmu mahal untuk melunasi semua hutangmu, megerti? Seminggu!" Ujar Mami Joey dengan penekanan.
Fany sedang bimbang dan terus menangis di kamarnya, sehingga membuat teman sekamarnya sangat terganggu. Fany mencoba untuk menangis tanpa suara hingga dia ketiduran.
Paginya dia bersiap untuk mencari pekerjaan normal, jika dihitung dari waktunya dia hanya bisa part time di siang sampai sore hari dan beruntung dia menemukan sebuah toko yang sedang membutuhkan pekerja part time.
"Selamat pagi mba.. saya ingin melamar pekerjaan." Ujar Fany dan dia disambut ramah.
"Silakan duduk, aku Flora pemilik tempat ini, panggil saja Flo, nama kamu siapa?" Tanya Flo dengan ramah melihat ke wajah gadis manis di depannya yang yerlihat masih polos seperti gadis remaja.
__ADS_1
Fany memberikan amplop yang teah dia siapkan dan disana sudah tertera lengkap riwayat hidupnya.
"Kamu bekerja di club?" tanya Flo terkejut, Fany mengangguk malu, dia tidak mau menyembunyikan apapun jika soal pekerjaan, apalagi yang tertulis disana adalah pelayan jadi tidak masalah.
"Kamu baru lulus seminggu lalu tapi sudah kerja di club 1 tahunan..?" Ujar Flo tak percaya.
"Iya mba Flo saya masih kerja di club sore sampai malam hari dan siangnya saya butuh kerja lagi untuk mengumpulkan biaya agar bisa daftar kuliah 4 bulan lagi." Jawabnya dengan polos membuat Flo terenyuh.
"Hem.. baiklah, kamu boleh datang bekerja besok ya di jam 11 siang sampai 3 sore." Ujar Flo lalu mereka membicarakan tentang gaji dan lainnya.
Fany tampak senang lalu dia bersiap lagi untuk bekerja di club, Setelah selesai berdandan Fany mulai jalan untuk memasuki wilayah club yang memang sangat dekat dengan rumah kontrakan mereka.
"Ouh.. aduh.." Fany terjatuh dengan bokongnya mendarat mulus di lantai di depan club yang akan dia masuki.
"Maaf nona, Tuan saya sedang terburu-buru." Ucap salah satu pria berseragam hitam mirip pengawal yang ada di club ini. Fany berdiri lalu menundukan kepalanya sedikit lalu menatap pria tinggi besar di depannya.
"Pantas saja aku jatuh.. besar banget badan nih bule." Ucap Fany dalam hati lalu di pria bule itu langsung mencengkram lengan Fany dengan kuat dan menyeretnya kedalam.
"Aku mau dia." Ujar pria bule itu saat kebetulan mereka baru melangkah beberapa langkah dan melihat Mami Joey yang keluar.
"Oh dia.. maaf Mr Edward, dia itu belum bisa dan dia hanya pelayan Mr." Jawab Mami Joey dan Fany bernapas lega mendengarnya.
"Huh.. selamat.. " Batinnya tapi si Bule yang benama Erward itu kekeh tetap menginginkan Fany.
"Kalau untuk di booking dia belum pantas Mr, bagaimana kalau dia menemani anda minum dan bersenang-senang dulu?" Tawar Mami Joey dan Edward tampak setuju.
Fany terpakasa mengikuti kemauan Edward dan mengikutinya kedalam sebuah kamar VIP dan disana dia menemani Edward minum sampai dia mabuk. Begitu seterusnya selama 3 hari dan Edward juga berkali-kali meminta Fany melayani n*fsunya tapi Fany tetap pada pendiriannya.
"Kau itu hanya wanita malam, jangan terlalu banyak tingkah dan layani aku.." Ucap Edward sudah entah yang keberapa kali tapi Fany tetap menolaknya.
__ADS_1
TBC~